Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Sukses KPP Fodudara Tubo Ubah Perilaku Warga

Sukses KPP Fodudara Tubo Ubah Perilaku Warga

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 16 Mar 2021
  • visibility 254

Dari  Bank Sampah, Buat Kompos hingga Tanam Sayur

Aktivitas di gedung Tempat Pengolahan Sampah Reuse Reduce dan Recycle (TPS3R) yang dibangun  Kementerian PUPR Sabtu (12/3)  pagi jelang siang itu,  tak seramai biasanya. Belum ada aktivitas menimbang sampah yang telah disortir. Belum juga ada aktivitas bongkar muat sampah.  Dua pengurus lembaga baik LKM Ake Tubo dan KPP  Fodudara Kelurahan Tubo Ternate Utara yang sejak pagi di situ juga hanya bercakap seadanya. 

Saat saya datang ke tempat itu mereka sambut penuh keakraban. Tujuannya ingin melihat  bagaimana lembaga ini mendorong perubahan perilaku di tengah masyarakat  Tubo. Perubahan perilaku itu terutama menyangkut pengelolaan sampah. Mulai dari menyortir sampah, buat kompos hingga ajak ibu-ibu menanami pekarangan dengan tanaman hortukultura.  Gerakan yang memiliki   nilai penting bagi perbaikan dan penyehatan lingkungan ini, sudah berjalan  tiga tahun terakhir ini. 

“Kami mulai aktif sejak 2018 lalu. Memang awalnya diinisiasi sejak 2015 tetapi  lancar bergerak  itu    2018  atau tiga tahun ini setelah  masuknya program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU),” jelas Jadid Kader Ketua Lembaga Keswadayaan Masyarakat  (LKM) Kelurahan Tubo.

LKM ini turut mendorong pembentukan  Kelompok Pemanfaatan dan Pemeliharaan  (KPP)  dengan   membuat bank sampah di Kelurahan Tubo. Termasuk juga ikut mendorong ibu-ibu menanam .

Bicara penyadaran warga dalam pengelolaan sampah,  keberadaan KPP dengan nama Fodudara itu  memiliki peran signifikan. Salah satunya mengajak warga memisahkan sampah organic dan  plastic yang bisa  dibawa ke bank sampah sehinga bisa dijua dan menjadi sumber pendapatan baru.  Sementara  sampah organiknya bisa diolah menjadi kompos.

Ada beberapa jenis sampah yang bisa didaur ulang seperti  karton, kertas koran,  botol  plastic  besi tua   dan   bisa dibawa ke TPS3R  Tubo yang jadi pusat kegiatan bank sampah. Di sana   ditimbang  dan  dibayar. Gerakan ini memunculkan perubahan perilaku masyarakat di mana  sebelumnya  tidak  peduli sampah. Saat ini selain sudah mengelola  sampah yang bisa didaur ulang juga berkembang menjadi  upaya  menjaga lingkungan. 

Contoh nyatanya, saat ini  setiap rumah tangga  di kelurahan Tubo sudah mengumpulkan sampah  berdasarkan jenis dan di bawa ke  bank sampah  KPP Fodudara. Atau juga sampah sampah itu jika sudah  terkumpul dan banyak stok, langsung dikontak petugas  bank  sampah dan mereka yang menjemput.   

”Sampah yang dibawa ke TPS3TR  itu kemudian dipilah oleh petugas di KPP, lalu  ditimbang dan dibayar dengan  harga per kilo untuk kertas Rp 500. Harga ini berbeda untuk karton atau besi tua dan  botol plastik. Artinya warga mulai  sadar karena sudah tahu jenis sampah yang dibawa TPS. Ada juga hasilnya dalam bentuk uang.  Hasilnya ada yang langsung diambil ada juga yang ditabung,”  jelas Asgandi Samsudin Ketua KPP  Fodudara.  

Saat ini ada ratusan warga Tubo  punya tabungan  di bank sampah.  Ada 120 orang  punya tabungan. Mereka biasanya  mencairkan atau menarik uang  ketika masuk bulan Ramadan  atau hari raya.

Jika sampah yang disortir  sudah banyak terkumpul selanjutnya KPP menjualnya ke mitra pembeli di Kota Ternate.  KPP sendiri memiliki satu mitra.    “Ada   pembeli lain sudah negosiasi untuk mengambil sampah yang dikumpulkan ini,” jelas Jadid. Dalam sebulan 1 ton sampah dari  beberapa jenis   ditampung  di TPS3R Tubo.   

Dia mengakui saat ini mereka belum bisa mengolah sampah  plastic misalnya  jadi bahan setengah jadi, karena belum memiliki peralatan. Padahal, jika ada alat pengolah biji plastic misalnya akan lebih baik dan  bisa membantu pengembangan gerakan ini.

Jadid  bilang,  di 2015  ada bantuan mesin penghancur plastic yang digerakkan manual. Sayang karena tenaga  tak mampu mengoperasikan alat  itu,  akhirnya tidak digunakan.

Soal bantuan untuk memudahkan operasional  bank sampah,  KPP  juga mendapatkan bantuan sebuah  motor angkut jenis Kaisar yang digunakan mengangkut dan menjemput sampah.

Saat ini  KPP  memiliki mitra kerjasama dengan PT Pertamina. Pihak Pertamina   telah membantu  fasilitas pendukung. Tidak hanya  itu mereka juga membantu pengembangan kapasitas KPP dan kelompok-kelompok binaannya.    

Salah satu  yang sangat nyata adalah  kelompok binaan KPP untuk kelompok ibu-ibu yang saat ini telah mengembangkan  tanaman hortikutura. Ada tiga kelompok yang sudah  memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam sayuran, cabe dan tomat.  Dalam hal peningkatan kapasitas kelompok ini juga ikut dilatih bagaimana memanfaatkan sampah organic  dibuat menjadi kompos.  Tiga kelompok ini kemudian  belajar membuat kompos dan dimanfaatkan untuk   tanaman sayuran yang mereka tanam.

Jadid bilang, dalam hal mendampingi masyarakat dan mengubah perilaku warga ini memang tidak mudah karena butuh kesabaran. Jika tidak maka sulit berhasil. 

Dia contohkan untuk  mendampingi ibu-ibu  kelompok menanam sayur misalnya, ada yang timbul tenggelam karena mereka  ada kesibukan masing-masing. Tetapi akhirnya tetap berjalan, dan hasil tanaman mereka bisa dijual ke pasar atau  warga yang datang beli ke pekarangan dan kebun. 

“Kelompok ibu-ibu  di bawah KPP ini tetap eksis dengan menanam. Awalnya banyak orang tetapi kemudian   tersisa tiga kelompok   tetap eksis  menanam tanaman hortukultura ini,” katanya.

Prestasi LKM dengan gerakan KPP dan kelompok binaanya ini mendapatkan award   dari  Kementerian PUPR sebagai salah satu KPP terbaik. Prestasi  ini diraih karena dianggap berhasil mengubah perilaku warga yang sebelumnya  tidak menyortir dan memilah sampah,  akhirnya    bisa memilah sampah. Tidak itu saja warga  ikut membuat kompos dan memanfaatkan  lahan pekarangan untuk menanam.

“Penghargaan ini diberikan karena kehadiran KPP telah mampu mengubah perilaku warga terutama dalam  pengelolaan sampah dan upaya pemanfaatannya.  Kompos  yang dihasilkan misalnya bermanfaat   untuk  ibu-ibu yang menanam tanaman hortikultura.Hasilnya    tidak hanya dimakan  tetapi  sudah dijual,”jelas Hi Hamid Salasa Sub Proffesional   Communication  Program KOTAKU.

Butuh Perhatian   Lintas Sektor 

Kehadiran KPP dengan kelompok binaanya terutama bank sampah dan kelompok ibu-ibu menanam, sebenarnya memiliki prospek  cukup baik.  Untuk  keberlanjutannya  sangat membutuhkan  dukungan berbagai pihak. Salah satunya  pemerintah   dan lintas sektor.  Dukungannya terutama  penyediaan fasilitas dan modal yang memadai untuk  memperluas dan memperbesar kegiatan. Dalam hal  keberlanjutan  bank sampah, butuh  perhatian dan bantuan pemerintah baik Kota Ternate maupun instansi terkait.    

“Kami  masih   dengan usaha sendiri  yang   sangat terbatas. Dalam hal modal  sangat mengharapkan dukungan pemerintah   kota dan provinsi.  Begitu juga   swasta   bisa mendukung kami sehingga kegiatan ini   tidak hanya  di Kelurahan Tubo,” harap  Jadid.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Orang Tobaru dan Tradisi Menanam

    • calendar_month Jum, 5 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 503
    • 2Komentar

    Hari masih pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 07.25 WIT. Jumat (19/2) pagi  itu,  Rin Bodi (49) dan   suaminya    Lius Popo (57) sudah meninggalkan rumah menuju kebun dan dusun kelapa  yang berada kurang lebih 3 kilometer dari desa Podol Kecamatan Tabaru Kabupaten Halmahera Barat. Podol sendiri adalah satu dari 16 desa  di kecamatan Tabaru  yang […]

  • KPK Ingatkan Kepala Daerah di Malut Tak Korupsi

    • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 223
    • 1Komentar

    Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata mengingatkan  seluruh kepala daerah Gubernur dan Bupati serta Wali Kota di Maluku Utara (Malut) untuk  memelihara integritas dan nama baik selama maupun setelah menjabat. Menurut Alex, nama baik dan kebanggaan dalam memelihara integritas akan abadi lintas generasi. Demikian disampaikan Alex dalam Rapat Pemberantasan Korupsi Terintegrasi di Provinsi […]

  • Perdagangan TSL Dilindungi di Malut Menurun    

    • calendar_month Kam, 23 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Eksploitasi, terutama penangkapan dan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar (TSL)  dilindungi di Maluku Utara, mengalami penurunan drastis. Ini berbeda di bawah tahun 2020, kasus penjualan dan penangkapan hewan endemic seperti burung jenis paruh bengkok  sangat massive dan terjadi berulang kali. Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) sejak 2022 dan 2023 ini belum mendapatkan laporan atau […]

  • KLHK dan Warga Tanam Mangrove di Desa Toseho Tidore Kepulauan

    • calendar_month Kam, 8 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 456
    • 2Komentar

    Penanaman pohon secara serentak seluruh Indonesia    dilakukan juga di Maluku Utara pada Rabu 7/2/2024). Kegiatan  Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) itu, dihadiri Staf Khusus Menteri LHK, Kelik Wirawan Wahyu Widodo mewakili Menteri LHK Siti Nurbaya. Hadir juga  pejabat dan pegawai  instansi di bawah KLHK, Dinas Kehutanan provinsi polisi dan TNI serta beberapa instansi pemerintah […]

  • Arah  Baru  Tata Kelola  Kota  Tidore  Kepulauan 

    • calendar_month Ming, 12 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 280
    • 0Komentar

    Bawah Laut Tidore Kekayaan yang dieksplore untuk pembangunan daerah, foto Abdul Khalis Tidore

  • Pulau Moor di Halmahera Tengah  Mau Dierjualbelikan?

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 867
    • 0Komentar

    Yusuf Haruna:   Langgar Konstitusi dan Hak-hak Warga Lokal Pulau Moor  yang terletak di Wilayah Kecamatan Patani Kabupaten  Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, merupakan pulau kecil seluas sekitar 3 km² yang saat ini dihuni sebagian petani kelapa, nelayan dan dimanfaatkan oleh masyarakat   tujuh desa Patani  dan  sekitarnya. Rencana penjualan pulau Mour  kepada pihak swasta, yaitu pengusaha […]

expand_less