Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Halua Kenari, Sumber Pendapatan Ibu-ibu Suma

Halua Kenari, Sumber Pendapatan Ibu-ibu Suma

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 29 Nov 2020
  • visibility 724

Cerita Tersisa  dari Ekspedisi Maluku di Pulau Makean

Pada 1 November 2020 lalu, kami berkesempatan mengunjungi kampung Suma di Makean Pulau Kabupaten Halmahera Selatan. Kunjungan ini dalam  agenda kegiatan Ekspedisi Maluku  yang menyinggahi beberapa pulau di Maluku Utara termasuk  di Pulau Makean.

Kehadiran kami  bertepatan dengan penyuluhan  dan pelayanan kesehatan sebagai bagian dari kegiatan Ekspedisi Maluku oleh Yayasan EcoNusa bekerja sama dengan Perkumpulan PakaTiva dan Walhi Maluku Utara. Ekspedisi menggunakan kapal Kurabesi Explorer ini singgah di Suma setelah sebelumnya dari Gane menyinggahi  Pulau Sali, dan Pulau Kayoa di Desa Pasir Putih.  Ekspedisi  yang membawa tim media dokter dan bantuan saran pertanian ini, selain melakukan pengabdian kepada masyarakat  di pulau-pulau   jarang tersentuh, juga ingin mencatat dan memublikasikan cerita-cerita baik dari kampong dan pulau.  Ingin  mencatat dan mengangkat beragam produk local ke permukaan sehingga lebih diketahui   publik.

Isi Buah kenari yang telah dipisakan dari tempurungnya, foto m ichi

Cerita tentang kenari dan halua dari Suma,  begitu   terasa ketika menginjakkan kaki ke kampong ini. Sebenarnya, desa ini sama seperti kampung lain di Pulau  yang memiliki dua  gunung, Kie Besi dan Solimongo itu.  Pulau vulkanis  berada dalam jalur ring of fire ini, hutan setiap kampungnya didominasi pohon kenari, selain pala dan cengkih. Kenari pala dan cengkih menjadi tanaman yang dikelola dan dikembangkan warga turun temurun   ratusan tahun lalu. Dibanding  pohon kelapa terbilang tanaman baru.  Di desa Suma misalnya pohon kelapa baru ditanam warga, 1999 lalu pasca konflik social yang  melanda negeri ini.

Hutan kenari mendominasi lahan di pulau ini maka   banyak orang  menjuluki Pulau Makean dengan Pulau Kenari. Kenari sebenarnya memiliki sejarah panjang.      “Kenari adalah tanaman yang diintroduksi dari luar   oleh Belanda,” ujar Irfan Ahmad sejarawan  Maluku Utara.

Ikon kenari begitu kuat. Siapa saja yang datang ke  Suma termasuk 15  kampung di Pulau ini, pasti menyaksikan dan menikmati beragam  cemilan  dari kenari.  

Dari pelabuhan saja sudah disuguhi  pemandangan beragam jualan cemilan buah kenari. Dari biji kenari muda mentah, hingga  dibuat dalam bentuk halua kenari  basah maupun yang kering.

Di kampng ini,  ketika ada kapal penumpang sandar baik dari Ternate atau sebaliknya dari Kayoa menuju Ternate,  singgah  menurunkan dan mengangkut   penumpang dan barang,  ibu-ibu dan anak-anak sibuk  dan berebut menawarkan pada penumpang berbagai cemilan  kenari ini.    

Setelah dipisah dari lapisan kulit, isi kenari ditaruh dalam wajan yang sebelumnya telah dipanskan gula hingga mencair.

Kesan kampong kenari terlihat di desa ini juga, sebelum masuk hutan. Di pelabuhan desa Suma, ada dua pohon kenari besar berdiri tepat di samping pelabuhan. Pohon kenari ini menjadi penanda.  Pasalnya  dari pesisir hingga ke daerah pegunungan semua dihiasi   pohon kenari ditupangsarikan dengan kelapa pala dan cengkih. Memang saat kami tiba di desa Suma, telah lewat masa panen kenari. Karena itu ketika didatangi beberapa kebun, hampir semua pohon kenari baru berbunga. “Proses kenari berbunga sampai matang dan siap dipanen itu  butuh waktu 6 bulan. Kalian datang ini masa panen telah lewat dan memasuki  masa berbunga  ,” jelas Usman Hi Hamadi pemilik kebun kenari yang juga tokoh masyarakat  setempat.   

Beruntung, tak jauh dari kampong Suma sekira 300 meter, di kebun Pak Usman  masih ada satu dua buah  kenari  tersisa saat panen lalu dan telah matang. Akhirnya  langsung dipanen pemilik kebun. Buah yang dipanen itu  jadi   contoh dan ditunjukan kepada para  tamu yang datang ke Suma dalam  agenda  Ekspedisi Maluku waktu itu. Para tamu ini ingin melihat dari dekat proses panen kenari hingga diolah  menjadi halua kenari.

Proses pelepasan lapisan kulit daging kenari

Setelah menyaksikan proses panen,  dilanjutkan memisahkan tempurung kenari dari  isinya dengan cara dipukul dengan batu.  Usai proses pemisahan dari tempurung  dilanjutkan dengan pelepasan lapisan  kulit.  Karena kenarinya baru dipanen,   pemisahan lapisan  kulit  dari isinya   juga  mudah.  Sementara untuk buah kenari yang telah dikeringkan jika dipisahkan dari lapisan isinya   butuh perendaman  dengan air panas.  “Jika kita rendam dalam air panas  maka kulit yang melapisi kenari   mudah terlepas,” kata  Nona K Badi  salah satu ibu yang mengolah kenari jadi halua.   Dari kenari yang diolah  bisa jadi dua jenis halua yakni  kering dan basah.  

Untuk halua basah setelah dipisahkan lapisan kulit dengan isi, langsung di masukan ke dalam gula aren  atau gula kristal yang telah dicairan. Kemudian dibolak  balik  sampai merata dan matang. Sementara untuk halua kering,  isi kenari yang telah disiapkan, digoreng terlebih dulu. Jika sudah matang dimasukan ke dalam gula yang telah dimasukan dalam wajan lalu dibolak balik seperti sangarai hingga  merata.   Untuk halua basa  jika sudah   merata kemudian diangkat dan dibentuk  memanjang di dalam daun pisang maupun dibungkus dalam plastic. “Kita di sini menggunakan plastic karena dia tahan lama saat dijual,” ujar Nona.  Sementara halua kering yang telah disangarai dengan gula  langsung dibungkus menggunakan plastic.

Produksi halua dari kampong ini tidak hanya dijual di  local atau kampong saja. Saat ini warga  Suma mulai merambah Ternate dengan  menjualnya dari rumah ke rumah hingga  berbagai tempat  yang banyak pengunjung. Misalnya pelabuhan dan bandara.

Buah kenari yang telah dilepas kulit tempurgnya

Diakui memang warga setempat sangat terpukul ketika munculnya virus Covid 19 karena  usaha mereka terhenti sama sekali. Pasalnya  ketika  tak ada transportasi yang masuk ke kampong mereka beberapa waktu lalu uang pun mereka tak dapatkan. “Sekarang seiring waktu aktivitas jual beli di atas pelabuhan telah ramai dengan aktifnya aktivitas transportasi laut  menyinggahi kampong ini.  Syukur Alhamdulillah. Sekarang sudah bergeliat lagi. Usaha kerajinan cemilan halua kembali hidup,” ujar Nona. Tiap hari dari jual kenari isi dan halua tiap ibu bisa mendapatkan Rp 100 ribu. Angka yang sangat berharga untuk ukuran hidup di kampung,” kata Usman lagi.   

Cerita tentang kenari sebenarnya tidak hanya urusan cemilan halua. Pohon kenari  adalah   identitas warga  di Pulau Makean maupun yang telah berdiaspora ke pulau lain di Maluku Utara.  Pulau yang memiliki luas 55,50 kilometer dari  pesisir sampai  mendekati kawasan puncak dihiasi kenari dari berusia muda sampai yang sudah ratusan tahun. “Hasil kenari  yang dijual bisa menyekolahkan  anak hingga naik haji,” kata Narjo warga Suma. (*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ekowisata Cengkeh Afo, Padukan Sejarah dan Alam

    • calendar_month Jum, 29 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 825
    • 0Komentar

    Memasuki kawasan ekowisata Cengkeh Afo/foto m ichi

  • Multiusaha Kehutanan, Konsep Berbasis Lanskap

    • calendar_month Jum, 17 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 612
    • 0Komentar

    Sungai dan hutan di Bokimoruru ii tidak bisa menjadi sarana wisata masyarakat Halmahera Tengah foto M Ichi

  • Warga “Usir” PT Priven Lestari dari Gunung Wato-wato Halmahera Timur?

    • calendar_month Sab, 9 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 673
    • 0Komentar

    Gunung Wato- wato,  yang menyerupai manusia di Halmahera Timur Maluku Utara saat ini menghadapi ancaman serius.  Ancaman itu karena adanya  rencana penambangan nikel oleh salah satu perusahaan  bernama PT PL. Aktivitas perusahaan yang belakangan memunculkan protes warga.    Protes   karena  rencana penambangan itu dikuatirkan berdampak buruk menghancurkan ruang hidup mereka.  Karena itu warga lalu bergabung […]

  • KKP Tetapkan Hiu Berjalan Dilindungi Penuh

    • calendar_month Kam, 23 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 549
    • 1Komentar

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan perlindungan populasi ikan hiu berjalan (hemyscillium spp) dengan status perlindungan penuh. Penetapan status tersebut bertujuan menjaga dan menjamin keberadaan,ketersediaan dan kesinambungan spesies tersebut yang cenderung mengalami penurunan populasi dalam beberapa tahun terakhir. Rilis resmi KKP pada Rabu (22/2/2023) menyempaikan bahwa Keputusan Menteri Keluatan dan Perikanan telah mengeluarkan keputusan nomor […]

  • Ini Optimisme Anak Muda Tentang Indonesia

    • calendar_month Jum, 12 Agu 2022
    • account_circle
    • visibility 571
    • 1Komentar

    Yakin Kebutuhan Dasar Terpenuhi, Sangat Prihatin Kondisi Politik dan Hukum Survei Optimisme 2022 yang digelar oleh GoodNews From Indonesia (GNFI) bekerjasama  dengan Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), dirilis  hasilnya  dan didiskusikan Rabu (10/8/2022) lalu. Peluncuran dan diskusi secara online itu memaparkan hasil   survei itu  yang menyimpulkan  ada optimisme  dan keprihatinan di kalangan […]

  • MDPI Urus Dokumen Kapal Nelayan Kecil Ternate

    • calendar_month Jum, 17 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 649
    • 2Komentar

    Proses pengukuran kapan nelayan di kelurahan Sangaji Kota Ternate, foto M Ichi

expand_less