Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Petaka Perubahan Iklim Global Ancam Bumi

Petaka Perubahan Iklim Global Ancam Bumi

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 12 Jul 2023
  • visibility 732

Langkah- langkah  Ini  Perlu Dilakukan

Kondisi bumi hari ini sangatlah mengkhawatirkan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  (BMKG) RI, mengingatkan  bahwa, saat ini hal yang paling menakutkan dan mengancam bagi seluruh masyarakat dunia bukanlah pandemik ataupun perang, akan tetapi perubahan iklim global.

Peningkatan suhu rata-rata global yang terus menerus ini mengakibatkan percepatan proses siklus hidrologi, yang mengakibatkan berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor baik di negara maju, di negara berkembang, di negara kepulauan, apapun kondisi negaranya.

Berbagai bencana yang terjadi berakibat pada global water hotspot, yang berarti terjadinya krisis air. Krisis air juga memberi dampak yakni tantangan bagi ketahanan pangan.

Diperkirakan oleh organisasi meteorologi pada tahun 2050, hampir semua bagian dunia akan mengalami masalah ketahanan pangan. “Kita perlu melakukan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim dan bagi para petani perlu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati saat  membuka acara Training of Trainers (ToT) Climate Field School (CFS) atau pelatihan bagi pelatih sekolah lapang iklim untuk negara-negara anggota Colombo Plan yang berlangsung di Gedung Auditorium BMKG dan dihadiri  para pejabat dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg).

Tujuan dari Climate Field School (CFS) atau sekolah lapang iklim ini adalah memberdayakan para petani atau sektor pertanian untuk dapat lebih beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim sehingga dapat mempertahankan produksi tanaman dan mencegah terjadinya tantangan terhadap ketahanan pangan.

Sekolah lapang iklim sebagai wadah   saling belajar, berbagi pengalaman, berbagi pembelajaran serta berbagi kisah kegagalan sehingga mengurangi risiko dari dampak perubahan iklim, bahkan bisa mencegah terjadinya krisis pangan.

Target peserta training ini antara lain para pengambil kebijakan, pengamat dan prakirawan cuaca/iklim, dan penyuluh pertanian di 8 negara anggota Colombo Plan dan Timor Leste.   19 peserta itu  terdiri dari Bangladesh (3 orang), Bhutan (1 orang), Indonesia (4 orang), Myanmar (2 orang), Nepal (2 orang), Papua New Guinea (1 orang), Sri Lanka (2 orang), Filipina (2 orang), dan Timor Leste (2 orang).

Mengusung tema “Pembelajaran pemahaman dan praktek informasi iklim untuk mendukung ketahanan pangan”, dengan metode pembelajaran terdiri dari metode asynchronous, yang terdiri dari kelas webinar, tugas individu, serta proyek kelompok kolaborasi, yang dilakukan di Learning Management System (LMS) BMKG berbasis Moodle pada 04-07 Juli 2023, dan metode synchronous berupa pelatihan luring di Jakarta, dan Citeko, 10-17 Juli 2023.

Climate Field School (CFS)/Sekolah Lapang Iklim (SLI) telah dilaksanakan BMKG bekerja sama dengan Kementerian Pertanian sejak 2011, dimana bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang informasi iklim serta pemanfaatannya untuk sektor pertanian kepada para penyuluh pertanian dan petani dengan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami petani di wilayahnya masing-masing.

abrasi psrsh ancam sebagian pantai Halmahera

Keberhasilan SLI di Indonesia telah dijadikan sebagai percontohan dan telah dilaksanakan TOT SLI untuk negara – negara Asia Pasifik, Timor Leste dan Pakistan.  Pelatihan ini merupakan kelanjutan (tahap ketiga dari Pelatihan Sekolah Lapang Iklim) dari tahap pertama yang telah dilaksanakan dengan sukses secara tatap muka pertama pada Juni 2019 di Pusdiklat BMKG, Citeko, Bogor, Jawa Barat, dan tahap kedua secara daring pada Agustus 2021.

Output yang diharapkan dari pelatihan ini adalah para peserta (trainers) dapat memahami dan mengembangkan pengetahuan tentang informasi iklim serta mampu menyampaikan kembali kepada para penyuluh pertanian yang berperan menterjemahkan Bahasa teknis ke Bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami para petani.

Dia bilang ancaman ini terlihat dari berbagai peristiwa, mulai dari suhu udara yang lebih panas, terganggunya siklus hidrologi, hingga maraknya bencana hidrometeorologi di berbagai belahan dunia.

“Perubahan iklim ini juga mengancam ketahanan pangan seluruh negara,”kata Dwikorita dalam keterangan resmi Selasa (11/7/2023).

 

Organisasi pangan dunia, FAO, memprediksi tahun 2050 mendatang, dunia akan menghadapi potensi bencana kelaparan akibat perubahan iklim. Sebagai konsekuensi dari menurunnya hasil panen dan gagal panen. Karenanya, perlu tindakan konkret seluruh negara menekan laju perubahan iklim.

“Dibutuhkan aksi mitigasi dan adaptasi dalam menghadapi perubahan iklim. Dengan menekankan di 3 aspek. Yaitu ekonomi, sosial, dan ekosistem atau bentang alam,” ujarnya. Langkah- langkah strategis harus dilakukan guna mencegah risiko yang lebih fatal

Mengutip laporan organisasi meteorologi PBB, World Meteorological Organization (WMO), tahun 2022 menempati peringkat ke-6 tahun terpanas dunia. Di mana, tahun 2015-2022 menjadi 8 tahun terpanas dalam catatan WMO. Pada awal Desember 2020 juga menempatkan tahun 2016 sebagai tahun terpanas (peringkat pertama), dengan tahun 2020 sedang on-the-track menuju salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah dicatat.

“Di Indonesia, berdasarkan pengamatan yang dilakukan di 91 stasiun BMKG menunjukkan, suhu permukaan rata-rata pada tahun 2022 lebih tinggi 0,9°C dibandingkan tahun 1981-2010. Menandakan fenomena peningkatan suhu juga terjadi secara lokal dan global,” paparnya.

Dia menjelaskan, pemanasan global memicu pergeseran pola musim dan suhu udara yang mengakibatkan peningkatan frekuensi, durasi dan intensitas bencana hidrometeorologi.

“Salah satunya adalah kejadian kebakaran hutan dan lahan yang tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi kekeringan yang ekstrem. Tapi juga menyebabkan peningkatan emisi karbon dan partikulat ke udara,” tuturnya.

“BMKG terus melakukan berbagai aksi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Di sektor pertanian, BMKG rutin menggelar sekolah lapang iklim (SLI) dengan sasaran penyuluh pertanian dan petani dari berbagai komoditas unggulan. Langkah ini juga untuk memperkuat literasi cuaca dan iklim mereka,” pungkas Dwikorita.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maluku Utara Alami Kemarau yang Tetap Basah

    • calendar_month Sel, 11 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 946
    • 0Komentar

    Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  (BMKG) Republik Indonesia,  pada  April  hingga September biasanya terjadi musim kemarau. Meskipun  saat ini Indonesia  memasuki musim kemarau, namun hamper setiap hari diwarnai oleh hujan  ringan sampai lebat. BMKG Stasiun Meteorologi  Ternate misalnya,   bahkan memberi warning  kepada masyarakat di sejumlah wilayah di Maluku Utara untuk tetap waspada dengan adanya […]

  • Setahun Ribuan Kali Gempa Terjadi di Malut

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 817
    • 1Komentar

    Ada 11 Ancaman  Serius Bencana Bagi   Masyarakat Gempa bumi tektonik bermagnitudo M 6,1 mengguncang wilayah Maluku Utara terjadi   pukul 17.09 WIB, Kamis (3/6/2021). Gempa itu  tidak berpotensi tsunami. Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), episenter gempa bumi ini terletak pada koordinat 0.41 LU dan 126.23 BT. Lokasi tepatnya berada di laut […]

  • Masyarakat Sipil Desak Bank Stop Danai Nikel Bertenaga Batu Bara Milik Grup Harita

    • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 728
    • 0Komentar

    Sejumlah organisasi masyarakat sipil yang terdiri dari Market Forces, Enter Nusantara, JATAM, dan Trend Asia, bersama dua pendeta dari Obi menggelar aksi teatrikal di depan kantor bank-bank yang masih mendanai operasi smelter nikel milik grup Harita di Pulau Obi, Maluku Utara pada 1 Oktober lalu. Dalam aksi ini, para aktivis menampilkan instalasi kuda troya sebagai […]

  • Gurango Haga Pilihan Wisata Bawah Laut di Sail Tidore 2022 

    • calendar_month Sen, 14 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 969
    • 0Komentar

    H halmahera yang Ditemui di Perairan Pelabuhan Trikora Goto
    foto Tim Survey DKP Tikep

  • Apa Kabar Deforestasi di Indonesia?

    • calendar_month Sen, 3 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 821
    • 1Komentar

    Pemerintah Klaim Turun  8,4 Persen Deforestasi Indonesia tahun 2021-2022 turun 8,4% dibandingkan hasil pemantauan tahun 2020-2021. Deforestasi netto Indonesia tahun 2021 -2022 adalah sebesar 104 ribu ha. Sementara, deforestasi Indonesia tahun 2020-2021 adalah sebesar 113,5 ribu ha. Demikian rilis resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sebagaimana dimuat dalam situs resmi […]

  • Ini Cara Bangun Kesadaran Isu Climate Change

    • calendar_month Jum, 5 Agu 2022
    • account_circle
    • visibility 732
    • 1Komentar

    Membangun kesadaran siswa soal isyu sampah plastik dan dampaknya bagi laut dan ancaman perubahan iklim, foto PakaTiva

expand_less