Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Fragmentasi Habitat, Burung di Pulau Ternate Terancam

Fragmentasi Habitat, Burung di Pulau Ternate Terancam

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 13 Jun 2021
  • visibility 744

Ternate  Pulau kecil  dengan luas  11.180.00 hektar (data BPS, red) ternyata, menyimpan kekayaan  luar biasa. Tidak hanya tinggalan sejarah dengan benteng-benteng  di berbagai tempat.  Kekayaan  hutan, perkebunan  pala dan cengkih milik warga  juga menyimpan potensi sumberdaya hayati  terutama  burung yang luar biasa banyak. Sayang dari waktu ke waktu kehidupan berbagai satwa ini semakin menurun populasinya.   

Riset berjudul Keanekaragaman Jenis  Burung  di Beberapa  Objek Wisata  di Kota  Ternate  2018  oleh jurusan Biologi Universitas Khairun Ternate ini menunjukan adanya keragaman biodiversitas jenis burung yang mendiami hutan beberapa lokasi wisata di Ternate dan adanya ancaman semakin berkurang dari waktu ke waktu.

Tim Peneliti  yang terdiri dari Zulkifli Ahmad, Yumima Sinyo, Hasna Ahmad, M. Nasir Tamalene, Nurmaya Papuangan, Abubakar Abdullah, Bahtiar Bahtiar,Said Hasanini  membuat  kolaborasi riset,  di empat lokasi berbeda, yakni Desa Sulamadaha, Desa Ngade, Desa Tolire, dan Desa Tobololo.  Dengan menggunakan metode Variable Circular Plot (VCP),  riset ini menghitung jumlah jenis burung dengan  metode Timed Series Counts (TSCs). Data yang dianalisis meliputi kelimpahan dan keanekaragaman jenis burung,

Hasil analisis data lapangan menunjukan bahwa di pulau Ternate hidup beragam jenis burung yang sebenarnya menjadi potensi bagi pengembangan wisata minat khusus.   

“Tujuan  penelitian ini   mengidentifikasi dan mempelajari kelimpahan dan keanekaragaman jenis-jenis burung   di kawasan objek wisata  di Pulau Ternate. Hasil riset ini bisa menjadi data base bagi pemerintah daerah untuk pengembangan kawasan objek wisata agar lebih bernilai ekonomis. Misalnya pengembangan kawasan ke arah ekowisata atau kegiatan birdwatching,” tulis riset    tersebut.  Hasil riset yang telah dipublikasikan dalam beberapa jurnal itu menunjukan bahwa Ternate memiliki tingkat keanekaragaman jenis flora dan fauna tinggi.  

Sayangnya, kondisi kawasan objek wisata di pulau Ternate telah banyak mengalami deforestasi, degradasi serta fragmentasi habitat.  Ini juga akibat tingginya frekuensi kunjungan dan pengelolaan kawasan yang belum optimal.

Publikasi penelitian itu menunjukkan bahwa keanekaragaman dan kelimpahan burung terendah terdapat pada kawasan wisata pantai Tobololo dan Sulamadaha. Sementara keanekaragaman dan kelimpahan jenis burung tertinggi terdapat pada kawasan wisata Danau Tolire  dan Danau Ngade.

Kawasan ekowisata Puncak Moya

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di tiga lokasi pengamatan di kawasan wisata kota Ternate selama kurang lebih 14 hari (140 jam pengamatan), ditemukan 21 jenis burung seperti Dicrurus bracteatus atrocaeruleus atau  Srigunting lencana,  Rhyticeros plicatus atau Julang Irian, Ptilinopus hyogaster Walik kepala kelabu,  Ducula basilica-basilica Pergam boke,  Alcedo pusilla Raja udang kecil,  Cacatua alba Kakatua putih,  Haliastur indus Elang bondol,  Oriolus phaechromus Kepudang Halmahera  (M, Halmahera),  Piezorhynchus alecto-alecto  Sikatan kilap,  Eos squamata Nuri kalung ungu,  Megapodius freycinet Gosong kelam,  Rhipidura leucophrys Kipasan kebun, Corvus validus Gagak Halmahera,   Hemiprocne mystacea Tepekong kumis, Halcyon chloris Cekakak sungai.

Untuk Kawasan yang banyak burung seperti Kawasan danau Tolire   karena di kawasan  ini ke arah barat masih dijumpai hutan primer dan sekunder. Begitupun di sebelah utara dari kawasan danau Ngade. Di kawasan tersebut, masih terdapat pepohonan besar seperti Canarium sp., Ficus sp., Shorea sp., dan lain-lain. Sementara lokasi di kawasan wisata Sulamadaha dan Tobololo sebagian besar telah diubah menjadi hutan sekunder, dan aktifitas masyarakat di sekitar lokasi sangat tinggi sehingga spesies burung yang ditemukan juga minim.  

Nuri Ternate yang sudah jarang terdengar kicaunya di pulau Ternate

Pendapat  beberapa ahli  seperti  Alikodra (1990) menyatakan bahwa keragaman kehidupan satwa liar di dalam hutan primer adalah tinggi. Jika hutan tersebut ditebangi dan menjadi hutan sekunder, biasanya akan terjadi penurunan keragaman jenis secara drastis. Begitu juga Sujatnika dkk (1995) sebagaimana dikutip dalam riset ini menyatakan  bahwa, semakin banyak jumlah jenis burung yang membentuk suatu komunitas, semakin tinggi keanekaragamannya.  Pendapat Hernowo (1989)  juga sama bahwa keragaman jenis tinggi bila banyak jenis berada di suatu komunitas tersebut, dan keragaman jenis rendah jika hanya satu atau beberapa jenis saja yang mendominasi komunitas tersebut.

Beberapa hasil penelitian sebelumnya disimpulkan bahwa populasi burung di pulau Ternate cenderung menurun dari tahun ke tahun. Sesuai hasil observasi, penurunan tersebut dimungkinkan karena beberapa jenis burung mengalami kematian karena faktor alam (gunung meletus, banjir lahar penyempitan wilayah pantai berlumpur karena reklamasi pantai sehingga area burung-burung migran mencari makan menjadi berkurang.   Widodo  yang melakukan riset di  Ternate pada 2011 menyimpulkan  penurunan tersebut disebabkan karena  dominasi tanaman cengkeh dan pala, aktivitas manusia cukup tinggi dalam perawatan maupun pemanenan sehingga kondisi tersebut tidak aman bagi burung. Struktur percabangan cengkeh dan pala bersifat homogen sehingga burung-burung yang memanfaatkannya sebagai habitat relatif terbatas; Di daerah tertentu gunung Gamalama kondisinya minus air sehingga membatasi kedatangan burung-burung air. Beberapa jenis burung juga bermigrasi ke daerah lain yang diversifikasi tumbuhan hutannya lebih besar sehingga lebih mendukung sebagai tempat bersarang ataupun mencari makan.

Hasil riset Soleman, sejak 2012 lalu menemukan penurunan keanekaragaman burung juga disebabkan karena penangkapan oleh masyarakat untuk dipelihara. Sebanyak 60,2% jenis burung ditemukan dipelihara masyarakat.  Sebanyak 2.792 ekor burung dari 32 spesies ditemukan dipelihara masyarakat dan diantaranya 927 ekor adalah Kasturi Ternate (Lorius garrulus). (*)  

Catatan:Publikasi hasil riset ini sudah melalui  izin  tim riset

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Serunya Kegiatan Halmahera Overland 4×4

    • calendar_month Sen, 18 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 509
    • 0Komentar

    Para peserta Hakmahera Overland 4×4 mengangkat batang kayu untuk membangin jembatan daruta agar bisa dilewati mobil yng mrtrks tumpngi, foto Dewahyudi

  • Pulau Kecil  Masalah Besar, “Dijual hingga Diperebutkan” 

    • calendar_month Jum, 11 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 1.151
    • 0Komentar

    Sebuah Catatan dari  Kisruh Pulau di  Maluku Utara The Jakarta Post  media berbahasa Inggris terbitan 9 Juli 2025,  menurunkan artikel berjudul Pulau  Kecil, Masalah Besar. Dalam artikel itu diungkap sejumlah persoalan yang dihadapi  pulau-pulau kecil saat ini. Salah satu yang diangkat adalah munculnya penjualan pulau-pulau kecil secara illegal,  di berbagai situs internasional. Bagi The Jakarta […]

  • Kelola Sampah untuk Kesejahteraan

    • calendar_month Sab, 18 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 616
    • 1Komentar

    Sampah di Pulau pulau yang belum dikelola jadi masalah cukup pelik foto M Ichi

  • Kanari Makeang Sasar Pasar Eropa

    • calendar_month Rab, 16 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 635
    • 0Komentar

    Ibu inu di ksmpung Samsuma Makeang Pulau sedang memecah tempurung kenari untuk diambil kacang kenari, foto M Ichi

  • JustCOP Kritik Second NDC Indonesia: Minim Partisipasi, Lemah Substansi dan Komitmen terhadap Krisis Iklim

    • calendar_month Sab, 25 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 459
    • 0Komentar

    Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup menggelar Konsultasi Second Nationally Determined Contribution (SNDC) Indonesia, pada Kamis, 23  Oktober 2025 di Jakarta. Acara yang digelar tersebut lebih layak disebut sebagai sosialisasi SNDC Indonesia ketimbang konsultasi sebab publik tidak mempunyai  kesempatan yang adil dan bermakna dalam penyusunan SNDC yang akan disetorkan  menjelang perhelatan Conference of the Parties (COP)30- […]

  • Wilayah Kelola Hutan Oleh KPH Bertambah

    • calendar_month Jum, 25 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 942
    • 1Komentar

    BPHP- KPH  Bahas Update  Peta Arahan HP-HL di Malut  Arahan pemanfaatan hutan produksi- hutan lindung mulai dibahas. Pembahasan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah XIV Ambon itu, dilaksanakan di hotel Muara Ternate, Kamis (24/3/2022). BPHP yang membawahi wilayah Maluku dan Maluku Utara membahasnya  dengan  gelar Focus Discussion Group […]

expand_less