Breaking News
light_mode
Beranda » Ragam » Kampung di Tengah Kaldera, Talaga di Tidore dan Aogashima di Jepang  

Kampung di Tengah Kaldera, Talaga di Tidore dan Aogashima di Jepang  

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 14 Nov 2024
  • visibility 1.314

Mengagumkan jika terdapat kampung atau pemukiman di tengah kaldera gunung berapi.  Baik  yang masih aktif maupun  yang sudah tidak lagi.  Benar saja ternyata kampung di tegah kaldera itu ada.

Di Pulau Tidore Maluku Utara ada kampung bernama Talaga,  berada di tengah kaldera gunung api yang tidak aktif lagi. Sementara  di Negeri Sakura Jepang, terdapat  di tengah gunung berapi aktif, bernama  Aogashima di Pulau Aogashima. Baik Indonesia maupun  Jepang merupakan negara yang berada di kawasan cincin api Pasifik sehingga banyak gunung berapi aktif.

Lalu apa  yang membuat  mereka  bertahan turun temurun bertahan di situ?  Di Talaga misalnya warga beralasan karena memiliki kebun  cengkih dan pala  yang dinikmati turun temurun menjalani kehidupan.

“Orang tua kami, sampai anak-anaknya yang sudah berkeluarga memilih  bertahan hidup di kampung ini  karena  ada lahan pertanian  untuk berkebun menanam pala dan cengkih serta sayur mayur  untuk dijual ke Kota Tidore. Kalau kami turun (Tidore,red)  jangankan lahan kebun,  kapling rumah saja sulit kami  punyai,” kata Madjid Abdullah, Ketua RT Talaga. Itu alasan umum warga Lingkungan Talaga Tidore Timur yang berkampung dalam Kaldera Gunung Kie Matubu  Tidore Kepulauan Maluku Utara.

Kampung ini terisolir,  bahkan, nyaris ditutup  pemerintah  Halmahera Tengah,  sebelum pemekaran 2000 lalu. Meski  ada ancaman  ditutup,  warga bergeming. Mereka bertahan di tengah kesulitan itu. Bagi mereka, pilihan paling bahagia berada di tempat yang jauh dari  kebisingan dan hiruk pikuk kota.

Sesuai namanya, kampung mungil ini terletak dalam cerukan raksasa dan berdekatan dengan sebuah telaga. Selama bertahun-tahun, Talaga jadi salah satu daerah penghasil utama pala dan cengkih serta  pemasok  sayur-mayur di Tidore.

Kampung Talaga memiliki sejarah cukup panjang. Warga yang mendiami  kampung ini sebenarnya gabungan dari dua desa yang ditempatkan kesultanan ke Puncak  Gunung Kie Matubu.

Untuk menjangkau Talaga, harus menjadi “pendaki.” Akses jalan  masuk sampai Talaga cukup sulit.  Naik dari Kelurahan Maftutu. Jalanan  mendaki itu, sudah dibuka tujuh tahun lalu  hanya belum beraspal hingga kini. Kondisi rusak  karena terkikis air maupun longsor. Tersisa seperti jalan  setapak yang setiap hari dilalui warga.

Untuk sampai ke Talaga,  ada dua jalan. Melalui rute Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore Utara, atau melalui Mafututu, Kecamatan Tidore Timur. Lewat rute Rum, jarak harus ditempuh sekitar tujuh kilometer, melalui jalan kebun  penuh batuan. Kalau lewat Mafututu, hanya 3,5 kilometer.  Kala itu saya memilih jalur Mafututu.

Meski hanya 3,5 kilometer, pendakian memakan waktu nyaris dua jam. Jalan dengan tanah terjal menanjak-menurun, amat merepotkan pendaki amatir seperti saya. Beruntung, semilir angin sepanjang perjalanan sangat membantu. selama mendaki. Pemandangan pulau-pulau di sekitar Tidore juga terlihat menawan. Dari kejauhan, Ternate, Halmahera, Maitara, dan Hiri seakan berada di bawah saya.
Begitu tiba di tepi kaldera, perjalanan masih harus dilanjutkan menuju Kampung Talaga. Kaldera Talaga sudah lama mengering, menyisakan lahan nan subur. Sumber air di dalam cerukan raksasa itu adalah sebuah rawa yang dipenuhi tanaman sagu.

Tebing- tebing kaldera penuh kebun warga berisi  pala, pinang, hingga sayur-mayur. Meski kebun-kebun itu terletak pada kontur bumi amat terjal, warga tampaknya begitu terbiasa. Kampung begitu sepi, karena sebagian besar penduduk di kebun. Talaga hanya berpenduduk 32 keluarga dengan jiwa berkisar 160 orang. Secara administratif, Talaga, masuk dalam RT/RW 10/03 Kelurahan Rum. ”Banyak warga kami sudah turun kampung. Sebagian masih punya kebun di sini, tapi tidak tinggal di sini lagi,” kata Madjid. Turun kampung berarti meninggalkan Talaga dan berpindah ke kampung lain di pesisir Tidore. Fenomena ini, katanya, marak terjadi pada 1980-an. Kala itu, pemerintah menutup satu-satunya sekolah dasar yang ada.  Padahal dulu warga di sini mencapai 1.000 orang.

Penutupan sekolah membuat sebagian besar warga memilih pergi. Bukan tanpa alasan pula pemerintah menutup sekolah. Menurut cerita, kala itu ada gerakan terstruktur dan masif merelokasi warga Talaga. ”Tapi orangtua kami tetap bertahan hingga kini, kami yang meneruskan,” kata suami Sarifa Salama itu. Upaya penutupan membuat Talaga yang dulu ada dua kampong—Kampung Talaga Gamtufkange dan Talaga Mareku— kehilangan penduduk. Saat ini, hanya Talaga Mareku yang tersisa. ”Orang-orang Talaga Gamtufkange turun ke Lobi, Dowora,”

Mengapa Madjid dan penduduk lain memilih bertahan? Menurut ayah lima anak itu, pemerintah pernah “merayu” mereka pindah dengan iming-iming rumah. Madjid cs menolak lantaran Kaldera Talaga dipandang menyediakan lahan amat subur untuk berkebun.

Tak berlebihan jika lahan menjadi alasan bertahan. Tanah di kaldera amat subur. Tanaman tahunan semacam durian, pala, cengkih, pinang, kayu manis, dan sagu tumbuh subur di sana. Begitu pula sayur-mayur seperti tomat, cabai, pakis, dan sayur lilin. Talaga juga gudang sayur lilin (Setaria palmifolia). Para petani Talaga amat senang bertanam sayur ini, karena harga tergolong mahal di pasaran. Di rawa kaldera, hutan sagu masih terjaga subur. ”Sekarang sudah jarang bahalo (memangkur,red) sagu. Karena sudah ada beras,” kata Madjid terkekeh.

Belasan tahun lalu warga masih intens memangkur sagu sebagai makanan pokok. Beras, dianggap begitu mewah lantaran medan untuk membeli sangat berat, hanya dikonsumsi tiap Jumat.  Seiring akses jalan, meski kondisi masih memprihatinkan, terjadi pergeseran pangan. ”Kini makanan pokok utama kami beras. Tiap hari makan nasi,” katanya.

Dari  hasil bumi inilah warga Talaga menyekolahkan anak-anak mereka. Sebagian eks warga Talaga yang turun gunung juga masih memiliki kebun dalam kaldera. Pada musim panen, mereka kembali ke Talaga untuk memetik hasil. Pada waktu-waktu itu, kampung ramai. ”Mereka (eks warga,red) rata-rata rumah di Rum. Kalau musim panen, bangun rumah kebun di ujung kampung untuk tinggal sementara,” katanya.

Talaga kini telah memiliki SD dan pusat kesehatan. Aliran listrik sudah sampai ke situ sejak beberapa tahun lalu. Rumah-rumah warga rata-rata dari batubata. Untuk membangun rumah perlu perjuangan berat. ”Angkat semen dari bawah (Mafututu,red) berat. Satu sak semen biasa kami curah lalu diangkat empat perempuan, atau tiga laki-laki,” kata Wahab Ibrahim, warga Talaga.

Dalam pengelolaan lahan  atau kebun,  warga Talaga punya lahan berdasarkan   warisan maupun kebun yang baru dibuka. Ada lahan kebun pala,   cengkih    maupun kebun bamboo, tanaman lain ikut menghiasi durian,  kayu  manis,  pinang   dan berbagai jenis tanaman lain.

Selain kebun  perorangan, di kampung ini juga ada lahan milik bersama dikenal dengan kebun kampung. Kebun ini dua hektar ditanami pala dan cengkih. ”Lahan kebun milik bersama ini tanaman utama cengkih dan pala.”

Hasil kebun untuk pembangunan desa setempat. Ada beberapa infrastruktur desa ini,  dibangun pakai uang hasil panen cengkih dan pala dari  kebun kampong.

Impian warga memiliki jalan layak. Jalan bakal lebih memudahkan mereka mengangkut hasil panen ke pasar. ”Tentu saja kami butuh jalan. Tak berani minta (ke pemerintah,red). Kalau dikasih syukur, kalau belum ya tunggu.”

Ruas jalan bernama Tomadou Talaga ini,  dibuka periode kedua kepemimpinan mantan Wali Kota Ahmad Mahifa sekitar 2010. Jalan sepanjang 3.5 kilo meter itu, sempat dilalui truk dan kendaraan roda dua. Lambat laun rusak. Bahkan tak bisa dilalui  karena longsor dan hancur terkikis air. Kini,  jalan sudah jadi jalan kebun, hanya bisa dilalui  dengan jalan kaki.

Dikutip dari (https://www.victorynews.id/dunia/3318391709/mengenal-aogashima-kota-kecil-yang-berada-di-tengah-gunung-berapi-aktif-di-jepang?page=2) di Jepang terdapat salah satu pulau yang penduduknya hidup berdampingan dengan gunung berapi. Pulau tersebut bernama Aogashima yang dapat dikategorikan sebagai salah satu pulau yang paling ekstrem untuk ditinggali.Merupakan salah satu pulau vulkanik  di selatan Jepang yang jaraknya sekitar 358 kilometer dari selatan Tokyo dan merupakan bagian dari kepulauan Izu. Pulau berpenghuni paling selatan dan paling terisolasi itu secara politik dan administratif merupakan bagian dari Jepang. Secara biografis wilayah ini bukan bagian dari kepulauan Jepang. Aogashima berbatasan dengan Filipina Timur Laut dan terletak di utara kepulauan Bonin yang diperintah Jepang. Pulau ini dikelilingi tebing yang membuat bentuknya mirip dengan mangkuk besar. Jika dilihat dari atas bentuk pulau Aogashima mirip sebuah mangkuk besar yang dikelilingi tebing tinggi dan terjal.

Terbentuk oleh empat buah kaldera atau lubang besar seperti kuali yang saling tumpang tindih yang berarti terdapat kaldera di dalam kaldera. Topografi yang unik ini memiliki asal usul tersendiri yaitu pada tahun 1785 gunung ini mengalami letusan hebat yang membentuk kaldera. Akibatnya Aogashima tidak dihuni selama 50 tahun. Aogashima bukanlah pulau dengan gunung merapi akan tetapi, ia merupakan gunung berapi itu sendiri.

Kendati sangat terisolasi, dengan panjang 3,5 kilo meter dan lebar 2,5 kilometer pulau ini ditingal oleh sekitar 206 orang masyarakat yang sangat pemberani. Letusan terakhir  di tahun 1785 menewaskan 140 yang atau setengah populasi pada masa itu tidak membuat mereka takut menjadikan pulau ini sebagai rumah mereka.  Pulau Aogashima mungkin sudah tenang setelah letusan terakhirnya. Namun demikian ia adalah gunung berapi aktif yang hanya menunggu waktu sampai sekali lagi memamerkan letusannya yang sangat berbahaya.

Tetapi untungnya vulkanologi telah mengalami kemajuan sehingga mereka dapat memberikan peringatan dini tentang letusan berikutnya yang membuat masyarakat yang tinggal di Aogashima tidak perlu khawatir akan letusan gunung.

Sejarah pemukiman manusia di pulau Aogashima tidak diketahui secara pasti. Namun, sebagian besar orang di Aogashima adalah orang Jepang. Pulau ini disebutkan dalam catatan periode hedo yang disimpan di hajijojima yang mencatat aktivitas vulkanik pada 1652 dan dari tahun 1670 hingga tahun 1680.

Saat ini, Pulau Aogashima hanya memiliki satu toko  satu kantor pos, dua bar, satu sekolah dasar dan satu sekolah menengah. Sementara untuk akomodasi, di pulau Aogashima terdapat beberapa penginapan kecil dan sederhana.Sebagian besar penduduk Aogashima tinggal di dinding kawa dan umumnya mereka hidup dari bertani meskipun ada beberapa di antara mereka yang hidup dengan menjadi pegawai pemerintah.(*)

 

 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Orang Tobaru dan Tradisi Menanam

    • calendar_month Jum, 5 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 1.286
    • 2Komentar

    Hari masih pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 07.25 WIT. Jumat (19/2) pagi  itu,  Rin Bodi (49) dan   suaminya    Lius Popo (57) sudah meninggalkan rumah menuju kebun dan dusun kelapa  yang berada kurang lebih 3 kilometer dari desa Podol Kecamatan Tabaru Kabupaten Halmahera Barat. Podol sendiri adalah satu dari 16 desa  di kecamatan Tabaru  yang […]

  • Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

    Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

    • calendar_month Kam, 23 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 327
    • 0Komentar

    Di Hari Bumi 2026, masyarakat sipil memperingatkan ancaman serius gejala menguatnya “militerisme” dan pembangunan ekstraktif. Ketua ICJL Foundation serta Pakar Transisi Energi dan Ekologi Politik TIFA Foundation. Firdaus Cahyadi mengatakan militerisme dan ekonomi ekstraktif tidak memerlukan transparansi serta dialog dalam pengambilan kebijakan. Perpaduan keduanya dinilai akan berdampak fatal bagi keberlanjutan alam dan hak asasi manusia. […]

  • Malut Tak Masuk Agenda Sepekan MKP Serap Aspirasi dari Timur

    • calendar_month Sab, 29 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 754
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Maluku Utara memiliki berbagai program pembangunan di bidang perikanan. Salah satunya adalah Lumbung Ikan Nasional (LIN) yang digembar gemborkan beberapa tahun lalu. Kini program yang digadang-gadang menjadi mercusuar bidang perikanan itu seperti hilang ditelan bumi. Program yang sempat menghadirkan diskursus berbagai kalangan di Malut itu,  sudah tak terdengar lagi. Padahal  terbilang sudah banyak […]

  • Senjakala Hutan dan Lahan di Maluku Utara

    • calendar_month Sen, 19 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 1.171
    • 0Komentar

    WALHI: 2019 Malut Kehilangan 7.041 Ha Hutan Primer Maluku Utara terdiri dari pulau-pulau. Ada yang menyebut jumlahnya 805, dimana  berpenghuni  85 pulau  dan tak berpenghuni  723 pulau. Ada  juga data yang menyebutkan  jumlah pulau di Maluku Utara  ada1474. Dari jumlah itu 89 berpenghuni dan 1385 tidak berpenghuni.  Terlepas dari data jumlah pulau yang masih diperdebatkan, […]

  • Didukung AMSI  Redaksi Kabarpulau.co.id Belajar Manfaatkan Teknologi AI

    Didukung AMSI Redaksi Kabarpulau.co.id Belajar Manfaatkan Teknologi AI

    • calendar_month Rab, 11 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 644
    • 0Komentar

    Asosiasi  Media Siber Indonesia (AMSI) mendorong media -media yang  menjadi anggotanya untuk  menggunakan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses produksi jurnalistiknya. Kabarpulau.co.id sebagai sebagai salah satu media konstituen AMSI turut melaksaksanakan pelatihan yang didukung oleh AMSI pada Selasa (11/2/2026) malam yang digelar di kafe Kofia kawasan Sabia Ternate Utara. Dalam pelatihan ini  para […]

  • Tubagus Soleh Ahmadi Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI

    • calendar_month Sel, 19 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 1.028
    • 18Komentar

    Keputusan ini Karena Amanah Perjuangan Kolektif Tubagus Soleh Ahmadi atau yang biasa disapa Bagus resmi ditetapkan sebagai salah satu Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI periode 2025–2029. Penetapan ini  melalui Surat Keputusan Panitia Pengarah PNLH XIV WALHI Nomor: 07/PP/PNLH-XIV/VIII/2025 tertanggal 15 Agustus 2025. Setelah lolos seluruh tahapan seleksi, termasuk verifikasi administrasi, uji publik, dan uji kompetensi. […]

expand_less