Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Fitako Sumber Energi Terbarukan yang Belum Dilirik

Fitako Sumber Energi Terbarukan yang Belum Dilirik

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 6 Jan 2022
  • visibility 264

Kawasan pantai di pulau Ternate dan Halmahera umumnya banyak ditumbuhi pohon fitako atau secara nasional orang menyebutnya dengan nyamplung. Pohon ini menjadi pelindung dan peneduh kawasan pantai yang buahnya masih dibiarkan berserakan di mana mana. Hingga kini, masyarakat belum mengetahui  secara luas fungsi dan manfaat buah yang dihasilkan pohon  ini.    

Nyamplung memiliki nama latin Calophyllum inophyllum Linn dengan nama yang berbeda di setiap daerah seperti fitako (Ternate)  eyobe (Enggano), nyamplung (Jawa, Sunda, Makassar), samplong atau camplong (Madura), punaga (Minangkabau), kanaga (Dayak atau Panaga), punaga (Bali), mantau (Bima), pantar (Alor), dan masih banyak nama lain di berbagai daerah.

Di  Ternate  pohon fitako  cukup banyak  ada di kawasan pantai  Kastela, Rua   dan  Afetaduma. Sayangnya selain tidak belum dimanfaatkan, pohon-pohon nyamplung yang hidup liar di kawasan pantai ini belum juga dilakukan konservasi. Pohon ini biasanya hanya dimanfaatkan kayunya oleh para pembuat perahu untuk lunas body perahu.

Belum diliriknya buah pohon ini sebagai sumber energy terbarukan cukup berasalan  karena masyarakat belum mengetahui  betul kandungan minyaknya. Selain  sebagai sumber energy minyak buah ini juga memiliki banyak manfaat sebagai bahan obat-obatan.

“Masyarakat tidak tahu apa manfaat dari buah ini karena  dibiarkan saja seperti ini,” ujar Ramli Umar warga Rua  saat ditemui Selasa (3/1/2021) kemarin.  Di kawasan pantai ini banyak buah  fitako berserakan. Bahkan anakan pohon ini juga belum dikonservasi dan dibiarkan tak terurus.  Dia bilang yang mereka tahu pohon ini hanya dimanfaatkan kayunya jika ada yang membuat body perahu, selebihnya tidak.

Dikutip dari Antara, Rabu (17/11/2021), Peneliti Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Budi Leksono mengatakan bahwa diperlukan strategi khusus mengembangkan minyak dari pohon nyamplung sebagai bahan bakar nabati (BBN).

Saat ini, minyak nyamplung paling banyak digunakan untuk kosmetik dan obat. Bahkan, minyak nyamplung bahkan telah diekspor ke beberapa negara. Meski dihargai hingga Rp350.000 per liter untuk bahan kosmetik dan obat, pasar kosmetik minyak nyamplung sebetulnya sangat kecil.  Dikutip dari Antara, Rabu (17/11/2021) lalu Budi bilang agar nyamplung menjadi  bahan bakar nabati, pemerintah harus membuat strategi pengembangan minyak nyamplung agar harganya bisa lebih murah dari bahan bakar minyak bumi. Dengan demikian, bahan bakar nabati tidak hanya didapatkan dari minyak kelapa sawit.

Menurut Budi, minyak nyamplung dari pohon di 12 wilayah di Indonesia, memiliki nilai asam sekitar 50 mgKOH per gram, sedangkan minyak untuk bahan bakar nabati seharusnya memiliki kadar asam di bawah 0,6 mgKOH per gram.

“Jadi, kita harus menurunkan nilai asam dari sekitar 50 ke 0,6 sehingga proses yang dilalui ini cukup panjang,” katanya.

Setelah pengeringan, secara manual biji nyamplung masih mesti melalui proses pengepresan, degumming, esterifikasi, transester, pencucian, dan pengeringan sehingga dapat digunakan sebagai biodiesel. Sementara itu, secara mekanik, setelah pengeringan biji, proses pengepresan dan pembuatan biodiesel dari minyak nyamplung dapat dilakukan dengan mesin.

Menurut Budi, pengembangan minyak nyamplung sebagai bahan bakar nabati di samping minyak kelapa sawit perlu dilakukan mulai dari sekarang. Dengan demikian, Indonesia tidak tertinggal dari negara lain dalam mendiversifikasi bahan energi baru dan terbarukan (EBT).

“Kita lihat Brasil dan Amerika Serikat sudah ekspor bioetanol. Kita punya tanaman untuk bioetanol yang produktivitasnya mungkin lebih besar dari yang dimiliki Eropa dan AS, ini yang mesti kita kembangkan pelan-pelan dan pastikan ke depannya,” katanya.

Buah fitako mida, foto mongabay Indonesia

Dikutip dari (https://www.litbang.pertanian.go.id/buku/bahan-bakar-nabati/nyamplung.pdf) menyebutkan bahwa  nyamplung   merupakan salah satu jenis tanaman hutan yang termasuk dalam family Clusiceae. Tanaman yang memiliki nama latin Calophyllum inophyllum ini ternyata menjadi jenis tanaman yang tersebar luas di berbagai belahan dunia, yaitu mulai Afrika Timur, India, Asia Tenggara, Australia, hingga Pasifik Selatan. Di Indonesia sendiri nyamplung menjadi tanaman yang tersebar luas di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku,   Nusa Tenggara Timur.

Melihat karakteristik habitatnya, ternyata jenis tanaman ini hidup dengan baik di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 1.000-5.000 mm/tahun. Selain itu biasanya ia memilih habitat pada ketinggian 0-200 mdpl. Contohnya yaitu pada lahan yang berada dikawasan hutan pantai. Sehingga tak heran bila nyamplung pada umumnya banyak di jumpai disekitar pinggir pantai.

Sekadar  ketahui, jenis tumbuhan hutan satu ini ternyataa memiliki potensi yang sangat besar dalam menciptakan energi baru terbarukan. Tentunya menjadi salah satu sumber bahan baku yang memiliki tingkat keramahan lingkungan yang tinggi. Salah satu potensi yang dimilikinya yaitu dapat menjadi sumber penghasil minyak nabati yang dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Hal ini dikarenakan nyamplung memiliki kadar minyak yang cukup tinggi, yaitu berkisar antara 40-73% (w/w). Minyak nabati yang ia hasilkan pun mencapai 4680 kg/ha.

Dikutip dari (https://greenindonesia.co/2018/07/alternatif-energi-dibalik-biji-nyamplung/ bila bandingkan dengan produktivitas sawit, ternyata nyamplung memiliki nilai produktivitas yang lebih tinggi. Perbandingannya bisa mencapai tiga kali lipat dari hasil produktivitas sawit.  

Tak hanya itu, nyamplung merupakan jenis tanaman penghasil non-edible oil, sehingga ia tidak bersaing dengan kebutuhan untuk pangan. Sumber penghasil minyak nabati yang dihasilkan oleh nyamplung  terdapat pada bagian bijinya. Ini menjadi keuntungan lain yang dimiliki  nyamplung. Karena seperti sawit, jenis tanaman hutan ini bisa dimanfaatkan berdasarkan dari hasil bukan kayunya. Sehingga dalam pemanfaatannya kita tak usah menebang batang pohon nyamplung. Akan tetapi cukup  memanfaatkan biji yang dihasilkan. Salah satu kelebihannya lagi, tanaman nyamplung berbuah sepanjang tahun. Hal ini akan memudahkan kita dalam menyediakan bahan baku biodiesel.

Pohon nyamplung yang ada di Pantai Kasetela Ternate foto M. Ichi

Biodisel merupakan senyawa methyl ester atau ethyl ester yang digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak bumi. Umumnya biodiesel lebih ramah lingkungan karena kandungan yang dimiliki bahan bakar yang dihasilkan bersifat biodegradable dan non toxic. Pada tumbuhan nyamplung   untuk menghasilkan biodiesel perlu dilakukan beberapa tahapan utama, yakni pembuatan minyak mentah dan biodiesel. Minyak nyamplung adalah minyak hasil ekstraksi dari biji nyamplung yang dilakukan dengan menggunakan mesin pres.  

Sayangnya sampai saat ini pemanfaatan nyamplung  sebagai sumber energi terbarukan di Indonesia masih sangat rendah. Padahal ketersediaan biomassanya sangat berlimpah. Hal ini setidaknya dipengaruhi oleh biaya produksi yang masih terkategorikan tinggi, yaitu antara Rp20.000 – Rp25.000 per liter. Namun bila dibandingkan dengan solar yang biasa digunakan, satu liter solar hanya bisa  10 km. sedangkan satu liter bahan bakar yang dihasilakan nyamplung ini bisa mencapai 12 km.  (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • BMKG: Waspadai Angin Kencang dan Gelombang

    • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 223
    • 2Komentar

    ilustrasi: kondisi gelombang besar yang menghantam pantai sulamadaha.foto wawan ilyas

  • Krisis Iklim Berdampak Serius bagi Anak Indonesia

    • calendar_month Ming, 24 Apr 2022
    • account_circle
    • visibility 309
    • 0Komentar

    Save The Children-KLHK-AJI Usung Aksi  Generasi  Iklim Laporan global Save the Children “Born into the Climate Crisis” dan dirilis  September 2021 menjelaskan, krisis iklim di Indonesia membawa dampak nyata dan dirasakan oleh anak-anak saat ini. Anak-anak di Indonesia yang lahir tahun 2020 berisiko menghadapi 3 kali lebih banyak ancaman banjir dari luapan sungai, 2 kali […]

  • Aksi Iklim BRI,akan Setop Danai Batu Bara

    • calendar_month Jum, 27 Mei 2022
    • account_circle
    • visibility 262
    • 1Komentar

    Aksi yang digelar untuk investasi bersih bagi bumi foto, 350.org

  • 75 Tahun Warga Gane Belum “Merdeka”

    • calendar_month Kam, 2 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 251
    • 1Komentar

    Jalan perusahaan di perkebunan sawit PT Korindo ini dimanfaatklan warga Gane Dalam dan Gane Luar untuk akses antar dua desa tersebut. foto M Ichi

  • Warga Hasilkan Produk Pangan dari Sagu dan Enau

    • calendar_month Kam, 11 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 284
    • 0Komentar

    Cerita KTH Mandiri Sejati Manfaatkan Hasil Hutan Warga yang tergabung dalam kelompok tani hutan (KTH) memanfaatkan pohon sagu dan enau menghasilkan berbagai produk makanan sekaligus jadi sumber pendapatan warga.   Seperti dilakukan oleh KTH  Mandiri Sejati  Ake Tobato Kelurahan Loleo Oba Tengah Kota Tidore Kepulauan  ini. Mereka mengolah dan menghasilkan beragam  produk bahan makanan dari dua […]

  • Kondisi Lingkungan Malut Kritis? (1)

    • calendar_month Ming, 28 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 313
    • 1Komentar

    Kondisi Sungai Wale Halmahera Tengah Foto Desember 2020

expand_less