Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Pilpres for Safe The People and Nature

Pilpres for Safe The People and Nature

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 4 Jul 2018
  • visibility 608

Catatan dari  Pojok Jarod

Kita dihentakkan dengan berita  kecelakan mengerikan menimpa anak bangsa ini dalam dua minggu terkahir ini.  Pertama tenggelamnya KM. Sinar Bangun di Danau Toba dalam kedalam lebih dari 400 meter  yang hingga kini 160 jenazah penumpang tidak ditemukan. Lalu kecelakan speedboat di Nunukan- Sebatik yang juga memakan korban. Lalu kemarin kecelakaan kapal di Bulukumba -Selayar Sulawesi Selatan yang  hingga pagi ini korban tewas belum ditemukan, bersama   gaji bulan 13 PNS  sebesar Rp.30 milyar. Mereka  ditelan ganasnya laut Sulawesi… disela-sela itu harga BBM   membumbung dan biaya jalan tol pun mengikutinya.  Padahal gencarnya pembangunan infra struktur yang  dilakukan seyogyanya menurunkan ‘cost of living’ rakyat.  Tetapi di negara ini, logika pembangunan tersebut justeru terbalik.  Fasilitas publik itu justeru menaikkan ongkos tanpa penjelasan jelas.

Kemarin saya mendapat penjelasan dari staff  Bank Mandiri bahwa kurs rupiah jatuh gemulai tak berdaya pada Rp.14.500 lebih per dollar. Teman seorang pengusaha konveksi turunan India di Pasar Baru menjelaskan sambil  ngopi robusta bahwa dollar menjulang karena bunga Federal Reserve Amerika meningkat. Semalam juga kita  dikejutkan lagi dengan OTT Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, seorang mantan staff Tentara GAM berserta Bupatinya yang mantan komisioner KPU. Di samping ramainya pembahasan peraturan KPU tentang dilarangnya mantan napi korupsi untuk ikut pemilu caleg 2019.

Dari semua hot isyu itu,  tentu yang mengenaskan adalah kecelakaan laut yang memakan korban nyawa anak bangsa. Betapa ‘standard safety of life’ kita  demikian rendah. Sejak jaman mahasiswa saya telah mengikuti mata kuliah tentang hukum laut dimana ada Konvensi SOLAS (Safety of Life at Sea), sebuah ketentuan internasional tentang keselamatan di laut yang harus dipatuhi oleh semua pengguna kendaraan di laut.

Sebagai bangsa kepulauan dengan 17 ribu pulau, seharusnya infra struktur yang dibangun dengan tema maritim dan kepulauan ini mengutamakan kenyamanan dan keamanan anak bangsa dalam menggunakan transportasi antar pulaunya. Bukan sekedar jalan tol yang melayani kota-kota  utama belaka. Tetapi disela sela mirisnya nurani melihat fakta minor ini, kita masih juga gencar mengemuka dalam hal mengejar kekuasaan di tahun politik ini.  

Lalu apakah fungsi politik jika pelayanan struktur negara beserta perangkatnya masih mengabaikan keselamatan rakyatnya. Gunawan Mohamad menulis Catatan pinggir senin lalu berjudul Populi. Mengangkat frasa Latin vox populi fox dei. Seakan menghentak kita bahwa populi itu akan terkesploitasi dalam  momentum-momentum politik,  lalu mengabaikan populi itu memperoleh ‘safety’ dan ‘prosperity’ nya. Saya jadi teringat sebuah buku seorang    cendikiawan aktivis Ciputat yang sudah almarhum, menulis buku dengan judul sangat provokatif Hancurnya Teori-teori  Pembangunan. Buku tersebut  seakan menguliti bahwa ideologi pembangunan kita ternyata banyak kelirunya ketika mengabaikan dimensi-dimensi  fundamental kemanusiaan itu sendiri. Kemarin sambil membahas kemenangan Tim Samba Brazil atas Mexico, teman di sebuah grup  WhatsAPP  membahas tentang ekonomi Brazil yang tidak memberi pilihan lain, jadi pemain bola handal atau miskin. Padahal itu fenomena Amerika Latin, opsi menjadi pemain bola atau pedagang narkoba karena hidup demikian sempit memberi pilihan. Beberapa  waktu lalu saya mengelilingi Mexico, negeri yang berbatasan dengan raksasa Amerika Serikat itupun memiliki demikian banyak kantong-kantong   kemiskinannya. Dan  ada 75 eksekutif anak Indonesia menjadi eksekutif top pada korporasi telkomnya yang dimiliki seorang turunan Arab Lebanon yang kaya di tengah kemiskinan rakyat yang penggila sepak bola itu. Mungkin kampanye Presiden 2019 harus mengganti hastagnya menjadi “Pilpres for Safe The People and The Nature.” Agar berkuasa tidak sekedar  memenuhi syahwat politik semata mata.  Berkuasa dengan jalan menggadaikan ekologi dan SDA lokal  juga harus nya dihindari.  

Maluku Utara adalah termasuk dalam kategori terakhir ini. Sementara sebagai anak negeri, tanpa sadar kita digiring menjadi pion-pion  kecil yang ditabrakkan sana-sini untuk kepentingan korporasi pemilik modal entah asing dan domestik untuk mendorong kekuasaan yang destruktif pada ekologi SDA kita. Kitapun disibukkan dengan isyu-isyu  permukaan yang demikian menyita energi hingga melupakan agenda-agenda  substantif  bahwa kita tengah digerogoti, dieksploitasi, sebagaimana sejarah masa silam kita. Ketika bersentuhan dengan dengan manca negara.  Bahkan “Rainha Boki Cili Nukila” yang ahli tajwid dan pemimpin jihad itu itupun, meninggal dalam keadaan ‘murtad.’ Menurut Prof. Toety Heraty Nuradi. Inilah tragedi paling mengenaskan yang menimpa seorang ratu abad ke 16 dalam sejarah Nusantara.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Selamatkan Hutan Tropis Papua, Maluku dan Malut

    • calendar_month Ming, 30 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 873
    • 0Komentar

    Suasana tenang sungai Tayawi yang dikelilingi hutan lebat

  • Dua Hari yang Sunyi di Bumi Maluku Utara 

    • calendar_month Rab, 22 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 876
    • 3Komentar

    Peringatan Hari Air Sedunia oleh Komunitas Save Ake Gaale

  • Pulau-pulau Makin Terancam Sampah Plastik

    • calendar_month Sab, 19 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 886
    • 0Komentar

    Kawasan Pasir Putih di Morotai Tertutupi Sampah Pulau-pulau di Maluku Utara saat ini sangat terancam dengan sampah. Terutama sampah yang masuk ke laut  dan kemudian kembali ke pantai.  Ada beragam jenis sampah ditemui di tepi pantai. Plastic terutama kantong kresek, botol bekas minuman, sachet  berbagai makanan ringan dan beragam kebutuhan lainnya. Tidak itu saja ada […]

  • Perjuangkan Lingkungan, 14 Warga Sagea Kiya Hadapi Ancaman Kriminalisasi

    Perjuangkan Lingkungan, 14 Warga Sagea Kiya Hadapi Ancaman Kriminalisasi

    • calendar_month Rab, 11 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 520
    • 0Komentar

    Perjuangan Warga Desa Sagea-Kiya, Weda Utara terhadap lingkungan mereka dari kerusakan akibat industry tambang, terus disuarakan. Aksi warga dalam beberapa waktu belakangan  ini  menerima kenyataan pahit. Aksi melawan korporasi tambang itu berujung panggilan polisi terhadap 14 warga  setempat. Mereka harus berhadapan dengan aparat penegak hukum setelah aksi yang meminta penghentian sementara aktivitas tambang nikel yang […]

  • Tanya Izin Perusahaan, DPRD Haltim Datangi Dishut Malut

    • calendar_month Sel, 26 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 751
    • 0Komentar

    Rapat Komisi III dengan Dinas Kehutnan Provinsi Maluku Utara

  • Kala Rusa Pulau Mare Tinggal Cerita

    • calendar_month Jum, 14 Sep 2018
    • account_circle
    • visibility 733
    • 0Komentar

    Hamparan ilalang  mencapai 10 hektar di bagian Timur Gunung Mare itu merupakan hutan lindung. Ada juga pohon jambulang tumbuh liar bersama tanaman perdu lain. Tempat ini oleh warga dikenal dengan Bilarung Makota, bahasa Tidore, berarti tempat bermain rusa. Warga menyebut, tempat bermain rusa, karena di sinilah sekitar 15 tahun lalu bisa menyaksikan rusa-rusa di Puncak […]

expand_less