Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Diskolorasi Perairan Hijau- Kekuningan yang Berbau dan Iritatif di Pesisir Obi: Tinjauan Ilmiah atas Dugaan Dampak Antropogenik dan Proses Oseanografis Alami

Diskolorasi Perairan Hijau- Kekuningan yang Berbau dan Iritatif di Pesisir Obi: Tinjauan Ilmiah atas Dugaan Dampak Antropogenik dan Proses Oseanografis Alami

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 15 jam yang lalu
  • visibility 20

Penulis:  Halikuddin Umasangaji

Dosen Fakultas Perikanan Universitas Khairun Ternate

Fenomena perubahan warna air laut menjadi hijau-kekuningan yang disertai bau dan menimbulkan iritasi kulit ketika kontak langsung merupakan gejala kompleks yang tidak dapat diatribusikan pada satu penyebab tunggal tanpa data lapangan.

Perairan pesisir Obi, Halmahera Selatan, menempati posisi yang secara ilmiah menarik sekaligus menantang untuk dianalisis: kawasan ini menjadi lokus industri ekstraktif nikel-baterai berskala masif sekaligus berada dalam sistem oseanografi Laut Maluku–Laut Halmahera yang dipengaruhi kuat oleh dinamika monsun. Tinjauan ini menimbang secara berimbang empat kerangka penjelas— buangan industri langsung, pemekaran alga berbahaya, penaikan massa air (upwelling), dan forsing angin—dengan menekankan bahwa keempatnya tidak bersifat saling meniadakan, serta menambahkan satu lapis forsing interanual berupa fenomena El Niño 2026–2027 yang memodulasi keempatnya.

Perlu ditegaskan bahwa penelusuran referensi ilmiah dan pemberitaan tidak menemukan dokumentasi spesifik atas peristiwa hijau-kekuningan yang berbau dan iritatif di Obi pada periode kali ini ; laporan pencemaran yang terdokumentasi umumnya mendeskripsikan air berwarna keruh kecoklatan hingga kemerahan. Dengan demikian, uraian berikut disusun sebagai diferensiasi mekanistik yang dapat diuji, bukan sebagai konfirmasi atas kejadian tertentu.

Karakterisasi gejala sebagai landasan diferensiasi

Kombinasi tiga gejala—warna hijau-kekuningan, bau, dan iritasi kulit—memiliki nilai diagnostik karena masing-masing kerangka penjelas memberikan mutu yang berbeda terhadap ketiganya. Warna hijau pada perairan pesisir pada umumnya bersumber dari klorofil fitoplankton yang menyerap spektrum merah dan biru serta memantulkan hijau.

Secara lebih spesifik, telah dikemukakan bahwa dominasi alga hijau-biru seperti Microcystis, Spirulina, Oscillatoria, dan Phormidium menghasilkan warna hijau tua dan mengindikasikan kandungan bahan organik tinggi seperti amonia dan hidrogen sulfida di perairan. Konfigurasi gejala yang menyertakan bau serta efek iritatif secara kolektif lebih dekat pada signature blooming fitoplankton atau sianobakteri dibandingkan pada sedimen laterit inert, yang secara khas menampakkan warna coklat-kemerahan tanpa efek dermatologis. Meskipun demikian, kesimpulan awal ini tidak serta-merta menyingkirkan jalur antropogenik langsung, sebagaimana diuraikan berikut ini.

Dugaan dampak pertambangan dan industri

Konteks industrial kawasan Obi memberikan dasar yang kuat bagi hipotesis antropogenik. Pulau ini menjadi pusat pemrosesan nikel oleh Harita Group yang mengoperasikan fasilitas peleburan dan pelindian asam bertekanan tinggi (High-Pressure Acid Leach, HPAL). Rekam jejak pencemaran telah terdokumentasi melalui riset yang menyimpulkan bahwa status kualitas air di kawasan Teluk Weda dan Pulau Obi terindikasi mengalami pencemaran, dengan tingkat pencemaran yang telah terakumulasi hingga ke biota laut seperti kima dan ikan.

Referensi yang dirujuk pelaporan lokal turut menyebutkan bahwa limbah industri nikel mengandung logam berat termasuk kromium heksavalen yang berpotensi membahayakan ekosistem laut, dan pantai selatan Obi telah mengalami fenomena yang diistilahkan sebagai “laut merah” akibat lindi limbah tambang.

Dua kualifikasi penting perlu dicermati sebelum hipotesis ini diberi peran dominan.

Pertama, diskolorasi yang paling lazim dikaitkan dengan aktivitas tambang berwarna coklat-kekuningan hingga kemerahan dan pada umumnya menyusul peristiwa hujan atau banjir, sebagaimana teramati di Pulau Garaga yang berdekatan dengan Obi, di mana perairan berubah menjadi kuning kecoklatan yang diduga terkontaminasi kerukan tambang setelah terjadi banjir di kawasan tersebut. Skenario tersebut kurang selaras dengan gejala hijau-kekuningan yang muncul dalam kondisi tanpa hujan.

Kedua, keterbatasan tersebut hanya berlaku bagi jalur mobilisasi sedimen oleh limpasan permukaan; buangan titik langsung tidak memerlukan hujan sebagai pemicu. Secara kimiawi, efluen HPAL pascanetralisasi masih dapat mengandung sulfat, ion Ni²⁺, kobalt, mangan, besi, serta kromium. Warna hijau-kekuningan menjadi masuk akal secara stoikiometrik mengingat garam Ni²⁺ berwarna hijau sementara spesi kromat Cr(VI) berwarna kuning, sehingga campuran keduanya dapat menghasilkan rona hijau-kekuningan; pH rendah dan logam terlarut menjelaskan efek iritasi kulit, dan kehadiran sulfida atau materi organik terdekomposisi menjelaskan bau. Oleh karena itu, buangan proses atau tailing secara langsung, maupun tumpahan insidental, dapat memenuhi ketiga gejala tanpa keterlibatan hujan, sehingga kerangka ini tidak dapat dieliminasi.

Blooming alga sebagai penjelasan alami

Triad gejala yang teramati justru paling logis dijelaskan melalui mekanisme blooming alga. Analog dari perairan tropis lain menunjukkan bahwa perubahan suhu dan pola arus yang tidak menentu memengaruhi pergerakan massa air sehingga memicu pemekaran alga hijau di permukaan perairan bertipe tropis. Gejala iritasi kulit memiliki penjelasan biologis yang spesifik: sianobakteri berfilamen Lyngbya majuscula dan Moorea producens memproduksi lyngbyatoksin A serta debromoaplysiatoksin yang dikenal sebagai penyebab dermatitis kontak akibat alga. Telah dilaporkan bahwa dermatitis Lyngbya merupakan dermatitis kontak iritan yang muncul dalam hitungan menit hingga jam setelah paparan, diawali rasa gatal atau terbakar dan berkembang menjadi erupsi melepuh.

Kondisi lingkungan pemicunya selaras dengan situasi kawasan tropis pada musim kemarau, sebab L. majuscula tumbuh optimal pada air hangat dengan pancaran sinar matahari maksimal, dan risiko paparan tertinggi terjadi pada periode satu hingga dua bulan setelah titik balik matahari. Skala kejadian dermatologis semacam ini tidak dapat diabaikan, mengingat dari 458 kasus penyakit terkait pemekaran alga berbahaya, sekitar 19 persen melaporkan ruam kulit, dan toksin dermal seperti lyngbyatoksin, debromoaplysiatoksin, serta brevetoksin diketahui terkait dengan dermatitis kontak iritan.

Aspek bau turut konsisten dengan dinamika blooming, baik melalui produksi geosmin dan 2-metilisoborneol pada fase aktif maupun pelepasan hidrogen sulfida dan dimetil sulfida pada fase senesens serta kondisi anoksik. Yang perlu digarisbawahi, jalur pasokan nutrien bagi pemekaran tidak mensyaratkan hujan, melainkan dapat bersumber dari penaikan massa air maupun pengkayaan antropogenik.

Keterkaitan antara kerangka industrial dan kerangka biologis menjadi eksplisit pada temuan bahwa limpasan yang kaya fosfor, besi, dan karbon organik menstimulasi pertumbuhan L. majuscula serta meningkatkan intensitas pemekaran. Implikasinya, beban besi, fosfor, dan bahan organik dari aktivitas tambang serta permukiman dapat berperan sebagai pemicu sekunder pemekaran, sehingga dikotomi tegas antara “alami” dan “akibat tambang” menjadi kurang tepat secara ilmiah.

Peran penaikan massa air

Waktu kejadian memperkuat relevansi mekanisme upwelling. Awal Agustus bertepatan dengan puncak Musim Timur yang digerakkan monsun tenggara. Referensi oseanografi regional menunjukkan konsistensi yang tinggi, di mana puncak upwelling di Laut Banda terjadi pada bulan Agustus akibat kuatnya tiupan angin monsun tenggara, yang membawa massa air lebih dingin ke permukaan di sekitar perairan Seram bagian timur. Hal ini diperkuat temuan bahwa indikasi upwelling paling kuat terjadi pada monsun timur dengan penanda suhu permukaan laut yang lebih rendah serta peningkatan konsentrasi klorofil-a.

Secara fungsional, penaikan massa air membawa air yang bersuhu rendah, bersalinitas tinggi, berkandungan oksigen terlarut rendah, dan kaya zat hara ke permukaan sebagai mekanisme pemupukan alami perairan. Pola musimannya tercermin pada dinamika klorofil, di mana konsentrasi klorofil-a maksimum ditemukan pada musim timur dengan nilai sekitar 0,70 mg/m³ dan terendah pada musim barat sekitar 0,10 mg/m³. Untuk konteks lokal yang lebih dekat, tercatat bahwa kecepatan arus permukaan rata-rata musiman tertinggi terjadi pada musim timur dan teramati di Laut Halmahera serta Laut Arafura.

Signifikansi upwelling terletak pada perannya sebagai jembatan mekanistik yang menjelaskan bagaimana blooming dapat terjadi justru pada kondisi tanpa hujan, sebab nutrien dipasok dari lapisan bawah dan bukan dari daratan. Sebuah kualifikasi geografis tetap diperlukan: Obi berada pada zona transisi Laut Maluku–Laut Halmahera di sebelah utara inti sel upwelling Laut Banda, sehingga sinyal upwelling lokalnya bersifat terpola-tampal dan dikendalikan topografi dasar laut. Konfirmasi atas hipotesis ini menuntut verifikasi citra suhu permukaan laut dan klorofil pada skala lokal, bukan ekstrapolasi langsung dari dinamika Laut Banda.

Forsing angin pada periode sebelumnya

Kondisi angin pada pekan-pekan sebelumnya dapat dipastikan intens. Sepanjang Juli 2026, otoritas meteorologi berulang kali mengeluarkan peringatan dini angin kencang dan gelombang tinggi di perairan Maluku Utara termasuk kawasan Obi. Pola anginnya bercorak monsun tenggara, dengan catatan bahwa kecepatan angin berkisar 10 hingga 45 km/jam dari arah tenggara ke barat dengan tinggi gelombang 0,5 hingga 2,0 meter. Intensitas tersebut meningkat menjelang akhir bulan akibat gangguan siklonik, ketika Siklon Tropis NOUL memicu peningkatan angin permukaan lebih dari 25 knot di Laut Banda, Laut Maluku, dan Laut Arafura serta gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter.

Implikasi forsing angin bersifat ganda dan menjadi krusial dalam analisis. Angin tenggara yang berkelanjutan merupakan penggerak transpor Ekman yang mendorong upwelling di kawasan ini, sekaligus mampu meresuspensi sedimen dan deposit tailing di dasar perairan. Dengan demikian, remobilisasi endapan mineral tambang dapat meniru pola “peristiwa limpasan” tanpa keterlibatan hujan sama sekali.

Keberadaan angin kencang, oleh karenanya, memperkuat kedua sisi argumen secara simultan: mendukung jalur alami melalui pemicuan upwelling dan pemekaran, sekaligus mendukung jalur antropogenik melalui resuspensi endapan terkontaminasi.

Modulasi interanual: fenomena El Niño 2026–2027

Di atas forsing musiman berupa upwelling dan angin, beroperasi pula satu lapis forsing pada skala interanual, yakni El Niño–Osilasi Selatan (ENSO), yang keberadaannya pada periode tinjauan tidak dapat diabaikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi bahwa fenomena El Niño aktif sejak pertengahan 2026 dan bertahan hingga kuartal pertama 2027, dengan indeks Niño3.4 pada akhir Juni 2026 telah melampaui ambang kategori kuat dan puncak intensitas diperkirakan berlangsung sekitar Desember 2026 hingga Januari 2027; BMKG turut memprediksi kemungkinan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada periode September–Desember 2026, sehingga konfigurasi tahun ini berkarakter El Niño yang berpasangan dengan IOD positif. Konfigurasi berpasangan semacam ini memiliki nilai diagnostik tersendiri, sebab justru berulang pada dua peristiwa historis yang terdokumentasi baik secara oseanografis, yakni El Niño 1997/1998 dan El Niño 2015.

Pertanyaan pokoknya—apakah El Niño memicu upwelling di perairan timur Indonesia sehingga menyebabkan blooming fitoplankton—tidak dapat dijawab dengan afirmasi tunggal, melainkan menuntut pembedaan mekanistik. El Niño tidak membangkitkan upwelling secara langsung; yang terjadi adalah modulasi terhadap upwelling monsunal yang telah eksis pada Musim Timur. Mekanisme penguatnya bersifat ganda. Pertama, melalui Arus Lintas Indonesia: pada fase El Niño, ITF mengalirkan massa air Pasifik yang lebih dingin sehingga mendangkalkan termoklin, dengan konsekuensi bahwa tegangan angin yang sama mampu menaikkan air kaya hara secara lebih efektif ke permukaan. Kedua, melalui anomali angin timuran yang memperkuat transpor Ekman lepas pantai. Konsekuensi terukurnya telah dilaporkan: pada El Niño 1997/1998 yang bertepatan dengan IOD, upwelling Musim Timur mengalami intensifikasi sehingga konsentrasi klorofil-a meningkat di Laut Banda serta sepanjang pesisir selatan Sumatra–Jawa–Nusa Tenggara, dan zona upwelling Jawa–Sumatra meluas baik secara temporal (memanjang hingga November) maupun spasial (bergeser mendekati ekuator).

Untuk konteks lokal yang lebih dekat dengan Obi, temuan atas Laut Halmahera bersifat langsung relevan. Pada El Niño 2015 yang berbarengan dengan IOD positif, teramati anomali klorofil-a positif hingga sekitar 0,5 mg/m³ dan anomali suhu permukaan laut negatif hingga −1,5 °C, disertai anomali tegangan angin dan transpor massa Ekman yang positif—sebuah signature upwelling yang diperkuat. Mengingat konfigurasi 2026 (El Niño kuat berpasangan IOD positif) menyerupai 2015, terdapat dasar empiris untuk menimbang El Niño sebagai forsing tambahan yang berpotensi mengamplifikasi jalur upwelling-pemekaran yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, bukan sebagai kerangka yang menggantikannya.

Tiga kualifikasi tetap harus dikedepankan agar penimbangan ini tidak berlebihan. Pertama, efek ENSO tidak monotonik terhadap seluruh perairan. Pada kawasan pesisir yang produktivitasnya dikendalikan limpasan sungai, kombinasi IOD positif dan El Niño justru menurunkan klorofil-a paling nyata, sebab kemarau menekan pasokan hara dari daratan; peningkatan klorofil oleh El Niño terutama berlaku bagi jalur upwelling di perairan lepas, bukan jalur limpasan. Kedua, dalam banyak kajian regional, IOD berpengaruh lebih kuat daripada ENSO terhadap intensitas upwelling pada zona selatan Indonesia sepanjang Juni–Oktober, sementara pengaruh ENSO relatif lebih menonjol di Laut Banda; posisi Obi pada zona transisi Laut Maluku–Laut Halmahera menempatkannya pada gerbang masuk ITF di sisi Pasifik, sehingga sinyalnya dikendalikan bersama oleh dinamika ITF, pusaran Halmahera, dan topografi dasar laut, dan tidak dapat diekstrapolasi begitu saja dari inti sel upwelling Laut Banda.

Kualifikasi ketiga bersifat temporal dan justru krusial bagi kasus awal Agustus. Efek penguat El Niño bekerja melalui upwelling Musim Timur, sehingga jendela amplifikasi pemekaran adalah periode Juni–Oktober—selaras dengan waktu kejadian yang ditinjau—dan bahkan berpeluang diperpanjang hingga November. Sebaliknya, puncak El Niño 2026 yang diprediksi Desember 2026–Januari 2027 bertepatan dengan Musim Barat, ketika angin baratan menimbulkan downwelling dan respons biologis yang lemah. Implikasinya, keberadaan El Niño tidak berarti perairan akan menampakkan klorofil tinggi sepanjang tahun; forsing interanual ini memodulasi, bukan meniadakan, siklus musiman. Awal Agustus 2026 menempati fase El Niño yang sedang menguat pada puncak Musim Timur, yakni kombinasi waktu yang paling kondusif bagi penguatan upwelling dan pemekaran, sementara jendela ini diperkirakan menyempit seiring pembalikan monsun menjelang akhir tahun.

Terakhir, dimensi El Niño mempertajam penalaran atas jalur antropogenik. Karena El Niño menekan curah hujan, tahun ini menyiratkan limpasan permukaan yang lebih sedikit, sehingga jalur mobilisasi sedimen laterit oleh banjir—mekanisme di balik fenomena “laut merah” yang khas menyusul hujan—menjadi kurang mungkin sebagai penjelas diskolorasi tanpa hujan. Dengan demikian, pada latar El Niño, diskolorasi yang muncul dalam kondisi kering justru lebih terarah pada tiga kemungkinan: pemekaran yang dipicu upwelling termodulasi, buangan titik langsung dari proses HPAL, atau resuspensi endapan tailing oleh angin—dan bukan pada limpasan daratan.

Sintesis

Konvergensi antara kondisi tanpa hujan, puncak musim upwelling, forsing angin tenggara yang berkelanjutan, latar El Niño yang sedang menguat, serta triad gejala hijau-kekuningan-berbau-iritatif mengarahkan bobot pada pemekaran fitoplankton atau sianobakteri yang dipicu oleh upwelling dan angin serta berpeluang diamplifikasi oleh modulasi interanual, dengan kemungkinan penguatan lebih lanjut oleh beban nutrien serta logam antropogenik. Gejala iritasi kulit secara khusus paling praktis dijelaskan melalui dermatitis sianobakterial dan bukan melalui sedimen inert.

Sekalipun demikian, buangan proses atau tailing HPAL secara langsung maupun resuspensi endapan tailing oleh angin tetap merupakan kemungkinan yang tidak dapat disingkirkan tanpa data lapangan, terlebih mengingat rekam jejak pencemaran kronis kawasan tersebut. Posisi yang paling dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah bukanlah pemilihan atas satu kerangka tunggal, melainkan penerimaan atas model terkopel, yakni forsing fisik alami berupa upwelling dan angin—yang pada tahun ini beroperasi di bawah modulasi El Niño—pada sistem perairan yang telah mengalami eutrofikasi dan kontaminasi antropogenik. (*)

Tubalawony, Hukubun, dan Kalay (2024) variasi musiman termoklin Laut Banda; Tristianto dan kolega (2021) variabilitas upwelling Laut Banda dalam Indonesian Journal of Oceanography; Gordon dan kolega (1999) sirkulasi Arus Lintas Indonesia; Werner dan kolega (2012) dermatitis Lyngbya; Cardellina, Marner, dan Moore (1979) mengenai struktur lyngbyatoksin A dalam Science; Taylor dan kolega (2014) alkaloid toksik Lyngbya majuscula dalam Harmful Algae; Susanto dan kolega (2006) variabilitas warna laut Perairan Indonesia era SeaWiFS serta intensifikasi upwelling Musim Timur oleh El Niño 1997/1998; kajian variabilitas spasio-temporal klorofil-a Laut Halmahera dalam kaitannya dengan ENSO dan IOD yang mencatat anomali klorofil positif pada El Niño 2015; riset variabilitas upwelling Indonesia selatan yang menimbang peran relatif ENSO dan IOD; prediksi iklim BMKG (2026) mengenai perkembangan El Niño 2026–2027 dan IOD positif.

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less