Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Produksi Sagu Melimpah, Butuh Bantuan Pemasaran

Produksi Sagu Melimpah, Butuh Bantuan Pemasaran

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 13 Feb 2021
  • visibility 939

Banyak sumberdaya hutan bisa dimanfaatkan. Terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan. Salah satunya  pohon sagu yang tumbuh di sekitar kawasan hutan. Ternyata,  jika diolah dan diproduksi besar besaran tidak hanya dikonsumsi di tingkat rumah tangga, tetapi menjadi sumber  pendapatan petani.   

Seperti dilakukan Kelompok Tani Hutan (KTH) Mandiri Sejati Kelurahan Aketobato Loleo Kota Tidore Kepulauan ini. Mereka mengelola hutan sagu  di belakang kampong   menjadi sumber makanan sekaligus menambah penghasilan  anggota  kelompok tani.  

Anggota Kelompok KTH sedang meremas pokok sagu, foto Rusdiyanti KPH

Pasalnya dari  produksi sagu yang mereka hasilkan tidak hanya dijual dalam bentuk tepung mentah, tetapi diolah menjadi lempengan sagu yang siap disantap, ke masyarakat  desa hingga tetangga kampong.  Bahkan sampai ke  Pulau  Tidore.  

“Mereka saat ini menghasilkan 50 tumang (tempat tepung sagu dari daun rumbia,red)  dalam sekali produksi,” jelas Penyuluh Kehutanan Pendamping Rusmiyanti Dano Yamin kepada kabar pulau.co,id. Kelompok tani hutan yang beranggotakan 15 orang itu semua mengolah sagu.  

Dari hasil sagu yang ada kemudian istri-istri  mereka mengolah  menjadi sagu lempeng meskipun  tidak semua diolah  jadi lempengan sagu.   

Kelompok tani ini, mengelola hutan sagu di areal tak jauh dari kampong. Saat ini potensi pohon sagunya masih   banyak tetapi  butuh peremajaan  untuk menjaga  kelestarian pohon sagu yang diproduksi setiap saat tersebut.

Pokok sagu yang selesai digiling dan siap diremas. foto Rusdiyanti/KPH Tikep

Rusmiyanti bilang, dari hasil produksi sagu itu kebanyakan masih dijual di tingkat lokal. Meski demikian sudah mulai ada pedagang pengumpul yang masuk membeli dan menjualnya  lagi ke Kota Tidore Kepulauan, terutama tepung sagu.  Untuk satu tumang sagu biasanya dijual Rp100 ribu hingga Rp120 ribu.

Untuk penjualannya  mereka sangat butuh sentuhan dari pemerintah terutama dalam hal pemasaranya. Pasalnya saat ini masyarakat  terutama kelompok tani sangat butuh  sagu yang dihasilkan bisa dipasarkan sampai ke luar daerah.  Di kampong tersebut belum ada  koperasi atau instansi pemerintah  yang ikut memfasilitasi dan bantu memasarkan hasil produksi mereka.

Proses bakar sagu menggunakan forno, foto Rusdiyanti, KPH Tikep

Meski demikian menurut Rusmiyanti, ada rencana dari KPH membantu mengambil produk  KTH  untuk dibantu dipasarkan.  

Dalam hal produksi  para petani sebenarnya membutuhkan perhatian pemerintah daerah kota  Tidore Kepulauan.  Terutama kebutuhan  alat angkut hasil. Pasalnya    ketika proses tepung sudah diisi ke dalam  tumang saat diangkut ke kampong butuh alat  alat angkut memadai. 

“Mereka sangat butuh kendaraan roda tiga semacam motor merek Kaisar yang bisa  angkut hasil sagu ke kampong.  Anggota KPH sangat  butuh   alat angkut.  ,” jelas Rusmiyanti .

Selain itu, hasil produksi mereka terutama untuk tepung sagu olahan dalam bentuk sagu lempeng baru dipasarkan di tingkat rumah tangga belum bisa masuk sampai ke toko dan supermarket. Hal ini katanya butuh pendampingan juga dari pemerintah daerah agar hasil produk olahan tepung sagu yang telah dikelola  tidak hanya dipasarkan di  sekitar desa tetapi bisa  masuk sampai Ternate dan Tidore terutama toko maupun  pasar.

Lempengan Sagu yang telah dibakar

“Mereka juga butuh semacam pelatihan dari Perindag Provinsi membantu melatih pembuatan sagu lempeng  yang bisa  dijual ke pasar  yang lebih luas,” ujarnya.

KPH sendiri berencana mendamping mereka membantu  melatih kelompok tani membuat kemasan produk.   

Irisan lempengan sagu yang telah ditaruh dalam kemasan plastik, foto Rusdiyanti/KPH Tikep

Sekadar diketahui, KTH Mandiri Sejati Kelurahan Aketobato Loleo Kota Tidore Kepulauan  yang dipimpin  Sinen Esa ini merupakan   binaan KPH Tidore Kepulauan   yang pernah mendapatkan bantuan Alat Ekonomi Produktif dari Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara 2018 lalu. Mereka mendapatkan mesin genzet dan  mesin parut sagu. (*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Berapa Banyak Ikan yang Dicuri dari Laut Kita?

    • calendar_month Sel, 6 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 1.072
    • 0Komentar

    Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang didominasi oleh lautan, potensi kelautan dan perikanan di Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Dilansir dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia (KKP), pada tahun 2019, nilai hasil ekspor perikanan Indonesia mencapai Rp73.631.883.000 dan termasuk salah satu sektor yang sangat diandalkan untuk pembangunan nasional.   Namun,  kita sering mendengar […]

  • Dugaan Korupsi Gubernur Malut, KPK Harus Sasar Praktik Korupsi Sektor Tambang  

    • calendar_month Sen, 25 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 747
    • 3Komentar

    Thabrani: Petinggi Harita Tersangka jadi Jalan Masuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Gubernur Maluku Utara, Abdul Gani Kasuba (AGK), sebagai tersangka korupsi lelang jabatan dan pengadaan barang dan jasa. KPK telah menetapkan 7 orang tersangka yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Senin, 18 Desember 2023 lalu. Selain Gubernur  Malut, ada  6 tersangka lainnya, […]

  • Apa Kabar Deforestasi di Indonesia?

    • calendar_month Sen, 3 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 738
    • 1Komentar

    Pemerintah Klaim Turun  8,4 Persen Deforestasi Indonesia tahun 2021-2022 turun 8,4% dibandingkan hasil pemantauan tahun 2020-2021. Deforestasi netto Indonesia tahun 2021 -2022 adalah sebesar 104 ribu ha. Sementara, deforestasi Indonesia tahun 2020-2021 adalah sebesar 113,5 ribu ha. Demikian rilis resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sebagaimana dimuat dalam situs resmi […]

  • Jumlah Pulau di Maluku Utara Bertambah

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 1.417
    • 1Komentar

    Dari 805 Jadi 1080 Pulau, Terbanyak di Halmahera Selatan Julukan negeri seribu pulau bagi Maluku Utara  benar adanya. Pasalnya jumlah pulau di daerah ini yang sebelumnya sesuai data resmi pemerintah hanya 805,   telah berubah menjadi 1080 pulau. Data ini berubah berdasarkan hasil revisi yang  dilakukan Badan Informasi Geospasial (BIG). Perubahan data jumlah pulau ini, juga […]

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (Habis)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (Habis)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.153
    • 0Komentar

    Dampak  Langsung Perubahan Iklim  di Kota  Ternate   Dampak perubahan iklim yang mengancam kehidupan manusia saat ini nyata adanya.  Kondisi itu dirasakan  tidak hanya  oleh mereka  di pulau besar. Di pulau kecil  seperti Ternate juga sama. Pulau kecil memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi  dan dampaknya pun berlapis. Ancaman perubahan iklim dalam 10 tahun terakhir tidak hanya […]

  • Nasib Reptil di Hutan dan Pulau di Maluku Utara 

    • calendar_month Jum, 24 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 1.518
    • 0Komentar

    Terus Diburu, Rawan Diselundupkan   Masa depan berbagai jenis reptile di hutan Halmahera dan pulau pulau lainya di Maluku Utara akan terus terancam. Terutama untuk jenis reptil yang memiliki harga jual tinggi. Sebut saja jenis kadal, biawak ular bahkan kura kura darat. Berulangkali jenis hewan   ini diamankan petugas karena dijual ke luar daerah dan diamankan […]

expand_less