Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ayo Selamatkan Pulau Ini Sebelum Tenggelam

Ayo Selamatkan Pulau Ini Sebelum Tenggelam

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
  • visibility 1.047

Pulau Pagama di Kepulauan Sula Nyaris Hilang    

Percaya tidak percaya dampak  perubahan iklim memang nyata adanya. Mau bukti, lihatlah kondisi pulau Pagama di Kabupaten Kepulauan Sula Maluku Utara ini. Pulau yang berada tepat di  antara  Pulau Sulabesi dan Mangole Kepulauan Sula  ini nyaris habis disapu air laut.

Pulau ini  jika  dijangkau dari pelabuhan Kota Sanana, terbilang  lumayan jauh. Pulau tak berpenghuni ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam menggunakan speedboat. Namun jika menggunakan katinting atau perahu bermesin jhonson, butuh waktu sekira 2 jam untuk bisa  menikmati keindahan pantai dan bawah lautnya.

Di pulau Pagama, pengunjung  bisa melakukan beragam aktivitas dari berenang, memancing, menyelam, atau sekadar berjemur. Pulau ini juga menjadi tempat persinggahan para nelayan di Kepulauan Sula jika saat melaut dan paceklik.

Pulau  berpasir putih  yang dihiasi beberapa jenis pohon yang biasa tumbuh di  ekosistem pantai  termasuk pohon pinus itu, kini nyaris tak tersisa lagi.  Kenaikan permukaan air laut dan hempasan geombang membuat daratan pulau ini nyaris  hilang.  Dulunya daratan pulau ini cukup luas. Namun seiring waktu dan kondisi dampak alam kini   luasnya sudah tak cukup 10 meter lagi. 

Pulau Pagama beberapa tahun lalu

Lima tahun sebelumnya. luas pulau eksotik tersebut sekira 450 meter dan masih ditumbuhi puluhan pohon pinus. Kini, yang tersisa hanya satu pohon pinus yang juga terancam roboh akibat adanya abrasi.

“Untuk  lahan yg tersisa  kurang lebih 5 meter  dan ini tinggal menunggu waktu saja,” kata Kuswandi Buamona akivis Wahana  Lingkungan Hidup (WALHI) Maluku Utara yang berkunjung ke pulau tersebut pekan lalu.

Wandi  yang sudah beberapa kali mengunjungi pulau ini menyampaikan keperihatinanya dengan kondisi Pulau Pagama. Dia  bilang, kondisi pulau Pagama saat ini sudah jauh berbeda dengan kondisi lima tahun lalu. “Nyaris tidak ditemukan lagi pohon karena  sudah tumbang dihempas gelombang,” ujarnya. Dia lantas memprediksi pulau ini akan hilang dalam waktu yang tidak lama lagi jika taka da upaya penyelamatan.

Kondisi Pulau Pagama tiga tahun lalu, foto Wandi

Pulau ini  menjadi icon Kepulauan Sula, sekaligus tempat wisata. Sayang kurang mendapat perhatian dari pemda Kabupaten  Kepulauan Sula.

Ini terbukti dengan semakain mengecilnya pulau ini  bahkan hampir hilang, tetapi belum ada upaya untuk perlindungan dan perbaikannya. Karena itu dia mengajak seluruh elemen masyarakat  dan pemerintah agar peduli dan mau menyelamatkan pulau ini dengan gerakan yang nyata.

“Ancaman tenggelamnya pulau akibat kenaikan permukaan laut menjadi faktor yang paling dicurigai.Salah  satunya ini akibat adanya aktifitas reklamasi di pesisir pantai Kota Sanana,” jelas Wandi.

Harapannya semoga kondisi Pulau Pagama ini menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula  yang baru terpilih ini. Ayo mari kita selamatkan Pagama,” harapnya.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mari Saksikan Konser Hutan Merdeka

    Mari Saksikan Konser Hutan Merdeka

    • calendar_month Sab, 29 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 644
    • 0Komentar

    Sekira 50,1% dari total daratan di wilayah Indonesia merupakan bentangan hutan. Berbagai hewan dan tumbuhan endemik tinggal di hutan-hutan Indonesia, membuat negara kita dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati.Hutan adalah sumber kehidupan yang menyediakan oksigen, air, menyimpan cadangan karbon, penyeimbang iklim dan sumber penghidupan bagi masyarakat adat yang tinggal di sekitarnya. […]

  • UI CISE 2023 Pertemukan Pencaker dengan Perusahaan Terbaik 

    • calendar_month Rab, 22 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 683
    • 0Komentar

    Grand Opening UI CISE 2023

  • Bobato Adat Kie Goya, Jaga Hutan untuk Anak Cucu

    • calendar_month Kam, 28 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 964
    • 1Komentar

    Dikukuhkan  Saat Grand Launcing Suaka Paruh Bengkok Peranan perangkat adat dalam menjaga hutan dan lingkungan di daerah ini sangatlah penting. Ini demi  menjaga hutan dari berbagai ancaman,  gangguan    sehingga  tetap lestari.  Salah  satu  perangkat adat itu adalah  Bobato Adat Kie Goya  di Kesultanan Tidore Maluku Utara. Bobato Adat Kie Goya atau dikenal dengan Bobato yang […]

  • Presiden Resmi Cabut 11 Izin Kehutanan di Malut

    • calendar_month Jum, 7 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 904
    • 0Komentar

    Presiden Joko Widodo mencabut izin-izin pertambangan, kehutanan, dan penggunaan lahan negara yang dinilai bermasalah. Langkah ini diambil untuk memperbaiki tata kelola sumber daya alam agar ada pemerataan, transparan dan adil, untuk mengoreksi ketimpangan, ketidakadilan, dan kerusakan alam. Hal ini disampaikan Presiden dalam keterangan pers secara di Istana Kepresidenan Bogor Jawa Barat Kamis (6/1/2022) siang. “Izin-izin yang […]

  • Riset Kehati dan Lingkungan BRIN–UNIERA Kolaborasi

    • calendar_month Kam, 14 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 750
    • 0Komentar

    Maluku Utara merupakan bagian dari Kawasan Wallacea yang mempunyai keanekaragaman hayati (kehati) dan endemisitas yang tinggi. Karena kekayaan yang dimiliki tersebut   Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE), Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) dan Lembaga Penelitian Pengabdian Pada Masyarakat dan Publikasi (LPPMP) Universitas Halmahera (UNIRA) sepakat untuk menjalin […]

  • Kanari Makeang Sasar Pasar Eropa

    • calendar_month Rab, 16 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 765
    • 0Komentar

    Ibu inu di ksmpung Samsuma Makeang Pulau sedang memecah tempurung kenari untuk diambil kacang kenari, foto M Ichi

expand_less