Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Ini Cara Ibu- ibu Halmahera Selatan Belajar Ilmu Bertani

Ini Cara Ibu- ibu Halmahera Selatan Belajar Ilmu Bertani

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 1 Feb 2021
  • visibility 525

Buat Pupuk  Organik Lalu  Praktekan dengan Menanam  

Sebuah hal yang tidak biasa mereka kerjakan selama ini dalam bertani. Memelototi kertas  petunjuk bertuliskan cara membuat pupuk organic, lalu mengumpulkan    bahan-bahannya  di sekitar rumah.  Bahkan ada yang harus dibeli ke Ternate. Mereka juga harus  membaca secara seksama kertas petunjuk, tata cara pembuatan  kemudian  kumpul alat dan bahan  lalu  diproses  jadi pupuk organic  cair majemuk dan tunggal.

Ibu ibu Desa Samat Gane Barat Utara Halmahera Selatan     sejak 19 Januari 2021 lalu, mulai mengerjakan pembuatan  pupuk organic di desa mereka.

Setelah proses 4 hari empat malam mereka kemudian memanen hasilnya, kemudian dipraktekkan penggunaanya di demplot yang mereka buat di pekarangan rumah.   “Ini cara belajar  ibu-ibu  Desa Samat menambah pengetahuan bertani mereka  sekaligus praktek setelah  menimba ilmu  dalam kegiatan STS lalu,” jelas Faldi Hi Ibrahim pendamping  ibu-ibu desa Samat.  

Ibu ibu ini belajar dengan  mulai  mengenal dan membuat MOL (Mikro Organisme Lokal) yang berfungsi  mempercepat proses penguraian bahan- bahan  organic. Di mana dimulai dengan membuat sumber bakteri dengan bahan-bahanya  berasal dari bonggol pisang atau hati batang pisang, susu, limbah ikan, limbah perut ternak kambing limbah tahu 30 liter dan terasi.  Sumber karbohidrat berupa air cucian beras 30 liter, nasi basi atau singkong yang diparut, atau umbi-umbian lainnya, gula merah tetes tebu, air kelapa  dan biang bakteri  EM -4.

Bahan bahan ini dipelajari ibu-ibu kemudian diproses menjadi MOL yang nanti berfungsi menggemburkan tanah  sebagai media tanam.

“Hal yang sama juga mereka lakuan dalam membuat pupuk tunggal dan majemuk  organic dengan bahan- bahan yang telah disiapkan berdasarkan buku petunjuk dan praktek yang telah diikuti  selama  sekolah lapang,” jelas Faldi

Dia bilang kelompok  melakukan proses  ini setelah  sebelumnya koordinator kelompok mereka Samina Hi Aba (49 tahun) mengikuti sekolah transformasi social (STS) yang digelar oleh Insist Jogjakarta dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP)   bersama EcoNusa Indonesia di Desa Samo Gane Barat Utara selama 15 hari pada pertengahan  2020 lalu.

Dalam kegiatan STS itu mereka diajarkan berbagai hal. Salah satunya belajar membuat pupuk organic selama sekolah lapang berlangsung. “Ini bentuk prakteknya dengan membuat kelompok dan mempraktekan  apa yang telah didapat selama  pendidikan tersebut,” jelasnya.

Saat ini  20  orang anggota  bersama  koordinatornya membuat demonstrasi plot (demplot)  di pekarangan masing-masing dan menanam berbagai jenis sayuran. Sayuran ini dipupuk    menggunakan pupuk organic hasil buatan mereka sendiri.

Dampak dari pembuatan demplot organik tersebut, bukan hanya pemanfaatan lahan pekarangan, namun juga berdampak pada pemahaman penggunaan pupuk organik cair.

Sebelumnya, hasil panen pembuatan pupuk organik cair, tersebut dibagi merata pada masing-masing anggota kelompok,  sesuai ukuran dan jenisnya.

Proses pembuatan pupuk organik cair oleh ibu ibu desa Samat/foto faldi

Samina Hi Aba yang juga koordinator kelompok bilang,  23    Januari 2021 lalu   melalui praktek pembuatan yang mereka lakukan 4 malam berhasil memanen pupuk tunggal organik, 20 liter   Nitrogen, 20 liter pupuk organik Kalium, 20 liter pupuk organik Pospor  serta   45 liter pupuk organik majemuk / NPK.

“Kami dapat hasil tersebut karena, kelompok Desa Samat, masih menggunakan media gelon takaran 25 liter dan 1 buah ember. Kami masih butuh 4 buah drum  dan bibit juga kurang, yaitu  10 sachet  Tomat,  10 bks rica nona super, 10 bks ketimnun herkules, 10 sachet   sawi besar, 10 sachet  kangkong, 10 sachet  pare, 10  sachet  terong ungu ,” kata  Samina.   

Tanaman atau sayur yang di budidayakan kelompok tani Desa Samat itu  di demplot pekarangan masing- masing dengan membuat 1 bedengan kangkong, 1 bedengan bayam hijau, 1 bedengan bayam merah dan 3 bedengan sawi. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Rekomendasi untuk Selamatkan Pulau Hiri

    • calendar_month Sen, 6 Jan 2025
    • account_circle
    • visibility 752
    • 0Komentar

    Embung Hiri Perlu Dievaluasi Sebelum Muncul Masalah Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Moloku Kie Raha (FKDAS-MKR) Provinsi Maluku Utara merekomendasikan kepada pemerintah daerah Kota Ternate  dan pihak terkait perlu mengevaluasi embung air hujan yang  sudah dibangun di Pulau Hiri. Embung Hiri adalah salah satu poin penting dari 10 rekomendasi yang dikeluarkan FORDAS MKR untuk […]

  • Perburuan dan Perdagangan Satwa Liar Masif

    • calendar_month Jum, 8 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 672
    • 0Komentar

    Pintuk Masuk Keluar Malut, Perlu Pengawasan  Ketat Perburuan dan perdagangan  satwa  liar   di Maluku Utara terbilang massive. Terutama jenis burung  paruh bengkok  Karena itu  butuh upaya pencegahan dan penanganan  dengan  melibatkan semua pihak terkait.     Hal ini yang mendasari Balai Koservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Maluku didukung Non Government Organisation  (NGO)  yang concern terhadap isyu ini […]

  • Kelola Hutan Bersama Masyarakat Bermanfaat Bagi Kelestarian

    • calendar_month Rab, 4 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 548
    • 0Komentar

    Sumber daya hutan telah terbukti memberikan kehidupan dan sumber penghidupan bagi semua. Selain manfaat jangka pendek berupa kayu, hutan juga memberikan manfaat jangka panjang yang sangat beragam, seperti sumber tanaman obat-obatan, jasa lingkungan air, iklim mikro, mikroba, jamur, penjaga keseimbangan air permukaan-air tanah, menjaga kesuburan lahan, pencegahan banjir, tanah longsor, habitat satwa liar, yang mewakili […]

  • Menjaga Mangrove di Titik Nol Khatulistiwa

    • calendar_month Sel, 19 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 858
    • 0Komentar

    Membangun Asa dari Kampung Tawabi     Senin (11/2/2024) sekira pukul 12.00 siang itu terasa  menyengat. Matahari tegak lurus di atas ubun-ubun. Cuaca panas  itu begitu terasa karena  sedang berada di titik nol khatulistiwa.  Tepatnya di desa Tawabi Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan. Sebuah patok   menjadi penanda  titik nol khatulistiwa  berada di  hutan mangrove tepi pantai […]

  • Ayo Selamatkan Pulau Ini Sebelum Tenggelam

    • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 887
    • 2Komentar

    Kondisi PUlau Pagama saat ini. foto Wandi

  • Titik Nol Jalur Rempah adalah Soal Geopolitik (3)

    • calendar_month Jum, 28 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 596
    • 1Komentar

    Untuk menentukan Titik Nol Rempah, bukan lagi sekedar soal romantisme sejarah masa lalu, namun ia adalah soal identitas, nasionalisme, dan soal geopolitik global, untuk menentukan pada titik manakah Indonesia harus memainkan peranannya dalam percaturan global dewasa ini. Jika menoleh apa yang dilakukan China sepeninggalnya Mao Tze Tung, Deng Xiao Ping telah berani mengangkat identitas masa […]

expand_less