Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Butuh Aksi Nyata Bebaskan Laut Malut dari Sampah Plastik

Butuh Aksi Nyata Bebaskan Laut Malut dari Sampah Plastik

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 28 Agu 2020
  • visibility 547

Provinsi Maluku Utara memiliki luas mencapai 145.801 km2.  Terdiri dari 69,08 % merupakan lautan dan sisanya 30,92 adalah daratan. Secara geografis perairan Maluku Utara berada dalam Kawasan segitiga terumbu karang (coral triangle). Karena itu, perairan Maluku Utara memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi dan menjadi rumah bagi berbagai  spesies karang, jenis ikan, lumba-lumba dan penyu. Maluku Utara juga menyimpan potensi pariwisata  sangat indah.  Akan tetapi kekayaan dan keindahan itu menghadapi  berbagai ancaman, salah satunya sampah plastik.

Hal ini juga mengemuka dalam diksusi online kerjasama  Yayasan EcoNusa dan Universitas Khairun  UNKHAIR Ternate Selasa (25/8) lalu. Dalam diskusi itu mengajak  semua komponen  masyarakat  termasuk mahasiswa  di Ternate dan Maluku Utara umumnya, untuk lebih peduli dan berkontribusi terhadap perbaikan ekosistem pesisir laut yang lebih sehat di Indonesia, khususnya di Maluku Utara.

Webinar  bertajuk “Sail to Campus: Maluku Utara Beraksi Lawan Plastik Sekali Pakai untuk Laut Berkelanjutan” tersebut diisi  beberapa narasumber. Dari  Kementerian Kelautan dan Perikanan Dr. Ir. Aryo Hanggono, DEA  Dirjen PRL Kementerian Kelautan dan Perikanan, Fachruddin Tukuboya, ST., MM  Kepala Dinas Lingkungan Hidup Maluku Utara , Khalikudin Umasangaji, Ph.D  Peneliti  dan Koordinator Program Studi Ilmu Kelautan UNKHAIR , Ikbal M. Nur  Nelayan dan Masyarakat Pesisir, dan Erlena Umanahu  Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan UNKHAIR.

Dr Aryo Hanggono memaparkan bahwa berdasarkan Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia telah membuang 3,2 juta ton sampah plastik ke laut. Dari data itu diketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah pencemaran  sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia. Selain itu, Indonesia masuk ke dalam lima besar negara yang berkontribusi terhadap polusi plastik di laut yang memberikan lebih dari separuh polusi plastik di laut.

Sementara Fachruddin Tukuboya, ST., MM, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Maluku Utara mengatakan bahwa sampah plastik merupakan salah satu permasalahan utama di Kota Ternate. Di Kota Ternate saja jumlah sampah yang dihasilkan bisa mencapai 60 ton dalam sehari. “Dalam upaya penanganan sampah ini, perlu adanya penegakan hukum di level peraturan daerah Kabupaten Kota, supaya dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan dan yang terbuang ke laut,” katanya.

Dia bilang,  pencemaran laut dan daerah pesisir  berpengaruh terhadap kehidupan, khususnya masyarakat pesisir dari bidang ekonomi maupun  kendaraan para nelayan.

Ikbal M.Nur, perwakilan nelayan dan masyarakat pesisir mengatakan,  sampah plastik yang terbuang dan mencemari wilayah pesisir desanya di Kayoa Halmahera Selatan menimbulkan bau busuk. Ibaratnya laut menjadi tempat pembuangan sampah yang bisa mendatangkan penyakit. Satu hal yang nyata  sampah  plastik merusak baling-baling mesin perahu. Dia menjadi seperti  jaring ikan yg terbuang ke laut. Karena itu dia berharap mahasiswa mengambil peran penting melakukan penyuluhan  kepada masyarakat.

“Mahasiswa punya  tugas melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai penggunaan kantong plastik. Yang salah itu manusianya, bukan kantong plastik. Jadi manusia harus mengubah   kebiasaannya dalam menggunakan kantong plastik, sehingga bisa menjaga laut kita,” sarannya.

Rektor Universitas Khairun Prof. DR. Husen Altingmengatakan permasalahan sampah plastik ini menjadi salah satu isu utama yang dihadapi Indonesia, tidak hanya Maluku Utara. Sehingga dibutuhkan gerakan bersama dari kalangan civitas academica terutama mahasiswa sebagai generasi penentu kebijakan di masa yang akan datang. Kontribusi nyatanya mengubah gaya hidup dengan menolak penggunaan plastik sekali pakai dapat memberikan dampak besar bagi upaya pemerintah provinsi mengurangi sampah plastik.

Melihat pentingnya peran universitas dalam mendidik mahasiswanya melakukan perubahan nyata untuk lingkungan yang lebih sehat, maka Universitas Khairun menyatakan dukungannya  mengurangi sampah plastik di lingkungan kampus.

Rektor Prof. DR. Husen Alting kesempatan itu turut membacakan pernyataan sikap Universitas Khairun tentang penggunaan plastik sekali pakai.  “Seluruh civitas academica Universitas Khairun Ternate berkomitmen  mengurangi penggunaan plastik sekali pakai diseluruh wilayah Universitas Khairun,”  tegasnya.

Untuk mengatasi sampah plastik, tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah tapi juga butuh aksi nyata dari publik, terutama dari kaum muda. Fakta bahwa bonus demografi Indonesia akan dikuasai angkatan muda kedepannya. Karena itu, kaum muda harus tahu, pentingnya membangun budaya yang membawa konteks bahwa anak muda mampu berkontribusi nyata dalam setiap permasalahan, salah satunya permasalahan sampah plastik.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fitako Sumber Energi Terbarukan yang Belum Dilirik

    • calendar_month Kam, 6 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 595
    • 1Komentar

    Buah fitako ataunyamplung yang telah matang dan jatuh foto Mongabay Indonrsia

  • Menelisik Implementasi Kota Jasa berbasis Agro-marine Kota Tidore Kepulauan

    • calendar_month Sel, 20 Agu 2019
    • account_circle
    • visibility 856
    • 0Komentar

    Penulis M. Faizal Banapon, ST., MT Konsultan Perencanaan, Pengembangan Wilayah dan Kota Jum’at sore (15/02/19,) digelar diskusi publik  yang buat saya sebagai praktisi Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah dan Kota cukup menarik perhatian. Diskusi itu memancing saya  memberikan opini ini. Poin dari diskusi tersebut mempertanyakan kinerja pencapaian Visi Pemerintah Kota (Pemkot) Tidore Kepulauan (Tikep) Periode 2016 – […]

  • Nelayan Malut Protes Permen 59/2020

    • calendar_month Sen, 25 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 505
    • 0Komentar

    Motor ikan/pole and line yang sandar di PPI Dufa dufa Ternate

  • Dulu Kaya dari  Perkebunan, Kini  Lahannya Lenyap (2)

    • calendar_month Sab, 31 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 1.100
    • 0Komentar

    Kabupaten Halmahera Tengah sebelum massivenya tambang nikel seperti sekarang, dikenal sebagai salah satu daerah pertanian dan perkebunan, kelapa, pala, cengkih dan kakao. Daerah ini juga  memiliki beberapa kawasan transmigrasi sebagai lumbung pangan Halmahera Tengah. Luas Kabupaten Halmahera Tengah mencapai 227.683 hektar.  Namun dari luasan daratan itu saat ini  terbebani 66 izin usaha pertambangan (IUP) dengan […]

  • Kondisi Lingkungan Maluku Utara Butuh Perhatian

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2020
    • account_circle
    • visibility 826
    • 0Komentar

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2020 ini mengambil  tema  “Time For Nature” yang mengajak  penduduk dunia menyadari bahwa makanan yang dimakan, air yang diminum, dan ruang hidup di planet yang ditinggali adalah sebaik-baiknya manfaat dari alam (nature) sehingga harus dijaga kelestariannya. Sayangnya apa yang didengungkan ini  berbanding terbalik dengan kondisi  saat ini.  Di Provinsi Maluku […]

  • Presiden Resmi Cabut 11 Izin Kehutanan di Malut

    • calendar_month Jum, 7 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 718
    • 0Komentar

    Presiden Joko Widodo mencabut izin-izin pertambangan, kehutanan, dan penggunaan lahan negara yang dinilai bermasalah. Langkah ini diambil untuk memperbaiki tata kelola sumber daya alam agar ada pemerataan, transparan dan adil, untuk mengoreksi ketimpangan, ketidakadilan, dan kerusakan alam. Hal ini disampaikan Presiden dalam keterangan pers secara di Istana Kepresidenan Bogor Jawa Barat Kamis (6/1/2022) siang. “Izin-izin yang […]

expand_less