Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 27 Feb 2020
  • visibility 350

Warga Desa Sangapati  dinstruksikan  menghindari mengomsumsi ikan  mati massal karena dicurigai beracun. Sementara anak- anak  dan  orang dewasa, diminta  menghindari sementara waktu mandi di laut.   Warna air laut yang biasanya  bening menjadi coklat pekat kemerah- merahan  itu  ikut menyebabkan matinya berbagai jenis biota   di kawasan laut pulau Makeang  Halmahera Selatan  Maluku Utara. Peristiwa ini membuat warga  seminggu belakangan ini  menjadi was-was.

Berbagai jenis ikan yang mati itu membuat  mereka  enggan mengkonsumsi ikan.  “Kita imbau  untuk menghindari mengkonsumsi ikan yang ditemukan mati. Kalau boleh anak anak dan orang dewasa juga jangan dulu mandi di laut.  Kita tidak tahu kandungan  air laut itu apa  tercemar  atau tidak,” kata  Kepala Desa Sangapati Makeang   Muhammad Musatafa.

Dihubungi Kabarpulau.co.idc dari Ternate,  dia menceritakan, awalnya warga tak  tak tahu ada peristiwa ini. Ketika ada warga yang  ke pantai dan menemukan  air yang pekat dan ikan mati yang terdampar    baru warga menjadi heboh dan ramai –ramai ke pantai menyaksikan fenomena atau kejadian  tidak seperti biasanya itu. “Belum pernah ada kejadian seperti ini. Ini baru pertama kali,”ujar Muhammad.

Diceritakan juga, air laut yang coklat kemerahan ini  menurut penjelasan bebeberapa nelayan yang telah melaut sebelumnya, sebenarnya mereka telah  lihat di tengah laut. Hanya saja mereka tak curiga  hal ini menyebabkan matinya  ikan di tepi pantai, ketika  ketika mencapai daerah  pantai.   “Beberapa nelayan di sini cerita begitu, jadi kayaknya air tercemar ini sudah terjadi beberapa hari sebelumnya,” imbuhnya.

Sementara peristiwa ini tidak hanya terjadi di Pulau Makeang. Ternyata warna air laut   yang coklat pekat dan ikan yang mati ini sampai ke Halmahera bagian selatan. Bahkan pada Selasa hingga Rabu (26/2) sore,  matinya ikan dan  air laut yang keruh itu sudah sampai ke perairan Ternate.

Beberapa diver yang mencoba melakukan penyelaman di kawasan pantai Falajawa Kota Ternate menemukan ikan dan berbagai biota  mati mengenaskan.

“Dua hari berturut- turut kami turun  menyelam  di kedalaman 5 sampai 10 meter di kawasan pantai Falajawa menemukan  keruhanya air laut dan banyak ikan karang yang mati,” ujar Willy salah satu penyelam. Selain ikan karang, biota lainnya  ikut mati.  Seperti octopus  atau gurita bahkan  hiu berjalan juga mati. 

Diver lainnya, Adita Agoes  diantayai soal ini mengaku  ditemukan banyaknya  biota yang mati. Meski begitu belum bisa dipastikan sumbernya.  Pihaknya sudah mengambil sampel. Bahkan  beberapa pihak ikut mengambil sampel untuk diuji laboratorium. “Badan Lingkungan Hidup Kota Ternate  sudah minta kita ambil sampel di kawasan laut Taman Nukila Ternate. Terutama   di daerah permukaan laut,  kedalaman 12 meter dan 24 meter,” jelas Adita.  

Meski  begitu Adita bilang, semua  kepastiannya nanti menunggu hasil uji laboratorium.  Dia menambahkan dari hasil temuan di lapangan, ikan –ikan yang mati hampir semua ikan karang (daging putih,red). Misalnya baronang, biji nangka, kulit pasir,  kakatua.   Sementara ada jenis tertentu   tidak mati, misalnya gete gete,  lion fish dan  clown fish. “Ada juga ikan yang tidak mati,” katanya.  

Matinya berbagai jenis ikan ini membuat warga was-was. Karena itu  mereka meminta perlu ada penjelasan resmi dari pemerintah. Warga meminta hal ini diseriusi karena hal  sangat mengkhwatirkan warga  misalnya  di Makeang  dan daerah lainnya, yang terdampak peristiwa ini. “Pemerintah perlu segera melakukan uji dan menyampaikan secara resmi kepada masyarakat  apa masalahnya. Dan apakah ikan-ikan yang nanti dikonsumsi warga  setelah peristiwa ini berbahaya atau tidak. Ini  penting agar warga bisa tenang,” pinta Muhammad.

Peristiwa menghebohkan ini sudah banyak analisis dan dugaan- dugaan disampaikan  pihak terkait. Misalnya akademisi, Dinas Perikanan maupun Dinas Lingkungan Hidup. Meski begitu   semua baru  dugaan belum ada uji laboratorium resmi.

Kepala  Dinas  Perikanan  Provinsi Maluku Utara Buyung Radjiloen  coba dikonfirmasi via hand phone  Selasa (25/2) mengaku,    sudah mengumpulkan sampel  dan akan dilakukan uji laboratorium. Memang ada dugaan-dugaan misalnya kemungkinan blooming algae maupun fenomena upwelling. Dua peristiwa alam ini katanya belum    bisa menjadi pegangan karena butuh   analisis laboratorium untuk memastikannya. “Di Makeang misalnya diduga    peristiwa Blooming algae. Begitu juga bisa saja karena upwelling. Ini sifatnya dugaan perlu pembuktian secara pasti melalui uji  sampel di laboratorium,” katanya.

Sementara hingga kemarin  belum ada hasil uji laboratorium yang  yang dipublikasikan terkait  masalah ini.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jaga Hutan Terakhir Halmahera Timur Lewat Olah Sagu, Berkebun dan Bentuk Forum Adat    

    Jaga Hutan Terakhir Halmahera Timur Lewat Olah Sagu, Berkebun dan Bentuk Forum Adat    

    • calendar_month Kam, 16 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 254
    • 0Komentar

    Sarade Kasim 50 (tahun) dan istrinya Nurima (45 tahun) sibuk membangun sebuah rumah papan di lahan kebun mereka. Bahan rumah  dari papan serta kayu olahan lainnya, diangkut dari hutan tak jauh dari situ. Rumah itu berdiri kurang lebih 1,5 kilometer dari desa Bicoli Maba Selatan Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) Provinsi Maluku Utara. Tepatnya di bagian […]

  • Buat Minyak Kelapa Kampong, Lawan Ketergantungan

    • calendar_month Sel, 29 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 346
    • 0Komentar

    Cerita Usaha Ibu- ibu dari  Samo Halmahera Selatan Pagi  di awal Agutus  lalu itu  masih gelap. Bulu kuduk juga belum kelihatan. Ketika melihat catatan waktu di hand phone  baru menunjukan pukul 5.40 WIT.  Meski masih pagi buta puluhan ibu  asal desa Samo Kecamatan Gane Barat Utara Halmahera Selatan itu sudah rame  di  belakang rumah ibu Jena […]

  • Perampasan Ruang Laut Marak, BRIN Ajak Kolaborasi Keilmuan

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 515
    • 1Komentar

    Beberapa dekade terakhir, pesisir dan laut menjadi arena perebutan kepentingan yang tidak seimbang antara pemegang kuasa ekonomi-politik dan komunitas pesisir yang menggantungkan hidupnya dari laut. Fenomena ini dikenal sebagai coastal and marine grabbing – praktik perampasan ruang laut. Berapa besar dampak bagi komunitas tempatan dan ekosistem pesisir dan laut saat ini? Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan […]

  • Merintis Ekonomi Nelayan Kecil dengan Koperasi

    • calendar_month Jum, 10 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 355
    • 0Komentar

    Foto bersama usai kegiatan RAT Koperasi Bubula Ma Cahaya foto MArwan

  • Obi Kaya Keanekaragaman Hayati

    • calendar_month Sen, 7 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 309
    • 0Komentar

    Ditemukan Cecak Jarilengkung  Jenis  Baru  Diberi Nama Papeda Pulau-pulau di Maluku Utara ternyata kaya berbagai  keanekaragaman hayati. Di hutan- hutan pulau tersebut ditemukan beragam jenis flora dan fauna. Terbaru  ditemukannya cicak jarilengkung yang diberi nama cicak papeda. Cecak ini ditemukan di Pulau Obi  di  daerah Kawasi yang saat ini hutannya gencar dieksploitasi  tambang nikel. Cerita […]

  • Aksi Iklim BRI,akan Setop Danai Batu Bara

    • calendar_month Jum, 27 Mei 2022
    • account_circle
    • visibility 262
    • 1Komentar

    Aksi yang digelar untuk investasi bersih bagi bumi foto, 350.org

expand_less