Breaking News
light_mode
Beranda » Serba-serbi » Mengenal Pulau SIBU,Kecil nan Indah dan Dikeramatkan

Mengenal Pulau SIBU,Kecil nan Indah dan Dikeramatkan

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 2 Jan 2022
  • visibility 681

Tulisan Sofyan Ansar Polhut Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata Maluku Utara

Pulau Sibu merupakan sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni. Pulau ini, hanya memiliki luasan sekitar 370 hektar dan dikelilingi oleh ekosistem hutan mangrove yang masih sangat alami. Berjarak hanya 1,5 kilometer disebelah barat dari kelurahan Guraping, Oba Utara, Sofifi, Maluku Utara.

Pulau  yang dikelilingi oleh hutan mangrove ini mempunyai potensi ekosistem hutan mangrove dengan keanekaragaman hayati dan jenis terumbu karang. Di lautnya selain karang juga  sebaran padang lamun serta biota lautnya. Ada beragam keanekargaman hayati  yang hidup alami  bisa   dijumpai di pulau ini.

Sibu juga memiliki pantai yang dikelililingi terumbu karang.Air lautnya   begitu jernih, berwarna biru, bahkan saking jernih air lautnya, terumbu karang di sekitar pulau Sibu bisa terlihat begitu jelas.  Tanpa harus menyelam ke dasar laut dengan perahu saja sudah bisa melihat indahnya karang dan ikan ikannya.

Kekayaaan  hutan mangrove  serta ekosistem bawah lautnya menjadikan Pulau Sibu begitu istimewa.

Bila dilihat dari atas ketinggian atau menggunakan drone, Pulau Sibu terlihat begitu indah. berbentuk seperti hati dan dominan berwarna hijau dengan tutupan vegetasi hutan mangrove  cukup rapat.

Disebelah Utara Pulau Sibu, terdapat kawasan wisata hutan mangrove, telaga dan pantai teluk Guraping yang sangat menawan. Menjadi bagian dari kesatuan keindahan panorama alam yang dimiliki oleh kelurahan Guraping.

Dilihat dari peta kawasan hutan dan perairan Provinsi Maluku Utara, Pulau Sibu merupakan kawasan hutan lindung dengan tipe ekosistem hutan mangrove.

Bagi masyarakat Guraping, Pulau Sibu adalah pulau yang dikeramatkan, karena terdapat makam (Jere) tokoh adat yang dikenal bernama Gimalaha Sibu. Menurut legenda, Pulau Sibu merupakan pemukiman  (kampung) pertama,  jauh sebelum masyarakat Gamrange (Weda, Maba dan Patani) datang dan hidup bersama-sama dengan warga setempat dan membangun pemukiman atau kampung baru disekitar pesisir Pulau Sibu, yang saat ini dikenal menjadi Kelurahan Guraping.

Pada perayaan hari besar keagamaan, Pulau Sibu selalu ramai dikunjungi oleh warga untuk berziarah ke makam Sibu untuk berdoa bersama sebagai bentuk rasa hormat dan cinta kepada para leluhur. Ritual ini sudah menjadi tradisi turun temurun oleh masyarakat Guraping.

default

Kecantikan pulau kecil yang dikeramatkan ini, bisa kita nikmati dari kejauhan. Dari kantor Gubernur Maluku Utara, Pulau Sibu terlihat sangat mempesona dan menjadi pemandangan abadi dari atas puncak Gosale. Bila berkunjung ke Pulau Sibu, sobat wisata bisa menggunakan perahu motor dengan waktu tempuh hanya sekitar 5 menit dari pantai Guraping.

Dikaji dari 3 faktor utama sebagai syarat mutlak untuk pengembangan sebuah destinasi wisata seperti atraksi, akses dan amenitas. Bisa dibilang, di kawasan wisata guraping ini sudah sangat terpenuhi dan sangat layak untuk dijadikan kawasan destinasi wisata prioritas di Provinsi Maluku Utara.

Keindahan dan keunikan panorama alam, budaya dan tradisi yang dimiliki oleh kelurahan Guraping, merupakan aset berharga yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi denstinasi wisata unggulan di Provinsi Maluku Utara.

Sadar akan potensi yang dimiliki, para pemuda dan tokoh masyarakat kelurahan Guraping dengan penuh semangat, berinisiatif menggelar sebuah event festival kampung dengan tujuan agar bisa mencuri perhatian pemerintah dan masyarakat luas sekaligus memperkenalkan dan mempromosikan pontensi pariwisata dan budaya yang terdapat di Kelurahan Guraping.

 Festival bertajuk “Festival Doe-Doe Guraping 2021” berhasil dilaksanakan pada 22 – 31 Desember 2021. “Guraping Kampong Wisata Budaya” menjadi tema besar dalam FDD 2021. Festival Doe Doe 2021 mengangkat tentang kearifan lokal dan potensi wisata alam yang terdapat di guraping. Berbagai konten budaya warisan asli para leluhur pun turut dihadirkan sebagai atraksi dalam festival ini.

Semoga dengan  adanya Festival Doe Doe Guraping 2021, bisa mendapat perhatian dari pemerintah guna pengembangan dan pengelolaan destinasi wisata di kelurahan Guraping yang lebih baik dan berkelanjutan. (*)

Pulau Sibu merupakan sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni. Pulau ini, hanya memiliki luasan sekitar 370 hektar dan dikelilingi oleh ekosistem hutan mangrove yang masih sangat alami. Berjarak hanya 1,5 kilometer disebelah barat dari kelurahan Guraping, Oba Utara, Sofifi, Maluku Utara.

Pulau  yang dikelilingi oleh hutan mangrove ini mempunyai potensi ekosistem hutan mangrove dengan keanekaragaman hayati dan jenis terumbu karang. Di lautnya selain karang juga  sebaran padang lamun serta biota lautnya. Ada beragam keanekargaman hayati  yang hidup alami  bisa   dijumpai di pulau ini.

Sibu juga memiliki pantai yang dikelililingi terumbu karang.Air lautnya   begitu jernih, berwarna biru, bahkan saking jernih air lautnya, terumbu karang di sekitar pulau Sibu bisa terlihat begitu jelas.  Tanpa harus menyelam ke dasar laut dengan perahu saja sudah bisa melihat indahnya karang dan ikan ikannya.

Kekayaaan  hutan mangrove  serta ekosistem bawah lautnya menjadikan Pulau Sibu begitu istimewa.

Bila dilihat dari atas ketinggian atau menggunakan drone, Pulau Sibu terlihat begitu indah. berbentuk seperti hati dan dominan berwarna hijau dengan tutupan vegetasi hutan mangrove  cukup rapat.

Disebelah Utara Pulau Sibu, terdapat kawasan wisata hutan mangrove, telaga dan pantai teluk Guraping yang sangat menawan. Menjadi bagian dari kesatuan keindahan panorama alam yang dimiliki oleh kelurahan Guraping.

Dilihat dari peta kawasan hutan dan perairan Provinsi Maluku Utara, Pulau Sibu merupakan kawasan hutan lindung dengan tipe ekosistem hutan mangrove.

Bagi masyarakat Guraping, Pulau Sibu adalah pulau yang dikeramatkan, karena terdapat makam (Jere) tokoh adat yang dikenal bernama Gimalaha Sibu. Menurut legenda, Pulau Sibu merupakan pemukiman  (kampung) pertama,  jauh sebelum masyarakat Gamrange (Weda, Maba dan Patani) datang dan hidup bersama-sama dengan warga setempat dan membangun pemukiman atau kampung baru disekitar pesisir Pulau Sibu, yang saat ini dikenal menjadi Kelurahan Guraping.

Pada perayaan hari besar keagamaan, Pulau Sibu selalu ramai dikunjungi oleh warga untuk berziarah ke makam Sibu untuk berdoa bersama sebagai bentuk rasa hormat dan cinta kepada para leluhur. Ritual ini sudah menjadi tradisi turun temurun oleh masyarakat Guraping.

Kecantikan pulau kecil yang dikeramatkan ini, bisa kita nikmati dari kejauhan. Dari kantor Gubernur Maluku Utara, Pulau Sibu terlihat sangat mempesona dan menjadi pemandangan abadi dari atas puncak Gosale. Bila berkunjung ke Pulau Sibu, sobat wisata bisa menggunakan perahu motor dengan waktu tempuh hanya sekitar 5 menit dari pantai Guraping.

Dikaji dari 3 faktor utama sebagai syarat mutlak untuk pengembangan sebuah destinasi wisata seperti atraksi, akses dan amenitas. Bisa dibilang, di kawasan wisata guraping ini sudah sangat terpenuhi dan sangat layak untuk dijadikan kawasan destinasi wisata prioritas di Provinsi Maluku Utara.

Keindahan dan keunikan panorama alam, budaya dan tradisi yang dimiliki oleh kelurahan Guraping, merupakan aset berharga yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi denstinasi wisata unggulan di Provinsi Maluku Utara.

Sadar akan potensi yang dimiliki, para pemuda dan tokoh masyarakat kelurahan Guraping dengan penuh semangat, berinisiatif menggelar sebuah event festival kampung dengan tujuan agar bisa mencuri perhatian pemerintah dan masyarakat luas sekaligus memperkenalkan dan mempromosikan pontensi pariwisata dan budaya yang terdapat di Kelurahan Guraping.

 Festival bertajuk “Festival Doe-Doe Guraping 2021” berhasil dilaksanakan pada 22 – 31 Desember 2021. “Guraping Kampong Wisata Budaya” menjadi tema besar dalam FDD 2021. Festival Doe Doe 2021 mengangkat tentang kearifan lokal dan potensi wisata alam yang terdapat di guraping. Berbagai konten budaya warisan asli para leluhur pun turut dihadirkan sebagai atraksi dalam festival ini.

Semoga dengan  adanya Festival Doe Doe Guraping 2021, bisa mendapat perhatian dari pemerintah guna pengembangan dan pengelolaan destinasi wisata di kelurahan Guraping yang lebih baik dan berkelanjutan. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mulai Dirintis Pembentukan Jejaring Kawasan Konservasi Perairan

    • calendar_month Sab, 17 Jun 2017
    • account_circle
    • visibility 410
    • 0Komentar

    Hingga Desember 2018  sudah diresmikan 177 Kawasan Konservasi Perairan. Dari jumlah itu , 35 KKP yang menjadi prioritas sudah dimasukkan ke Bappenas. Hal ini terungkap  dalam Lokakarya Petunjuk Teknis Jejaring Kawasan Konservasi Perairan Rabu (13/6) lalu di Jakarta. Lokakarya ini oleh  pemerintah Indonesia (Kementerian Kelautan dan Perikanan), Kementerian Lembaga Terkait, USAID Indonesia dan USAID SEA […]

  • Nama Pejabat Ada pada Burung dan Tanaman

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 513
    • 1Komentar

    Ada hal yang unik dari perkembangan ilmu pengetahuan bidang lingkungan di Indonesia belakangan ini. Ada temuan spesies baru dari tumbuhan atau tanaman  serta hewan  misalnya, untuk mengingat namanya  kemudian diabadikan nama pejabat atau istri pejabat. Ini berbeda dari sebelum sebelumnya,  Jika kita  perhatikan berbagai penamaan tumbuhan serta hewan yang baru ditemukan dan belum memiliki nama, […]

  • Ada Apa, Kemarau tapi Hujan hingga Banjir?

    • calendar_month Sab, 15 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 531
    • 1Komentar

    Sepekan Tiga Wilayah di Malut Dihantam Banjir Meski saat ini masih dalam periode musim kemarau, kenyataanya hamper semua wilayah di Maluku Utara dilanda hujan lebat. Bahkan dampak hujan tersebut, dalam sepekan ini sejumlah daerah dilanda banjir besar hingga menimbulkan korban harta dan rusaknya fasilitas umum. Hingga Sabtu (15/7/2023), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun […]

  • Cerita Warga Mengolah Aren, Melindungi Hutan Halmahera

    • calendar_month Kam, 27 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 953
    • 0Komentar

    Hari masih gelap di akhir  Februari lalu, ketika Fadli  Hafel (34) sudah harus berjalan sekira tiga kilometer dari rumah di kampung Samo  Gane Barat Utara Halmahera Selatan, menuju hutan desa itu mengambil air nira dari pohon aren.  Sejak pagi sekira pukul 06.00 WIT, dia sudah keluar dari rumah mengambil   air nira yang  ditadah menggunakan ruas […]

  • Kolaborasi Dorong Perdes Pesisir dan Laut Kayoa

    • calendar_month Sel, 8 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 448
    • 0Komentar

    Pakativa- KPMK- Foshal- Pemdes Guruapin Kerja  Bareng   Perlindungan komprehensif untuk hutan mangrove dan pesisir laut sedang digagas bersama lembaga dan pemerintah desa Guruapin Kayoa Halmahera Selatan. Adalah Perkumpulan Pakativa, sebuah lembaga non pemerintah yang bergerak mengkampanyekan budaya, litrerasi dan ekologi bersama Komunitas Pencinta Mangrove Khatulistwa (KPMK) serta Forum Studi Halmahera (Foshal)   mendorong pembuatan Peraturan […]

  • BMKG: Potensi Cuaca Laut  Ekstrem Terjadi  Desember hingga Februari

    BMKG: Potensi Cuaca Laut  Ekstrem Terjadi  Desember hingga Februari

    • calendar_month Jum, 5 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 387
    • 0Komentar

    Terjadi Merata, Termasuk di Laut Halmahera dan Laut Maluku    Laut Halmahera dan laut Maluku yang berada di wilayah laut Maluku Utara masuk dalam potensi cuaca laut ekstrem yang terjadi Desember ini,Januari hingga Februari mendatang. Setidaknya peringatan  kondisi ini disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kamis (4/11/2025). Dalam rilisnya  BMKG mengeluarkan peringatan cuaca laut […]

expand_less