Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Hilangnya Tradisi Padi Ladang di Halmahera (1)

Hilangnya Tradisi Padi Ladang di Halmahera (1)

  • account_circle Mahmud Ici
  • calendar_month Ming, 17 Mei 2026
  • visibility 222

Pukul 10.30 WIT jelang siang itu,  matahari belum begitu terik. Muddin Hasan (69) beristrihat sejenak di sebuah jojaga-rumah kebun, setelah sejak pagi menyiangi  padi yang ditumpangsarikan dengan jagung, cabe, terong dan kangkung.

Hari itu meski suasana Idul Fitri belum sepenuhnya berakhir, dia tetap ke kebun merawat tanaman di kebunnya. “Torang pe karja  bakobong ini sudah. Hidup itu dari kobong (kerja kami berkebun dan hidup dari berkebun),” katanya.

Muddin adalah salah satu petani di desa Samo Gane Barat Utara Kabupaten Halmahaera Selatan yang masih konsisten berkebun. Meskipun tanaman kelapa dan pala  miliknya telah berbuah dan sudah memberi penghasilan tetap. Dia  masih  menanam padi ladang.

Menuju  kebun Muddin, butuh waktu kurang lebih 1 jam dengan jalan kaki.  Melintasi sungai dan bekas jalan logging. Di atas lahan kurang lebih 40×60 meter   telah tumbuh padi yang kini  makin jarang ditanam petani. Mereka kini lebih mengandalkan tanaman perkebunan  kelapa, pala dan cengkih sebagai sumber pendapatan utama.

Padahal  dulu, padi ladang menjadi salah satu tanaman pangan penting. Selain dipanen dalam 6 bulan sekali,  menjadi buffer stok  warga untuk 6 bulan berikutnya.  “Dulu di  tiap rumah kebun  pasti punya petak -lumbung padi yang terisi setelah  panen.Kini tidak lagi,” kata Saleh Muhammad  tokoh masyarakat  Desa Samo.

Beberapa dekade sebelumnya, padi ladang  menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir Halmahera seperti di Samo.

“Dulu ketika datang musim tanam padi semua orang buka kebun untuk tanam padi. Kini tidak lagi,”ujarnya.

Hilangnya tradisi menanam padi ladang, sebenarnya  karena  banyak hal saling mengkait.  Dari   pergeseran pemanfaatan lahan untuk tanaman perkebunan, semakin berkurangnya anak muda berkebun hingga ketiadaan benih karena makin jarang petani menanam padi ladang.

“Saya sudah tidak konsisten tanam seperti dulu karena  ketiadaan benih,”ujar Muddin.

Padi tidak hanya dipandang sebagai sumber makanan, melainkan bagian dari pengetahuan hidup masyarakat. Waktu tanam ditentukan berdasarkan posisi bulan. Benih dipilih secara khusus. Bahkan cara menyimpan bibit dilakukan dengan teknik tradisional agar tahan bertahun-tahun.

Muddin masih mengingat sejumlah varietas lokal yang dahulu banyak ditanam: ratumandar, dara mangam, goloba maahi, bira pako, taraudu, hingga pulororiha. Kini nama-nama itu nyaris tinggal ingatan.

“Sudah sulit dapat fin atau benihnya,” katanya.

Muddin beristraat sejenak setelah sejak pagi membersihkan gulma yang tumbuh bersama padi ladang yang ditanam di kebunnya, foto M Ichi

Hilangnya tradisi menanam padi ternyata bukan hanya soal perubahan pola tanam. Yang ikut hilang adalah pengetahuan lokal.  Dulu, usai panen, petani langsung memilih malai terbaik untuk disimpan sebagai bibit musim berikutnya. Ada yang menggantung padi di rumah kebun, ada pula yang menyimpan gabah dalam ruas bambu.

Tradisi itu membuat petani tidak bergantung pada bantuan benih dari luar.

Kini hampir semua berubah. Petani tidak lagi menyimpan benih sendiri karena semakin sedikit yang menanam. Ketika musim tanam tiba, mereka harus mencari bibit dari desa lain atau menunggu bantuan pemerintah.

“Kalau dulu tiap orang punya stok fin sendiri,” kata Muddin.

Perubahan itu menunjukkan bagaimana sistem pangan lokal perlahan runtuh. Yang hilang bukan sekadar padi, melainkan kemandirian. Tradisi padi ladang di Samo sebenarnya memiliki logika ekologis yang kuat. Petani tidak memakai pupuk kimia maupun pestisida. Mereka memanfaatkan bahan alami untuk mengusir hama.

Salah satunya kulit kayu bawa-bawa yang berbau tajam. Ketika kulit kayu itu ditebar di antara rumpun padi, hama menjauh. “Hamanya tidak mati, tapi pergi,” kata Muddin sambil tertawa kecil.

Cara-cara seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki pengetahuan pertanian yang adaptif terhadap lingkungan. Namun modernisasi ekonomi desa membuat praktik itu perlahan ditinggalkan.

Anak-anak muda semakin jarang mengenal tradisi bertani. Banyak yang lebih tertarik bekerja di sektor jasa, perdagangan, atau tambang.

Bertani dianggap pekerjaan berat dengan hasil yang tidak pasti. Padahal hilangnya tradisi pertanian lokal dapat membawa dampak serius. Ketika masyarakat tidak lagi menanam pangan sendiri, mereka menjadi sangat tergantung pada pasokan luar daerah.

Dalam konteks Maluku Utara yang merupakan wilayah kepulauan, ketergantungan itu sangat rentan. Jika distribusi terganggu akibat cuaca buruk atau kenaikan biaya logistik, harga pangan langsung melonjak.

Ironisnya, kondisi itu terjadi di tengah melimpahnya lahan pertanian. Di Desa Samo, sebagian besar lahan telah berubah menjadi kebun kelapa, pala, dan cengkih. Tanaman pangan tersisa dalam skala kecil.

Di Samo, orientasi ekonomi desa bergeser ke tanaman tahunan seperti kelapa dan pala. Data monografi desa menunjukkan luas perkebunan jauh lebih besar dibanding lahan pangan. Pilihan itu memang rasional secara ekonomi.

Kelapa       pala           cengkih (ha)
120           65,5               34,5

Sumber  Monografi Desa Desa Samo

 Padi   Jagung   Kacang2an  Singkong (Ha)
 5,7          3             3,3                    1

Sumber:Monografi Desa Samo

Data BPS Provinsi Maluku Utara tahun 2025 menunjukan lahan padi di Kabupaten Halmahera Selatan hanya 77 hektar dengan produksi hanya mencapai 271 ton.

Luas lahan dan produksi padi di Halsel

Luas (ha)  Produktivitas ku/ha      Produksi (ton)
 77                    35,21                                  271

Sumber: BPS 2025

Data yang dirilis Pemprov Maluku Utara melalui Satudata Malutprov.go.id, Halmahera Selatan memiliki lahan perkebunan sangat besar.

Perkebunan di Halmahera Selatan (ha)
Kelapa  Kopi    Kakao    Pala     Cengkih     Sagu
 29739        2          3920      13709    4193     127

Satudata Malutprov.go.id

Padi milik Muddin Hasan yang sudah berusia 2 bulan lebih,foto M Ichi

Kopra, pala, dan cengkih memberi pendapatan tunai. Dari hasil itu warga bisa membeli beras, pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga. Tetapi perubahan tersebut melahirkan ketergantungan baru. Desa yang dulu menghasilkan pangan sendiri kini menjadi konsumen. Warga semakin bergantung pada pasokan luar.

Perubahan orientasi itu memang memberi uang tunai lebih cepat. Tetapi di saat bersamaan, desa kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri.

Fenomena di Samo sesungguhnya mencerminkan krisis yang lebih luas di Maluku Utara. Daerah ini memiliki indeks ketahanan pangan rendah dan masih sangat bergantung pada pasokan beras dari luar. Artinya, ketika tradisi pangan lokal melemah, ketahanan masyarakat juga ikut rapuh.

Pertanyaannya kemudian: apakah tradisi menanam padi ladang masih mungkin dipertahankan?

Jawabannya mungkin tidak sesederhana mengajak warga kembali ke kebun. Yang dibutuhkan bukan romantisme masa lalu, melainkan kebijakan yang mampu membuat pertanian pangan kembali masuk akal secara ekonomi dan sosial.

Jika tidak, generasi mendatang mungkin hanya akan mengenal nama-nama varietas padi lokal sebagai cerita orang tua. Dan ketika pengetahuan itu hilang, yang hilang bukan cuma benih, tetapi juga ingatan kolektif tentang bagaimana sebuah desa pernah hidup mandiri.

“Dulu terbatas transportasi membuat masyarakat harus memproduksi sendiri,” kata Dr ​Erna Rusliana M. Saleh, Koordinator Program Studi Rekayasa Pangan Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate.

Kini dengan kemudahan mengakses pasar karena adanya  jaringan transportasi, masyarakat lebih memilih membeli dibandingkan menanam sendiri. Begitu juga dalam konteks  kebijakan pangan nasional. Sejak masa orde baru, Indonesia mendorong beras sebagai makanan pokok utama, sehingga masyarakat mengalami perubahan pola konsumsi.  Lebih memilih makan beras dari luar, dibanding pangan lokal  sagu, ubi, jagung, pisang, dan lain- lain. (*)

Seri  tulisan ini adalah hasil liputan fellowship dari kerjasama Celios  Universitas Muhammadiyah Maluku Utara  bersama kabarpulau.co.id melalui Program Bicara Maluku Utara

  • Penulis: Mahmud Ici

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ternate dan Tidore dalam Filosofi Rempah  

    • calendar_month Rab, 22 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 1.040
    • 1Komentar

    “Doka gosora se bualawa. Om doro fo mamote. Foma gogoru, foma dodara” Kalimat di atas merupakan sebuah filosofi hidup yang dianut orang Ternate  dan daerah Moloku Kie Raha umumnya. Kalimat dalam Bahasa Ternate itu menggambarkan , kedekatan  serta jiwa kekeluargaan yang dianut orang orang yang berada di negeri para sultan tersebut.  Ternate dan Tidore menjadi […]

  • Kepastian Ake Sagea “Tercemar” Tunggu GAKKUM KLHK

    • calendar_month Rab, 20 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 530
    • 1Komentar

    Direkotrat Jenderal (Ditjen) Penegakan Hukum (GAK-KUM) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar rapat dengan beberapa pihak dari Maluku Utara membahas persoalan Sungai Sagea pada Selasa (19/9/2023). Rapat tersebut dipimpin oleh Direktur Pengaduan, Pengawasan dan Sanksi Administrasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PPSA-LHK) Ditjen. Gakkum KLHK Ardyanto Nugroho. Agenda ini sendiri merupakan tindak lanjut aspirasi dari […]

  • Ada 3 Spesies Baru Ditemukan Pada 2023

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 712
    • 1Komentar

    Sejak 2021 -2023 Ada 90 Spesies TSL Baru Berdasarkan hasil eksplorasi BRIN dan KLHK, lebih dari 90  jenis spesies baru telah ditemukan dalam kurun waktu tahun 2021-2023. Berbagai spesies baru tumbuhan dan satwa liar (TSL) telah banyak ditemukan, baik di dalam kawasan konservasi maupun di luar kawasan hutan. Rilis yang dikeluarkan oleh Kementeruan Lingkungan Hidup […]

  • Ini 13 Komitmen Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia

    Ini 13 Komitmen Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia

    • calendar_month Jum, 8 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 804
    • 0Komentar

    Konferensi Nasional ke-11 Pengelolaan Sumber Daya Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (Konas Pesisir XI)  27 – 29 November lalu di Pontianak, Kalimantan Barat menghasilkan Deklarasi Pontianak. Hasilnya, menyerukan 13 komitmen bersama pemangku kepentingan dalam sinergitas Pengelolaan Pesisir, Pulau-Pulau Kecil dan Laut  yang Terukur dan Berkelanjutan untuk Ekonomi Biru. Dikutip dari KKP.go.id, Konas Pesisir XI melibatkan lebih […]

  • Kayu Besi di Hutan Halmahera yang Terancam  

    • calendar_month Sen, 7 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 1.174
    • 0Komentar

    Merbau atau ipil adalah nama sejenis pohon penghasil kayu keras berkualitas tinggi anggota suku Fabaceae (Leguminosae). Karena kekerasannya, di wilayah Maluku, Maluku Utara  dan Papua barat  juga dinamai  kayu besi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menerbitkan peraturan yang dikhawatirkan mengancam keanekaragaman hayati dan ekologi hutan. Melalui Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 106 tahun 2018 […]

  • Bencana Perubahan Iklim Terus Meningkat    

    • calendar_month Sen, 25 Nov 2024
    • account_circle
    • visibility 722
    • 0Komentar

    Sepanjang 2023 -2024 Ada 5000 Lebih Kejadian Ada kurang lebih 5000 kejadian  bencana   tercatat disebabkan oleh  perubahan iklim dalam satu tahun ini.  Bencana alam yang diakibatkan oleh perubahan cuaca dan iklim (hidrometereologis) terus meningkat tajam. Sementara isu perubahan iklim saat ini menghadapi tantangan serius   baik dari masyarakat dan pemerintah dalam negeri, maupun dari masyarakat global. […]

expand_less