Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Produksi Sagu Melimpah, Butuh Bantuan Pemasaran

Produksi Sagu Melimpah, Butuh Bantuan Pemasaran

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 13 Feb 2021
  • visibility 963

Banyak sumberdaya hutan bisa dimanfaatkan. Terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan. Salah satunya  pohon sagu yang tumbuh di sekitar kawasan hutan. Ternyata,  jika diolah dan diproduksi besar besaran tidak hanya dikonsumsi di tingkat rumah tangga, tetapi menjadi sumber  pendapatan petani.   

Seperti dilakukan Kelompok Tani Hutan (KTH) Mandiri Sejati Kelurahan Aketobato Loleo Kota Tidore Kepulauan ini. Mereka mengelola hutan sagu  di belakang kampong   menjadi sumber makanan sekaligus menambah penghasilan  anggota  kelompok tani.  

Anggota Kelompok KTH sedang meremas pokok sagu, foto Rusdiyanti KPH

Pasalnya dari  produksi sagu yang mereka hasilkan tidak hanya dijual dalam bentuk tepung mentah, tetapi diolah menjadi lempengan sagu yang siap disantap, ke masyarakat  desa hingga tetangga kampong.  Bahkan sampai ke  Pulau  Tidore.  

“Mereka saat ini menghasilkan 50 tumang (tempat tepung sagu dari daun rumbia,red)  dalam sekali produksi,” jelas Penyuluh Kehutanan Pendamping Rusmiyanti Dano Yamin kepada kabar pulau.co,id. Kelompok tani hutan yang beranggotakan 15 orang itu semua mengolah sagu.  

Dari hasil sagu yang ada kemudian istri-istri  mereka mengolah  menjadi sagu lempeng meskipun  tidak semua diolah  jadi lempengan sagu.   

Kelompok tani ini, mengelola hutan sagu di areal tak jauh dari kampong. Saat ini potensi pohon sagunya masih   banyak tetapi  butuh peremajaan  untuk menjaga  kelestarian pohon sagu yang diproduksi setiap saat tersebut.

Pokok sagu yang selesai digiling dan siap diremas. foto Rusdiyanti/KPH Tikep

Rusmiyanti bilang, dari hasil produksi sagu itu kebanyakan masih dijual di tingkat lokal. Meski demikian sudah mulai ada pedagang pengumpul yang masuk membeli dan menjualnya  lagi ke Kota Tidore Kepulauan, terutama tepung sagu.  Untuk satu tumang sagu biasanya dijual Rp100 ribu hingga Rp120 ribu.

Untuk penjualannya  mereka sangat butuh sentuhan dari pemerintah terutama dalam hal pemasaranya. Pasalnya saat ini masyarakat  terutama kelompok tani sangat butuh  sagu yang dihasilkan bisa dipasarkan sampai ke luar daerah.  Di kampong tersebut belum ada  koperasi atau instansi pemerintah  yang ikut memfasilitasi dan bantu memasarkan hasil produksi mereka.

Proses bakar sagu menggunakan forno, foto Rusdiyanti, KPH Tikep

Meski demikian menurut Rusmiyanti, ada rencana dari KPH membantu mengambil produk  KTH  untuk dibantu dipasarkan.  

Dalam hal produksi  para petani sebenarnya membutuhkan perhatian pemerintah daerah kota  Tidore Kepulauan.  Terutama kebutuhan  alat angkut hasil. Pasalnya    ketika proses tepung sudah diisi ke dalam  tumang saat diangkut ke kampong butuh alat  alat angkut memadai. 

“Mereka sangat butuh kendaraan roda tiga semacam motor merek Kaisar yang bisa  angkut hasil sagu ke kampong.  Anggota KPH sangat  butuh   alat angkut.  ,” jelas Rusmiyanti .

Selain itu, hasil produksi mereka terutama untuk tepung sagu olahan dalam bentuk sagu lempeng baru dipasarkan di tingkat rumah tangga belum bisa masuk sampai ke toko dan supermarket. Hal ini katanya butuh pendampingan juga dari pemerintah daerah agar hasil produk olahan tepung sagu yang telah dikelola  tidak hanya dipasarkan di  sekitar desa tetapi bisa  masuk sampai Ternate dan Tidore terutama toko maupun  pasar.

Lempengan Sagu yang telah dibakar

“Mereka juga butuh semacam pelatihan dari Perindag Provinsi membantu melatih pembuatan sagu lempeng  yang bisa  dijual ke pasar  yang lebih luas,” ujarnya.

KPH sendiri berencana mendamping mereka membantu  melatih kelompok tani membuat kemasan produk.   

Irisan lempengan sagu yang telah ditaruh dalam kemasan plastik, foto Rusdiyanti/KPH Tikep

Sekadar diketahui, KTH Mandiri Sejati Kelurahan Aketobato Loleo Kota Tidore Kepulauan  yang dipimpin  Sinen Esa ini merupakan   binaan KPH Tidore Kepulauan   yang pernah mendapatkan bantuan Alat Ekonomi Produktif dari Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara 2018 lalu. Mereka mendapatkan mesin genzet dan  mesin parut sagu. (*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

    • calendar_month Kam, 27 Feb 2020
    • account_circle
    • visibility 2.075
    • 0Komentar

    Warga Desa Sangapati  dinstruksikan  menghindari mengomsumsi ikan  mati massal karena dicurigai beracun. Sementara anak- anak  dan  orang dewasa, diminta  menghindari sementara waktu mandi di laut.   Warna air laut yang biasanya  bening menjadi coklat pekat kemerah- merahan  itu  ikut menyebabkan matinya berbagai jenis biota   di kawasan laut pulau Makeang  Halmahera Selatan  Maluku Utara. Peristiwa ini membuat […]

  • Multiusaha Kehutanan, Konsep Berbasis Lanskap

    • calendar_month Jum, 17 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 746
    • 0Komentar

    Sungai dan hutan di Bokimoruru ii tidak bisa menjadi sarana wisata masyarakat Halmahera Tengah foto M Ichi

  • Tambang Hadir, Burung di Kawasan Goa Bokimoruru Terancam

    • calendar_month Kam, 15 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 1.609
    • 2Komentar

    Penulis Sofyan A Togubu Berbagai jenis burung beterbangan, juga cuitan mereka, pernah menjadi pemandangan lumrah bagi warga di Desa Sagea. Namun suasana yang indah tersebut kini berubah, seiring hadirnya industri pertambangan nikel di kawasan tersebut. Desa yang terletak di Kecamatan Weda Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara itu sesungguhnya berada dalam koridor Key Biodiversity Area (KBA)–lokasi […]

  • KKP akan Evaluasi Izin Pemanfaatan Ruang Laut

    • calendar_month Rab, 13 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 647
    • 1Komentar

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan akan terus melaksanakan mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang laut sebagai bagian dari evaluasi terhadap semua perizinan pemanfaatan ruang laut yang sudah diterbitkan. Hal ini dilaksanakan guna mendorong terwujudnya tata ruang sesuai rencana tata ruang dan/atau rencana zonasi sebagai tindak lanjut dari diterbitkannya Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut […]

  • Apa Kabar Deforestasi di Indonesia?

    • calendar_month Sen, 3 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 757
    • 1Komentar

    Pemerintah Klaim Turun  8,4 Persen Deforestasi Indonesia tahun 2021-2022 turun 8,4% dibandingkan hasil pemantauan tahun 2020-2021. Deforestasi netto Indonesia tahun 2021 -2022 adalah sebesar 104 ribu ha. Sementara, deforestasi Indonesia tahun 2020-2021 adalah sebesar 113,5 ribu ha. Demikian rilis resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sebagaimana dimuat dalam situs resmi […]

  • Banjir dan Longsor, Perparah Jalan Sayoang-Yaba

    • calendar_month Rab, 3 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 810
    • 1Komentar

    Berikut Ini Foto dan Videonya Kondisi jalan Sayoang-Yaba di Bacan Halmahera Selatan  tidak hanya rusak parah. Jika sebelumnya sempat tertutup longsor dan belum  diperbaiki, jalan tersebut kini kembali longsor hingga  badan jalan tertutup dan tak bisa dilewati kendaraan. Akibatnya, warga makin kesulitan menggunakan ruas jalan milik pemerintah Provinsi Maluku Utara ini. Longsor yang terjadi di […]

expand_less