Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Mudik Orang Pulau, Sebuah Coretan yang Tercecer

Mudik Orang Pulau, Sebuah Coretan yang Tercecer

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 4 Jul 2018
  • visibility 724

Fenomena mudik kaum urban, terkadang memantik perdebatan panjang. Selain mengundang  keprihatinan, di mana mudiknya kaum urban ikut melibatkan negara dengan segala risiko,  mudik itu juga melibatkan jumlah yang demikian massif yang justru memang menimbulkan tantangan tersendiri, di mana emosi dan segala perhatian tertumpah di sana.

Tak ada perhatian ekstra keras yang dilakukan pemerintah jelang hari-hari besar keagamaan,  selain mengurus mudik kaum urban.  Yang dari tahun ke tahun selalu menumbalkan korban jiwa demikian besar.

Alhasil,  berbagai perbaikan,  termasuk meminimalisir jatuh korban, terus diupayakan. Sarana dan infrastruktur pendukung jalan raya dan transportasi ditingkatkan demi menghadirkan kenyamanan. Negara hadir ketika segala risiko benar-benar tertangani dengan baik.  Dan mudik,  merupakan parameter,  bagaimana negara bekerja,  dan serius mengurus rakyat.

Ternyata,  mudik bukan semata milik kaum urban.  Mudik telah menjadi tradisi yang “melembaga” hampir semua masyarakat di Indonesia mengenal dengan kuat tradisi pulang kampung ini.

Pun demikian halnya dengan masyarakat pulau.  Mudik merupakan sebuah kerinduan yang tak  terkatakan bagi mereka yang menjalaninya. Mudik tidak hanya sebuah perjumpaan fisik,  tetapi lebih dari itu adalah menggayuh makna dan kedalaman kerinduan ontologis, menemukan bilah maknawi keagamaan yang primordial.

Tentu,  antara mudik kaum urban dan mudik masyarakat pulau memiliki konstruk persepsi yang berbeda,  sekalipun mungkin saja memiliki silang singgung konsep yang sama.

Nah,  pada titik ini,  dan ini yang menjadi stand point coretan ini, bahwa mudik masyarakat pulau kurang memperoleh perhatian serius negara. Betapa tidak,  proses mudik orang pulau,  dilakukan apa adanya,  dengan fasilitas seadanya,  dukungan transportasi tak laik,  bahkan siap mengancam nyawa. Tetapi bagi orang pulau,  yang utama bisa “pulang kampung” walau dihantam ombak besar,  dibelai angin sakal jahat,  diselimuti hujan deras,  dan ditemani alam pekat. Tak surut nyali untuk menginjak pasir pulau yang pernah menancapkan memori dan pengalaman sejak kecil.

Pada konteks ini,  mudik masyarakat pulau kurang mendapat perhatian, bahkan terkesan diabaikan. Pernahkah berbagai fasilitas,  sarana,  infrastruktur untuk mudik masyarakat pulau menjadi perhatian? Apakah tol laut nanti dapat memberi nyaman masyarakat pulau ketika pulang kampung? Apakah pwrnah terlintas,  bagaimana mengatasi mudik masyarakat pulau yang rentan menumbalkan jiwa?

Syukur-syukur yang pulang kampung dengan kapal ferry, speed boat cepat.  Bagaimana dengan mereka yang mudik dengan perahu kayu?

Sejauh ini,  dan sejak lama,  mudik masyarakat pulau jauh dari kesan perhatian serius kita bersama.  Kita menganggap sebagai “tradisi” yang tidak berisiko.

Mudik orang pulau,  adalah pulang yang menautkan rindu,  cinta,  cita-cita, serta spirit transendensi untuk mengistirahatkan keegoan setelah penat diterpa deru bising materialisme di kota. Mudik adalah perjalanan menuju kebersamaan, walau jiwa harus dikorbankan.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Miris, RPJMD Kabupaten Ini Tanpa KLHS

    • calendar_month Rab, 5 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 761
    • 1Komentar

    Peta Kabupaten Pulau Taliabu

  • Eksplore Wisata Bawah Laut dengan Try Scuba

    • calendar_month Sen, 23 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 780
    • 0Komentar

    KNPI Ternate dan Dodoku Scuba Dive Centre Gelar Kerjasama Kota Ternate dan Provinsi Maluku Utara umumnya, memiliki keunikan  bawah laut yang belum dieksplore secara luas.   Keunikan ini bisa disaksikan  melalui  menyelam dan melihat langsung. Dalam menindaklanjutinya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Ternate bersama   Dodoku Dive Center  salah satu dive center di Kota Ternate,  menggelar  […]

  • Cerita Anak Muda Tomolou Tidore Perangi Sampah

    • calendar_month Kam, 26 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 750
    • 0Komentar

    Buat Kampung  Bersih, Beri PAD Buat Kota Tikep Memasuki  kampong  Tomolou di Kota Tidore Kepulauan   dipastikan tidak akan menemukan sampah tercecer di jalanan. Begitu juga pantainya. Tidak ada lagi warga membuang sampah ke tepi pantai. Kondisi hari ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Di mana kebanyakan buang sampah ke laut dan pantai sebagaimana kebiasaan sebagian warga di Maluku […]

  • Hutan Orang Tobaru Terus Menyusut

    • calendar_month Kam, 11 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 707
    • 0Komentar

    Yusak Bulere (67 tahun) sibuk mengasapi kelapa yang telah diolah menjadi kopra. Saat ditemui di kebunnya Minggu sekira pukul 11.30 WIT pertengahan Februari 2021 lalu, Ayah tiga ini sibuk melemparkan  gonofu  (sabut kelapa dan tempurung kelapa,red) ke dalam api untuk menambah  api bafufu (pengasapan,red). Yusak sejak pagi menunggu kopra matang untuk segera dijual  kepada pedagang  […]

  • Ini Potret Desa Sumber Pangan di Pulau Morotai

    • calendar_month Rab, 28 Feb 2018
    • account_circle
    • visibility 741
    • 0Komentar

    Gugusan pulau-pulau kecil di bawah langit terlihat biru kala mendekati Kepulauan Morotai, Maluku Utara, menumpangi kapal ferry, pada awal 2018. Ada  Pulau Dodola, Zum-zum, dan Pulau Kolorai, tempat produksi rumput laut. Pulau-pulau kecil pun menyimpan sejarah panjang Perang Dunia ke II. Pulau Zum-zum, merupakan saksi bisu pertempuran Jepang dan sekutu Tentara Amerika yang dipimpin Jenderal […]

  • Pogram Perhutanan Sosial (PPS) Mati Suri

    • calendar_month Jum, 17 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 757
    • 2Komentar

    Hutan Halmahera

expand_less