Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Kawasan Khusus Sofifi di Atas DAS Kritis

Kawasan Khusus Sofifi di Atas DAS Kritis

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 15 Jun 2021
  • visibility 962

Rawan Banjir dan Berada di Daerah Pusat Gempa

Ibu kota Provinsi Maluku Utara yang berada di Kota  Sofifi  Pulau Halmahera ternyata dibangun di atas Daerah Aliran  Sungai (DAS) yang kondisinya kritis. Karena itulah  DAS ini masuk dalam pemulihan.

Ibukota Provinsi yang telah ditetapkan melalui Undang undang Pemekaran provinsi Maluku Utara no 46 Tahun 1999  itu,   selain dibangun di atas DAS kritis juga  berada di  daerah rawan gempa. Karena itu mitigasi dua persoalan ini perlu dipikirkan ketika membuat perencanaan  pembangunan Kota Sofifi   yang   kini telah ditetapkan menjadi Kawasan Khusus tersebut.

Hal ini turut mengemuka dalam rapat Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS) Maluku Utara yang digelar di secretariat Fordas Malut Kantor Balai DAS Malut Kalumata Ternate Kamis (10/6/2021) lalu. Rapat yang bertujuan menyiapkan agenda musyawarah anggota forum  untuk memilih ketua forum   baru periode 2021-2025 itu  turut mempertimbangkan  sebelum melaksanakan agenda organisasi tersebut penting memberi masukan kepada pemerintah provinsi Maluku Utara terkait rencana pengembangan kota Sofifi. Rapat yang turut dihadiri Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)- dan Hutan Lindung Ake Malamo Maluku  Utara Asih Yunani MP itu  menyuarakan perlu adanya masukan Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS) Malut untuk pembangunan Kawasan Khusus Sofifi ke depan. Hal ini penting dilakukan karena,  ternyata keberadaan kota Sofifi dan sekitarnya   ada di atas DASOba yang harus dipulihkan. 

“Perlu ada masukan ke tim penyusunan dokumen Kawasan Khusus Sofifi. Tujuannya  mereka  tidak  lupa,  bahwa kota ini berada di atas DAS kritis. Masukan dari FORDAS Maluku Utara sangat diperlukan,” kata Mardiyani Sidayat salah satu anggota Fordas Malut.

Maridyani yang juga dosen di Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate itu bilang upaya ini perlu dilakukan agar   pemerintah membangun Sofifi dan sekitarnya dengan mempertimbangkan berbagai aspek  termasuk lingkungan di dalamya. Dia bilang, Kota Sofifi yang dikelilingi Sungai  Oba dan beberapa di sekitarnya  memiliki ancaman serius jika dalam dokumen perencanaan Kawasan Khusus ini tidak mempertimbangkan aspek- aspek tersebut.

Soal DAS Oba yang kondisinya  perlu pemulihan ini diakui pihak BPDAS HL  Ake Malamo Maluku Utara. Arbain Mahmud  anggota Fordas dari BPDAS HL bilang, DAS Oba dalam statusnya memang  kritis. Hanya saja status kritis itu sekarang dihapus  dan diganti dengan  DAS prioritas yang perlu dipulihkan dan dipertahankan.  DAS Oba   sendiri butuh pemulihan  maka   itu dalam master plan perencanaan pembangunan kawasan khusus Sofifi perlu mempertimbangkan hal ini.

Masukan ini kemudian  disepekati FORDAS  dengan berencana  menggelar symposium dan FGD bersama sejumlah elemen terkait, meminta masukan agar  nanti diberikan masukan kepada tim pemerintah  dalam  menyusun dokumen   master plan kawasan khusus kota Sofifi.

“Kita sepakati sebelum kegiatan musyawarah anggota Fordas,  dilaksanakan symposium melibatkan berbagai pihak yang nanti dijadikan dasar  masukan ke tim,” jelas ketua Fordas Malut Thamrin Ibrahim.  Kegiatannya   rencana  dilaksanakan akhir Juni ini.

Sekadar diketahui   Maluku Utara (Malut) memiliki 3.568 Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan total luasan 3.148.431,35 Hektare. Data BPDAS-HL  untuk DAS Oba secara administrasi pemerintahan,  berada di Wilayah Pemerintahan Kota Tidore kepulauan meliputi 4 (empat) Kecamatan yakni Oba Utara, Oba Tengah, Oba dan Kecamatan Oba Selatan.Kondisi topografinya berbukit dan umumnya  curam yakni seluas 73.669,67 ha atau 61,58 persen. Sangat curam 18.031,28 ha atau 15,07 % dari total luas Satuan  Wilayah Pengelolaan (SWP)  DAS Oba.  Sisanya seluas 27.939,55 ha atau 23,35 persen merupakan wilayah yang datar hingga miring yang berada di sepanjang pesisir dan daerah lembah yang berada di antara perbukitan. 

Untuk  SWP Daerah Aliran Sungai (DAS) Oba seluas 119.641,09 ha  terdiri  atas 16  DAS. Yakni  DAS Ake Kolano,  DAS Oba,  DAS Mira,  DAS Waimira Tiga,  DAS Ake Toburo,  DAS Ake Lamo Tidore,  DAS Ake Gumi,   DAS Ake Lola,   DAS Gita,  DAS Ake Tului  DAS Ake Tayawi,  DAS Ake Bale  DAS Kosa Payahe,   DAS  Ake Sigela  dan  DAS Kuala Maidi.

Dari keseluruhan DAS ada beberapa kondisinya kritis sehingga perlu ada pemulihan. DAS yang butuh pemulihan   sangat rentan dengan ancaman banjir. “Jika tidak dipikirkan DAS di Kawasan khusus Sofifi ini di masa depan akan menuai akibatnya  terutama dihantam banjir dan longsor,” ujar Mardiyani.  

Dalam catatan kabarpulau.co.id/  Sofifi yang saat ini belum dibangun secara massive saja,  di beberapa lokasi  menjadi langganan banjir. Ada sejumlah kantor yang setelah dibangun  misalnya tidak bisa ditempati bahkan ditinggalkan karena menjadi langganan banjir.  Ambil contoh Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Desa Rioribati Jailolo Selatan   setelah   dibangun  tidak bisa dilajutkan  karena setiap saat dihantam banjir.  Begitu juga di Desa Tabadamai Jailolo Selatan yang menjadi lokasi perumahan PNS  setelah  dibangun   dua unit,  tidak bisa lagi dilanjutkan sampai saat ini, juga  karena menjadi langganan banjir. Perumahan ini kemudian dipindahkan ke Jalan 40 Desa Balbar Oba Utara.  Ada lagi  rumah sakit  Sofifi yang  dibangun di  pusat kecamatan Oba Utara juga tidak layak dan dipindahkan ke Desa Durian lagi lagi alasannya karena sering tergenang dihantam banjir. Ini beberapa contoh ril dari rentannya Sofifi  dari banjir.  Sumber banjir ini  rata rata berasal dari Kali Oba yang berada dalam kawasan DAS Oba.     

Tidak hanya DAS kritis, Kawasan Khusus Sofifi juga ternyata  rentan terhadap aktivitas  geologi terutama gempa bumi. Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara  memberikan masukan kepada pemerintah provinsi   agar perlu mempertimbangkan mitigasi masalah ini dalam  membangun  sebuah kota  masa depan.

Ketua IAGI Maluku Utara Abdul Kadir Dedy Arief bilang, secara regional sudah jelas berada pada posisi struktur geologi (sesar). Ini dapat terlihat melalui bentuk pola sungai serta relief morfologinya. Bahkan beberapa batuan tersingkap sudah informasikan bahwa kontrol tektoniknya   sangat intens. Dengan penyusun batuan yang tediri atas batupasir, batulempung , backswamp serta endapan aluvial lainnya. IAGI berharap dalam pengembangannya benar benar dikaji data surface maupun subsurface.  

Luapan-sungai-Toburo- Oba yang masuk dalam kawasan khusus Sofifi- menggenangi-jalan-lintas-Halmahera.-foto Apriyanto Latukau

Soal adanya DAS Oba yang rentan ini,  menurut  Sekretaris Daerah Provinsi Malut  Syamsuddin A Kadir   dikonformasi di Sofifi Senin (14/6/2021),  mengaku adanya   informasi ini maka akan berkoordinasi dengan pihak pihak berkompeten termasuk misalnya BPDAS HL.   Sementara untuk dokumen perencanaan kawasan khusus Sofifi karena nanti ada dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), maka  dalam penyusunan dan pembahasannya akan melibatkan semua pihak. Tujuannya  masalah seperti  juga  menjadi masukan   bagi perbaikan pembangunan kota Sofifi ke depan.  

“Nanti ada dibuat dokumen RTRW   Sofifi yang dijabarkan dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)  hal hal ini nanti akan dimasukan, tentu  melibatkan semua pihak bicara melalui seminar,” katanya.

Sekadar diketahui,  kawasan khsusus Sofifi meliputi  2 Kecamatan  di Kota Tidore Kepulauan yakni Oba Utara dan Oba Tengah. Ada juga di Kecamatan Jailolo Selatan wilayah Halmahera Barat. Pemerintah Provinsi sendiri telah membuat proposal usulan pembangunan Kawasan Khusus Sofifi  senilai Rp15 Triliuan dan telah diakomodir  pemerintah pusat.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Orang Tobaru dan Tradisi Menanam

    • calendar_month Jum, 5 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 1.289
    • 2Komentar

    Hari masih pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 07.25 WIT. Jumat (19/2) pagi  itu,  Rin Bodi (49) dan   suaminya    Lius Popo (57) sudah meninggalkan rumah menuju kebun dan dusun kelapa  yang berada kurang lebih 3 kilometer dari desa Podol Kecamatan Tabaru Kabupaten Halmahera Barat. Podol sendiri adalah satu dari 16 desa  di kecamatan Tabaru  yang […]

  • Tambang Hadir, Burung di Kawasan Goa Bokimoruru Terancam

    • calendar_month Kam, 15 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 1.689
    • 2Komentar

    Penulis Sofyan A Togubu Berbagai jenis burung beterbangan, juga cuitan mereka, pernah menjadi pemandangan lumrah bagi warga di Desa Sagea. Namun suasana yang indah tersebut kini berubah, seiring hadirnya industri pertambangan nikel di kawasan tersebut. Desa yang terletak di Kecamatan Weda Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara itu sesungguhnya berada dalam koridor Key Biodiversity Area (KBA)–lokasi […]

  • Legu Tara No Ate 2025: Kolaborasi Budaya, Edukasi  dan Kampanye Lingkungan

    • calendar_month Kam, 4 Sep 2025
    • account_circle
    • visibility 920
    • 0Komentar

    Ketua Panitia: Semua Kesiapan  Sudah Maksimal, Siap  Digelar Oktober   Pihak  Kesultanan Ternate  akan   menyelenggarakan Festival Legu Tara No Ate 2025. Kegiatan ini rencana dilaksanakan  pada  16  hingga 18 Oktober 2025. Acara ini akan dipusatkan di Lapangan Pelabuhan Perikanan Nusantara, Kelurahan Mangga Dua, Kota Ternate. Legu Tara No Ate 2025 ini sendiri merupakan Iven festival […]

  •  “Nagari Beta Yang Gulana”

    • calendar_month Jum, 1 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 778
    • 1Komentar

    mendung terus sepanjang hari.. mentari seakan enggan beranjak, tegar bersembunyi dibalik awan.. seiring hujan kian merintik bagai menandai duka anak bangsa yang terlilit nasib diantara antrian nan panjang untuk sebutir nasi demi sesuap dan.. disudut sana di kotaraja prawira nagara ketawa ketiwi berdecak kagum berbagi bintang dipundak, dalam jejak penuh tetesan darah.. darah anak negeri […]

  • Atasi Sampah, Malut Butuh PLTSa?

    • calendar_month Sel, 28 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 1.114
    • 1Komentar

    Sampah menjadi masalah paling serius. Tidak hanya di kota tetapi juga di  desa- desa di seluruh Indonesia. Dia menjadi masalah dan  sangat mengancam lingkungan dan manusia  terutama sampah plastic. Sampah  jenis ini   sulit terurai  sehingga dilakukan berbagai riset  untuk mengatasi  makin banyaknya sebaran di lingkungan darat maupun laut.   Ada sejumlah cara  mengatasi sampah ini […]

  • Bobato Adat Kie Goya, Jaga Hutan untuk Anak Cucu

    • calendar_month Kam, 28 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 1.046
    • 1Komentar

    Dikukuhkan  Saat Grand Launcing Suaka Paruh Bengkok Peranan perangkat adat dalam menjaga hutan dan lingkungan di daerah ini sangatlah penting. Ini demi  menjaga hutan dari berbagai ancaman,  gangguan    sehingga  tetap lestari.  Salah  satu  perangkat adat itu adalah  Bobato Adat Kie Goya  di Kesultanan Tidore Maluku Utara. Bobato Adat Kie Goya atau dikenal dengan Bobato yang […]

expand_less