Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » UGM Riset Kosmopolis Rempah di Malut

UGM Riset Kosmopolis Rempah di Malut

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 10 Agu 2023
  • visibility 619

Sudah Jalin Kerjasama dengan Pemkab Halut

Wilayah Provinsi Maluku Utara dikenal sebagai penghasil  rempah pala dan cengkeh.  Tak salah di Kota Ternate misalnya saat ini membangun icon kotanya dengan sebutan   Kota Rempah. Karena itu juga  Maluku Utara patut menyandang The Spicy Island  karena menjadi penghasil rempah yang merupakan sebuah warisan masa lalu

Upaya mengembalikan kejayaan rempah sebagai sebuah warisan budaya dunia (world heritage) Universitas Gajah Mada Jogjakarta membangun kolaborasi terutama dengan Kabupaten Halmahera Utara dalam hal kerja sama pengembangan kosmopolis rempah di Maluku Utara.  “Ini menjadi salah satu bagian dari flagship penelitian unggulan UGM,” jelas  Direktur Penelitian UGM, Prof. Mirwan Ushada. Dia bilang  UGM mengelola flagship penelitian memajukan IPTEK untuk mewujudkan integrasi riset yang berfokus pada pengembangan teknologi maju menuju kesejahteraan dan kedaulatan Indonesia. Salah satunya mengembangkan kosmopolis rempah.

“Ikon provinsi Maluku Utara yang sangat lekat dengan rempah. UGM ingin mengembangkan kosmopolis Maluku Utara.  Itu diksi yang kita usulkan untuk komplementer yang disebut dengan jalur rempah,”  jelasnya belum lama ini saat melakukan pemetaan rempah di Halmahera Utara.

Riset kosmopolis rempah telah dilakukan sejak tahun 2021 dengan dibentuknya tim kosmopolis rempah UGM yang melibatkan dosen maupun peneliti dari berbagai fakultas antara lain sejarah, kedokteran, kehutanan, arkeologi dan lainnya.  Tidak kurang dari 20 peneliti akan diterjunkan guna meneliti kawasan rempah Maluku Utara. Mereka akan melakukan kajian dan riset di berbagai bidang untuk mengembalikan kejayaan rempah di Maluku Utara. Adapun pendekatan yang dilakukan adalah  rekonstruksi, revitalisasi, dan inovasi.

Mirwan bilang rekonstruksi dimaknai sebagai upaya menggali nilai lokal dan budaya yang terdapat di Maluku Utara. Selanjutnya, akan dilakukan revitalisasi guna membangkitkan kembali kejayaan rempah. Sementara itu, hasil KKN UGM di Halmahera Utara dijadikan sebagai informasi awal untuk melakukan penelitian.

Benteng di Ternate adalah bukti kejayaan rempah di masa lalu

“Melalui pendekatan tersebut akan dilakukan kajian untuk menggabungkan kesenjangan yang terjadi antara kejayaan di masa lalu dan kejayaan masa kini yang selanjutnya dapat dikembangkan inovasi sesuai kebutuhan saat ini,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan terdapat potensi besar kolaborasi UGM dengan Halamhera Utara mewujudkan Kosmopolis Maluku Utara. Beberapa diantaranya adalah eksplorasi tanaman rempah melalui identifikasi biodiversitas dan potensi ekonomi. Lalu, dokumentasi warisan budaya rempah untuk pengungkapan potensi lokal, pengembangan living museum Teluk Kao, pemberdayaan masyarakat untuk penguatan ekonomi, ketahanan pangan dan budaya lokal mendukung kosmopolis rempah, serta integrasi dukungan pengembangan master plan kawasan wisata.

Kolaborasi  ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yakni  membangun  kemitraan untuk mencapai tujuan berkelanjutan, serta mengurangi kelaparan dan kemiskinan.

Sekda Halmahera Utara, Erasmus J. Papilaya,  bilang pala merupakan komoditas unggulan di daerahnya, khususnya pala Dukono yang memiliki ukuran lebih bsear dibanding   jenis lainnya. Pala ini telah memperoleh sertifikasi dari Kementerian Pertanian RI.

Terkait  kolaborasi dari UGM melakukan riset   pengembangan rempah, Papilaya menyambut baik hal tersebut. “Pengembangan pala memerlukan kerja sama dan kolaborasi dengan banyak pihak sebab masyarakat Halmahera Utara belum bisa memanfaatkan pala dengan optimal.   Diharapkan pengembangan pala bisa meningkatkan kesejahteraan  warga dan pendapatan daerah.

Tanaman Pala hingga kini masih menjadi primadona dan tumpuan hidup  sebagian besar warga di Mauluku Utara.

 Jainudin Kambosa, warga Desa Ngidiho, Kecamatan Galela Barat, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara mengaku menggantungkan hidup dari bertanam pala. Setiap minggunya ia bisa  dapatkan uang minimal Rp500.00 dari panen pala.

“Kami ada satu kebun sekitar 50 pohon pala. Panen biasanya tiap minggu, tetapi hasilnya tidak selalu sama tergantung kondisi cuaca. Cukup tidak cukup hasilnya ya disyukuri untuk biaya empat anak sekolah”ungkapnya.

Lain halnya dengan Theo Djiko, warga Desa Pitu, Kecamatan Tobelo Tengah, Halamhera Utara. Dia baru mengelola kebun pala yang merupakan warisan orang tuanya setelah pensiun.

“Bapak saya tanam pohon pala, usia pohonnya mungkin sudah 28 tahun,”tuturnya.

Tidak seperti warga umumnya yang memanen pala setiap minggu.Pala di kebun Theo dipanen setiap hari dengan cara mengambil buah pala yang jatuh. Setiap harinya ada tengkulak yang mengambil hasil panen tersebut. Biji pala dijual seharga Rp85.000 per Kg. Sementara salut biji atau  fuli dijual  dengan harga Rp200.000 per Kg.

“Fuli ini   bagian yang paling mahal. Sementara  daging buahnya dibuang,” jelasnya.

Berdasarkan data  Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara  tahun 2023, tercatat ada 9.127 petani pala di Halmahera Utara. Dari jumlah itu, petani pala terbanyak  ada di Kecamatan Galela Barat  1.518 orang. Disusul  Kecamatan Malifut sebanyak 973 petani pala. Kecamatan Kao Utara, 767 orang dan Tobelo Barat 704 petani.

Kepala Desa Ngidiho Kecamatan Galela Barat, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, Kamal Abdullah, menjelaskan  desanya memiliki program  menanam pohon pala. Program itu  dilakukan sebelum tahun 2003 silam dengan satu kepala keluarga minmal menanam 50 pohon pala. Program itu,  setidaknya ada 400 kepala keluarga memiliki pohon pala.

Dalam sejarah nusantara, Maluku Utara khususnya Ternate dan Tidore menjadi jalur perdagangan rempah yang cukup masyhur pada abad ke-15. Peneliti Kosmopolis Rempah UGM, Dr. Sri Margana, menjelaskan perdagangan rempah di Maluku dimulai dengan kedatangan para pedagang China yang kemudian mengenalkan rempah ke wilayah Mediterania. Berawal dari hal itu menjadikan sejumlah pedagang dari Eropa mulai berdatangan ke Maluku Utara dan membeli rempah langsung dari warga.

Margana mengatakan rempah saat itu lebih mahal dibandingkan dengan emas. Rempah menjadi objek perburuan bagi bangsa Eropa kala itu. Bukan hanya untuk memenuhi hasrat lidah dan gaya hidup orang Eropa, rempah juga menjadi simbol strata kebangsawanaan mereka di masa itu. Rempah yang tersaji di meja makan dipakai untuk menunjukkan status sosial atau tingkat kebangsawanan mereka.

“Potensi rempah di Maluku Utara cukup besar, namun tidak lagi seperti dulu,” jelasnya.

Margana mengatakan budi daya rempah termasuk pala di Maluku Utara tidak lagi dikelola seperti dulu. Dahulu pala dibudidayakan oleh perusahaan-perusahaan besar. Sementara saat ini pala dibudidayakan oleh orang per orang di masyarakat.

“Budi daya rempah di Maluku sudah tidak dikelola seperti sebelumnya oleh company. Saat ini hanya memelihara dari warisan saja dan tidak ada penanaman kembali,” paparnya.

Tim kosmopolis rempah UGM berusaha memetakan budi daya rempah mulai dari wilayah budi daya, volume, siapa yang membudidayakan serta bagaimana pemasarannya. Hal itu dilakukan untuk memberikan peta jalan bagi program kosmopolis rempah khususnya dalam porgram revitalisasi rempah di Maluku Utara.

(Dikutip dari https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-bangun-kolaborasi-pengembangan-kosmopolis-rempah-maluku-utara/)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pulau Kecil  Masalah Besar, “Dijual hingga Diperebutkan” 

    • calendar_month Jum, 11 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 1.209
    • 0Komentar

    Sebuah Catatan dari  Kisruh Pulau di  Maluku Utara The Jakarta Post  media berbahasa Inggris terbitan 9 Juli 2025,  menurunkan artikel berjudul Pulau  Kecil, Masalah Besar. Dalam artikel itu diungkap sejumlah persoalan yang dihadapi  pulau-pulau kecil saat ini. Salah satu yang diangkat adalah munculnya penjualan pulau-pulau kecil secara illegal,  di berbagai situs internasional. Bagi The Jakarta […]

  • Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

    • calendar_month Kam, 27 Feb 2020
    • account_circle
    • visibility 1.479
    • 0Komentar

    Warga Desa Sangapati  dinstruksikan  menghindari mengomsumsi ikan  mati massal karena dicurigai beracun. Sementara anak- anak  dan  orang dewasa, diminta  menghindari sementara waktu mandi di laut.   Warna air laut yang biasanya  bening menjadi coklat pekat kemerah- merahan  itu  ikut menyebabkan matinya berbagai jenis biota   di kawasan laut pulau Makeang  Halmahera Selatan  Maluku Utara. Peristiwa ini membuat […]

  • Perempuan Mapala Bicara Perubahan Iklim

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 1.313
    • 0Komentar

    Soroti  Reklamasi hingga  Sampah Pembalut Wanita  Perkumpukan Paka Tiva Maluku Utara,  sebuah lembaga non profit yang bekerja untuk pendampingan warga  dan concern  untuk isu literasi,  budaya dan ekologi,  menggelar Seri Diskusi Pencinta Alam Maluku Utara.  Diskusi Rabu (12/8) di jarod cafe BTN, adalah   kedua kalinya. Pesertanya  Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala)  dari berbagai perguruan tinggi di […]

  • Mengenal Pulau SIBU,Kecil nan Indah dan Dikeramatkan

    • calendar_month Ming, 2 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 875
    • 1Komentar

    Pulau Sibu dilihat dari udara, foto opan Jacky

  • Gelar Program Save The Small Island, Warga dan Walhi Malut Tanam Mangrove

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 1.091
    • 0Komentar

    LABUHA – Masyarakat Desa Gane Dalam Kecamatan Gane Barat Selatan Halmahera Selatan, melakukan gerakan menanam 20  ribu anakan pohon mangrove. Aksi menanam di lahan-lahan mangrove yang rusak akibat perambahan orang tidak bertanggungjawab itu,  dilakukan selama  dua hari Rabu (5/11) dan Kamis (6/11) lalu. Program selamatkan lingkungan dengan menanam mangrove ini,  dilakukan bersama  LSM Wahana Lingkungan Hidup […]

  • Di Mare akan Dikembangkan Jambu Mente

    • calendar_month Kam, 8 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 717
    • 0Komentar

    Pulau Mare Tidore Kepulauan  yang  menjadi pusat gerabah di Maluku Utara,   segera dikembangkan menjadi pusat produksi jambu mente di  Maluku Utara. Pihak Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ternate- Tidore    berencana mengembangkan lahan hutan lindung  di  Pulau Mare ini dengan tanaman jambu mente.  Data  Kesatuan Pengelolaan   Hutan (KPH) Ternate-Tidore  menunjukan dari luas hutan lindung Pulau Mare […]

expand_less