Breaking News
light_mode
Beranda » Serba-serbi » TNAL Miliki Aset Wisata Gua Menakjubkan

TNAL Miliki Aset Wisata Gua Menakjubkan

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 4 Apr 2021
  • visibility 765

Rencana Diusul  Jadi Geopark Nasional

Bumi  Halmahera menyimpan beragam kekayaan alam. Tidak hanya hasil dari bahan mineral dan hutan. Keragaman biodiversitas dan kekayaan   geologi  berupa gua- gua karst yang menakjubkan juga  ada di pulau ini. Kekayaan tak terpemanai itu ada di Taman  Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL).

TNAL  yang wilayahnya  mencakup tiga kabupaten dan kota yakni Kabupaten Halmahera Timur, Halmahera Tengah dan Kota Tidore Kepulauan ini memiliki  total luas kawasan  mencapai 167.319,32 ha,   Kawasan yang telah dilindungi ini tak hanya menyimpan kekayaan flora dan fauna. Di TNAL  juga menyimpan potensi gua karst yang menantang  bagi pecinta  wisata minat khusus.     

Ada 51 gua karst yang menakjubkan baru ditemukan dalam kegiatan Survei dan Inventarisasi Gua Kawasan Karst  di resort Akejawi TNAL 25 Maret hingfa 4 April kemarin.  

Sebuah gua yang ditemukan saat tim melakukan susur gua

Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata TNAL T. Heri Wibowo kepada kabarpulau.co.id/  Minggu (4/4/2021) menjelaskan,   setelah  10 hari tim TNAL dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara telah menggelar  kegiatan Survei dan Inventarisasi Gua di kawasan karst yang berada di resort Akejawi TNAL. Kegiatan ini   bertujuan memetakan sebaran gua- gua yang terdapat di Resort Akejawi dan mengidentifikasi jenis-jenis gua  di kawasan tersebut.

Output kegiatan ini tidak sekadar memetakan dan mengetahui sebaran dan jenis-jenis gua. Hasil dari kegiatan ini juga sebagai bahan dan data awal guna mempertimbangan menjadikan kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata sebagai bagian dari Geopark Nasional,” jelasnya.

Dia bilang lagi resort Akejawi memiliki potensi sebaran karst terbesar serta memiliki sebaran gua terbanyak di Maluku Utara.  

Selain tim dari Taman Nasional Aketajawe Lolobata, kegiatan ini ini juga melibatkan tim ahli dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara

Heri menambahkan, terdapat 51 gua yang telah ditemukan di kawasan ini dan sebagian sudah teridentifikasi dan dipetakan.

“Saya berharap kawasan ini ke depan akan menjadi daya tarik wisata, khususnya wisata alam minat khusus yaitu susur gua  (caving) di Provinsi Maluku Utara,” harapnya.

Terpisah, Ketua IAGI Maluku Utara Dedy Arief,    menyampaikan bahwa, sesuai hasil observasi dan inventarisasi kawasan karst Resort Akejawi TNAL   memiliki ragam morfologi endokarst (stalaktit, stalakmit, flowstone, pilar, tirai, Chamber, sungai bawah tanah, jendela karst, terowongan dan jembatan alam) dan eksokarst terdiri dari Polje, menara karst dan uvala yang sangat layak dikembangkan sebagai destinasi wisata minat khusus dan bagian dari Geopark Nasional.

Selain itu,    sumber air tanah dari karst juga dimanfaatkan sebagai sumber air bersih di Desa Akejawi dan sekitarnya.


Jadi Destinasi Wisata Minat Baru  

Bagi mereka  yang suka wisata alam,  menerobos rimbunnya hutan belantara, mau menikmati kekayaan biodiversitas dan bentangan alamnya, kawasan wisata TNAL menawarkan semuanya. Tidak butuh mengeluarkan uang puluhan juta untuk menikmatinya. Tempat- tempat wisata  eksotis ini juga masih jarang  dikunjungi  orang,  terutama  wisata susur gua di  TNAL ini.

Sekadar diketahui, Gua  menurut  International Union of Speleogoly (IUS), adalah setiap ruangan bawah tanah yang berbentuk lorong dan dapat ditelusuri atau dimasuki manusia. Nah  kawasan resort Akejawi yang merupakan bagian kawasan TNAL  di Desa Akejawi, Kecamatan Wasilei Selatan, Halmahera Timur  adalah kawasan dengan bentangan alam karst terbesar dan memiliki sebaran gua terbanyak di Maluku Utara. Hampir semua jenis gua bisa ditemukan di kawasan ini.

Aset ini   menjadi tantangan  baru bagi  penikmat wisata alam, guna mengunjunginya.  Apalagi aksesnya terbilang mudah menuju Resort Akejawi.  Dari Sofifi Ibukota Provinsi Maluku Utara  ke Desa Akejawi bisa ditempuh menggunakan kendaraan bermotor dengan   waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam.  Bagi wisatawan yang  tidak memiliki peralatan  untuk caving, tidak perlu khawatir karena TNAL juga menyediakan peralatan atau perlengkapan khusus caving  dengan guide profesional yang siap memandu menyusuri setiap sudut kawasan karst di resort Akejawi.

“Saatnya datang dan nikmati pesona alamnya serta rasakan sensasi petualangan menyusuri gua-gua di Resort Akejawi Taman Nasional Aketajawe Lolobata,” kata kepala TNAL T Hery  Wibowo. (*)   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • 65 Ekor Paruh Bengkok Pulang ke Habitatnya

    • calendar_month Jum, 2 Apr 2021
    • account_circle
    • visibility 527
    • 0Komentar

    Bersiap siap untuk kegiatan lepasliaran. Berbagai pihak yang hadir bersiap melepas burung tersebut ke alam liar. Foto Seksi KSDA Wilayah Ternate

  • Perdagangan TSL Dilindungi di Malut Menurun    

    • calendar_month Kam, 23 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 546
    • 0Komentar

    Eksploitasi, terutama penangkapan dan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar (TSL)  dilindungi di Maluku Utara, mengalami penurunan drastis. Ini berbeda di bawah tahun 2020, kasus penjualan dan penangkapan hewan endemic seperti burung jenis paruh bengkok  sangat massive dan terjadi berulang kali. Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) sejak 2022 dan 2023 ini belum mendapatkan laporan atau […]

  • Tegas! Pulau Tak Boleh Diperjualbelikan

    • calendar_month Jum, 27 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 552
    • 0Komentar

    Maraknya  iklan dan pemberitaan penjualan pulau-pulau di Indonesia, membuat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengeluarkan larangan tegas  adanya penjualan pulau. KKP memastikan tidak ada regulasi yang mengatur penjualan pulau maupun pulau kecil di Indonesia.  Di Maluku Utara beberapa waktu lalu sempat heboh adanya  isu penjualan gugusan kepualaun Widi Halmahera Selatan yang sempat ditawarkan melalui situs […]

  • Hadapi Krisis Air dengan Pengelolaan Sumberdaya Berkelanjutan

    • calendar_month Kam, 14 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 574
    • 0Komentar

    Menanam pohon adalah salah satu jawaban atas persoalan krisis air yang mulai melanda bumi foto Duta Kreator Indonesia (DKI)

  • Menjaga Mangrove di Titik Nol Khatulistiwa

    • calendar_month Sel, 19 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 924
    • 0Komentar

    Membangun Asa dari Kampung Tawabi     Senin (11/2/2024) sekira pukul 12.00 siang itu terasa  menyengat. Matahari tegak lurus di atas ubun-ubun. Cuaca panas  itu begitu terasa karena  sedang berada di titik nol khatulistiwa.  Tepatnya di desa Tawabi Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan. Sebuah patok   menjadi penanda  titik nol khatulistiwa  berada di  hutan mangrove tepi pantai […]

  • Bina Desa di Pulau Laigoma, FPK Unkhair Turut Lepas Tukik

    • calendar_month Rab, 13 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 588
    • 1Komentar

    Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat,  Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Khairun Ternate menggelar kegiatan  Bina Desa. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara 9 dan 10 September 2023 lalu. Tujuan kegiatan ini adalah, memberikan pengetahuan bagi masyarakat nelayan, khususnya di Pulau Laigoma, […]

expand_less