Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Cerita Miris Desa Terang di Pulau Kecil

Cerita Miris Desa Terang di Pulau Kecil

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 8 Jan 2022
  • visibility 234

Dari Nyala Genset Hanya Enam Jam hingga 2 Tahun Proyek Solar Cell yang  Mangkrak  

Maluku Utara dengan julukan negeri seribu pulau, memiliki masalah cukup serius dalam pemenuhan kebutuhan energi.  Salah satunya di Kabupaten Halmahera Selatan dengan pulau-pulau kecil yang tersebar, juga memiliki problem yang sama seriusnya. Terutama  penyediaan energy untuk penerangan  maupun kebutuhan lainnya.

Kebanyakan pulau kecil  di daerah ini berada terpencil  dan terisolir, membuat perusahaan listrik negara (PLN,red) yang memiliki kewajiban menyediakan listrik bagi warga  juga belum sepenuhnya  bisa dipenuhi. 

Halmahera Selatan adalah salah satu wilayah yang memiliki pulau-pulau kecil paling banyak. Ada 6 pulau besar dengan ditambah pulau pulau kecil yang mengelilinginya. Dengan luas wilayah daratan 8.779,32 km,  hanya 22 persen dari total luas wilayahnya  yaitu 40.263,72 km2.  Pulau besar di Halmahera Selatan itu  adalah  Pulau Obi, Pulau Bacan, Pulau Makian, Pulau Kayoa, Pulau Kasiruta, dan Pulau Mandioli. Dua pulau terluas yaitu Pulau Obi   3.111 km 2 dan Pulau Bacan 2053 km 2. Selain itu, Kabupaten Halmahera Selatan juga terdiri dari pulau-pulau kecil lain. Misalnya di dekat daratan Halmahera  memiliki  kawasan  Kepulauan Joronga. Begitu juga pulau-pulau kecil yang tersebar di Obi dan Kayoa.(https://www.halmaheraselatankab.go.id/page/geografi-dan-topologi).

Mayoritas  pulau pulau kecil berpenduduk  minim dengan akses terbatas, tidak bisa memenuhi kebutuhan pasokan listrik secara penuh sehingga butuh energy alternative  melalui program energi terbarukan.  Sayang proyek tenaga surya yang turun ke desa desa di Halmahera Selatan juga tidak semanis “desa terang” seperti digaungkan selama ini. Sejumlah desa di Halmahera Selatan  yang  dapat   proyek ini  ada yang belum tuntas hingga saat ini.      

Dikutip dari (https://www.liputan6.com/bisnis/read/3972243/5-desa-di- halmahera-selatan-kini-terang-benderang),  PT PLN (Persero) terus berupaya meningkatkan Rasio Elektrifikasi di Maluku dan Maluku Utara dengan terus melistriki desa-desa yang belum berlistrik.  Saat ini di Halmahera Selatan masih ada 36 desa  belum memperoleh listrik dari  PLN.

Disebutkan ratio elektrifikasi PLN di Provinsi Maluku Utara  telah mencapai 88,16 persen dengan target 90,89   

Dalam melistriki desa-desa, PLN memiliki dua misi yang sangat penting, yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan  mendorong perekonomian masyarakat.

Asis warga Laigoma menunjuk proyek tenaga surya yang mangkrak di kampung mereka (foto M Ichi

PLN juga memiliki cita-cita meningkatkan Rasio Elektrifikasi hingga tahun 2020-2021, namun terdapat beberapa kendala di lapangan yang belum memadai seperti infrastruktur yang belum siap, terutama jalan dan pelabuhan. Peningkatan rasio eletrifikasi kebanyakan dilakukan di daerah yang jauh dan minim infrastruktur.   

Ikatan Mahasiswa Kasiruta Timur(IMKT) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) pernah memprotes mirisnya listrik di daerah mereka ke pemerintah provisni pertengahan 2021 lalu. Kala itu mereka  protes    dengan belum  adanya listrik sebagaimana program Indonesia Terang yang digadang- gadang pemerintah.

Para mahasiswa itu,  menyuarakan masyarakat setempat  mengalami kesulitan listrik. Mereka hanya bertahan dengan genset  pribadi dan  mengandalkan tenaga surya yang juga terbatas kapasitasnya.

“Masyarakat di Kasiruta Timur belum merasakan  listrik negara. Mereka hanya mengandalkan mesin listrik pribadi dan listrik tenaga surya,“ teriak Iskandar Muhammad salah satu orator mahasiswa Kasiruta Timur saat aksi di kantor gubernur pertengahan 2021 lalu.  Mereka meminta pemerintah provinsi  melihat kondisi di daerah mereka.  

Iskandar  bilang,  listrik tenaga  surya yang menjadi sumber energi listrik  di Kasiruta Timur tak mampu mememnuhi  keseluruhan kebutuhan warga. Apalagi jika memasuki musim  penghujan.   Imbasnya warga kesulitan listrik.

“Masyarakat Kecamatan Kasiruta Timur  sebagian besar mengandalkan Panel Surya serta mesin pribadi. Hanya saja   tidak cukup.  Di ibu kota kecamatan  telah terpasang tiang dan jaringan listrik namun  hanya jadi pajangan  bertahun tahun,” katanya. Sejauh ini sebagian Kecamatan di Halsel termasuk Kasiruta Timur belum menikmati listrik dari negara.  Di Kasiruta Timur sudah dua kali tiang PLN diganti karena rusak tetapi listrik negara tidak juga  dinikmati masyarakat.  

Lalu bagaimana dengan kondisi pulau pulau kecil  yang tersebar di kawasan Kayoa dan Obi?.

Sebuah fakta miris  bisa disaksikan  di  Kayoa. Pulau pulau yang jauh dari akses PLN itu, suplai energy listriknya  sangat minim.  Di pulau Siko, Gahi. Laigoma, Gunange dan Talimau yang masuk gugusan pulau pulau Gura Ici   punya problem yang sama. Semua berharap mesin genset. Dinyalakan hanya sampai pukul 24.00 WIT.  Selebihnya  menggunakan lampu teplok atau loga loga, atau jika ada panel surya mereka andalkan tenaga surya yang  kapasitasnya  hanya beberapa watt saja. 

Proyek Solar Cell yang mangkrak di pulau Laigoma

Listrik dari tenaga   surya  juga belum seluruhnya diperoleh masyarakat di pulau -pulau ini. Padahal kebutuhan energi untuk mereka  sangatlah urgen. 

“Di sini lampu genset hanya menyala sampai pukul 24.00 WIT. Itu  jika ada bahan bakar solar. Jika tidak ada maka masih ada panel surya. Namun tidak semua warga  memilikinya,” ujar Asis warga Laigoma.

Kata dia, saat ini harapan satu- satunya  adalah peningkatan kapasitas tenaga surya  karena  PLN masuk  ke pulau kecil seperti di kampungnya itu  terasa sangat sulit.    

Proyek Tenaga Surya 2 Tahun Terbengkalai

Di Pulau Laigoma  sudah ada program pengadaan listrik tenaga surya  yang dibangun  pemerintah kabupaten Halmahera Selatan. Namun sayang setelah infrastrukturnya dibangun, malah dibiarkan terbengkalai dalam  dua tahun belakangan ini. 

Proyek ini dibangun akhir 2019 masuk 2020  namun hingga kini   belum juga bisa dimanfaatkan masyarakat. Fasilitas pendukung   didatangakan ke  Laigoma sejak 2020   dan sudah dipasang, tapi hingga kini  mangkrak, bahkan beberapa fasilitasnya  juga sudah mulai rusak.

Saat mengunjungi pulau ini Oktberi 2021 lalu,  kabarpulau.co,id menemukan beberapa fasilitas daro proyek  ini tak terurus.

Mubin  salah satu warga Laigoma yang mengantar langsung ke lokasi  melihat dari dekat proyek ini menjelaskan,  proyek ini dibangun sejak akhir 2019 dan hingga kini belum juga  bisa digunakan. Di lokasi fasilitas panel surya ditempatkan sudah ditumbuhi semak semak yang menutupi hamper semua panel tenaga surya. Beberapa alat juga terlihat sudah mengalami korosi akibat diterpa panas dan hujan. Meski  jaringan kabel sudah ditarik masuk ke dalam kampung dan rumah warga, hingga kini belum juga bisa dinyalakan. Padahal sebagai masyarakat  di pulau pulau kecil seperti ini,  adanya listrik  melalui tenaga surya ini sangat dibutuhkan.   

Kepala Desa Laigoma Makbul Hi Saleh ditemui di Desa Laigoma Oktober akhir 2021 lalu,  menceritakan  jika proyek   di desanya itu mangkrak sejak 2020 lalu. Pasalnya sejak akhir 2019 proyek didatangkan ke kampungnya.  Panel surya maupun alat alat pendukung lainnya juga ikut dipasang. “Mereka datang dan pasang tapi sudah hamper 2 tahun ini tidak kembali untuk tambah alat dan nyalakan.  Proyek ini menurutnya nilainya miliaran rupiah.  Antara Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar. Itu kata salah satu anggota dewan yang datang ke Laigoma,” ceritanya.

Dia bilang  kurang tahu pasti karena  tidak ada papan nama proyek yang dipasang saat pengerjaan.   Sekarang kabel sudah dipasang mesin dan alat juga sudah  tetapi   tidak menyala bahkan sebagian alat mungkin sudah rusak,” kesalnya.

Di  desa ini ada 63 KK   sangat butuh listrik tenaga surya ini.  “Bagi kami ini sangat penting.  Karena selain penerangan juga membantu jika warga yang mayoritas nelayan ini bisa membuat es batu bisa dimanfaatkan untuk mengawetkan ikan nelayan,” ujar Mubin lagi.  

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman Kabupaten Halmahera Selatan Ali Dano Hasan dikonfirmasi via hand phonenya Sabtu (8/1/2022) tidak menampik adanya proyek yang mangkrak tersebut. Dia  hanya mengatakan segera akan menyelesaikan proyek ini dalam waktu dekat. Dia segera menurunkan  tim untuk segera menyelesaikan proyek yang bermasalah ini.

“Saya sedang di Kayoa. Besok tim kami  menuju Pulau Laigoma  untuk penyelesaian proyek ini. Kemarin saya sudah janjikan kepala desa Laigoma Desember lalu sudah dinyalakan tetapi karena persoalan alam kurang bersahabat sehingga tertunda. Dalam waktu dekat sudah bisa digunakan karena   bulan puasa juga sudah dekat sehingga harus diselesaikan,” kilahnya.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hutan dan Laut  Malut Makin Terancam

    • calendar_month Sab, 23 Apr 2022
    • account_circle
    • visibility 199
    • 1Komentar

    Salah satu peserta aksi Hari Bumi yang membawa Pamflet berisi pesan Jaga Laut Maluku Utara foto M Ichi

  • Saatnya Pariwisata Malut Genjot Wisatawan Domestik

    • calendar_month Sel, 19 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Talaga Rano Halbar salah satu destinasi wisata alam di Maluku Utara

  • Sampah Plastik dari Laut Malut Diserahkan ke PT Unilever

    • calendar_month Kam, 17 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 333
    • 2Komentar

    PT Unilever Masuk Top 5 Penghasil Sampah Plastik LSM Internasional BreakFree From Plastic melaporkan  bahwa PT Unilever masuk dalam Top 5 plastic polluters  di Indonesia.  Dari laporan Break Free tersebut menyebutkan bahwa    produsen   sampah plastic terbesar pertama adalah The Coca-Cola Company,  Pepsi Co,  Nestle,  Unilever dan  Mondelez International. Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) setelah mengunjungi […]

  • 153 Pulau Kecil Ditambang, 6  Ada di Maluku Utara   

    • calendar_month Rab, 9 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 1.118
    • 0Komentar

    Berapa jumlah pasti pulau kecil dan sangat kecil di Indonesia yang saat ini dieksploitasi terutama kandungan tambangnya?  Jawaban pemerintah,   ternyata mencapai ratusan pulau. Dikutip dari Liputan6.com,   Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkapkan ada 370 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang tersebar di 153 pulau-pulau kecil di Indonesia. Dari jumlah izin di pulau kecil itu  ada yang […]

  • TFFF Dorong Pembiayaan Skala Besar untuk Konservasi Hutan Tropis

    • calendar_month Sel, 21 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Pemerintah Brasil dan United Nations Development Programme (UNDP)  bersama-sama menyelenggarakan lokakarya regional tentang Tropical Forest Forever Facility (TFFF) bersama Negara-negara Anggota ASEAN dan para pemangku kepentingan di Jakarta Senin (20/10/2025). Lokakarya ini adalah milestone penting untuk memperkuat kerja sama multilateral dan membangun momentum menjelang peluncuran resmi TFFF pada Leaders’ Summit COP30 di Belém, Brasil, pada […]

  • Multiusaha Kehutanan, Konsep Berbasis Lanskap

    • calendar_month Jum, 17 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Sungai dan hutan di Bokimoruru ii tidak bisa menjadi sarana wisata masyarakat Halmahera Tengah foto M Ichi

expand_less