Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Setiap 12 Menit, Polusi Kendaraan Bunuh Satu Nyawa

Setiap 12 Menit, Polusi Kendaraan Bunuh Satu Nyawa

  • account_circle Mahmud Ichi
  • calendar_month Kam, 6 Agu 2026
  • visibility 44

Kendaraan Nol Emisi Selamatkan 800.000 Jiwa hingga 2050

Laporan terbaru International Council on Clean Transportation (ICCT) organisasi riset nirlaba independen yang didirikan untuk menyediakan penelitian serta analisis teknis dan ilmiah yang unggul, objektif, dan tepat waktu bagi regulator lingkungan hidup,  menemukan bahwa transisi cepat menuju kendaraan nol emisi dapat memangkas angka kematian dini akibat polusi transportasi darat.  Angka kematian sebesar 63% dan kasus asma pada anak sebesar 80%. Hal ini, membalikkan tren yang jika dibiarkan akan meningkatkan angka kematian sebesar 74% pada 2050.

Di Indonesia, emisi  transportasi darat menyebabkan 1 kematian dini setiap 12 menit dan memicu satu kasus baru asma pada anak setiap 26 menit. Hasil penelitian terbaru, Manfaat Kesehatan dari Kendaraan Nol Emisi Hingga 2050 yang dirilis  4 Agustus 2026  ICCT membuat laporan  berdasarka   studi global yang dilakukan di lebih dari 180 negara dan wilayah serta lebih dari 13.000 kawasan perkotaan.

Secara global, transportasi darat saja menyumbang hampir setengah dari pedoman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk polusi partikel halus di udara luar ruangan, menjadikannya target penting dalam upaya lintas sektor untuk mengurangi polusi udara yang berbahaya.

Manfaat Kesehatan dari Kendaraan Nol Emisi Hingga 2050. Jin et al 2026 

Di Indonesia, transportasi darat berkontribusi terhadap 44.700 kematian dini dan lebih dari 19.800 kasus baru asma pada anak hanya pada tahun 2024 saja, menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia untuk kasus asma pada anak yang terkait dengan emisi NO₂.

 Menurut laporan itu  tidak semua kendaraan berkontribusi secara setara. Kendaraan berat merupakan penyumbang polusi udara terbesar. Meskipun hanya mencakup 2% dari armada transportasi darat Indonesia. Kendaraan berat menyumbang lebih dari setengah keseluruhan emisi NOₓ dan PM2.5, sementara kendaraan yang lebih ringan mendominasi emisi VOC dan CO.

Mengatasi tantangan ganda ini memerlukan kebijakan yang tepat sasaran untuk mendorong kendaraan nol emisi pada kedua kategori kendaraan tersebut.

“Dengan elektrifikasi kendaraan yang ambisius, pada 2050, kasus asma pada anak dapat dikurangi sebanyak 150.000 dan kematian dini dapat dikurangi sebanyak 800.000 di Indonesia serta lebih dari 8 juta secara global” ujar Lingzhi Jin dari ICCT.

Riset ICCT juga menunjukkan bahwa polusi transportasi darat berpotensi memperdalam ketimpangan kesehatan global. Sementara negara-negara berpenghasilan tinggi diproyeksikan mengalami penurunan 48% dalam kematian dini yang terkait transportasi darat berdasarkan kebijakan saat ini hingga 2050, negara-negara berpenghasilan menengah-atas diperkirakan akan mengalami peningkatan lebih dari 50%, dan negara-negara berpenghasilan rendah serta menengah-bawah bisa mengalami peningkatan lebih dari 200%.

Judul: Jumlah kematian dini melonjak di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah, sementara hanya negara-negara berpenghasilan tinggi yang akan mengalami penurunan berdasarkan kebijakan saat ini (Baseline 2025)

Namun, dalam skenario Elektrifikasi Ambisius di mana hampir seluruh penjualan kendaraan baru bebas emisi pada 2045, negara-negara di semua tingkat pendapatan akan mengalami penurunan signifikan dalam beban kesehatan yang diakibatkan oleh transportasi darat hingga 2050, dan kesenjangan tersebut akan menyusut secara drastis.

“Pertumbuhan populasi, populasi dunia yang menua, dan armada kendaraan yang terus bertambah memberikan tekanan yang terus meningkat terhadap beban kesehatan akibat transportasi darat, dan berdasarkan kebijakan saat ini, kekuatan-kekuatan tersebut akan mendominasi. Kajian ini menunjukkan bahwa elektrifikasi yang ambisius cukup kuat untuk memutus keterkaitan tersebut, mencegah hampir 9 juta kematian dini antara sekarang hingga 2050,” ujar Josh Miller, Direktur Senior ICCT dan salah satu penulis studi ini.

Sementara itu, Prof. Budi Haryanto dalam peluncuran kajian ICCT menyatakan bahwa polusi udara masih menjadi faktor risiko penting terhadap peningkatan beban penyakit,

terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak. “Pengendalian emisi perlu dilakukan secara terpadu melalui kebijakan transportasi, energi, dan pemantauan kualitas udara. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan kualitas udara yang lebih baik dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya lagi.

Transisi global dan cepat menuju kendaraan nol emisi merupakan salah satu instrumen kebijakan paling berdampak yang tersedia untuk secara bersamaan mengatasi perubahan iklim dan dampak kesehatan akibat polusi udara dari transportasi darat. Langkah-langkah pelengkap, termasuk standar emisi yang lebih ketat, bahan bakar yang lebih bersih, dan kebijakan yang menyasar kendaraan lama yang masih digunakan seperti program peremajaan armada, retrofit, dan zona rendah emisi, dapat memberikan manfaat kesehatan jangka pendek yang penting serta mempercepat manfaat elektrifikasi. (*)

Catatan:  ICCT  adalah organisasi riset nirlaba independen yang didirikan untuk menyediakan penelitian serta analisis teknis dan ilmiah yang unggul, objektif, dan tepat waktu bagi regulator lingkungan hidup. Kerjanya memberdayakan para pembuat kebijakan dan pihak lain di seluruh dunia untuk meningkatkan kinerja lingkungan dari transportasi darat, laut, dan udara demi manfaat kesehatan masyarakat dan mitigasi perubahan iklim. Kami memulai kolaborasi ini sebagai sekelompok pembuat kebijakan dan ahli teknis yang memiliki visi yang sama, dan secara resmi menjadi organisasi nonpemerintah yang digerakkan oleh misi pada tahun 2005.

 Laporan  ini ditulis oleh: Lingzhi Jin, Jonathan Benoit, Stefan Walzer-Goldfeld, M. Omar Nawaz, Patrick Wiecko, Arijit Sen, and Josh Miller

 
  • Penulis: Mahmud Ichi
  • Editor: Mahmud Ichi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini 7 Mitigasi Awal Perubahan Iklim di Malut

    • calendar_month Sab, 25 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 587
    • 1Komentar

    Sebagai Upaya Mendukung Program FOLU Net Sink 2030 Setelah melalui proses panjang selama  dua hari Rabu (22/2/2023) dan Kamis (23/2/2023)  menggelar seminar dan diskus, i para pihak yang terlibat dalam workshop Penyusunan Rencana Kerja (Renja) Sub Nasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 di Provinsi Maluku Utara menetapkan sejumlah  poin simpulan  yang akan ditindaklanjuti. Salah satunya […]

  • Cerita dari Laigoma Setelah Ada Solar Cell (1)

    • calendar_month Sab, 12 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 826
    • 2Komentar

    Rumah milik Safa Kamari (67 tahun) berada di ujung selatan Dusun I Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara.   Berdinding beton beratap seng, di halamannya berdiri satu buah panel surya yang berfungsi mengubah tenaga surya menjadi energi listrik. Dari panel ini tersambung dengan empat bola lampu yang dipasang di teras, ruang tamu, dapur […]

  • Hati hati, Kawasan Wisata Dialihkan ke Asing

    • calendar_month Ming, 19 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 572
    • 0Komentar

    Kawasan wisata Pulau Widi di Halmahera Selatan Maluku Utara

  • WALHI:Hari Bumi Harusnya  Bukan Lagi Pernyataan Normatif dan Komitmen Kosong

    WALHI:Hari Bumi Harusnya Bukan Lagi Pernyataan Normatif dan Komitmen Kosong

    • calendar_month Kam, 23 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 223
    • 0Komentar

    Hari Bumi 2026 diperingati di tengah ironi, krisis iklim dan bencana ekologis semakin meluas.Meski begitu izin-izin yang melegalkan perusakan dan menjadikan rentan ruang hidup rakyat terus diobral. Alih-alih menghentikan eksploitasi, kebijakan pembangunan di Indonesia justru semakin memberikan karpet merah pada industri ekstraktif yang merusak daratan dan lautan, mengorbankan ruang hidup petani, nelayan, masyarakat adat dan […]

  • Tersedia Rumah Kolaborasi dan Konsultasi Iklim

    • calendar_month Kam, 26 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 658
    • 1Komentar

    Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah membuka bursa karbon nasional di Bursa Efek Indonesia. Dalam rangka mengantisipasi minat masyarakat yang tinggi terhadap perdagangan karbon, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, meresmikan Rumah Kolaborasi dan Konsultasi Iklim dan Karbon (RK2IK) di Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta (23/10) lalu dalam rangka mendukung pencapaian target Nationally […]

  • Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

    • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 842
    • 1Komentar

    “Saya hanya ingin suatu saat generasi  dari Galela, Maluku Utara bahkan dunia,  pada 50 atau 100 tahun mendatang masih bisa menyaksikan burung mamua/ bertelur dan berkembang biak di pantai Simau. Ini jadi dasar saya memperjuangkan dengan segala upaya konservasi burung Mamua ini. Konservasi ini saya gagas meski awalnya  dicemooh. Akhirnya semua orang di kampong ini  […]

expand_less