Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Ini Cara Ibu- ibu Halmahera Selatan Belajar Ilmu Bertani

Ini Cara Ibu- ibu Halmahera Selatan Belajar Ilmu Bertani

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 1 Feb 2021
  • visibility 624

Buat Pupuk  Organik Lalu  Praktekan dengan Menanam  

Sebuah hal yang tidak biasa mereka kerjakan selama ini dalam bertani. Memelototi kertas  petunjuk bertuliskan cara membuat pupuk organic, lalu mengumpulkan    bahan-bahannya  di sekitar rumah.  Bahkan ada yang harus dibeli ke Ternate. Mereka juga harus  membaca secara seksama kertas petunjuk, tata cara pembuatan  kemudian  kumpul alat dan bahan  lalu  diproses  jadi pupuk organic  cair majemuk dan tunggal.

Ibu ibu Desa Samat Gane Barat Utara Halmahera Selatan     sejak 19 Januari 2021 lalu, mulai mengerjakan pembuatan  pupuk organic di desa mereka.

Setelah proses 4 hari empat malam mereka kemudian memanen hasilnya, kemudian dipraktekkan penggunaanya di demplot yang mereka buat di pekarangan rumah.   “Ini cara belajar  ibu-ibu  Desa Samat menambah pengetahuan bertani mereka  sekaligus praktek setelah  menimba ilmu  dalam kegiatan STS lalu,” jelas Faldi Hi Ibrahim pendamping  ibu-ibu desa Samat.  

Ibu ibu ini belajar dengan  mulai  mengenal dan membuat MOL (Mikro Organisme Lokal) yang berfungsi  mempercepat proses penguraian bahan- bahan  organic. Di mana dimulai dengan membuat sumber bakteri dengan bahan-bahanya  berasal dari bonggol pisang atau hati batang pisang, susu, limbah ikan, limbah perut ternak kambing limbah tahu 30 liter dan terasi.  Sumber karbohidrat berupa air cucian beras 30 liter, nasi basi atau singkong yang diparut, atau umbi-umbian lainnya, gula merah tetes tebu, air kelapa  dan biang bakteri  EM -4.

Bahan bahan ini dipelajari ibu-ibu kemudian diproses menjadi MOL yang nanti berfungsi menggemburkan tanah  sebagai media tanam.

“Hal yang sama juga mereka lakuan dalam membuat pupuk tunggal dan majemuk  organic dengan bahan- bahan yang telah disiapkan berdasarkan buku petunjuk dan praktek yang telah diikuti  selama  sekolah lapang,” jelas Faldi

Dia bilang kelompok  melakukan proses  ini setelah  sebelumnya koordinator kelompok mereka Samina Hi Aba (49 tahun) mengikuti sekolah transformasi social (STS) yang digelar oleh Insist Jogjakarta dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP)   bersama EcoNusa Indonesia di Desa Samo Gane Barat Utara selama 15 hari pada pertengahan  2020 lalu.

Dalam kegiatan STS itu mereka diajarkan berbagai hal. Salah satunya belajar membuat pupuk organic selama sekolah lapang berlangsung. “Ini bentuk prakteknya dengan membuat kelompok dan mempraktekan  apa yang telah didapat selama  pendidikan tersebut,” jelasnya.

Saat ini  20  orang anggota  bersama  koordinatornya membuat demonstrasi plot (demplot)  di pekarangan masing-masing dan menanam berbagai jenis sayuran. Sayuran ini dipupuk    menggunakan pupuk organic hasil buatan mereka sendiri.

Dampak dari pembuatan demplot organik tersebut, bukan hanya pemanfaatan lahan pekarangan, namun juga berdampak pada pemahaman penggunaan pupuk organik cair.

Sebelumnya, hasil panen pembuatan pupuk organik cair, tersebut dibagi merata pada masing-masing anggota kelompok,  sesuai ukuran dan jenisnya.

Proses pembuatan pupuk organik cair oleh ibu ibu desa Samat/foto faldi

Samina Hi Aba yang juga koordinator kelompok bilang,  23    Januari 2021 lalu   melalui praktek pembuatan yang mereka lakukan 4 malam berhasil memanen pupuk tunggal organik, 20 liter   Nitrogen, 20 liter pupuk organik Kalium, 20 liter pupuk organik Pospor  serta   45 liter pupuk organik majemuk / NPK.

“Kami dapat hasil tersebut karena, kelompok Desa Samat, masih menggunakan media gelon takaran 25 liter dan 1 buah ember. Kami masih butuh 4 buah drum  dan bibit juga kurang, yaitu  10 sachet  Tomat,  10 bks rica nona super, 10 bks ketimnun herkules, 10 sachet   sawi besar, 10 sachet  kangkong, 10 sachet  pare, 10  sachet  terong ungu ,” kata  Samina.   

Tanaman atau sayur yang di budidayakan kelompok tani Desa Samat itu  di demplot pekarangan masing- masing dengan membuat 1 bedengan kangkong, 1 bedengan bayam hijau, 1 bedengan bayam merah dan 3 bedengan sawi. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  •  Ini Urgensinya Energi Bersih dan Terbarukan  

    • calendar_month Rab, 8 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 539
    • 0Komentar

    Salah satu penyumbang emisi terbesar yang berdampak pada Krisis iklim adalah sektor energi, sementara komitmen untuk transisi energi menuju energi bersih dan terbarukan seolah berjalan lambat. Di sisi lain masih banyak wilayah di Indonesia yang belum menikmati listrik seperti yang dinikmati di daerah perkotaan. Untuk membedah masalah ini, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama BBC […]

  • Indonesia Perkuat Diplomasi Iklim Menuju COP 30:

    • calendar_month Ming, 3 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 727
    • 9Komentar

    Dorongan Kolaboratif, Inklusif, dan Berbasis Sains untuk Hadapi Krisis Global Menyambut Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP 30) yang akan digelar di Belem, Brasil pada 10-21 November 2025, Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menyelenggarakan Workshop Jurnalis bertajuk “Amplifying COP 30 to Indonesia: Memperkuat Dampak Peliputan COP 30”. Agenda ini menjadi forum penting untuk menguatkan […]

  • Saatnya Pariwisata Malut Genjot Wisatawan Domestik

    • calendar_month Sel, 19 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 630
    • 0Komentar

    Talaga Rano Halbar salah satu destinasi wisata alam di Maluku Utara

  • Tugu Kenari dan Diaspora Minang di Makean

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 1.176
    • 0Komentar

    Kuliah Bersama Masyarakat (Kubermas) tahap I Universitas Khairun Ternate  di Desa Sebelei Kecamatan  Makean Barat, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara selama satu bulan (Agustus 2023) telah tuntas. Program kerja mereka,salah satunya membuat Tugu Kenari sebagai salah satu ikon Desa Sebelei.    Sekadar diketahui, tugu ini memiliki makna filosofis mendalam. Pohon kenari  disebut- sebut sebagai  salah […]

  • Wilayah Kelola Hutan Oleh KPH Bertambah

    • calendar_month Jum, 25 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 1.146
    • 1Komentar

    BPHP- KPH  Bahas Update  Peta Arahan HP-HL di Malut  Arahan pemanfaatan hutan produksi- hutan lindung mulai dibahas. Pembahasan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah XIV Ambon itu, dilaksanakan di hotel Muara Ternate, Kamis (24/3/2022). BPHP yang membawahi wilayah Maluku dan Maluku Utara membahasnya  dengan  gelar Focus Discussion Group […]

  • Kondisi Lingkungan Maluku Utara Butuh Perhatian

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2020
    • account_circle
    • visibility 2.045
    • 0Komentar

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2020 ini mengambil  tema  “Time For Nature” yang mengajak  penduduk dunia menyadari bahwa makanan yang dimakan, air yang diminum, dan ruang hidup di planet yang ditinggali adalah sebaik-baiknya manfaat dari alam (nature) sehingga harus dijaga kelestariannya. Sayangnya apa yang didengungkan ini  berbanding terbalik dengan kondisi  saat ini.  Di Provinsi Maluku […]

expand_less