Breaking News
light_mode
Beranda » Serba-serbi » TNAL Miliki Aset Wisata Gua Menakjubkan

TNAL Miliki Aset Wisata Gua Menakjubkan

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 4 Apr 2021
  • visibility 308

Rencana Diusul  Jadi Geopark Nasional

Bumi  Halmahera menyimpan beragam kekayaan alam. Tidak hanya hasil dari bahan mineral dan hutan. Keragaman biodiversitas dan kekayaan   geologi  berupa gua- gua karst yang menakjubkan juga  ada di pulau ini. Kekayaan tak terpemanai itu ada di Taman  Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL).

TNAL  yang wilayahnya  mencakup tiga kabupaten dan kota yakni Kabupaten Halmahera Timur, Halmahera Tengah dan Kota Tidore Kepulauan ini memiliki  total luas kawasan  mencapai 167.319,32 ha,   Kawasan yang telah dilindungi ini tak hanya menyimpan kekayaan flora dan fauna. Di TNAL  juga menyimpan potensi gua karst yang menantang  bagi pecinta  wisata minat khusus.     

Ada 51 gua karst yang menakjubkan baru ditemukan dalam kegiatan Survei dan Inventarisasi Gua Kawasan Karst  di resort Akejawi TNAL 25 Maret hingfa 4 April kemarin.  

Sebuah gua yang ditemukan saat tim melakukan susur gua

Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata TNAL T. Heri Wibowo kepada kabarpulau.co.id/  Minggu (4/4/2021) menjelaskan,   setelah  10 hari tim TNAL dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara telah menggelar  kegiatan Survei dan Inventarisasi Gua di kawasan karst yang berada di resort Akejawi TNAL. Kegiatan ini   bertujuan memetakan sebaran gua- gua yang terdapat di Resort Akejawi dan mengidentifikasi jenis-jenis gua  di kawasan tersebut.

Output kegiatan ini tidak sekadar memetakan dan mengetahui sebaran dan jenis-jenis gua. Hasil dari kegiatan ini juga sebagai bahan dan data awal guna mempertimbangan menjadikan kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata sebagai bagian dari Geopark Nasional,” jelasnya.

Dia bilang lagi resort Akejawi memiliki potensi sebaran karst terbesar serta memiliki sebaran gua terbanyak di Maluku Utara.  

Selain tim dari Taman Nasional Aketajawe Lolobata, kegiatan ini ini juga melibatkan tim ahli dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara

Heri menambahkan, terdapat 51 gua yang telah ditemukan di kawasan ini dan sebagian sudah teridentifikasi dan dipetakan.

“Saya berharap kawasan ini ke depan akan menjadi daya tarik wisata, khususnya wisata alam minat khusus yaitu susur gua  (caving) di Provinsi Maluku Utara,” harapnya.

Terpisah, Ketua IAGI Maluku Utara Dedy Arief,    menyampaikan bahwa, sesuai hasil observasi dan inventarisasi kawasan karst Resort Akejawi TNAL   memiliki ragam morfologi endokarst (stalaktit, stalakmit, flowstone, pilar, tirai, Chamber, sungai bawah tanah, jendela karst, terowongan dan jembatan alam) dan eksokarst terdiri dari Polje, menara karst dan uvala yang sangat layak dikembangkan sebagai destinasi wisata minat khusus dan bagian dari Geopark Nasional.

Selain itu,    sumber air tanah dari karst juga dimanfaatkan sebagai sumber air bersih di Desa Akejawi dan sekitarnya.


Jadi Destinasi Wisata Minat Baru  

Bagi mereka  yang suka wisata alam,  menerobos rimbunnya hutan belantara, mau menikmati kekayaan biodiversitas dan bentangan alamnya, kawasan wisata TNAL menawarkan semuanya. Tidak butuh mengeluarkan uang puluhan juta untuk menikmatinya. Tempat- tempat wisata  eksotis ini juga masih jarang  dikunjungi  orang,  terutama  wisata susur gua di  TNAL ini.

Sekadar diketahui, Gua  menurut  International Union of Speleogoly (IUS), adalah setiap ruangan bawah tanah yang berbentuk lorong dan dapat ditelusuri atau dimasuki manusia. Nah  kawasan resort Akejawi yang merupakan bagian kawasan TNAL  di Desa Akejawi, Kecamatan Wasilei Selatan, Halmahera Timur  adalah kawasan dengan bentangan alam karst terbesar dan memiliki sebaran gua terbanyak di Maluku Utara. Hampir semua jenis gua bisa ditemukan di kawasan ini.

Aset ini   menjadi tantangan  baru bagi  penikmat wisata alam, guna mengunjunginya.  Apalagi aksesnya terbilang mudah menuju Resort Akejawi.  Dari Sofifi Ibukota Provinsi Maluku Utara  ke Desa Akejawi bisa ditempuh menggunakan kendaraan bermotor dengan   waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam.  Bagi wisatawan yang  tidak memiliki peralatan  untuk caving, tidak perlu khawatir karena TNAL juga menyediakan peralatan atau perlengkapan khusus caving  dengan guide profesional yang siap memandu menyusuri setiap sudut kawasan karst di resort Akejawi.

“Saatnya datang dan nikmati pesona alamnya serta rasakan sensasi petualangan menyusuri gua-gua di Resort Akejawi Taman Nasional Aketajawe Lolobata,” kata kepala TNAL T Hery  Wibowo. (*)   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cerita Kehancuran Pulau  di Halmahera dan Sulawesi Hadir Dalam Diskusi COP di  Brazil

    Cerita Kehancuran Pulau  di Halmahera dan Sulawesi Hadir Dalam Diskusi COP di  Brazil

    • calendar_month Sab, 15 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Nikel jadi Sumber Kehancuran Ruang Masayarakat Adat  Di tengah  gegap gempita janji-janji iklim yang digaungkan para pemimpin dunia dalam ruang-ruang negosiasi COP30 di Belém, Brazil, nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global. Dalam diskusi side event COP30 Centering Justice and Responsible Critical Minerals Governance di Ford Foundation Pavilion, suara-suara masyarakat […]

  • Ikan dan Manusia di Teluk  Weda Tercemar Logam  Berbahaya      1:24 Play Button

    Ikan dan Manusia di Teluk Weda Tercemar Logam Berbahaya     

    • calendar_month Sel, 27 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 2.192
    • 0Komentar

    Ini Hasil Riset Nexus3 Foundation dan Universitas Tadulako       Nexus3 Foundation bersama Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah merilis laporan penelitian mengenai status lingkungan dan human biomonitoring  di daerah Teluk Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Wilayah ini menjadi tempat pengambilan sampel karena   menjadi salah satu sentra industri nikel di Indonesia.    Nexus3  Foundation Nexus for […]

  • Pulau Kecil Bisa Dikuasai 70 Persen Pemodal

    • calendar_month Kam, 19 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 256
    • 0Komentar

    Data resmi jumlah pulau di Maluku Utara mencapai 1080. Pengaturan pemanfaatan pulau-pulau kecil di daerah ini masih terbilang serampangan. Misalnya pulau kecil yang sebenarnya  rentan  tetapi  dieksploitasi tak tersisa. Kasus di pulau Ge Halmahera Timur dan beberapa pulau kecil lainnya adalah contoh nyata pulau kecil dikuasai  dan dibabat habis. Kementerian  KKP  berjanji  memperketat  aturan main […]

  • Pilpres for Safe The People and Nature

    Pilpres for Safe The People and Nature

    • calendar_month Rab, 4 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 205
    • 0Komentar

    Catatan dari  Pojok Jarod Kita dihentakkan dengan berita  kecelakan mengerikan menimpa anak bangsa ini dalam dua minggu terkahir ini.  Pertama tenggelamnya KM. Sinar Bangun di Danau Toba dalam kedalam lebih dari 400 meter  yang hingga kini 160 jenazah penumpang tidak ditemukan. Lalu kecelakan speedboat di Nunukan- Sebatik yang juga memakan korban. Lalu kemarin kecelakaan kapal […]

  • Kondisi Lingkungan Maluku Utara Butuh Perhatian

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2020
    • account_circle
    • visibility 382
    • 0Komentar

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2020 ini mengambil  tema  “Time For Nature” yang mengajak  penduduk dunia menyadari bahwa makanan yang dimakan, air yang diminum, dan ruang hidup di planet yang ditinggali adalah sebaik-baiknya manfaat dari alam (nature) sehingga harus dijaga kelestariannya. Sayangnya apa yang didengungkan ini  berbanding terbalik dengan kondisi  saat ini.  Di Provinsi Maluku […]

  • Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Catatan dari COP 30 di Brazil   Di tengah meningkatnya dampak krisis iklim dan melambatnya komitmen negara-negara untuk menekan suhu bumi di bawah 1,5°C, orang muda dunia menyatukan suara mereka. Melalui Global Youth Statement (GYS), ribuan orang muda dari lebih dari 150 negara menyerukan perubahan arah kebijakan iklim global menuju transisi energi yang adil, pendanaan […]

expand_less