Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Di Hari Bhakti Rimbawan, Diingatkan Jaga Hutan dan Perubahan Iklim

Di Hari Bhakti Rimbawan, Diingatkan Jaga Hutan dan Perubahan Iklim

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 17 Mar 2022
  • visibility 648

Setiap 16 Maret diperingati sebagai  hari Bhakti  Rimbawan Indonesia. Peringatan  ke 39 pada Rabu (16/3/2022) secara nasional turut dilaksanakan para rimbawan di Maluku Utara. Acara  ini dipusatkan di Sofifi Ibukota Provinsi Maluku Utara. Mengangkat Tema   “Rimbawan Menjaga Lingkungan, Mendukung Sukses Presidensi G20 Indonesia, para rimbawan diminta memaknainya sebagai  bagian dari upaya meneguhkan arah dan cara pandang  dalam menggali  memori  dalam benak  tentang peran hutan sebagai elemen dan struktur pembentuk bentang alam dan lingkungan yang perlu dijaga.

Hal ini disampaikan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK)  Dr Sitti Nurbaya Bakar  melalui sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas  Kehutanan Provinsi Maluku Utara  M Syukur Lila. Upacara yang dipusatkan  di halaman kantor Balai Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) Sofifi  itu. dilanjutkan dengan  webinar dengan  Menteri serta  kegiatan memeriahkan hari penting tersebut di Pantai Doe doe Guraping.

Menteri  mengingatkan diupayakan mengembalikan hutan alam    hutan tropika basah, untuk  kembali pada alam dan lingkungan hidup sebagai “liebenstraum” bangsa Indonesia.  Dalam 5-7 tahun ini  ini rimbawa merasakan dan menjadi pelaku penting dalam berbagai perubahan sektor kehutanan dan lingkungan hidup terutama   tranformasi struktural dan produktivitas alam dan manusia untuk mengatasi kesenjangan dan mewujudkan kesejahteraan.  

Tidak hanya soal hutan, para Rimbawan  juga diingatkan soal  kesadaran  pengendalian perubahan iklim yang merupakan hal sangat serius, yang harus ditangani secara komprehensif. Hal ini menyangkut berbagai elemen bentang alam; pertimbangan kesejahteraan rakyat Indonesia; serta berkenaan dengan peran nasional dalam melaksanakan ketertiban dunia, dlaam  konteks alam dan iklim melalui konvensi perubahan iklim UNFCCC yang diratifikasi Indonesia dengan UU No 16 Tahun 2016.

“Pada 2021 dalam rangka COP 26 tahun 2021 setelah COP Paris tahun 2015,   telah menapak maju dalam kerja-kerja aksi iklim, di berbagai sektor terutama sektor kehutanan dan lahan, selain tata kelola sampah dan limbah dalam konsep sirkuler ekonomi.  Indonesia termasuk negara-  yang sedikit diantara negara-negara di dunia yang telah menegaskan komitmen nya dengan Dokumen Updated NDC dan dokumen Long-term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050). Dokumen LTS-LCCR merupakan dokumen informasi yang berfungsi sebagai pedoman dalam implementasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta komitmen NDC lima-tahunan selanjutnya,” jelas Menteri.

Di tengah ketidakpastian janji negara-negara maju untuk menyalurkan pembiayaan membantu negara berkembang dalam menangani perubahan iklim, pemerintah Indonesia terus bergerak nyata memperkuat kebijakan pengendalian perubahan iklim dalam negeri  untuk menjaga kepentingan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sesuai target Nasional.  

“Target utama tetap fokus pada upaya mengurangi deforestasi dan degradasi hutan. Meski tantangannya cukup berat, kita akan terus bekerja meletakkan pondasi pembangunan lingkungan berprinsip sustainability, yang telah menjadi tuntutan masyarakat/publik dalam upaya pembangunan sosioekonomi untuk kebutuhan masa kini, tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang dengan memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup,” jelanya.

Pada tahun 2022 Indonesia memimpin Forum G-20; dengan Presidensi G20 Indonesia. Spirit yang dibawa dalam Presidensi G-20 tahun 2022 ini ialah “Recover together, recover stronger”. Merupakan kesempatan untuk G-20 di Bali nanti Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi dan dapat menjadi role model bagi negara-negara anggota dan dunia secara umum.

“Bahwa kita mampu menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan bahwa terdapat keseimbangan peran antar berbagai negara dalam tujuan mulia melindungi bumi dan manusia dengan menjaga turunnya suhu bumi 2 derajat Celsius bahkan diupayakan hingga 1,5 derajat Celsius,” jelasnya.

Di Hari Bhakti Rimbawan ini Menteri  mengajak seluruh rimbawan baik di Kementerian LHK, pemerintah daerah, bisnis leaders dan para aktivis, para pemangku kepentingan  dan seluruh masyarakat,   bersama bahu membahu memberikan kontribusi pemikiran ataupun kegiatan nyata di lapangan, di masing-masing area of interest/responsibility, untuk menyukseskan Presidensi G20 Indonesia. Sebagaimana komitmen yang selalu disampaikan dalam berbagai forum global/multilateral, Indonesia memandang sangat penting   memastikan bahwa komitmen- komitmen tersebut dipenuhi melalui kebijakan dan aksi-aksi nyata  yang telah banyak dilakukan.  Misalnya penanganan karhutla dengan modifikasi cuaca dan sistem paralegal; pengendalian deforestasi; tata kelola gambut dan mangrove; pengendalian perijinan; pemulihan habitat metapopulasi wildlife; ekoriparian dan replikasi ekosistem; membangun sirkuler ekonomi dan berbagai hal. “Mari terus kita lakukan konsolidasi Rimbawan Indonesia dari berbagai elemen fungsi di masyarakat. Terus mengambil langkah aksi iklim  termasuk konsolidasi gagasan dan aksi menjaga alam Indonesia,” kata Menteri Siti.

Sementara rangkaian Hari Bhakti Rimbawan Ke 39 Provinsi Maluku Utara  usai  upacara serta virual meeting dengan kementerian di kantor Taman Nasional Aketajawe, dilanjutkan   lomba gigit sendok, lomba masukan pencil kedalam botol, tarik tambang dan Donor darah serta  penanaman Pohon di areal wisata pantai Guraping.

Foto bersama usai upacara Hari Bhakti Rimbawan

Kegiatan  hari rimbawan ini dihadiri Seluruh Kepala   KPH se   Maluku Utara,Kepala BPDSAL Akemalamo, serta beberapa Mitra Dari Kehutanan Provinsi Maluku Utara serta seluruh dharma wanita di lingkup Dishut Maluku Utara dan Taman Nasional Aketajawe lolobata. Ada juga kegiatan social yakni donor darah dan penanaman pohon,”jelas Ketua Panitia Hari Bhakti Rimbawan Fahruradzi Jauhari. (*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Win-win Solution Konflik Tenurial  TNAL dengan Warga Adat Kobe

    Ini Win-win Solution Konflik Tenurial TNAL dengan Warga Adat Kobe

    • calendar_month Sab, 10 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 567
    • 0Komentar

    Penulis : Hamdan Volunter/ Kabarpulau.  Konflik tenurial di Maluku Utara masih sering terjadi. Misalnya  antara warga dengan korporasi atau juga dengan pemerintah. Contoh konflik tenurial antara warga dengan pemerintah,  sekarang ini  yakni  dengan  kawasan  Taman Nasional. Konflik ini perlu diselesaikan  sehingga tidak merugikan masyarakat  termasuk upaya  konservasi hutan juga tetap berjalan. Sekadar diketahui, penetapan Taman […]

  • Ini 7 Mitigasi Awal Perubahan Iklim di Malut

    • calendar_month Sab, 25 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 619
    • 1Komentar

    Sebagai Upaya Mendukung Program FOLU Net Sink 2030 Setelah melalui proses panjang selama  dua hari Rabu (22/2/2023) dan Kamis (23/2/2023)  menggelar seminar dan diskus, i para pihak yang terlibat dalam workshop Penyusunan Rencana Kerja (Renja) Sub Nasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 di Provinsi Maluku Utara menetapkan sejumlah  poin simpulan  yang akan ditindaklanjuti. Salah satunya […]

  • Nelayan Pulau Bisa Obi, Kantongi  SIPR

    • calendar_month Sen, 23 Jan 2023
    • account_circle
    • visibility 697
    • 0Komentar

    Rumpon yang pernah dibersihkan di laut Obi karena tak berizin foto DKP Malut

  • Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 902
    • 0Komentar

    Catatan dari COP 30 di Brazil   Di tengah meningkatnya dampak krisis iklim dan melambatnya komitmen negara-negara untuk menekan suhu bumi di bawah 1,5°C, orang muda dunia menyatukan suara mereka. Melalui Global Youth Statement (GYS), ribuan orang muda dari lebih dari 150 negara menyerukan perubahan arah kebijakan iklim global menuju transisi energi yang adil, pendanaan […]

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (1)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (1)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 744
    • 0Komentar

    Banjir dan Longsor  Berulang  hingga Nelayan Terus  jadi Korban di Laut Hari jelang sore di Rabu (17/9/2025) itu, Salma M Arif dan suaminya Ongen Ramli warga Kelurahan Rua Kecamatan Pulau Ternate, berada di dalam rumah. Mereka  baru saja pulang ke rumah setelah  aktivitas di luar. Sore itu, berawan mesti seharian  tidak terjadi hujan. Tiba-tiba mereka […]

  • Buat Minyak Kelapa Kampong, Lawan Ketergantungan

    • calendar_month Sel, 29 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 792
    • 0Komentar

    Cerita Usaha Ibu- ibu dari  Samo Halmahera Selatan Pagi  di awal Agutus  lalu itu  masih gelap. Bulu kuduk juga belum kelihatan. Ketika melihat catatan waktu di hand phone  baru menunjukan pukul 5.40 WIT.  Meski masih pagi buta puluhan ibu  asal desa Samo Kecamatan Gane Barat Utara Halmahera Selatan itu sudah rame  di  belakang rumah ibu Jena […]

expand_less