Breaking News
light_mode
Beranda » Serba-serbi » TNAL Miliki Aset Wisata Gua Menakjubkan

TNAL Miliki Aset Wisata Gua Menakjubkan

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 4 Apr 2021
  • visibility 904

Rencana Diusul  Jadi Geopark Nasional

Bumi  Halmahera menyimpan beragam kekayaan alam. Tidak hanya hasil dari bahan mineral dan hutan. Keragaman biodiversitas dan kekayaan   geologi  berupa gua- gua karst yang menakjubkan juga  ada di pulau ini. Kekayaan tak terpemanai itu ada di Taman  Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL).

TNAL  yang wilayahnya  mencakup tiga kabupaten dan kota yakni Kabupaten Halmahera Timur, Halmahera Tengah dan Kota Tidore Kepulauan ini memiliki  total luas kawasan  mencapai 167.319,32 ha,   Kawasan yang telah dilindungi ini tak hanya menyimpan kekayaan flora dan fauna. Di TNAL  juga menyimpan potensi gua karst yang menantang  bagi pecinta  wisata minat khusus.     

Ada 51 gua karst yang menakjubkan baru ditemukan dalam kegiatan Survei dan Inventarisasi Gua Kawasan Karst  di resort Akejawi TNAL 25 Maret hingfa 4 April kemarin.  

Sebuah gua yang ditemukan saat tim melakukan susur gua

Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata TNAL T. Heri Wibowo kepada kabarpulau.co.id/  Minggu (4/4/2021) menjelaskan,   setelah  10 hari tim TNAL dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara telah menggelar  kegiatan Survei dan Inventarisasi Gua di kawasan karst yang berada di resort Akejawi TNAL. Kegiatan ini   bertujuan memetakan sebaran gua- gua yang terdapat di Resort Akejawi dan mengidentifikasi jenis-jenis gua  di kawasan tersebut.

“Output kegiatan ini tidak sekadar memetakan dan mengetahui sebaran dan jenis-jenis gua. Hasil dari kegiatan ini juga sebagai bahan dan data awal guna mempertimbangan menjadikan kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata sebagai bagian dari Geopark Nasional,” jelasnya.

Dia bilang lagi resort Akejawi memiliki potensi sebaran karst terbesar serta memiliki sebaran gua terbanyak di Maluku Utara.  

Selain tim dari Taman Nasional Aketajawe Lolobata, kegiatan ini ini juga melibatkan tim ahli dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara

Heri menambahkan, terdapat 51 gua yang telah ditemukan di kawasan ini dan sebagian sudah teridentifikasi dan dipetakan.

“Saya berharap kawasan ini ke depan akan menjadi daya tarik wisata, khususnya wisata alam minat khusus yaitu susur gua  (caving) di Provinsi Maluku Utara,” harapnya.

Terpisah, Ketua IAGI Maluku Utara Dedy Arief,    menyampaikan bahwa, sesuai hasil observasi dan inventarisasi kawasan karst Resort Akejawi TNAL   memiliki ragam morfologi endokarst (stalaktit, stalakmit, flowstone, pilar, tirai, Chamber, sungai bawah tanah, jendela karst, terowongan dan jembatan alam) dan eksokarst terdiri dari Polje, menara karst dan uvala yang sangat layak dikembangkan sebagai destinasi wisata minat khusus dan bagian dari Geopark Nasional.

Selain itu,    sumber air tanah dari karst juga dimanfaatkan sebagai sumber air bersih di Desa Akejawi dan sekitarnya.


Jadi Destinasi Wisata Minat Baru  

Bagi mereka  yang suka wisata alam,  menerobos rimbunnya hutan belantara, mau menikmati kekayaan biodiversitas dan bentangan alamnya, kawasan wisata TNAL menawarkan semuanya. Tidak butuh mengeluarkan uang puluhan juta untuk menikmatinya. Tempat- tempat wisata  eksotis ini juga masih jarang  dikunjungi  orang,  terutama  wisata susur gua di  TNAL ini.

Sekadar diketahui, Gua  menurut  International Union of Speleogoly (IUS), adalah setiap ruangan bawah tanah yang berbentuk lorong dan dapat ditelusuri atau dimasuki manusia. Nah  kawasan resort Akejawi yang merupakan bagian kawasan TNAL  di Desa Akejawi, Kecamatan Wasilei Selatan, Halmahera Timur  adalah kawasan dengan bentangan alam karst terbesar dan memiliki sebaran gua terbanyak di Maluku Utara. Hampir semua jenis gua bisa ditemukan di kawasan ini.

Aset ini   menjadi tantangan  baru bagi  penikmat wisata alam, guna mengunjunginya.  Apalagi aksesnya terbilang mudah menuju Resort Akejawi.  Dari Sofifi Ibukota Provinsi Maluku Utara  ke Desa Akejawi bisa ditempuh menggunakan kendaraan bermotor dengan   waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam.  Bagi wisatawan yang  tidak memiliki peralatan  untuk caving, tidak perlu khawatir karena TNAL juga menyediakan peralatan atau perlengkapan khusus caving  dengan guide profesional yang siap memandu menyusuri setiap sudut kawasan karst di resort Akejawi.

“Saatnya datang dan nikmati pesona alamnya serta rasakan sensasi petualangan menyusuri gua-gua di Resort Akejawi Taman Nasional Aketajawe Lolobata,” kata kepala TNAL T Hery  Wibowo. (*)   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Super Blue Blood Moon” Waspadai Banjir ROB

    “Super Blue Blood Moon” Waspadai Banjir ROB

    • calendar_month Sel, 30 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 632
    • 0Komentar

    Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan pada  31 Januari 2018, akan terjadi Fenomena Super Blue Blood Moon atau Supermoon yang bertepatan dengan Gerhana Bulan Total. Posisi ini matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lurus. Kejadian Gerhana Bulan Total dapat diamati di sebagian besar wilayah Indonesia. Fenomena ini merupakan fenomena langka karena akan […]

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (Habis)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (Habis)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.265
    • 0Komentar

    Dampak  Langsung Perubahan Iklim  di Kota  Ternate   Dampak perubahan iklim yang mengancam kehidupan manusia saat ini nyata adanya.  Kondisi itu dirasakan  tidak hanya  oleh mereka  di pulau besar. Di pulau kecil  seperti Ternate juga sama. Pulau kecil memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi  dan dampaknya pun berlapis. Ancaman perubahan iklim dalam 10 tahun terakhir tidak hanya […]

  • Warga Gane Timur Minta Pemerintah Perhatikan Produksi Sagu

    • calendar_month Sen, 30 Jan 2023
    • account_circle
    • visibility 699
    • 3Komentar

    Masyarakat Desa Kotalou Kecamatan Gane Timur, saat ini  banyak yang mengolah pohon sagu menjadi tepung.    Hasilnya  lalu  dijual ke daerah sekitar Halmahera Selatan dan Weda  Halmahera Tengah.    Dalam mengolah sagu warga tidak lagi melakukannya  secara manual tetapi  menggunakan  mesin penggilingan. Produksi sagunya  setiap orang menghasilkan 5 sampai 6 karung dalam sepekan. Sementara tiap karung […]

  • Petaka Perubahan Iklim Global Ancam Bumi

    • calendar_month Rab, 12 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 732
    • 1Komentar

    Kenaikan Permukaan air laut menyebabkan abrasi dan pengikisan daratn foto Asrul Lamunu

  • Hutan Orang Tobaru Terus Menyusut

    • calendar_month Kam, 11 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 707
    • 0Komentar

    Yusak Bulere (67 tahun) sibuk mengasapi kelapa yang telah diolah menjadi kopra. Saat ditemui di kebunnya Minggu sekira pukul 11.30 WIT pertengahan Februari 2021 lalu, Ayah tiga ini sibuk melemparkan  gonofu  (sabut kelapa dan tempurung kelapa,red) ke dalam api untuk menambah  api bafufu (pengasapan,red). Yusak sejak pagi menunggu kopra matang untuk segera dijual  kepada pedagang  […]

  • Pemerintah Rencana Produksi Bioetanol dari Seho

    • calendar_month Sab, 14 Des 2024
    • account_circle
    • visibility 1.387
    • 0Komentar

    Kekayaan sumber daya hutan tidak hanya dari kayu. Ada hasil hutan non kayu yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam  program energy terbarukan. Pohon arena atau orang Maluku Utara mengenalnya dengan Seho, adalah salah satu potensi besar yang dapat dikembangkan menjadi bio etanol. Hutan Halamhera dan beberapa pulau lainnya di Maluku Utara menyimpan potensi besar […]

expand_less