Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 27 Feb 2020
  • visibility 1.942

Warga Desa Sangapati  dinstruksikan  menghindari mengomsumsi ikan  mati massal karena dicurigai beracun. Sementara anak- anak  dan  orang dewasa, diminta  menghindari sementara waktu mandi di laut.   Warna air laut yang biasanya  bening menjadi coklat pekat kemerah- merahan  itu  ikut menyebabkan matinya berbagai jenis biota   di kawasan laut pulau Makeang  Halmahera Selatan  Maluku Utara. Peristiwa ini membuat warga  seminggu belakangan ini  menjadi was-was.

Berbagai jenis ikan yang mati itu membuat  mereka  enggan mengkonsumsi ikan.  “Kita imbau  untuk menghindari mengkonsumsi ikan yang ditemukan mati. Kalau boleh anak anak dan orang dewasa juga jangan dulu mandi di laut.  Kita tidak tahu kandungan  air laut itu apa  tercemar  atau tidak,” kata  Kepala Desa Sangapati Makeang   Muhammad Musatafa.

Dihubungi Kabarpulau.co.idc dari Ternate,  dia menceritakan, awalnya warga tak  tak tahu ada peristiwa ini. Ketika ada warga yang  ke pantai dan menemukan  air yang pekat dan ikan mati yang terdampar    baru warga menjadi heboh dan ramai –ramai ke pantai menyaksikan fenomena atau kejadian  tidak seperti biasanya itu. “Belum pernah ada kejadian seperti ini. Ini baru pertama kali,”ujar Muhammad.

Diceritakan juga, air laut yang coklat kemerahan ini  menurut penjelasan bebeberapa nelayan yang telah melaut sebelumnya, sebenarnya mereka telah  lihat di tengah laut. Hanya saja mereka tak curiga  hal ini menyebabkan matinya  ikan di tepi pantai, ketika  ketika mencapai daerah  pantai.   “Beberapa nelayan di sini cerita begitu, jadi kayaknya air tercemar ini sudah terjadi beberapa hari sebelumnya,” imbuhnya.

Sementara peristiwa ini tidak hanya terjadi di Pulau Makeang. Ternyata warna air laut   yang coklat pekat dan ikan yang mati ini sampai ke Halmahera bagian selatan. Bahkan pada Selasa hingga Rabu (26/2) sore,  matinya ikan dan  air laut yang keruh itu sudah sampai ke perairan Ternate.

Beberapa diver yang mencoba melakukan penyelaman di kawasan pantai Falajawa Kota Ternate menemukan ikan dan berbagai biota  mati mengenaskan.

“Dua hari berturut- turut kami turun  menyelam  di kedalaman 5 sampai 10 meter di kawasan pantai Falajawa menemukan  keruhanya air laut dan banyak ikan karang yang mati,” ujar Willy salah satu penyelam. Selain ikan karang, biota lainnya  ikut mati.  Seperti octopus  atau gurita bahkan  hiu berjalan juga mati. 

Diver lainnya, Adita Agoes  diantayai soal ini mengaku  ditemukan banyaknya  biota yang mati. Meski begitu belum bisa dipastikan sumbernya.  Pihaknya sudah mengambil sampel. Bahkan  beberapa pihak ikut mengambil sampel untuk diuji laboratorium. “Badan Lingkungan Hidup Kota Ternate  sudah minta kita ambil sampel di kawasan laut Taman Nukila Ternate. Terutama   di daerah permukaan laut,  kedalaman 12 meter dan 24 meter,” jelas Adita.  

Meski  begitu Adita bilang, semua  kepastiannya nanti menunggu hasil uji laboratorium.  Dia menambahkan dari hasil temuan di lapangan, ikan –ikan yang mati hampir semua ikan karang (daging putih,red). Misalnya baronang, biji nangka, kulit pasir,  kakatua.   Sementara ada jenis tertentu   tidak mati, misalnya gete gete,  lion fish dan  clown fish. “Ada juga ikan yang tidak mati,” katanya.  

Matinya berbagai jenis ikan ini membuat warga was-was. Karena itu  mereka meminta perlu ada penjelasan resmi dari pemerintah. Warga meminta hal ini diseriusi karena hal  sangat mengkhwatirkan warga  misalnya  di Makeang  dan daerah lainnya, yang terdampak peristiwa ini. “Pemerintah perlu segera melakukan uji dan menyampaikan secara resmi kepada masyarakat  apa masalahnya. Dan apakah ikan-ikan yang nanti dikonsumsi warga  setelah peristiwa ini berbahaya atau tidak. Ini  penting agar warga bisa tenang,” pinta Muhammad.

Peristiwa menghebohkan ini sudah banyak analisis dan dugaan- dugaan disampaikan  pihak terkait. Misalnya akademisi, Dinas Perikanan maupun Dinas Lingkungan Hidup. Meski begitu   semua baru  dugaan belum ada uji laboratorium resmi.

Kepala  Dinas  Perikanan  Provinsi Maluku Utara Buyung Radjiloen  coba dikonfirmasi via hand phone  Selasa (25/2) mengaku,    sudah mengumpulkan sampel  dan akan dilakukan uji laboratorium. Memang ada dugaan-dugaan misalnya kemungkinan blooming algae maupun fenomena upwelling. Dua peristiwa alam ini katanya belum    bisa menjadi pegangan karena butuh   analisis laboratorium untuk memastikannya. “Di Makeang misalnya diduga    peristiwa Blooming algae. Begitu juga bisa saja karena upwelling. Ini sifatnya dugaan perlu pembuktian secara pasti melalui uji  sampel di laboratorium,” katanya.

Sementara hingga kemarin  belum ada hasil uji laboratorium yang  yang dipublikasikan terkait  masalah ini.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Orang Hiri Menuntut Merdeka

    • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 642
    • 1Komentar

    Ingatkan  Pemerintah, Kibarkan Bendera Setengah Tiang   Hari masih pagi, sekira pukul 07.50 WIT sebuah speedboat mengangkut pegawai yang bekerja di Kecamatan Pulau Hiri Kota Ternate Maluku Utara. Mereka adalah pegawai yang akan gelar upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, Kamis (17/08/2023). Pegawai lelaki dan perempuan berbaju Korpri  itu  rata rata […]

  • Peneliti BRIN Temukan 1.583 Spesies  Baru Indonesia    

    Peneliti BRIN Temukan 1.583 Spesies  Baru Indonesia   

    • calendar_month Sab, 6 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Indonesia sebagai salah satu negara megabiodiversitas dunia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga dan mengelola kekayaan hayatinya secara berkelanjutan. Penemuan spesies baru bukan sekadar capaian akademik, tetapi bagian penting dari upaya perlindungan lingkungan dan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Setidaknya ini menjadi komitmen Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam upaya mengungkap kekayaan hayati Indonesia. Saat […]

  • TFFF Dorong Pembiayaan Skala Besar untuk Konservasi Hutan Tropis

    • calendar_month Sel, 21 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Pemerintah Brasil dan United Nations Development Programme (UNDP)  bersama-sama menyelenggarakan lokakarya regional tentang Tropical Forest Forever Facility (TFFF) bersama Negara-negara Anggota ASEAN dan para pemangku kepentingan di Jakarta Senin (20/10/2025). Lokakarya ini adalah milestone penting untuk memperkuat kerja sama multilateral dan membangun momentum menjelang peluncuran resmi TFFF pada Leaders’ Summit COP30 di Belém, Brasil, pada […]

  • Wisata Danau di Halmahera Ini Layak Dikunjungi

    • calendar_month Sel, 15 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 1.210
    • 0Komentar

    Cerita dari  Ekspedisi Cinta Talaga  Rano   Wilayah Maluku Utara yang berada di kawasan  ring of fire atau cincin api, ternyata memiliki beberapa keistimewaan. Salah satunya, dari aktivitas vulkanis gunung api , ikut memunculkan  danau  di sekitarnya.  Danau yang ada menjadi potensi wisata yang sangat menjanjikan.  Data yang dirilis Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan […]

  • Anak Muda Bicara Problem Pembangunan Halmahera Selatan

    • calendar_month Ming, 5 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 718
    • 0Komentar

    Warga di Gane hanya bisa memanfaatkan jalan perusahaan sawit untuk akses mereka. Hingga kini jalan belum dibangun pemerintah di ujung selatan Halmahera tersebut, foto M Ichi

  • Petani Dapat Penguatan Usaha Kelapa dan Hortikultura

    • calendar_month Jum, 18 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 705
    • 0Komentar

    Hasil Kolaborasi Pakativa – Disperindag dan Distan Provinsi Turunan hasil kelapa yang  mencapai 50 jenis produk hingga kini belum dimanfaatkan  oleh petani  di Maluku Utara.  Mereka hanya mengandalkan kopra sebagai sumber pendapatan utama. Karena itu ketika harga kopra anjlok petani menjadi  terpuruk. Sementara, hasil lain dari kelapa  seperti tempurung, air dan sabuk kelapa  hanya dibuang […]

expand_less