Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Nelayan Malut Protes Permen 59/2020

Nelayan Malut Protes Permen 59/2020

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 25 Jan 2021
  • visibility 667

Nelayan motor ikan/huhati (pole and line,red) di Ternate dan Tidore,  protes kebijakan pemerintah pusat melalui Kemnterian Perikanan dan Kelautan yang membuka lagi ruang, beroperasinya alat tangkap cantang maupun trawl.

Protes ini disampaikan langsung para nelayan saat  seminar nasional yang digelar Ikatan Alumni Perikanan dan Kelautan (IKAPERIK) Universitas Khairun Ternate  di Sahid Bela Hotel Sabtu (23/1/20) lalu.

Thamrin salah satu Nelayan dari Kelompok Usaha Bersama (KUB) Kelurahan Dufa dufa Kota Ternate  mengatakan, pemerintah telah melakukan sosialisasi  Permen 59/2020  yang mengatur tentang  jalur tangkap  dan alat penangkapan. Hal ini sebenarnya sangat dirisaukan nelayan di Maluku Utara.

“Nelayan lokal  menggunakan alat tangkap  huhate ada juga yang menggunakan purse seine atau pajeko. Sesuai Permen mengakomodir trawl dan cantrang.Alat tangkap ini akan mengancam alat tangkap tradisional  seperti motor ikan karena kalah bersaing.  Padahal  kebijakan Menteri DKP sebelumnya melarang penggunaan alat ini,” katanya.

Senada dengan itu Irwan Umar nelayan  Tidore  di hadapan Dirjen menyatakan menolak pemberlakukan Permen ini. “Sebagai  nelayan dan penguasaha perikanan yang menggunakan poll and line  saya menolak. Karena secara otomatis mematikan usaha  alat tangkap yang ada sekarang ini,” katanya.

Pedagang/dibo-dibo ikan di PPI Dufa dufa

Dia bilang dulu produksi ikan Maluku Utara melimpah, dengan alat tangkap poll and line. Di tahun 90 an memancing  tidak jauh   hanya seputar pulau Ternate dan Tidore. Apalagi hadirnya trawl dan cantrang  yang menangkap ikan turun ke wilayah operasi  nelayan tradisional hingga 4 mil laut. Sudah pasti memastikan nelayan tradisional,” katanya.  Saat ini saja nelayan termasuk dirinya memancing naik sampai 70 100 mil laut.  

Dia bilang kini  proses memancingnya sudah sangat jauh bahkan bisa sampai ratusan mil yang tentu membutuhkan bahan bakar  dan biaya yang tidak sedikit. Jika diizinkan cantrang dan trawl beroperasi  akan bertarung  antar alat tangkap dan akan semakin menyusahkan  nelayan tradisonal.  

Karena persoalan ini jika tidak dipikirkan pemerintah secara baik akan menyusahkan nelayan tradisional sepertinya.

“Kami  minta pemerintah menghentikan cantrang dan trawl karena mengancam nelayan kecil terutama kita  di Maluku Utara,” pintanya . Dia turut meminta   pemeritah  tidak mengubah–ubah aturan yang sebenarya sangat menyusahkan nelayan itu.

Suara nelayan Maluku Utara ini mendapat tanggapan  Dirjen Perikanan Tangkap Dr Ir Muhammad Zaini yang juga hadir secara  online dalam seminar   itu. Menurut dia sebenarnya pemberian izin- izin kepada alat tangkap besar  terutama Cantrang   itu tujuannya  bukan untuk menjarah   atau mengurangi jatah nelayan nelayan kecil termasuk  di laut Ternate dan Maluku Utara.  “Kalau pemerintah daerahnya tidak mengizinkan kapal kapal penangkap besar  terutama cantrang  dan trawl itu tidak mungkin ada cantrang  di  daerah peisir Maluku Utara.   KKP  juga tidak  mengizinkan cantrang beroperasi ke laut  seperti Maluku Utara.

 Menurutnya, DKP mengizinkan cantrang itu  beroperasi  di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP)  712 di   laut Jawa.  

Begitu juga dengan kapal penangkap besar,  diakui Dirjen ada dilema. Pasalnya sumberdaya alam perikanan Indonesia  melimpah  dari perairan lepas pantai sampai ke laut lepas.  Tetapi berbanding terbalik dengan hasil ekspor ikan. Indonesia kalah dengan Negara lain termasuk tetangga seperti Filipina. Ini menyangkut  penyiapan alat tangkap.

ikan pelagis yang ditangkap nelayan dengan pajeko

“Kalau dibatasi pengoperasiannya  kapal dengan ukuran sampai 150 GT akibatnya di laut lepas   Zona Economy Eksklusive (ZEE)  kapal ikan Indonesia tidak ada.   Di laut pasifik kapal- kapal ikan besar itu hanya milik China, Taiwan bahkan Filipina dan  Korea. Sementara Indonesia tidak ada sama sekali.  Karena itu tidak punya  kapal akhirnya Indonesia tidak mampu memanfaatkan sumberdaya  laut yang ada.    

“Jadi walaupun lautnya luas  produksi kita rendah karena alat tangkap tidak memadai. Dia bilang bahwa semua  laut lepas di dunia  ada kapal- kapal  China. Sudah begitu mereka bekerja sama dengan beberapa Negara.Jadi produksi ikannya sangat besar,” katanya.

Karena  itu Dirjen berharap pengertian dari semua pihak terutama nelayan. “Terpenting kita  atur agar kapal kapal besar tidak merusak dan tidak mengganggu wilayah wilayah penangkapan nelayan kecil. Ini yang mesti dijaga bersama,” katanya.

Sekadar diketahui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 59/PERMEN-KP/2020 itu mengatur tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia dan Laut Lepas. Permen  ini dianggap menjadi ancaman baru nelayan Maluku Utara. Terutama berlaku bagi nelayan pole and line atau huhate  untuk cakalang dan nelayan  dengn  alat tangkap jenis purse seine atau pajeko untuk pelagis kecil. (*)     

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengunjungi Mayau, Pulau Terluar Kota Ternate (1)

    • calendar_month Sen, 4 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 1.705
    • 1Komentar

    Merekam Masalah Infrastruktur hingga Layanan Dasar    Kamis (24/8/2023) lalu saya berkesempatan  mengunjungi Pulau Mayau di Kecamatan Batang Dua. Pulau ini secara adminstratif berada di wilayah pemerintahan Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Di kecamatan ini ada dua  pulau yakni Mayau dan Tifure  dengan 6 kelurahan. Di Pulau Mayau ada 4 kelurahan.Sementara di Tifure ada dua […]

  • Perjuangkan Sungai Sagea, Aksi Warga Ricuh  

    • calendar_month Ming, 29 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 875
    • 2Komentar

    Warga Desa Sagea dan Kiya yang berada di lingkar tambang  kawasan industry  PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara menggelar aksi  Sabtu (28/10/2023) di Lipe Gate 3 PT IWIP, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah pagi tadi sekitar pukul 09.30 WIT. Aksi yang melibatkan massa yang datang dengan truk […]

  • Kawasan Konservasi di Malut Terancam Industri Tambang?

    • calendar_month Sen, 15 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 972
    • 1Komentar

    Kawasan konservasi dikuatirkan dimasuki  kegiatan tambang. Banyaknya izin tambang yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi yang telah ditetapkan menjadi Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) di Kabupaten Halmahera Tengah itu. resisten dimasuki tambang. Merujuk revisi RTRW Kabupaten Halmahera Tengah 2012 -2032 yang disampaikan Kepala Badan Perencanan Penelitian Pembangunan (Bappelitbang) Kabupaten Halmahera Tengah Salim Kamaluddin di […]

  • Ekspedisi Maluku dan Festival Kampung Pulau

    • calendar_month Sab, 24 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 702
    • 0Komentar

    Kapal Kurabesi Explorer

  • Air Sungai Sagea Tercemar Kerukan Tambang?

    • calendar_month Sel, 15 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 1.046
    • 0Komentar

    Peneliti: Partikel Terlarut Berbahaya Bagi Biota dan Manusia Sudah hamper dua minggu ini, yakni sejak 28 Juli 2023 lalu warna air Sungai Sagea di Kecamatan Weda Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara seperti  tanah kerukan tambang. Air yang bisanya bening dan menjadi tempat wisata Bokimoruru,   hilang entah ke mana. Yang ada air berwarna kuning seperti […]

  • Ekowisata di Punggung Gamalama

    • calendar_month Jum, 28 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 804
    • 0Komentar

    Menikmati  Keindahan  Ternate dari  Puncak Hutan Pala dan Cengkih  Pagi jelang siang di pertengahan Juli lalu, ketika udara hutan pala dan cengkih masih  segar, saya  coba menyusuri  punggung Gunung Gamalama. Lokasi ini berada tepat di kawasan puncak Kelurahan Moya Kota Ternate Tengah Maluku Utara. Lokasi ini dalam beberapa  bulan belakangan  menjadi salah satu spot paling […]

expand_less