Setiap 12 Menit, Polusi Kendaraan Bunuh Satu Nyawa
- account_circle Mahmud Ichi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 9

Padatnya kendaraan di salah satu ruas jalan di kota Ternate, foto HP
Kendaraan Nol Emisi Selamatkan 800.000 Jiwa hingga 2050
Laporan terbaru International Council on Clean Transportation (ICCT) organisasi riset nirlaba independen yang didirikan untuk menyediakan penelitian serta analisis teknis dan ilmiah yang unggul, objektif, dan tepat waktu bagi regulator lingkungan hidup, menemukan bahwa transisi cepat menuju kendaraan nol emisi dapat memangkas angka kematian dini akibat polusi transportasi darat. Angka kematian sebesar 63% dan kasus asma pada anak sebesar 80%. Hal ini, membalikkan tren yang jika dibiarkan akan meningkatkan angka kematian sebesar 74% pada 2050.
Di Indonesia, emisi transportasi darat menyebabkan 1 kematian dini setiap 12 menit dan memicu satu kasus baru asma pada anak setiap 26 menit. Hasil penelitian terbaru, Manfaat Kesehatan dari Kendaraan Nol Emisi Hingga 2050 yang dirilis 4 Agustus 2026 ICCT membuat laporan berdasarka studi global yang dilakukan di lebih dari 180 negara dan wilayah serta lebih dari 13.000 kawasan perkotaan.
Secara global, transportasi darat saja menyumbang hampir setengah dari pedoman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk polusi partikel halus di udara luar ruangan, menjadikannya target penting dalam upaya lintas sektor untuk mengurangi polusi udara yang berbahaya.

Manfaat Kesehatan dari Kendaraan Nol Emisi Hingga 2050. Jin et al 2026
Di Indonesia, transportasi darat berkontribusi terhadap 44.700 kematian dini dan lebih dari 19.800 kasus baru asma pada anak hanya pada tahun 2024 saja, menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia untuk kasus asma pada anak yang terkait dengan emisi NO₂.
Menurut laporan itu tidak semua kendaraan berkontribusi secara setara. Kendaraan berat merupakan penyumbang polusi udara terbesar. Meskipun hanya mencakup 2% dari armada transportasi darat Indonesia. Kendaraan berat menyumbang lebih dari setengah keseluruhan emisi NOₓ dan PM2.5, sementara kendaraan yang lebih ringan mendominasi emisi VOC dan CO.
Mengatasi tantangan ganda ini memerlukan kebijakan yang tepat sasaran untuk mendorong kendaraan nol emisi pada kedua kategori kendaraan tersebut.
“Dengan elektrifikasi kendaraan yang ambisius, pada 2050, kasus asma pada anak dapat dikurangi sebanyak 150.000 dan kematian dini dapat dikurangi sebanyak 800.000 di Indonesia serta lebih dari 8 juta secara global” ujar Lingzhi Jin dari ICCT.
Riset ICCT juga menunjukkan bahwa polusi transportasi darat berpotensi memperdalam ketimpangan kesehatan global. Sementara negara-negara berpenghasilan tinggi diproyeksikan mengalami penurunan 48% dalam kematian dini yang terkait transportasi darat berdasarkan kebijakan saat ini hingga 2050, negara-negara berpenghasilan menengah-atas diperkirakan akan mengalami peningkatan lebih dari 50%, dan negara-negara berpenghasilan rendah serta menengah-bawah bisa mengalami peningkatan lebih dari 200%.
Judul: Jumlah kematian dini melonjak di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah, sementara hanya negara-negara berpenghasilan tinggi yang akan mengalami penurunan berdasarkan kebijakan saat ini (Baseline 2025)

Namun, dalam skenario Elektrifikasi Ambisius di mana hampir seluruh penjualan kendaraan baru bebas emisi pada 2045, negara-negara di semua tingkat pendapatan akan mengalami penurunan signifikan dalam beban kesehatan yang diakibatkan oleh transportasi darat hingga 2050, dan kesenjangan tersebut akan menyusut secara drastis.
“Pertumbuhan populasi, populasi dunia yang menua, dan armada kendaraan yang terus bertambah memberikan tekanan yang terus meningkat terhadap beban kesehatan akibat transportasi darat, dan berdasarkan kebijakan saat ini, kekuatan-kekuatan tersebut akan mendominasi. Kajian ini menunjukkan bahwa elektrifikasi yang ambisius cukup kuat untuk memutus keterkaitan tersebut, mencegah hampir 9 juta kematian dini antara sekarang hingga 2050,” ujar Josh Miller, Direktur Senior ICCT dan salah satu penulis studi ini.
Sementara itu, Prof. Budi Haryanto dalam peluncuran kajian ICCT menyatakan bahwa polusi udara masih menjadi faktor risiko penting terhadap peningkatan beban penyakit,
terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak. “Pengendalian emisi perlu dilakukan secara terpadu melalui kebijakan transportasi, energi, dan pemantauan kualitas udara. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan kualitas udara yang lebih baik dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya lagi.
Transisi global dan cepat menuju kendaraan nol emisi merupakan salah satu instrumen kebijakan paling berdampak yang tersedia untuk secara bersamaan mengatasi perubahan iklim dan dampak kesehatan akibat polusi udara dari transportasi darat. Langkah-langkah pelengkap, termasuk standar emisi yang lebih ketat, bahan bakar yang lebih bersih, dan kebijakan yang menyasar kendaraan lama yang masih digunakan seperti program peremajaan armada, retrofit, dan zona rendah emisi, dapat memberikan manfaat kesehatan jangka pendek yang penting serta mempercepat manfaat elektrifikasi. (*)
Catatan: ICCT adalah organisasi riset nirlaba independen yang didirikan untuk menyediakan penelitian serta analisis teknis dan ilmiah yang unggul, objektif, dan tepat waktu bagi regulator lingkungan hidup. Kerjanya memberdayakan para pembuat kebijakan dan pihak lain di seluruh dunia untuk meningkatkan kinerja lingkungan dari transportasi darat, laut, dan udara demi manfaat kesehatan masyarakat dan mitigasi perubahan iklim. Kami memulai kolaborasi ini sebagai sekelompok pembuat kebijakan dan ahli teknis yang memiliki visi yang sama, dan secara resmi menjadi organisasi nonpemerintah yang digerakkan oleh misi pada tahun 2005.
Laporan ini ditulis oleh: Lingzhi Jin, Jonathan Benoit, Stefan Walzer-Goldfeld, M. Omar Nawaz, Patrick Wiecko, Arijit Sen, and Josh Miller
- Penulis: Mahmud Ichi
- Editor: Mahmud Ichi
