Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup »  Ini Urgensinya Energi Bersih dan Terbarukan  

 Ini Urgensinya Energi Bersih dan Terbarukan  

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 8 Nov 2023
  • visibility 605

Salah satu penyumbang emisi terbesar yang berdampak pada Krisis iklim adalah sektor energi, sementara komitmen untuk transisi energi menuju energi bersih dan terbarukan seolah berjalan lambat. Di sisi lain masih banyak wilayah di Indonesia yang belum menikmati listrik seperti yang dinikmati di daerah perkotaan. Untuk membedah masalah ini, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama BBC Media Action menggelar Green Webinar yang dilaksanakan pada Senin (06/11/ 2023) lalu. Sejumlah pemateri dengan latar belakang lingkungan mumpuni turut berbicara dalam webinar ini.

Seperti rilis yang dikirimkan AMSI menjelaskan bahwa, anggota pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tri Mumpuni, yang hadir dalam Green Webinar itu menyampaikan bahwa untuk menjawab persoalan di atas  perlu pelibatan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia. ”Rakyat diberitahu, kalau kamu mau menghasilkan 1 KWJ listrkmu per tahun. Ya kamu harus menanam pohon yang cukup gede di daerah hulu. Karena itu didesain nanti dalam listrikmu dengan menggunakan tenaga air skala kecil. Ini akan selalu berkelanjutan, rakyat punya kesadaran penuh, konservasinya terjaga”, ujarnya.

Tri Mumpuni juga menegaskan bahwa kondisi seperti di atas mestinya didorong pemerintah karena sebetulnya Indonesia kaya energi baru dan terbarukan seperti mikro hidro yang untuk menghasilkannya bisa melibatkan masyarakat.  Perlu pelibatan masyarakat agar mampu menyediakan listriknya sendiri inilah yang disebut Tri Mumpuni sebagai demokratisasi energi yang akan mengarah pada demokratisasi ekonomi.

Sementara menurut CEO Landscape Indonesia Agus P Sari, transisi energi harus dilakukan secara adil karena akan berdampak pada pendapatan pekerja, rumah tangga, dan juga ekonomi wilayah. Meski transisi energi terbarukan akan menghasilkan green jobs yang lebih banyak, tetap perlu difikirkan dampak dan solusinya.

Llampu-i-solar-cell-melalui-panel-atap-bantuan-Kementerian-ESDM- foto-M-Ichi-1

Di sisi lain, terkait  kemungkinan adanya kepentingan oligarki sehingga setengah hati dalam transisi energi? Agus P Sari mengatakan,  sudah banyak studi yang menyebut bahwa ada anggota legislatif dan  pejabat pemerintah di eksekutif   juga pemilik tambang batu bara dan atau pembangkit listrik.  ”Kalau dia juga sebagai pejabat pemerintah tidak  akan mau membuat kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan bisnisnya”. tegasnya.

Sharlini Eriza Putri, peserta Eisenhower Fellow yang juga CEO Nusantics, mengatakan bahwa soal transisi energi dan investasi energi terbarukan bukan hanya soal kebijakan, tapi juga soal kalkulasi investasi. Jika sektor produktif harus menyerap listrik PLN yang harganya lebih mahal meski lebih bersih karena menggunakan energi terbarukan tapi kemudian harus bersaing dengan barang impor yang harganya lebih murah maka sulit bagi sektor produktif untuk bersaing.

Terkait energi dan polusi, Sarlin, panggilan Sharlini Eriza Putri, mencontohkan bahwa tinggal di Jakarta itu seperti tinggal di dalam toples toxic, salah satunya karena emisi baik dari kendaraan maupun PLTU batu bara dan emisi pabrik yang tidak memiliki filter.

Mengutip pernyataan Agus P Sari, Pemanasan global yang terjadi saat ini tidak terjadi secara alamiah tapi karena ulah manusia. Sejak revolusi industri, emisi dari sektor energi dan industri meningkat sangat cepat namun hingga kini dunia terus merencanakan, memproduksi dan menggunakan energi fosil yang banyaknya luar biasa. ”Walaupun katanya bumi ini harus diwariskan dengan bentuk yang paling tidak sama kualitasnya kalau tidak lebih baik, tapi ini yang sedang terjadi, kita sedang  merusak masa depan anak- anak kita”, tegasnya.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Laut Malut, Kuburan Bagi Mamalia Laut?

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 837
    • 0Komentar

    Bangkai-Paus-yang-mulai-hancur-dan-menmbulkan-bau-menyengat-di-Morotai-beberapa-waktu-lalu-foto-Hamsor-Yusuf

  • 326 Peserta Ramaikan Mancing Mania Dies Natalis Unkhair

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 720
    • 1Komentar

    MaPanitia Mancing Maniia bersiap menuju Modayama Kayoa Halmahera Se;latan

  • Pulau Kecil Bisa Dikuasai 70 Persen Pemodal

    • calendar_month Kam, 19 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 747
    • 0Komentar

    Data resmi jumlah pulau di Maluku Utara mencapai 1080. Pengaturan pemanfaatan pulau-pulau kecil di daerah ini masih terbilang serampangan. Misalnya pulau kecil yang sebenarnya  rentan  tetapi  dieksploitasi tak tersisa. Kasus di pulau Ge Halmahera Timur dan beberapa pulau kecil lainnya adalah contoh nyata pulau kecil dikuasai  dan dibabat habis. Kementerian  KKP  berjanji  memperketat  aturan main […]

  • Kondisi Lingkungan Maluku Utara Butuh Perhatian

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2020
    • account_circle
    • visibility 2.531
    • 0Komentar

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2020 ini mengambil  tema  “Time For Nature” yang mengajak  penduduk dunia menyadari bahwa makanan yang dimakan, air yang diminum, dan ruang hidup di planet yang ditinggali adalah sebaik-baiknya manfaat dari alam (nature) sehingga harus dijaga kelestariannya. Sayangnya apa yang didengungkan ini  berbanding terbalik dengan kondisi  saat ini.  Di Provinsi Maluku […]

  • Legu Tara No Ate 2025: Kolaborasi Budaya, Edukasi  dan Kampanye Lingkungan

    • calendar_month Kam, 4 Sep 2025
    • account_circle
    • visibility 920
    • 0Komentar

    Ketua Panitia: Semua Kesiapan  Sudah Maksimal, Siap  Digelar Oktober   Pihak  Kesultanan Ternate  akan   menyelenggarakan Festival Legu Tara No Ate 2025. Kegiatan ini rencana dilaksanakan  pada  16  hingga 18 Oktober 2025. Acara ini akan dipusatkan di Lapangan Pelabuhan Perikanan Nusantara, Kelurahan Mangga Dua, Kota Ternate. Legu Tara No Ate 2025 ini sendiri merupakan Iven festival […]

  • Desentralisasi  atau  Sentralisasi  Kelautan?

    • calendar_month Rab, 28 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 969
    • 2Komentar

    Penulis: Abdul Motalib Angkotasan  Mahasiswa S3 IPB dan Dosen Ilmu Kelautan  Universitas  Khairun   Otonomi daerah yang dicetuskan sejak 2001 bertujuan mendistribusikan kewenangan pusat ke daerah. Termasuk pengelolaan sumberdaya alam kelautan. Sejak berlakunya UU No 32/2004 tentang pemerintahan daerah, hak pengelolaan laut berada di tangan pemerintah daerah kabupat/kota. Kabupaten/Kota mengelola wilayah lautnya sejauh 0-4 mil […]

expand_less