Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Doho-doho Kemerdekaan  

Doho-doho Kemerdekaan  

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
  • visibility 881

Ironi Negeri El Dorado dan El Picente

Setelah menemukannya, saya berani mengatakan bahwa Hindia adalah wilayah terkaya di dunia ini. Saya bicara tentang emas, mutiara, batu berharga dan rempah rempah berikut perdagangan dan pasar yang mereka miliki, karena semuanya tidak muncul begitu saja. Saya menahan diri untuk tidak mengeksploitasinya, (Cristopher Columbus  surat dari perjalanan  ketiga yang ditulis di Jamaika 7 Juli 1503).  

Isi surat yang saya kutip dari buku Jack Turner Sejarah  Rempah dari Erotisme Sampai Imprealisme ini, sebenarnya ingin memotret Maluku Utara.   Di sini tidak bermaksud menggambarkan perulangan sejarah pencarian Columbus pada Hindia yang kaya raya akan sumberdaya alam. Sebab apa yang Columbus  cari seperti dalam suratnya, ternyata dia temukan benua Amerika  bukan Hindia dalam misi pencarian El Dorado (emas,red) dan El Picente (rempah-rempah,red). Laporan Columbus  itu dimentahkan para penjelajah lain yang tidak menemukan jenis rempah apa pun. Columbus pun disebut sebut menuliskan sesuatu yang sifatnya hayali bahkan melakukan genocide di benua Amerika.

Terlepas dari itu, apa yang digambarkan dalam suratnya tentang  hasil bumi emas, mutiara dan rempah adalah sebuah kenyataan yang hari-hari ini jadi sumber berita yang mengisi ruang diskursus  tentang  negeri hindia yang kaya raya tersebut.

Terlalu  banyak catatan sejarah telah menulis  perjuangan, mempertahankan kekayaan alam yang direbut bangsa  bangsa Eropa zaman itu.

Lalu apa saja yang menghipnotis mereka,  hingga berlayar dari negeri yang jauh mendatangi pulau pulau terpencil dan tak tertera di peta dunia itu? Jawabannya sumber daya alam biji cengkih dan pala.

Giles Milton menulis dalam Pulau Run,Magnet Rempah rempah Nusantara  yang Ditukar dengan Manhattan, (2015), menyebut biji Pala adalah kemewahan paling diidamkan di Eropa abad ke 17.

Pala  misalnya adalah satu jenis rempah yang memiliki khasiat luar biasa untuk pengobatan. Sehingga itu orang orang mempertaruhkan nyawa mereka mendapatkannya.

Begitu juga pohon cengkih yang menghasilkan biji cengkih, begitu mahalnya, hingga ketika mencium baunya dijuluki aroma surgawi. 

Negara yang pernah menjajah Indonesia, yaitu Portugis, Spanyol, Belanda, Prancis, Inggris  memiliki alasan  beragam. Mulanya,  ingin membeli dan bertukar barang, tetapi akhirnya menjajah lalu menguasai sumber daya alam dan hasil bumi lainnya. Maluku Utara sebagai bagian dari sebutan Hindia  zaman itu, menyimpan kekayaan yang tergambarkan seperti surga dunia. Dikejar dan diimpikan semua bangsa.  

Akan halnya hari hari terakhir ini, Eldorado di wilayah ini tidak hanya emas. Ada nikel,  biji besi dan beragam hasil  tambang lainnya.  Eldorado adalah sumberdaya alam yang terus diperebutkan. Sementara El picente redup karena tidak menjadi komoditas Negara yang dijadikan proyek strategis nasional (PSN). Elpicente yang lebih menjadi  komoditas rakyat bawah,  mesti diurus dan diperjuangkan sendiri agar bisa hidup dan menghidupkan.

El-dorado, hari hari ini meski menjadi sumber pemiskinkan dan menderitakan rakyat,  tetap dilindungi dan dijadikan obyek vital negara. Benar benar kemerdekaan yang terkekang. Merdeka karena  bebas mengakui bumi Indonesia dan segala isinya dikuasai Negara dan dipergunakan  sebesar besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Sebagaimana diamanahkan Pasal 33 UUD 45.

Tetapi di sisi lain, terkekang karena seluruh asset itu menjadi hak pemilik modal mengelola dan menghisapnya.  

Padahal, kalau menilik lebih jauh kata merdeka, menurut  Kamus  Besar Bahasa Indonesia dari Pusat Bahasa Edisi Keempat Departemen Pendidikan Nasional Terbitan Jakarta tahun 2012,  menyebutkan bahwa Merdeka artinya bebas. Baik dari penghambaan, penjajahan dan sebagainya.

Merdeka juga memiliki makna  berdiri sendiri. Tidak terkena atau lepas dari  tuntutan, tidak terikat, tidak tergantung  kepada orang atau pihak tertentu.

Merujuk makna yang  telah disebutkan dalam buku setebal 1700 halaman itu, dikontekskan dengan kekinian  Maluku Utara dan Indonesia, maka akan memunculkan diskursus “Belum Merdeka dari  Penjajahan akibat biji emas, biji besi, biji nikel dan lainnya. 

Penjajahan karena biji tambang saat ini tidak mengangkat senjata seperti di zaman penjajahan  karena biji cengkih,  pala,  lada  kopi  dan lain sebagainya.    Tetapi dampaknya lebih menyakitkan  karena akan berlangsung turun temurun.

Hutan Halmahera yang Menghijau kini mulai dkuras Foto kawasan taman nasional TNAL foto Opan Jacky

Penjajahan  karena  ada biji- bijian  dalam perut bumi itu  makin menjadi– jadi. Mengharu biru kelompok proletar dan marhean.  Membuat semua mulut tersumpal  dari  suara lantang.  

Menarik melihat kemerdekaan mengelola dan memanfaatkan  kekayaan tak tepermanai yang tersimpan di bumi Maluku Utara. Terutama yang ada  Hale–mahera (tanah induk, bahasa Tidore,red) dan kepulauan sekawasan (Taliabu, Sulabesi, Obi, Bacan, Kasiruta) bersama empat persekutuan kerajaan  (moti verbond, red) serta Morotai, .

Kekayaannya sejak lama telah menghipnotis bangsa kulit putih. Tercatat  bangsa barat silih berganti datang  menjajah sebelum Negara pulau ini diproklamirkan 17 Agustus 1945. (sumbernya elpicente,red).   

Kini penjajahan itu masih saja ada.  Kolaborasi ras dalam menjajah semakin menghidupkan semangat menghisap dan menghabiskan sumberdaya yang ada. Ras kuning bersama elit sawo matang bersatu menghabiskan sumberdaya titipan anak cucu yang ada di perut bumi (el dorado,red).

Lihatlah Hal- Mahera. Dalam bahasa Ternate Hal berarti persoalan. Sementara Mahera yang berarti induk (induk persoalan,red) telah mencatatkan selaksa masalah yang akan diwariskan generasi hari ini dan  anak cucu di 20, 30, 50  hingga 100 tahun ke depan.

Pulau Obi salah satu negeri yang menyimpan eldorado, foto M Ichi

Hutan yang dulu menghijau kini kerontang, bulldozer menggeruduk tanah, debu membungkus kampong. Sungai berair bening  kini kuning keemasan. Hilang suara nuri dan kakatua hingga karamat para moyang yang kini entah di mana. Di sana datang puluhan ribu orang  mencari nafkah, tetapi suatu saat entah kapan, akan meninggalkan “sampah” yang  dipungut anak cucu bumi Hal—Mahera. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Petani Dapat Penguatan Usaha Kelapa dan Hortikultura

    • calendar_month Jum, 18 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 680
    • 0Komentar

    Hasil Kolaborasi Pakativa – Disperindag dan Distan Provinsi Turunan hasil kelapa yang  mencapai 50 jenis produk hingga kini belum dimanfaatkan  oleh petani  di Maluku Utara.  Mereka hanya mengandalkan kopra sebagai sumber pendapatan utama. Karena itu ketika harga kopra anjlok petani menjadi  terpuruk. Sementara, hasil lain dari kelapa  seperti tempurung, air dan sabuk kelapa  hanya dibuang […]

  • Titik Nol Jalur Rempah Dunia:(1)

    • calendar_month Sel, 11 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 934
    • 0Komentar

    Cengkih Afo cengkih tertua di dunia. Foto ini adalah gambar cengkoh afo generasi kedua yang sempat diabadikan gambarnya.

  • Ini Si Crazy Rich dari Tambang di Halmahera  

    • calendar_month Kam, 6 Apr 2023
    • account_circle
    • visibility 1.061
    • 2Komentar

    Aktivitas tambang bawah tanah PT NHM. Sumber foto website NHM,co.id

  • Laut Malut, Kuburan Bagi Mamalia Laut?

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 723
    • 0Komentar

    Bangkai-Paus-yang-mulai-hancur-dan-menmbulkan-bau-menyengat-di-Morotai-beberapa-waktu-lalu-foto-Hamsor-Yusuf

  • Mengunjungi Mayau, Pulau Terluar Kota Ternate (1)

    • calendar_month Sen, 4 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 1.474
    • 1Komentar

    Merekam Masalah Infrastruktur hingga Layanan Dasar    Kamis (24/8/2023) lalu saya berkesempatan  mengunjungi Pulau Mayau di Kecamatan Batang Dua. Pulau ini secara adminstratif berada di wilayah pemerintahan Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Di kecamatan ini ada dua  pulau yakni Mayau dan Tifure  dengan 6 kelurahan. Di Pulau Mayau ada 4 kelurahan.Sementara di Tifure ada dua […]

  • Pulau Kecil, Kaya Biodiversitas Tapi Rentan

    • calendar_month Sen, 10 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 769
    • 0Komentar

    Pembangunan di pulau-pulau kecil tidak cukup sekadar membangun berbagai fasilitas, salah satunya seperti pariwisata. Keberadaan  fasilitas yang menunjang wisatawan  di satu sisi bisa menjadi ancaman kelestarian sumber daya alam. Karena itu  pemerintah perlu menyusun peta jalan pembangunan berkelanjutan untuk pulau-pulau kecil. “Perlu memerhatikan daya dukung lingkungan pulau-pulau kecil,’’kata Guru Besar Kelautan Universitas Mataram Prof Sitti […]

expand_less