Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Cerita dari Laigoma Setelah Ada Solar Cell (1)

Cerita dari Laigoma Setelah Ada Solar Cell (1)

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 12 Agu 2023
  • visibility 817

Rumah milik Safa Kamari (67 tahun) berada di ujung selatan Dusun I Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara.  

Berdinding beton beratap seng, di halamannya berdiri satu buah panel surya yang berfungsi mengubah tenaga surya menjadi energi listrik. Dari panel ini tersambung dengan empat bola lampu yang dipasang di teras, ruang tamu, dapur dan kamari mandi. 

Fasilitas listrik cahaya matahari (solar cell)  ini didapatkan Safa melalui bantuan panel  dan peralatannya tiga tahun lalu (2019)  dari Kementerian Energi Sumberdaya Mineral ESDM) yang telah dimanfaatkan hingga kini.

Ibu ini punya tiga anak dan mereka sudah menikah. Dia hidup dengan salah satu anak perempuannya serta beberapa cucu.  

Keseharian Safa mengandalkan lampu tenaga  surya ini meski sebenarnya di kampong itu ada penerangan  dari  genset  atau  generator berkapasitas 10 kilo watt  yang disediakan  pemerintah desa. 

“Torang (kami,red) sangat senang karena ada lampu tenaga surya ini. Tra (tidak,red) sibuk harus beli BBM. Pokoknya kalau malam sudah tahu langsung menyala,” ujar Safa.

Ditemui di rumahnya Sabtu (25/7/2023),  dia bercerita,  kala  belum ada listrik seperti sekarang mereka harus menggunakan lampu teplok. “Kalau dulu pake loga loga (teplok,red) dengan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Biasanya kamar dan dinding juga jadi hitam. Bahkan ketika bangun pagi kadang lobang hidung juga  hitam.  Tapi sekarang sudah tidak lagi setelah adanya program solar cell masuk. Tidak hanya saya  yang dapat bantuan ini. Semua rumah  dua dusun di desa ini dapat bagian,” katanya.

Asis (45 tahun ) salah satu warga Laigoma menunjuk panel solar cell yang dibangun Pemkab Halmahera Selatan dan saat ini rusak foto M Ichi

Safa sendiri  tidak punya kulkas atau mesin cuci. Karena itu dia hanya butuhkan listrik untuk penerangan. Dia bilang dengan adanya listrik surya ini sudah sangat membantu menerangi rumahnya.  

Diakui memang saat ini ada genset  membantu menambah penerangan dalam rumah. Tetapi penggunannya terbatas,  dinyalakan pukul 18.30 WIT hingga pukul 24.00 WIT atau jam 12 malam. Setelah itu dipadamkan  maka kampong  juga jadi gelap. Tetapi adanya listrik   tenaga surya ini dalam rumah mereka tetap terang.

Bagi dia lisitrik   tenaga surya ini,  banyak keuntungan dia dapatkan. Selain karena penggunaannya tidak tebatas, juga  tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan membeli BBM. Beruntung saat ini untuk  mengoperasikan   genset milik  desa,  BBM nya ditalangi melalui Alokasi Dana Desa (ADD). Jika tidak, dipastikan mereka harus mengeluarkan anggaran untuk biaya membeli BBM.  ”Saat ini torang tra (kami tidak,red) beli BBM karena pemerintah desa gunakan  ADD  beli BBM tiap bulan 1 drum solar,” katanya.

Dia juga mengaku senang karena baru saja dipasang dua buah lampu jalan yang  sumbernya juga dari tenaga surya.  Ada dua tiang di samping rumahny yang didatangkan pemerintah desa dan baru dipasang untuk lampu jalan. Meski belum nyala  untuk penerangan jalan nanti tidak perlu lagi  dari genset.

Senada Nenek Safa, Thamrin Habib (24 tahun) tokoh pemuda desa Laigoma Pulau juga memberi apresiasi  dan terima kasih kepada pemerintah yang telah membantu masyarakat dengan membagi secara cuma-cuma panel  solar cell tersebut. Sebagai orang kampong  yang jauh  dan  terpencil  di pulau,   hadirnya  solar cell ini  sangat membantu warga di kampung. “Rumah- rumah di sini terang karena adanya  bantuan ini,” ujarnya.

Dia bilang lagi,  bantuan ini sangat membantu  kehidupan warga setempat dalam pemenuhan penerangan. Mungkin bagi mereka yang punya kemampuan lebih  bisa membeli  mesin genset dan BBM  dalam memenuhi kebutuhan  kebutuhan listrik. Tetapi orang yang punya kemampuan dan pendapatan terbatas,  mengandalkan melaut dan bertani dari hasil kopra yang juga terbatas, bantuan seperti ini, sangatlah berarti.  “Apalagi listrik dari solar cell ini dipakai seumur hidup jika tetap dirawat,”imbuhnya. 

Kata dia, bantuan solar cell ini sangat bermanfaat untuk penerangan.  Hanya saja ada persoalan yang dihadapi masyarakat ketika ada  kerusakan  dan tidak bisa  nyala. Mereka juga tidak punya keahlian untuk memperbaiki. Karena itu ketika ada kejadian  sudah tidak bisa lagi  lakukan perbaikan.

“Saya pikir yang jadi masalah  masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk memperbaikinya. Akhirnya dibiarkan begitu saja  dan  berharap lagi mesin genset,” ujarnya.

Bola-lampu sumber-energinya-dari-solar-cell-yang-ada-di-pulau-Laigoma-foto-M-Ichi-1

Ini masalah yang dihadapi masyarakat. Dicontohkan ketika ada bola lampu yang rusak mereka tidak bisa menggantinya.Warga desa tidak tahu harus  memperbaiknya, atau  juga membeli ke mana. 

Di rumahnya ada empat mata lampu, dua di antaranya telah rusak tetapi sudah tidak bisa diperbaiki atau diganti karena  tidak tahu harus  beli di mana bola lampu tersebut.  Thamrin lantas berharap, bantuan solar cell ini tidak hanya diberikan kepada masyarakat, tetapi juga dipikirkan cara perbaikannya.  Sehingga nanri masyarakat bisa memanfaatkan dalam waktu yang lama dan dapat diwariskan terus-menerus. “Listrik ini pake (pakai,red) cahaya matahari. Torang mau   bisa jaga dan rawat  sehingga bisa dipakai dalam waktu yang lama,” tutupnya.  (*)    

Adakan Genset  untuk Tambah Kebutuhan Listrik

Sore sekira pukul 18.30 WIT, desa Laigoma   itu terdengar riuh. Bunyi mesin generator merk Yanmar berkapasitas 10 kilo watt terdengar jelas dari pantai desa itu. Mesin  ini dihidupkan untuk menyalakan lampu listrik dari sore hingga pukul 24.00 WIT. Selanjutnya lampu dipadamkan dan warga memanfaatkan solar cell bantuan Kementerian ESDM yang dibagi per KK  dengan  4 mata lampu.  Bola lampunya berkapasitas 20  watt/mata lampu dengan satu penampang atau panel di tiap rumah.  Bantuan ini didapatkan warga jauh sebelum ada mesin genset yang dibeli pemerintah desa melalui  Alokasi Dana Desa (ADD).  

Desa dengan penduduk 61 Kepala Keluarga (KK)  atau 321 jiwa itu, sebenarnya memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)  berkapasitas  lumayan besar untuk memenuhi kebutuhan warga.  Panel panel surya itu dibangun di salah satu bukit di bagian utara desa di akhir 2018 dan sempat mangkrak. Proyek itu kemudian dilanjutkan pengerjaanya dan  bisa dinyalakan akhir 2021 lalu. Setelah dilanjutkan proyek listrik tenaga surya ini bisa dinikmati warga pada awal 2021 lalu.

Melalui skema pendanaan APBD Kabupaten Halmahera Selatan 2018, dana yang dikucurkan mencapai Rp 1,3 miliar lebih. Sayang setelah dinikmati warga setahun lebih,    PLTS kembali alami kerusakan hingga kini.  

Saat Mongabay.co.id menyambangi Laigoma PLTS  tersebut masih alami kerusakan.  Pengakuan warga  kerusakan itu akibat   penggunaan berlebihan  karna kurangnya control setelah diserahkan pemerintah kabupaten ke pemerintah desa.  

“PLTS di kampong ini memiliki kapasitas 5 kva.  Karena  kapasits terbatas, penggunaannya juga dibatasi. Akan tetapi ada warga menggunakan listrik berlebihan tidak hanya untuk penerangan. Misalnya untuk mesin cuci maupun lemari pendingin. Akhirnya alami kerusakan,” jelas Ade Thaib Kepala Urusan Pemerintahan Pemerintah Desa Laigoma.   

Dia bilang, PLTS ini memiliki kapasitas terbatas. Sementara warga  memiliki kebutuhan listrik lebih besar, terutama menunjang aktivitas ibu– ibu. Tidak itu saja  ada yang sembunyi sembunyi memanfaatkan kapasitas listrik yang berlebihan akhirnya  inverter dari tenaga surya ini rusak.

Sekadar diketahui, panel surya menyerap energi radiasi dari cahaya matahari yang akan menghasilkan energi listrik DC (direct current) atau arus searah, kemudian Solar Inverter berperan mengubah energi listrik DC, menjadi energi AC (alternating current)  berubah dan bolak balik untuk suplai ke arah beban. Karena itu  inverter menjadi  alat  esensial  di  sistem PLTS.  (https://sunenergy.id/blog/inverter-panel-surya PLTS merupakan komponen,sebagainya menggunakan arus listrik AC)

Rusaknya PLTS  dan adanya  keterbatasan kapasitas listrik itu membuat warga menambah listrik dari genset. Terutama untuk penerangan, mengisi bateray HP, mesin cuci, kulkas,  menghidupkan  alat music dan lainya. “Dalam memenuhi kebutuhan listrik harus disuplai dari genzet,” tambahnya.

Sebenarnya kata dia, ketika ada solar cell, warga sangat terbantu terutama untuk penerangan. Termasuk menghemat pengeluaran. Misalnya, pembiayaan bahan bakar (BBM)  untuk genzet.  Saat ini BBM untuk genset saja setiap bulan harus disediakan dana sekira Rp 3 juta untuk membeli 250 hingga 300 liter BBM jenis solar.  BBM sebanyak ini  dimanfaatan untuk  dua mesin yang ada di dua dusun desa ini.   

Panel-Solar-cell-yang-dibangiun-akhir-2018-oleh-Pemkab-Halmahera-Selatan-di-Pulau-Laigoma-Maluku-Utara-foto-M-Ici

Padahal katanya jika menggunakan solar cell maka tidak ada lagi sepeser uang  dikeluarkan  untuk beli BBM. “Pokoknya saat solar cell masih menyala masyarakat senang.  Rumah menjadi terang tidak ada biaya tambahan untuk penerangan,” jelas Ade Rabu (25/7/2023) lalu.           

Solar cell menjadi salah satu sumber energi yang diharapkan bisa dinikmati masyarakat secara berkelanjutan. Sayangnya panel surya yang alami kerusakan itu  belum diperbaiki. 

Dia bilang lagi warga  sebenarnya membutuhkan energy solar cell, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan  penerangan. Jika lebih bagus lagi membantu menyediakan listrik  untuk kebutuhan pembuatan  es yang nanti dimanfaatkan mengawetkan ikan hasil tangkapan nelayan.

Sekadar diketahui, Desa Laigoma yang rata-rata penduduknya adalah  nelayan sangat butuh ketersediaan es.  Desa yang berada di gugusan pulau- pulau Guraici  dengan kurang lebih 17 pulau ini sangat butuh  ketersediaan es balok untuk mengawetkan hasil  tangkapan mereka. Ikan-ikan dari pulau ini hamper semua masuk  dan beredar di pasar Ternate. Bahkan sebagian pembeli menjualnya antar pulau ke Sulawesi maupun Pulau Jawa.      

“Kami butuh solar cell ini, lebih dari penerangan. Jika ada tenaga listrik lebih bisa dimanfaatkan  membuat es. Karena ketiadaan listrik dan tidak bisa membuat es,  akhirnya nelayan memesan  langsung dari Ternate.  Tentu  ini membutuhkan anggaran tambahan lebih besar agar  bisa sampai ke kampong Laigoma.  Es balok  digunakan  nelayan yang menangkap ikan karang  atau warga Maluku Utara menyebutnya ikan dasar. “Rata rata masyarakat nelayan di sini mengail ikan dasar (ikan karang,red). Jika ingin menjualnya ke Ternate maka perlu menyediakan es  untuk mengawetkan ikan selama 2 atau 3 hari,”kata  Ade  yang juga sebagai nelayan tersebut. (*)

Tulisan ini merupakan hasil liputan kolaborasi 350.org bersama kabarpulau.co.id/ dan mongabay.co.id

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • HAM untuk Nelayan Kecil dan Awak Kapal Perikanan Lemah

    • calendar_month Kam, 3 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 716
    • 0Komentar

    Upaya pemerintah dalam pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) kepada nelayan kecil dan awak kapal perikanan sebagaimana diamanahkan di dalam UndangUndang No. 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam  terbilang lemah. Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan dalam rilisnya  Selasa (1/8/2023), menegaskan,  Pemenuhan HAM  kepada nelayan kecil dan awak kapal perikanan […]

  • Pulau Kecil Bisa Dikuasai 70 Persen Pemodal

    • calendar_month Kam, 19 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 628
    • 0Komentar

    Data resmi jumlah pulau di Maluku Utara mencapai 1080. Pengaturan pemanfaatan pulau-pulau kecil di daerah ini masih terbilang serampangan. Misalnya pulau kecil yang sebenarnya  rentan  tetapi  dieksploitasi tak tersisa. Kasus di pulau Ge Halmahera Timur dan beberapa pulau kecil lainnya adalah contoh nyata pulau kecil dikuasai  dan dibabat habis. Kementerian  KKP  berjanji  memperketat  aturan main […]

  • Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (2 habis)

    • calendar_month Sab, 15 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 1.293
    • 0Komentar

    Bagaimana Melakukannya di Komunitas? Bencana baik alam maupun non alam berdampak cukup serius bagi warga.  Pandemi Covid-19 misalnya, membuat hampir semua orang menjadi kurang produktif.  Pemenuhan kebutuhan hidup di masa pandemi pun  jadi tantangan.   Warga menjadi sangat rentan terutama  dalam memenuhi kebutuhan pangan. Karena itu perlu membangun  ketangguhan. Menata kembali kehidupan sosial dan lingkungan, yang […]

  • Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir,  MDPI Gelar Festival Kesehatan dan Pelatihan Keselamatan di Pulau Buru

    Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, MDPI Gelar Festival Kesehatan dan Pelatihan Keselamatan di Pulau Buru

    • calendar_month Ming, 12 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 247
    • 0Komentar

    Kesehatan dan keselamatan nelayan menjadi semakin penting. Di tengah tingginya risiko kerja yang dihadapi saat melaut. Bagi keluarga nelayan, akses terhadap layanan kesehatan preventif yang rutin dan dekat dengan aktivitas sehari-hari menjadi kebutuhan mendasar dalam menjaga produktivitas dan keselamatan. Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) memandang bahwa kesehatan dan keselamatan nelayan merupakan fondasi penting dalam membangun […]

  • Hadapi Krisis Air dengan Pengelolaan Sumberdaya Berkelanjutan

    • calendar_month Kam, 14 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 583
    • 0Komentar

    Menanam pohon adalah salah satu jawaban atas persoalan krisis air yang mulai melanda bumi foto Duta Kreator Indonesia (DKI)

  • Wisata Danau di Halmahera Ini Layak Dikunjungi

    • calendar_month Sel, 15 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 1.144
    • 0Komentar

    Cerita dari  Ekspedisi Cinta Talaga  Rano   Wilayah Maluku Utara yang berada di kawasan  ring of fire atau cincin api, ternyata memiliki beberapa keistimewaan. Salah satunya, dari aktivitas vulkanis gunung api , ikut memunculkan  danau  di sekitarnya.  Danau yang ada menjadi potensi wisata yang sangat menjanjikan.  Data yang dirilis Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan […]

expand_less