Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ini Gebrakan Komunitas Halmahera Wildlife Photografi

Ini Gebrakan Komunitas Halmahera Wildlife Photografi

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 10 Mar 2021
  • visibility 350

Hari masih sangat pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 0.7.00 WIT. Kawasan  Ruang Terbuka Hijau  (RTH) Taman Nukila di  Kelurahan Gamalama Ternate Minggu (28/2) sudah sangat ramai. Ratusan Ibu-ibu dan anak-anak  sudah berkumpul di kawasan itu, untuk  sekadar bermain dan  menggelar senam.

Sementara beberapa anak muda yang tergabung dalam Komunitas Halmahera Wildlife Photografi (HWP) sibuk menyiapkan berbagai sarana kampanye  berupa  buku-buku konservasi, sarana swa foto bagi pengunjung dengan latarbelakang  kampanye perlindungan  burung paruh bengkok maupun sarana kampanye lainnya. 

Anak  muda yang tergabung dalam komunitas ini  adalah beberapa aktivis yang tidak hanya pecinta fotografi, tetapi berasal dari ragam komunitas     di Sofifi ibukota Provinsi Maluku Utara. Kegiatan kali ini adalah bagian dari  kampanye perlindungan  terhadap burung paruh bengkok yang saat ini terancam punah karena banyak ditangkap dan diperjualbelikan.

Penasehat HWP Akhmad sedang memberi arahan bagi para anggota komunitas

Berlabel kampanye dan cerita satwa liar,   tujuannya mengkampanyekan keaneka ragaman hayati di Provinsi Maluku Utara.  Kesempatan ini anak-anak muda ini berkampanye tentang satwa liar dengan membuka lomba foto  dan caption di Instagram dengan menandai akun milik HWP dalam postingan.

Selain itu,  dilakukan pembagian poster jenis-jenis burung di Maluku Utara   termasuk  satwa liar yang dilindungi. Mereka juga membagi pengalaman antar komunitas lingkungan dan satwa liar di Maluku Utara. 

Kegiatan kali ini dihadiri juga Kelompok Pecinta Satwa Liar (KPSL) Akejiri, dan Rimpal Sofifi. Turut disupport  juga oleh Balitbangda Provinsi Maluku Utara, Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan Burung Indonesia.  

Komunitas yang didirkan pada Maret 2020 ini sebenarnya  ingin  menumbuhkan rasa cinta satwa di daerah sendiri. Kehadiran komunitas ini  karena   yang dirasakan selama ini banyak dokumentasi  kehidupan liar termasuk burung-burung malah didapatkan dari orang luar.  Karena itu didoronglah pembentukan    komunitas   ini untuk mengajak anak-anak   local termasuk yang mencintai fotogafi mendokumentasikan sendiri  satwa liar yang ada. “Ini adalah kampanye dalam   bentuk foto  sebagai bagian dari cara memperkenalkan kepada public,” jelas Akhmad David Pembina HWP. 

Salah satu ibu yang senam sambil melihat ke arah pamflet kampanye HWP

Karena itu HWP juga membangun kolaborasi dengan  beberapa komunitas di Sofifi dan Ternate.    Komunitas HWP   ini berisi  anak-anak  local   berjumlah 15 orang.

Akhmad David  bilang kampanye ini merupakan kegiatan kedua. Sebelumnya   telah digelar kegiatan   Torang Camp, dengan menghadirkan beberapa komunitas di Sofifi  dan sekitarnya.  Ada banyak anak muda sebagai bibit-bibit komunitas pencinta kehidupan liar ikut bergabung. Misalnya dengan terbentuk Kelompok Pecinta Satwa Liar (KPSL) di Kampus Unkhair. Selain itu  digelar juga kegiatan kedua yakni pameran  foto flora fauna dan keanekaragaman hayati endemic yang dilaksanakan di Sofifi.  Sementara kegiatan ketiga kampanye satwa liar  terutama burung dengan baner- baner, foto selfi, maupun pembagian stiker dan brosur perlindungan burung dan satwa liar yang digelar di Ternate ini.   

“Focusnya kampanye di beberapa tempat sementara  ada dua tempat sofifi dan Ternate,” jelas Akhmad David.     

Ketua HWP Risno Adanan Menunjukan literatur penting satwa burung di Malut

Ketua HWP Risno Adnan menjelaskan, sebelum  keiatan ini komunitas  HWP telah melakukan beberapa kali pengamatan untuk melihat burung-burung local dan migran  yang ada di Sofifi.

Beberapa waktu lalu mereka melakukan pengamatan  burung migran  yang hadir di Sungai Kali Oba. Dari pengamatan itu  menemukan ada beberapa jenis burung  migran  yang sering hadir di sana.  Begitu juga di Kawasan  Mangrove Guraping dan Bundaran Sofifi.  Padahal kalua dilihat  kawasan tersebut terbilang sangat ramai tetapi masih didatangi  burung migran. Burung-burung migran itu berasal dari Selatan  misalnya  Mongol,  Siberia dan China. Sampai saat ini ada  burung yang tertinggal satu dua, setelah singgah dari migrasinya.

Hasil identifikasi kurang lebih  20 jenis burung migran yang sering singgah di Sofifi.

Terkait komunitasnya sendiri  ternyata tidak hanya untuk mereka yang mencintai fotografi kehidupan liar. Komunitas ini untuk semua yang mencintai   kenakeragaman hayati bukan hanya dengan kamera foto tetapi  juga untuk  jaga alam,   hutan dan lindungi alam Malut   sebagai bagian dari  cara mengedukasi public.  

Seorang pengunjung sedang mengamati sarana kampanye perlindungan burung yang ditampilkan HWP

Karena ingin mengampanyekan  kepada public tentang pentingnya menjaga dan melindungi burung dan satwa liar sehingga kali ini kampanye dengan memilih tempat ramai. “Tujuan kita memberitahukan kepada masyarakat jaga  burung dengan kampanye di  titik keramaian. Kita  memberi tahu lindungi  satwa. Jangan bilang sayang kalua masih piara burung,” jelasnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tiga Persen APBD Harus Dialokasikan Atasi Sampah

    • calendar_month Sen, 16 Des 2024
    • account_circle
    • visibility 554
    • 0Komentar

    Gubernur/Bupati Wali Kota Didesak Buat Aksi Nyata Kepala Daerah di Indonesia termasuk Provinsi Maluku Utara  dan Kabupaten/kota  didesak segera melakukan aksi nyata  atasi sampah yang  makin tidak bisa tertangani  saat ini. Aksi nyata  yang harus dilakukan kepala daerah  Gubernur maupun Bupati dan Wali Kota itu, disampaikan Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), […]

  • Malut Tak Masuk Agenda Sepekan MKP Serap Aspirasi dari Timur

    • calendar_month Sab, 29 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 384
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Maluku Utara memiliki berbagai program pembangunan di bidang perikanan. Salah satunya adalah Lumbung Ikan Nasional (LIN) yang digembar gemborkan beberapa tahun lalu. Kini program yang digadang-gadang menjadi mercusuar bidang perikanan itu seperti hilang ditelan bumi. Program yang sempat menghadirkan diskursus berbagai kalangan di Malut itu,  sudah tak terdengar lagi. Padahal  terbilang sudah banyak […]

  • Kondisi Bumi Kian Mengkhawatirkan

    • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 410
    • 2Komentar

    Bencana Akibat Perubahan Iklim Makin Mangancam Bumi Rabu 23 Maret 2023 hari ini bertepatan dengan Peringatan Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-73. Sebagai informasi, peringatan HMD yang jatuh pada 23 Maret merupakan tanggal yang mengacu pada konvensi meteorologi 23 maret 1950. Konvensi tersebut merupakan rangkaian panjang dari berdirinya badan cuaca di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa, yaitu Organisasi […]

  • Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi   Dunia

    Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi Dunia

    • calendar_month Sel, 23 Sep 2025
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 533
    • 0Komentar

    Pulau Sumba yang dikenal dengan nama tanah humba   atau tanah marapu, menjadi titik nol ditetapkannya, hari Keadilan Ekologi dunia atau World EcologicaJustce Day. Hari penting ini digagas oleh Wahana Ligkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada Sabtu 20 September 2025 bertepatan dengan kegiatan pertemuan nasional lingkungan  hidup (PNLH) WALHI ke XIV yang  dipusatkan di Kota Waingapu […]

  • Regenerasi Nelayan Terancam

    • calendar_month Sel, 21 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 500
    • 0Komentar

    Nelayan Ikan Tuna Madapolo Pulau Bisa
    foto MDPI

  • WALHI: Investasi Massive Mengarah ke Timur

    • calendar_month Kam, 24 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Ancaman Serius  Pesisir dan Pulau Kecil di Maluku Utara Provinsi Maluku Utara yang sebagian besar wilayahnya berupa laut, memiliki 856 buah pulau. Dari jumlah itu ada pulau yang tergolong besar seperti Halmahera (18.000 Km2 ) dan pulau-pulau yang ukurannya relatif sedang yaitu  Pulau Obi (3.900 Km2 ),  Pulau Taliabu (3.195 Km2 ), Pulau Bacan (2.878 […]

expand_less