Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Doho-doho Kemerdekaan  

Doho-doho Kemerdekaan  

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
  • visibility 926

Ironi Negeri El Dorado dan El Picente

Setelah menemukannya, saya berani mengatakan bahwa Hindia adalah wilayah terkaya di dunia ini. Saya bicara tentang emas, mutiara, batu berharga dan rempah rempah berikut perdagangan dan pasar yang mereka miliki, karena semuanya tidak muncul begitu saja. Saya menahan diri untuk tidak mengeksploitasinya, (Cristopher Columbus  surat dari perjalanan  ketiga yang ditulis di Jamaika 7 Juli 1503).  

Isi surat yang saya kutip dari buku Jack Turner Sejarah  Rempah dari Erotisme Sampai Imprealisme ini, sebenarnya ingin memotret Maluku Utara.   Di sini tidak bermaksud menggambarkan perulangan sejarah pencarian Columbus pada Hindia yang kaya raya akan sumberdaya alam. Sebab apa yang Columbus  cari seperti dalam suratnya, ternyata dia temukan benua Amerika  bukan Hindia dalam misi pencarian El Dorado (emas,red) dan El Picente (rempah-rempah,red). Laporan Columbus  itu dimentahkan para penjelajah lain yang tidak menemukan jenis rempah apa pun. Columbus pun disebut sebut menuliskan sesuatu yang sifatnya hayali bahkan melakukan genocide di benua Amerika.

Terlepas dari itu, apa yang digambarkan dalam suratnya tentang  hasil bumi emas, mutiara dan rempah adalah sebuah kenyataan yang hari-hari ini jadi sumber berita yang mengisi ruang diskursus  tentang  negeri hindia yang kaya raya tersebut.

Terlalu  banyak catatan sejarah telah menulis  perjuangan, mempertahankan kekayaan alam yang direbut bangsa  bangsa Eropa zaman itu.

Lalu apa saja yang menghipnotis mereka,  hingga berlayar dari negeri yang jauh mendatangi pulau pulau terpencil dan tak tertera di peta dunia itu? Jawabannya sumber daya alam biji cengkih dan pala.

Giles Milton menulis dalam Pulau Run,Magnet Rempah rempah Nusantara  yang Ditukar dengan Manhattan, (2015), menyebut biji Pala adalah kemewahan paling diidamkan di Eropa abad ke 17.

Pala  misalnya adalah satu jenis rempah yang memiliki khasiat luar biasa untuk pengobatan. Sehingga itu orang orang mempertaruhkan nyawa mereka mendapatkannya.

Begitu juga pohon cengkih yang menghasilkan biji cengkih, begitu mahalnya, hingga ketika mencium baunya dijuluki aroma surgawi. 

Negara yang pernah menjajah Indonesia, yaitu Portugis, Spanyol, Belanda, Prancis, Inggris  memiliki alasan  beragam. Mulanya,  ingin membeli dan bertukar barang, tetapi akhirnya menjajah lalu menguasai sumber daya alam dan hasil bumi lainnya. Maluku Utara sebagai bagian dari sebutan Hindia  zaman itu, menyimpan kekayaan yang tergambarkan seperti surga dunia. Dikejar dan diimpikan semua bangsa.  

Akan halnya hari hari terakhir ini, Eldorado di wilayah ini tidak hanya emas. Ada nikel,  biji besi dan beragam hasil  tambang lainnya.  Eldorado adalah sumberdaya alam yang terus diperebutkan. Sementara El picente redup karena tidak menjadi komoditas Negara yang dijadikan proyek strategis nasional (PSN). Elpicente yang lebih menjadi  komoditas rakyat bawah,  mesti diurus dan diperjuangkan sendiri agar bisa hidup dan menghidupkan.

El-dorado, hari hari ini meski menjadi sumber pemiskinkan dan menderitakan rakyat,  tetap dilindungi dan dijadikan obyek vital negara. Benar benar kemerdekaan yang terkekang. Merdeka karena  bebas mengakui bumi Indonesia dan segala isinya dikuasai Negara dan dipergunakan  sebesar besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Sebagaimana diamanahkan Pasal 33 UUD 45.

Tetapi di sisi lain, terkekang karena seluruh asset itu menjadi hak pemilik modal mengelola dan menghisapnya.  

Padahal, kalau menilik lebih jauh kata merdeka, menurut  Kamus  Besar Bahasa Indonesia dari Pusat Bahasa Edisi Keempat Departemen Pendidikan Nasional Terbitan Jakarta tahun 2012,  menyebutkan bahwa Merdeka artinya bebas. Baik dari penghambaan, penjajahan dan sebagainya.

Merdeka juga memiliki makna  berdiri sendiri. Tidak terkena atau lepas dari  tuntutan, tidak terikat, tidak tergantung  kepada orang atau pihak tertentu.

Merujuk makna yang  telah disebutkan dalam buku setebal 1700 halaman itu, dikontekskan dengan kekinian  Maluku Utara dan Indonesia, maka akan memunculkan diskursus “Belum Merdeka dari  Penjajahan akibat biji emas, biji besi, biji nikel dan lainnya. 

Penjajahan karena biji tambang saat ini tidak mengangkat senjata seperti di zaman penjajahan  karena biji cengkih,  pala,  lada  kopi  dan lain sebagainya.    Tetapi dampaknya lebih menyakitkan  karena akan berlangsung turun temurun.

Hutan Halmahera yang Menghijau kini mulai dkuras Foto kawasan taman nasional TNAL foto Opan Jacky

Penjajahan  karena  ada biji- bijian  dalam perut bumi itu  makin menjadi– jadi. Mengharu biru kelompok proletar dan marhean.  Membuat semua mulut tersumpal  dari  suara lantang.  

Menarik melihat kemerdekaan mengelola dan memanfaatkan  kekayaan tak tepermanai yang tersimpan di bumi Maluku Utara. Terutama yang ada  Hale–mahera (tanah induk, bahasa Tidore,red) dan kepulauan sekawasan (Taliabu, Sulabesi, Obi, Bacan, Kasiruta) bersama empat persekutuan kerajaan  (moti verbond, red) serta Morotai, .

Kekayaannya sejak lama telah menghipnotis bangsa kulit putih. Tercatat  bangsa barat silih berganti datang  menjajah sebelum Negara pulau ini diproklamirkan 17 Agustus 1945. (sumbernya elpicente,red).   

Kini penjajahan itu masih saja ada.  Kolaborasi ras dalam menjajah semakin menghidupkan semangat menghisap dan menghabiskan sumberdaya yang ada. Ras kuning bersama elit sawo matang bersatu menghabiskan sumberdaya titipan anak cucu yang ada di perut bumi (el dorado,red).

Lihatlah Hal- Mahera. Dalam bahasa Ternate Hal berarti persoalan. Sementara Mahera yang berarti induk (induk persoalan,red) telah mencatatkan selaksa masalah yang akan diwariskan generasi hari ini dan  anak cucu di 20, 30, 50  hingga 100 tahun ke depan.

Pulau Obi salah satu negeri yang menyimpan eldorado, foto M Ichi

Hutan yang dulu menghijau kini kerontang, bulldozer menggeruduk tanah, debu membungkus kampong. Sungai berair bening  kini kuning keemasan. Hilang suara nuri dan kakatua hingga karamat para moyang yang kini entah di mana. Di sana datang puluhan ribu orang  mencari nafkah, tetapi suatu saat entah kapan, akan meninggalkan “sampah” yang  dipungut anak cucu bumi Hal—Mahera. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pulau Moor di Halmahera Tengah  Mau Dierjualbelikan?

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 1.655
    • 0Komentar

    Yusuf Haruna:   Langgar Konstitusi dan Hak-hak Warga Lokal Pulau Moor  yang terletak di Wilayah Kecamatan Patani Kabupaten  Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, merupakan pulau kecil seluas sekitar 3 km² yang saat ini dihuni sebagian petani kelapa, nelayan dan dimanfaatkan oleh masyarakat   tujuh desa Patani  dan  sekitarnya. Rencana penjualan pulau Mour  kepada pihak swasta, yaitu pengusaha […]

  • Tradisi Orang Tobaru Tanam Padi Lokal

    • calendar_month Sab, 6 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 1.008
    • 0Komentar

    Dua karung gabah teronggok di dapur Yosep Ugu (60). Gabah kering itu rencana diolah menggunakan mesin penggilingan padi di desa setempat.  Gabah padi   telah lama dikeringkan, tersimpan dalam karung dan baru dibawa ke kampung  sehari sebelumnya. “Di dalam gabah padi ini,  ada banyak jenis ikut tercampur. Ini sisa panen tahun lalu dan sampai sekarang belum  […]

  • Opan Jacky Abadikan Jejak Kehidupan Penjaga Hutan Halmahera

    Opan Jacky Abadikan Jejak Kehidupan Penjaga Hutan Halmahera

    • calendar_month Sab, 25 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Buat Film Dokumenter Suku O’Hongana Manyawa, Tayang Agustus   Muhammad Sofyan Ansar, atau  biasa disapa Opan Jacky,  adalah seorang videographer sudah malang melintang  di bidang ini dengan membuat berbagai  film pendek maupun. Kali ini sebagai  orang yang berlatar belakang, kehutanan  dia mengabadikan aktivitas videografinya  dengan video tentang alam dan kehidupan manusianya. Salah satunya saat ini Opan  […]

  • UGM Riset Kosmopolis Rempah di Malut

    • calendar_month Kam, 10 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 670
    • 1Komentar

    Sudah Jalin Kerjasama dengan Pemkab Halut Wilayah Provinsi Maluku Utara dikenal sebagai penghasil  rempah pala dan cengkeh.  Tak salah di Kota Ternate misalnya saat ini membangun icon kotanya dengan sebutan   Kota Rempah. Karena itu juga  Maluku Utara patut menyandang The Spicy Island  karena menjadi penghasil rempah yang merupakan sebuah warisan masa lalu Upaya mengembalikan kejayaan […]

  • Ternate Masuk 10 Kota Berketahanan Iklim Inklusive

    • calendar_month Rab, 13 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 775
    • 1Komentar

    Pelatihan rencana aksi iklim yang digelar Senin (1/10/2021)

  • Mangrove Mangga Dua Ternate Nasibmu Kini

    • calendar_month Sen, 15 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 751
    • 0Komentar

    Kondisi terakhir mangrove di Mangga Dua yang digusur dan direklamasi untuk kepentingan bisnis

expand_less