Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Pilpres for Safe The People and Nature

Pilpres for Safe The People and Nature

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 4 Jul 2018
  • visibility 403

Catatan dari  Pojok Jarod

Kita dihentakkan dengan berita  kecelakan mengerikan menimpa anak bangsa ini dalam dua minggu terkahir ini.  Pertama tenggelamnya KM. Sinar Bangun di Danau Toba dalam kedalam lebih dari 400 meter  yang hingga kini 160 jenazah penumpang tidak ditemukan. Lalu kecelakan speedboat di Nunukan- Sebatik yang juga memakan korban. Lalu kemarin kecelakaan kapal di Bulukumba -Selayar Sulawesi Selatan yang  hingga pagi ini korban tewas belum ditemukan, bersama   gaji bulan 13 PNS  sebesar Rp.30 milyar. Mereka  ditelan ganasnya laut Sulawesi… disela-sela itu harga BBM   membumbung dan biaya jalan tol pun mengikutinya.  Padahal gencarnya pembangunan infra struktur yang  dilakukan seyogyanya menurunkan ‘cost of living’ rakyat.  Tetapi di negara ini, logika pembangunan tersebut justeru terbalik.  Fasilitas publik itu justeru menaikkan ongkos tanpa penjelasan jelas.

Kemarin saya mendapat penjelasan dari staff  Bank Mandiri bahwa kurs rupiah jatuh gemulai tak berdaya pada Rp.14.500 lebih per dollar. Teman seorang pengusaha konveksi turunan India di Pasar Baru menjelaskan sambil  ngopi robusta bahwa dollar menjulang karena bunga Federal Reserve Amerika meningkat. Semalam juga kita  dikejutkan lagi dengan OTT Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, seorang mantan staff Tentara GAM berserta Bupatinya yang mantan komisioner KPU. Di samping ramainya pembahasan peraturan KPU tentang dilarangnya mantan napi korupsi untuk ikut pemilu caleg 2019.

Dari semua hot isyu itu,  tentu yang mengenaskan adalah kecelakaan laut yang memakan korban nyawa anak bangsa. Betapa ‘standard safety of life’ kita  demikian rendah. Sejak jaman mahasiswa saya telah mengikuti mata kuliah tentang hukum laut dimana ada Konvensi SOLAS (Safety of Life at Sea), sebuah ketentuan internasional tentang keselamatan di laut yang harus dipatuhi oleh semua pengguna kendaraan di laut.

Sebagai bangsa kepulauan dengan 17 ribu pulau, seharusnya infra struktur yang dibangun dengan tema maritim dan kepulauan ini mengutamakan kenyamanan dan keamanan anak bangsa dalam menggunakan transportasi antar pulaunya. Bukan sekedar jalan tol yang melayani kota-kota  utama belaka. Tetapi disela sela mirisnya nurani melihat fakta minor ini, kita masih juga gencar mengemuka dalam hal mengejar kekuasaan di tahun politik ini.  

Lalu apakah fungsi politik jika pelayanan struktur negara beserta perangkatnya masih mengabaikan keselamatan rakyatnya. Gunawan Mohamad menulis Catatan pinggir senin lalu berjudul Populi. Mengangkat frasa Latin vox populi fox dei. Seakan menghentak kita bahwa populi itu akan terkesploitasi dalam  momentum-momentum politik,  lalu mengabaikan populi itu memperoleh ‘safety’ dan ‘prosperity’ nya. Saya jadi teringat sebuah buku seorang    cendikiawan aktivis Ciputat yang sudah almarhum, menulis buku dengan judul sangat provokatif Hancurnya Teori-teori  Pembangunan. Buku tersebut  seakan menguliti bahwa ideologi pembangunan kita ternyata banyak kelirunya ketika mengabaikan dimensi-dimensi  fundamental kemanusiaan itu sendiri. Kemarin sambil membahas kemenangan Tim Samba Brazil atas Mexico, teman di sebuah grup  WhatsAPP  membahas tentang ekonomi Brazil yang tidak memberi pilihan lain, jadi pemain bola handal atau miskin. Padahal itu fenomena Amerika Latin, opsi menjadi pemain bola atau pedagang narkoba karena hidup demikian sempit memberi pilihan. Beberapa  waktu lalu saya mengelilingi Mexico, negeri yang berbatasan dengan raksasa Amerika Serikat itupun memiliki demikian banyak kantong-kantong   kemiskinannya. Dan  ada 75 eksekutif anak Indonesia menjadi eksekutif top pada korporasi telkomnya yang dimiliki seorang turunan Arab Lebanon yang kaya di tengah kemiskinan rakyat yang penggila sepak bola itu. Mungkin kampanye Presiden 2019 harus mengganti hastagnya menjadi “Pilpres for Safe The People and The Nature.” Agar berkuasa tidak sekedar  memenuhi syahwat politik semata mata.  Berkuasa dengan jalan menggadaikan ekologi dan SDA lokal  juga harus nya dihindari.  

Maluku Utara adalah termasuk dalam kategori terakhir ini. Sementara sebagai anak negeri, tanpa sadar kita digiring menjadi pion-pion  kecil yang ditabrakkan sana-sini untuk kepentingan korporasi pemilik modal entah asing dan domestik untuk mendorong kekuasaan yang destruktif pada ekologi SDA kita. Kitapun disibukkan dengan isyu-isyu  permukaan yang demikian menyita energi hingga melupakan agenda-agenda  substantif  bahwa kita tengah digerogoti, dieksploitasi, sebagaimana sejarah masa silam kita. Ketika bersentuhan dengan dengan manca negara.  Bahkan “Rainha Boki Cili Nukila” yang ahli tajwid dan pemimpin jihad itu itupun, meninggal dalam keadaan ‘murtad.’ Menurut Prof. Toety Heraty Nuradi. Inilah tragedi paling mengenaskan yang menimpa seorang ratu abad ke 16 dalam sejarah Nusantara.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tambang Hadir, Burung di Kawasan Goa Bokimoruru Terancam

    • calendar_month Kam, 15 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 746
    • 2Komentar

    Penulis Sofyan A Togubu Berbagai jenis burung beterbangan, juga cuitan mereka, pernah menjadi pemandangan lumrah bagi warga di Desa Sagea. Namun suasana yang indah tersebut kini berubah, seiring hadirnya industri pertambangan nikel di kawasan tersebut. Desa yang terletak di Kecamatan Weda Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara itu sesungguhnya berada dalam koridor Key Biodiversity Area (KBA)–lokasi […]

  • Atasi Sampah, Malut Butuh PLTSa?

    • calendar_month Sel, 28 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 886
    • 1Komentar

    Sampah menjadi masalah paling serius. Tidak hanya di kota tetapi juga di  desa- desa di seluruh Indonesia. Dia menjadi masalah dan  sangat mengancam lingkungan dan manusia  terutama sampah plastic. Sampah  jenis ini   sulit terurai  sehingga dilakukan berbagai riset  untuk mengatasi  makin banyaknya sebaran di lingkungan darat maupun laut.   Ada sejumlah cara  mengatasi sampah ini […]

  • PIT Diklaim Mampu Berantas IUU Fishing

    • calendar_month Sel, 6 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 436
    • 3Komentar

    Seekor ikan tuna yang didaratkan di Perlabuhan Perikanan Dufa dufa Ternate Maluku Utara foto M Ichi

  • Kala Rusa Pulau Mare Tinggal Cerita

    • calendar_month Jum, 14 Sep 2018
    • account_circle
    • visibility 501
    • 0Komentar

    Hamparan ilalang  mencapai 10 hektar di bagian Timur Gunung Mare itu merupakan hutan lindung. Ada juga pohon jambulang tumbuh liar bersama tanaman perdu lain. Tempat ini oleh warga dikenal dengan Bilarung Makota, bahasa Tidore, berarti tempat bermain rusa. Warga menyebut, tempat bermain rusa, karena di sinilah sekitar 15 tahun lalu bisa menyaksikan rusa-rusa di Puncak […]

  • Hutan dan Laut  Malut Makin Terancam

    • calendar_month Sab, 23 Apr 2022
    • account_circle
    • visibility 512
    • 1Komentar

    Salah satu peserta aksi Hari Bumi yang membawa Pamflet berisi pesan Jaga Laut Maluku Utara foto M Ichi

  • Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

    • calendar_month Kam, 9 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 630
    • 0Komentar

    Busuk Buah Bertahun-Tahun, Tak Digubris Pemerintah? Hari sudah agak siang Rabu (31/10/2023). Meski begitu di bawah perkebunan kakao yang ditumpangsarikan kelapa dan pala berjarak kurang lebih satu kilometer dari Panamboang Bacan Selatan Pulau Bacan itu terasa sejuk.     Jarum jam menujukan sekira pukul 11.20 WIT. Saif Bakar (49) sibuk mengumpulkan satu per satu buah kakao […]

expand_less