Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Cerita Warga Ibukota Malut Berjuang Dapatkan Air Bersih

Cerita Warga Ibukota Malut Berjuang Dapatkan Air Bersih

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 4 Jan 2022
  • visibility 617

Dulu Jalan Kaki Berkilometer, Sekarang Air Masuk Dapur

Oleh: Abdul Gafur Suneth

Faskel Sosial Program KOTAKU Kota Tidore Kepulauan

Air menjadi sumber kehidupan manusia. Keberadaanya tidak bisa dipisahkan dari  aktivitas keseharian.  Hamper seluruh aspek kehidupan  selalu  berhubungan dengan air.  Air memang  begitu urgen bagi kehidupan. Sayang  tidak semua warga bisa mendapatkan air itu dengan mudah. Ada warga di sebagian wilayah atau tempat memperolehnya dengan susah payah. Mereka harus menempuh jarak berkilometer dengan medan sulit untuk mendapati satu atau dua gallon air.  

Acap kali  air yang layak menjadi topic pembicaraan berbagai kalangan. Pasalnya akibat kesulitan mendapatkan air bersih hidup juga menjadi  terganggu bahkan mempengaruhi aktivitas manusia.   

Saat ini banyak mucul persoalan   air bersih di  masyarakat. Selain sumber air yang sulit, ancaman tercemar juga banyak. Hal ini bisa saja disebabkan ulah manusia atau pun bencana alam. Dampaknya kemudian memunculkan krisis air di masyarakat.  

Hal yang sama juga  terjadi di Desa Gosale  Kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara.  Desa   di bawah bukit Gosale tak jauh dari kawasan pusat pemerintahan Ibukota Sofifi Provinsi Maluku Utara di Pulau Halmahera itu, mengalami persoalan dengan  penyediaan air bersih bagi warganya. Desa ini menghadapi persoalan  ketersediaan air bersih selama ini hanya diharapkan dari sumur warga. Bahkan sebagian   menggunakan air sungai  yang dipikul  menggunakan gallon dengan jarak  tempuh lumayan jauh.  Masalah ini nampaknya  ada sejak mereka dipindahkan dari puncak Gosele  awal 2000 an lalu.

Beruntung desa  ini mendapatkan Program Kota Tanpa Kumuh ( KOTAKU). Dari program ini Desa Gosale mendapatkan  bantuan dana   bagi masyarakat  yang dikenal dengan  Bantuan Pendanaan untuk Masyarakat  (BPM).   Dari anggaran yang ada masyarakat lalu bersepakat menyelesaikan permaslahan yang ada. Selanjutnya dilakukan perencanaan partisipatif terutama Rencana Penataan Lingkungan Permukiman. 

Melalui musyawarah, akhirnya ditetapkan skala prioritas kegiatan melalui  Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) yang dibentuk di desa. Melalui lembaga ini bersama masyarakat bersepakat membangun sarana air bersih. Sarana itu  berupa Pengelolaan Air Sederhana (IPAS) melalui bak pembagi beserta pipanisasi sampai ke rumah warga. Memang awalnya untuk menghadirkan Pengeloaan Air Sederhana (PAS) ini menghadapi masalah. Sumber airnya berada jauh kurang lebih 2 kilometer dari desa  dan berada  di atas  gunung  serta di tengah hutan. Meski  kesulitan  akses dan jauhnya  sumber air,  demi menjawab kebutuhan air yang menjadi  salah satu sumber  kumuh   maka  tetap diusahakan hingga sumber air itu bisa dijangkau dan dialirkan.

Melalui usaha dan sumber pendanaan yang ada   dibangunlah  dua  bak penampung yang sangat besar hingga mampu menampung  dan mencukupi kebutuhan air warga. Anggaran yang di manfaatkan  untuk pembangunan tersebut sebesar  Rp 250,460  juta dan swadaya dari warga senilai Rp18,587 juta. Dari  penggunaan anggaran tersebut dibangunlah bangunan pendukung, pengelolaan air berbasis penyehatan sehingga   masyarakat  sudah  bisa menikmati air bersih hingga hari ini. Padahal sebelum adanya progam ini, warga setiap saat berbondong-bondong ke kali mengambil air. Kini kondisinya berubah air sudah bisa masuk sampai ke dapur warga.

Dikki Bedu salah satu warga yang juga rumahnya sudah teraliri air bersih  berujar,    program Kota Tanpa Kumuh di Desa Gosale setidaknya  telah membantu  6775 jiwa atau 165 KK warga Gosale  memenuhi kebutuhan akan air  bersih  sebagai  kebutuhan pokok. Dikki yang rumhanya berada tak jauh dari bak penampung air bersih itu mengatakan,  prasarana pengelolaan air bersih berbasis masyarakat ini, setidaknya sudah bisa dimanfaatkan  warga. Kebutuhan air sudah terpenuhi dan mereka bisa menikmati  air bersih.  Ini bagian dari  upaya  menuntaskan  persoalan kekemuhan desa  dari  aspek air bersih.  “Saat ini masyarakat bisa mengkonsumsi air kurang lebih  60 liter per hari untuk satu kepala keluaraga/kk.”jelasnya. 

Keberhasilan ini juga katanya, bukan  usaha satu pihak. Apa yang ada saat ini adalah upaya dan dukungan bersama serta adanya kolaborasi.  Pembangunan sarana air bersih   dalam   program KOTAKU  ini juga karena ada kerjasama dengan pemerintah  sehingga bisa menambah  sarana  maupun akses pipanisasi dengan sumber air yang  berada  jauh  dengan debit air  yang lebih besar. Hal ini memberikan kepuasan yang cukup.  “Ini semua karena ada kolaborasi antara program KOTAKU  dan Pemerintah Desa, serta Pemerintah Kota Tidore Kepulauan,” katanya di Desa Gosale (18/9/2021) lalu. (*) 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Cara Mendorong Warga Memetakkan Wilayah Adatnya

    • calendar_month Kam, 26 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 580
    • 0Komentar

    AMAN- Burung Indonesia dan CEPF Latih Masyarakat Adat Warga terutama kelompok masyarakat adat perlu didorong melakukan pemetaan wilayah kelolanya, termasuk  agar mereka bisa mengetahu klaim wilayah adatnya. Upaya ini memerlukan pelatihan atau training  pemetaan wilayah kelola mereka,    Dengan pemetaan itu juga masyarakat adat  bisa melakukan  proses penyatuan, mencatat dan mengesahkan pengetahuan tradisional yang  sudah tumbuh dalam […]

  • DOB Pulau Obi Harus Digaungkan Lagi

    • calendar_month Rab, 8 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 934
    • 0Komentar

    Pulau Obi atau bisa disebut juga Pulau Obira menjadi perhatian berbagai kalangan. Merupakan pulau terbesar yang terletak di gugusan Kepulauan Obi, dikelilingi banyak pulau- pulau kecil di antaranya Pulau Obilatu, Pulau Bisa, Pulau Gata-gata, Pulau Latu, Pulau Woka, dan Pulau Tomini. Data Halmahera Selatan Dalam Angka 2018  menunjukan luas Obi mencapai 1.073,15 km², dengan jumlah penduduk mencapai 2020 berjumlah 16.628 jiwa. Pulau Obi […]

  • CONSERVE, Kegiatan Pengarusutamaan Kehati Lintas Sektor

    • calendar_month Ming, 26 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 609
    • 0Komentar

    Kakatua Putih salah satu jenis burung yang dilindungi di Maluku Utara foto M Ichi

  • Kanari Makeang Sasar Pasar Eropa

    • calendar_month Rab, 16 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 765
    • 0Komentar

    Ibu inu di ksmpung Samsuma Makeang Pulau sedang memecah tempurung kenari untuk diambil kacang kenari, foto M Ichi

  • BMKG: Awas Banjir dan Angin Kencang Mengintai

    • calendar_month Ming, 29 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 587
    • 0Komentar

    Badan Meteorlogi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi (Stamet) Ternate mengingatkan warga di Provinsi Maluku Utara untuk mewaspadai perkembangan La Nina dengan   terjadinya hujan deras dan angin kencang beberapa hari ini. Kepala Seksi Data dan Informasi (Kasdatin) Stamet Ternate Setyawan  menjelaskan,  sejak Kamis (26/11) lalu Stamet Ternate telah mengingatkan adanya perkembangan cuaca yang terjadi akibat dampak […]

  • Kelas Estuaria: Bangun Kesadaran Anak Muda Pahami Isu Lingkungan

    Kelas Estuaria: Bangun Kesadaran Anak Muda Pahami Isu Lingkungan

    • calendar_month Sen, 24 Agu 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Belajar Ragam Isu, Menulis dan Kampanye hingga Bersih Pantai dan Tanam Pohon 10 anak muda duduk bersila di sebuah rumah panggung di kawasan perkemahan Pulau Tareba Danau Tolire Kota Ternate Barat 20 hingga 23 Agustus 2026 kemarin. Rumah panggung  itu  berada tepat di  punggung danau Tolire. Musim kemarau yang kering diikuti tiupan angin kencang dari […]

expand_less