Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Kawasan Khusus Sofifi di Atas DAS Kritis

Kawasan Khusus Sofifi di Atas DAS Kritis

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 15 Jun 2021
  • visibility 677

Rawan Banjir dan Berada di Daerah Pusat Gempa

Ibu kota Provinsi Maluku Utara yang berada di Kota  Sofifi  Pulau Halmahera ternyata dibangun di atas Daerah Aliran  Sungai (DAS) yang kondisinya kritis. Karena itulah  DAS ini masuk dalam pemulihan.

Ibukota Provinsi yang telah ditetapkan melalui Undang undang Pemekaran provinsi Maluku Utara no 46 Tahun 1999  itu,   selain dibangun di atas DAS kritis juga  berada di  daerah rawan gempa. Karena itu mitigasi dua persoalan ini perlu dipikirkan ketika membuat perencanaan  pembangunan Kota Sofifi   yang   kini telah ditetapkan menjadi Kawasan Khusus tersebut.

Hal ini turut mengemuka dalam rapat Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS) Maluku Utara yang digelar di secretariat Fordas Malut Kantor Balai DAS Malut Kalumata Ternate Kamis (10/6/2021) lalu. Rapat yang bertujuan menyiapkan agenda musyawarah anggota forum  untuk memilih ketua forum   baru periode 2021-2025 itu  turut mempertimbangkan  sebelum melaksanakan agenda organisasi tersebut penting memberi masukan kepada pemerintah provinsi Maluku Utara terkait rencana pengembangan kota Sofifi. Rapat yang turut dihadiri Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)- dan Hutan Lindung Ake Malamo Maluku  Utara Asih Yunani MP itu  menyuarakan perlu adanya masukan Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS) Malut untuk pembangunan Kawasan Khusus Sofifi ke depan. Hal ini penting dilakukan karena,  ternyata keberadaan kota Sofifi dan sekitarnya   ada di atas DASOba yang harus dipulihkan. 

“Perlu ada masukan ke tim penyusunan dokumen Kawasan Khusus Sofifi. Tujuannya  mereka  tidak  lupa,  bahwa kota ini berada di atas DAS kritis. Masukan dari FORDAS Maluku Utara sangat diperlukan,” kata Mardiyani Sidayat salah satu anggota Fordas Malut.

Maridyani yang juga dosen di Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate itu bilang upaya ini perlu dilakukan agar   pemerintah membangun Sofifi dan sekitarnya dengan mempertimbangkan berbagai aspek  termasuk lingkungan di dalamya. Dia bilang, Kota Sofifi yang dikelilingi Sungai  Oba dan beberapa di sekitarnya  memiliki ancaman serius jika dalam dokumen perencanaan Kawasan Khusus ini tidak mempertimbangkan aspek- aspek tersebut.

Soal DAS Oba yang kondisinya  perlu pemulihan ini diakui pihak BPDAS HL  Ake Malamo Maluku Utara. Arbain Mahmud  anggota Fordas dari BPDAS HL bilang, DAS Oba dalam statusnya memang  kritis. Hanya saja status kritis itu sekarang dihapus  dan diganti dengan  DAS prioritas yang perlu dipulihkan dan dipertahankan.  DAS Oba   sendiri butuh pemulihan  maka   itu dalam master plan perencanaan pembangunan kawasan khusus Sofifi perlu mempertimbangkan hal ini.

Masukan ini kemudian  disepekati FORDAS  dengan berencana  menggelar symposium dan FGD bersama sejumlah elemen terkait, meminta masukan agar  nanti diberikan masukan kepada tim pemerintah  dalam  menyusun dokumen   master plan kawasan khusus kota Sofifi.

“Kita sepakati sebelum kegiatan musyawarah anggota Fordas,  dilaksanakan symposium melibatkan berbagai pihak yang nanti dijadikan dasar  masukan ke tim,” jelas ketua Fordas Malut Thamrin Ibrahim.  Kegiatannya   rencana  dilaksanakan akhir Juni ini.

Sekadar diketahui   Maluku Utara (Malut) memiliki 3.568 Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan total luasan 3.148.431,35 Hektare. Data BPDAS-HL  untuk DAS Oba secara administrasi pemerintahan,  berada di Wilayah Pemerintahan Kota Tidore kepulauan meliputi 4 (empat) Kecamatan yakni Oba Utara, Oba Tengah, Oba dan Kecamatan Oba Selatan.Kondisi topografinya berbukit dan umumnya  curam yakni seluas 73.669,67 ha atau 61,58 persen. Sangat curam 18.031,28 ha atau 15,07 % dari total luas Satuan  Wilayah Pengelolaan (SWP)  DAS Oba.  Sisanya seluas 27.939,55 ha atau 23,35 persen merupakan wilayah yang datar hingga miring yang berada di sepanjang pesisir dan daerah lembah yang berada di antara perbukitan. 

Untuk  SWP Daerah Aliran Sungai (DAS) Oba seluas 119.641,09 ha  terdiri  atas 16  DAS. Yakni  DAS Ake Kolano,  DAS Oba,  DAS Mira,  DAS Waimira Tiga,  DAS Ake Toburo,  DAS Ake Lamo Tidore,  DAS Ake Gumi,   DAS Ake Lola,   DAS Gita,  DAS Ake Tului  DAS Ake Tayawi,  DAS Ake Bale  DAS Kosa Payahe,   DAS  Ake Sigela  dan  DAS Kuala Maidi.

Dari keseluruhan DAS ada beberapa kondisinya kritis sehingga perlu ada pemulihan. DAS yang butuh pemulihan   sangat rentan dengan ancaman banjir. “Jika tidak dipikirkan DAS di Kawasan khusus Sofifi ini di masa depan akan menuai akibatnya  terutama dihantam banjir dan longsor,” ujar Mardiyani.  

Dalam catatan kabarpulau.co.id/  Sofifi yang saat ini belum dibangun secara massive saja,  di beberapa lokasi  menjadi langganan banjir. Ada sejumlah kantor yang setelah dibangun  misalnya tidak bisa ditempati bahkan ditinggalkan karena menjadi langganan banjir.  Ambil contoh Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Desa Rioribati Jailolo Selatan   setelah   dibangun  tidak bisa dilajutkan  karena setiap saat dihantam banjir.  Begitu juga di Desa Tabadamai Jailolo Selatan yang menjadi lokasi perumahan PNS  setelah  dibangun   dua unit,  tidak bisa lagi dilanjutkan sampai saat ini, juga  karena menjadi langganan banjir. Perumahan ini kemudian dipindahkan ke Jalan 40 Desa Balbar Oba Utara.  Ada lagi  rumah sakit  Sofifi yang  dibangun di  pusat kecamatan Oba Utara juga tidak layak dan dipindahkan ke Desa Durian lagi lagi alasannya karena sering tergenang dihantam banjir. Ini beberapa contoh ril dari rentannya Sofifi  dari banjir.  Sumber banjir ini  rata rata berasal dari Kali Oba yang berada dalam kawasan DAS Oba.     

Tidak hanya DAS kritis, Kawasan Khusus Sofifi juga ternyata  rentan terhadap aktivitas  geologi terutama gempa bumi. Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara  memberikan masukan kepada pemerintah provinsi   agar perlu mempertimbangkan mitigasi masalah ini dalam  membangun  sebuah kota  masa depan.

Ketua IAGI Maluku Utara Abdul Kadir Dedy Arief bilang, secara regional sudah jelas berada pada posisi struktur geologi (sesar). Ini dapat terlihat melalui bentuk pola sungai serta relief morfologinya. Bahkan beberapa batuan tersingkap sudah informasikan bahwa kontrol tektoniknya   sangat intens. Dengan penyusun batuan yang tediri atas batupasir, batulempung , backswamp serta endapan aluvial lainnya. IAGI berharap dalam pengembangannya benar benar dikaji data surface maupun subsurface.  

Luapan-sungai-Toburo- Oba yang masuk dalam kawasan khusus Sofifi- menggenangi-jalan-lintas-Halmahera.-foto Apriyanto Latukau

Soal adanya DAS Oba yang rentan ini,  menurut  Sekretaris Daerah Provinsi Malut  Syamsuddin A Kadir   dikonformasi di Sofifi Senin (14/6/2021),  mengaku adanya   informasi ini maka akan berkoordinasi dengan pihak pihak berkompeten termasuk misalnya BPDAS HL.   Sementara untuk dokumen perencanaan kawasan khusus Sofifi karena nanti ada dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), maka  dalam penyusunan dan pembahasannya akan melibatkan semua pihak. Tujuannya  masalah seperti  juga  menjadi masukan   bagi perbaikan pembangunan kota Sofifi ke depan.  

“Nanti ada dibuat dokumen RTRW   Sofifi yang dijabarkan dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)  hal hal ini nanti akan dimasukan, tentu  melibatkan semua pihak bicara melalui seminar,” katanya.

Sekadar diketahui,  kawasan khsusus Sofifi meliputi  2 Kecamatan  di Kota Tidore Kepulauan yakni Oba Utara dan Oba Tengah. Ada juga di Kecamatan Jailolo Selatan wilayah Halmahera Barat. Pemerintah Provinsi sendiri telah membuat proposal usulan pembangunan Kawasan Khusus Sofifi  senilai Rp15 Triliuan dan telah diakomodir  pemerintah pusat.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hutan Orang Tobaru Terus Menyusut

    • calendar_month Kam, 11 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 477
    • 0Komentar

    Yusak Bulere (67 tahun) sibuk mengasapi kelapa yang telah diolah menjadi kopra. Saat ditemui di kebunnya Minggu sekira pukul 11.30 WIT pertengahan Februari 2021 lalu, Ayah tiga ini sibuk melemparkan  gonofu  (sabut kelapa dan tempurung kelapa,red) ke dalam api untuk menambah  api bafufu (pengasapan,red). Yusak sejak pagi menunggu kopra matang untuk segera dijual  kepada pedagang  […]

  • Menyaksikan Burung Tohoko dari Lembah Buku Bendera (2)

    • calendar_month Kam, 7 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 621
    • 1Komentar

    Seri Tulisan Menguak Kekayaan Tersembunyi Pulau  Ternate   Penulis Mahmud Ichi dan Junaidi Hanafiah Pulau Ternate berdasarkan data BPS Maluku Utara  luasnya  hanya  111,80  kilometer. Meski hanya sebuah pulau kecil dengan luasan terbatas, pulau  ini menyimpan beragam kekayaan sumberdaya hayati. Terutama jenis satwa burung. Bahkan  jenis burung endemic  juga ada di sini yakni burung Tohoko […]

  • Pemanfaatan Potensi Laut Maluku Utara Masih Minim

    • calendar_month Sel, 8 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 988
    • 0Komentar

    Setiap 8 Juni diperingati sebagai hari laut sedunia atau World Ocean Day. Peringatan ini untuk mengingatkan pentingnya lautan bagi kehidupan manusia karena   menutupi lebih dari 70% planet Bumi. Dikutip dari https://tirto.id/hari-laut-sedunia-2021-tema-8-juni-cara-rayakan-world-ocean-day-gg) menyebutkan bahwa   laut menjadi sumber kehidupan manusia, mendukung kesejahteraan umat manusia dan setiap organisme lain di bumi. Lautan menghasilkan setidaknya 50% oksigen Bumi, merupakan […]

  • Warga Gane Timur Minta Pemerintah Perhatikan Produksi Sagu

    • calendar_month Sen, 30 Jan 2023
    • account_circle
    • visibility 430
    • 3Komentar

    Masyarakat Desa Kotalou Kecamatan Gane Timur, saat ini  banyak yang mengolah pohon sagu menjadi tepung.    Hasilnya  lalu  dijual ke daerah sekitar Halmahera Selatan dan Weda  Halmahera Tengah.    Dalam mengolah sagu warga tidak lagi melakukannya  secara manual tetapi  menggunakan  mesin penggilingan. Produksi sagunya  setiap orang menghasilkan 5 sampai 6 karung dalam sepekan. Sementara tiap karung […]

  • Kawasan Konservasi Laut Bertambah 1 Juta Hektar

    • calendar_month Sab, 25 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 507
    • 0Komentar

    Di  Malut Ada Satu KKP Baru di Halteng dan Haltim Kementerian Kelautan  dan Perikanan (KKP) berhasil menambah 1,079 juta hektare kawasan konservasi laut baru di masa satu tahun pemerintahan Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo. Perluasan kawasan konservasi bagian dari upaya percepatan menuju target 10% wilayah laut terlindungi pada 2030 dan visi jangka panjang 30×45 […]

  • Ayo Selamatkan Pulau Ini Sebelum Tenggelam

    • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 795
    • 2Komentar

    Kondisi PUlau Pagama saat ini. foto Wandi

expand_less