Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Ini Cara Ibu- ibu Halmahera Selatan Belajar Ilmu Bertani

Ini Cara Ibu- ibu Halmahera Selatan Belajar Ilmu Bertani

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 1 Feb 2021
  • visibility 689

Buat Pupuk  Organik Lalu  Praktekan dengan Menanam  

Sebuah hal yang tidak biasa mereka kerjakan selama ini dalam bertani. Memelototi kertas  petunjuk bertuliskan cara membuat pupuk organic, lalu mengumpulkan    bahan-bahannya  di sekitar rumah.  Bahkan ada yang harus dibeli ke Ternate. Mereka juga harus  membaca secara seksama kertas petunjuk, tata cara pembuatan  kemudian  kumpul alat dan bahan  lalu  diproses  jadi pupuk organic  cair majemuk dan tunggal.

Ibu ibu Desa Samat Gane Barat Utara Halmahera Selatan     sejak 19 Januari 2021 lalu, mulai mengerjakan pembuatan  pupuk organic di desa mereka.

Setelah proses 4 hari empat malam mereka kemudian memanen hasilnya, kemudian dipraktekkan penggunaanya di demplot yang mereka buat di pekarangan rumah.   “Ini cara belajar  ibu-ibu  Desa Samat menambah pengetahuan bertani mereka  sekaligus praktek setelah  menimba ilmu  dalam kegiatan STS lalu,” jelas Faldi Hi Ibrahim pendamping  ibu-ibu desa Samat.  

Ibu ibu ini belajar dengan  mulai  mengenal dan membuat MOL (Mikro Organisme Lokal) yang berfungsi  mempercepat proses penguraian bahan- bahan  organic. Di mana dimulai dengan membuat sumber bakteri dengan bahan-bahanya  berasal dari bonggol pisang atau hati batang pisang, susu, limbah ikan, limbah perut ternak kambing limbah tahu 30 liter dan terasi.  Sumber karbohidrat berupa air cucian beras 30 liter, nasi basi atau singkong yang diparut, atau umbi-umbian lainnya, gula merah tetes tebu, air kelapa  dan biang bakteri  EM -4.

Bahan bahan ini dipelajari ibu-ibu kemudian diproses menjadi MOL yang nanti berfungsi menggemburkan tanah  sebagai media tanam.

“Hal yang sama juga mereka lakuan dalam membuat pupuk tunggal dan majemuk  organic dengan bahan- bahan yang telah disiapkan berdasarkan buku petunjuk dan praktek yang telah diikuti  selama  sekolah lapang,” jelas Faldi

Dia bilang kelompok  melakukan proses  ini setelah  sebelumnya koordinator kelompok mereka Samina Hi Aba (49 tahun) mengikuti sekolah transformasi social (STS) yang digelar oleh Insist Jogjakarta dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP)   bersama EcoNusa Indonesia di Desa Samo Gane Barat Utara selama 15 hari pada pertengahan  2020 lalu.

Dalam kegiatan STS itu mereka diajarkan berbagai hal. Salah satunya belajar membuat pupuk organic selama sekolah lapang berlangsung. “Ini bentuk prakteknya dengan membuat kelompok dan mempraktekan  apa yang telah didapat selama  pendidikan tersebut,” jelasnya.

Saat ini  20  orang anggota  bersama  koordinatornya membuat demonstrasi plot (demplot)  di pekarangan masing-masing dan menanam berbagai jenis sayuran. Sayuran ini dipupuk    menggunakan pupuk organic hasil buatan mereka sendiri.

Dampak dari pembuatan demplot organik tersebut, bukan hanya pemanfaatan lahan pekarangan, namun juga berdampak pada pemahaman penggunaan pupuk organik cair.

Sebelumnya, hasil panen pembuatan pupuk organik cair, tersebut dibagi merata pada masing-masing anggota kelompok,  sesuai ukuran dan jenisnya.

Proses pembuatan pupuk organik cair oleh ibu ibu desa Samat/foto faldi

Samina Hi Aba yang juga koordinator kelompok bilang,  23    Januari 2021 lalu   melalui praktek pembuatan yang mereka lakukan 4 malam berhasil memanen pupuk tunggal organik, 20 liter   Nitrogen, 20 liter pupuk organik Kalium, 20 liter pupuk organik Pospor  serta   45 liter pupuk organik majemuk / NPK.

“Kami dapat hasil tersebut karena, kelompok Desa Samat, masih menggunakan media gelon takaran 25 liter dan 1 buah ember. Kami masih butuh 4 buah drum  dan bibit juga kurang, yaitu  10 sachet  Tomat,  10 bks rica nona super, 10 bks ketimnun herkules, 10 sachet   sawi besar, 10 sachet  kangkong, 10 sachet  pare, 10  sachet  terong ungu ,” kata  Samina.   

Tanaman atau sayur yang di budidayakan kelompok tani Desa Samat itu  di demplot pekarangan masing- masing dengan membuat 1 bedengan kangkong, 1 bedengan bayam hijau, 1 bedengan bayam merah dan 3 bedengan sawi. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • 11 LSM Gugat Badan Bank Tanah ke MA

    • calendar_month Jum, 17 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 828
    • 1Komentar

    Koalisi Masyarakat Sipil gugat aturan bank tanah. Foto: KPA

  • Gorengan Tak Baik untuk Buka Puasa

    • calendar_month Sel, 4 Apr 2023
    • account_circle
    • visibility 625
    • 3Komentar

    Gorengan menjadi menu favorit bagi sebagian besar orang sebagai santapan berbuka puasa. Dikutip dari (https://www.ugm.ac.id/id/berita/23594-  Dietisien FKKMK UGM, Tony Arjuna, S.Gz., M.Nut.Diet., AN., APD  tidak menyarankan gorengan dikonsumsi sebagai menu buka puasa. Pakar-UGM itu  mengungkapkan,  alasannya bahwa  gorengan-tak-baik-untuk-buka-puasa sehingga sangat tidak direkomendasikan untuk berbuka. Hal ini  karena komposisinya dominan karbohidrat dan lemak tidak sehat.   […]

  • Ini 13 Komitmen Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia

    Ini 13 Komitmen Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia

    • calendar_month Jum, 8 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 1.006
    • 0Komentar

    Konferensi Nasional ke-11 Pengelolaan Sumber Daya Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (Konas Pesisir XI)  27 – 29 November lalu di Pontianak, Kalimantan Barat menghasilkan Deklarasi Pontianak. Hasilnya, menyerukan 13 komitmen bersama pemangku kepentingan dalam sinergitas Pengelolaan Pesisir, Pulau-Pulau Kecil dan Laut  yang Terukur dan Berkelanjutan untuk Ekonomi Biru. Dikutip dari KKP.go.id, Konas Pesisir XI melibatkan lebih […]

  • Warga Gane Keluhkan jadi Langganan Banjir

    • calendar_month Sen, 13 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 777
    • 0Komentar

    Banjir yang pernah melanda MAffa dan Kebun Raja, foto Sahril S

  • WALHI Malut: Pemerintah Harus Terbuka ke Publik  Rencana  PLTN Terapung di Malut

    WALHI Malut: Pemerintah Harus Terbuka ke Publik  Rencana  PLTN Terapung di Malut

    • calendar_month Sen, 19 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara, meminta agar Pemeirntah Indonesia bisa menjelaskan lebih detail kepada masyarakat  rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) terapung yang berkapasitas 200 MW di Maluku Utara. Bagi  WALHI rencana  ini belum mendapatkan penjelasan kepada  publik  terkait recana tata kelola lingkungan, keselamatan, dan dampaknya terhadap pesisir dan pulau-pulau kecil di […]

  • Menyaksikan Burung Tohoko dari Lembah Buku Bendera (2)

    • calendar_month Kam, 7 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 933
    • 1Komentar

    Seri Tulisan Menguak Kekayaan Tersembunyi Pulau  Ternate   Penulis Mahmud Ichi dan Junaidi Hanafiah Pulau Ternate berdasarkan data BPS Maluku Utara  luasnya  hanya  111,80  kilometer. Meski hanya sebuah pulau kecil dengan luasan terbatas, pulau  ini menyimpan beragam kekayaan sumberdaya hayati. Terutama jenis satwa burung. Bahkan  jenis burung endemic  juga ada di sini yakni burung Tohoko […]

expand_less