Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Kolaborasi Dorong Perdes Pesisir dan Laut Kayoa

Kolaborasi Dorong Perdes Pesisir dan Laut Kayoa

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 8 Sep 2020
  • visibility 525

Pakativa- KPMK- Foshal- Pemdes Guruapin Kerja  Bareng  

Perlindungan komprehensif untuk hutan mangrove dan pesisir laut sedang digagas bersama lembaga dan pemerintah desa Guruapin Kayoa Halmahera Selatan. Adalah Perkumpulan Pakativa, sebuah lembaga non pemerintah yang bergerak mengkampanyekan budaya, litrerasi dan ekologi bersama Komunitas Pencinta Mangrove Khatulistwa (KPMK) serta Forum Studi Halmahera (Foshal)   mendorong pembuatan Peraturan Desa untuk melindungi Pesisir dan laut di Kayoa khususnya  di Desa Guruapin.  

Diawali dengan Fokus Diskusi Grup (FGD) yang digelar di Desa Guruapin Kamis (4/8) malam lalu. Terungkap dalam FGD itu, kampung di pulau kecil yang berada tepat di garis khatulistiwa itu sangat membutuhkan Perdes ini untuk melindungi lingkungan laut dan pesisirnya dari ancaman kerusakan yang semakin serius.  

Direktur Pakativa Faisal  Ratuela saat memberikan masukan dalam FGD pertama yang dihadiri ketiga lembaga bersama pemerintah desa setempat  menjelaskan,  pentingnya Perdes ini untuk perlindungan mangrove  dan lautnya kini dan  masa depan.

Kawasan laut Kayoa yang indah. Foto: Mahmud Ici/kabarpulau

Selain pentingnya mendorong Perdes dan pemetaan wilayah, dia turut menjelaskan  tentang kerja-kerja Perkumpulan Pakativa di beberapa daerah.  Di Gane Halmahera Selatan misalnya, Pakativa telah melakukan  gerakan mendorong  ekonomi warga lokal. Caranya,  mengajak warga   mengolah  produk- produk lokal dengan memanfaatkan sumberdaya yang  dimiliki. “Dalam dua tahun ini kita telah mendampingi  komunitas masyarakat sekitar hutan atau community forest. Tujuannya agar mereka melindungi hutan dan memanfaatkan sumberdaya  alam yang mereka miliki. Misalnya menanam jenis tanaman pangan untuk memperkuat pangan rumah tangga. Mereka juga memanfaatkan hasil non kayu seperti aren untuk menambah pendapatan,” jelas Faisal. Mereka juga memanfaatkan produk turunan kelapa  selain untuk kopra.

Untuk Kayoa, sebenanrya memiliki kesamaan. Yakni mendorong warga agar melindungi hutan  mangrove  dan eksosistem pesisirnya. Pertanyaanya kenapa mangrove di Kayoa harus segera dilindungi?. Menurut dia, ancaman hilangnya mangrove sangat serius.  Karena itu perlu ada perhatian khusus  harus diberikan. Apalagi  bicara soal  pulau kecil yang memiliki kerentanan akibat ancaman perubahan iklim.

Mangrove yang masih baik di kawasan Logas Guruapin Kayoa. Foto: Mahmud Ici/kabarpulau

Mangrove katanya memiliki berbagai fungsi dan menyimpan berbagai kekayaan keanekaragaman hayati. “Mangrove dapat menyimpan karbon lima kali lebih besar dari hutan hujan tropis. Belum lagi kekayaan sumberdaya protein yang  hidup di  dalam kawasan.  Sebut saja jenis kerang, kepiting bahkan ikan. Semua ini ada di  hutan mangrove,” jelas Faisal.

Sementara perwakilan Foshal Rahmi Husen yang ikut memfasilitasi FGD itu mengungkapkan, Kayoa dalam kurun waktu hamper 20 tahun  ini mengalami perubahan kondisi alam yang sangat mencolok. Dulu kawasan mangrove menutupi hampir semua kawasan kampong ini. Lebatnya mangrove dan padatnya terumbu karang  serta padang lamun, memperkaya  jenis ikan  bahkan melimpah. Saat ini, semua  tinggal kenangan. Ikan juga susah didapat. Terumbu karang  habis  dan padang lamun juga telah hilang.

Tidak ada cara lain untuk mengembalikannya.Walaupun dalam jangka waktu lama dengan segera membuat perlindungan. Karena itu  tidak salah  jika perlu ada kolaborasi  mendorong dibuatnya  Peraturan Desa itu. “Peraturan desa itu harga mati untuk melindungi laut dan pesisir termasuk did dalamnya  hutan mangrove. Jika tidak, kondisi kerusakan mangrove dan lautnya  semakin serius ,” katanya.

Kepala Desa Guruapin Kayoa M Reom  H M Saleh mengatakan,  gagasan ini adalah langkah yang baik. Karena itu dia menyambut baik  yang digagas komunitas pencinta mangrove khatulistiwa bersama Pakativa dan Foshal. “Kami berterima kasih jika ada yang mau datang mendorong peraturan desa ini dibuat. Kami siap Perdes ini segera diwujudkan,” katanya.   

Kades juga sempat bercerita soal kondisi Kayoa khususnya di Guruapin yang semasa kecilnya  merasakan ikan yang melimpah  dengan  terumbu karang  dan mangrove yang  masih terjaga. Untuk memancing ikan tak perlu jauh- jauh. Di kawasan pantai desa ini saja   mendapatkan  berbagai jenis ikan. Tetapi sekarang  nelayan di desa Guruapin  harus keluar mengail ikan sampai bermil-mil. Untuk itu katanya upaya perlindungan ini mutlak diperukan untuk mengembalikan kondisi  yang ada  seperti semula.

Sementara Junaidi Salim dari Komunitas Pencinta Mangrove yang hadir dalam pertemuan itu, menyampaikan bahwa upaya  mengumpulkan bibit secara mandiri  dan menanamnya dalam dua tahun ini,  perlu  ada perlindungan. Sebelum  dibuat  Perdes  untuk perlindungan yang  mengikat seluruh masyarakat,  dia menyarankan  pemerintah desa  membuat semcam papan pengumuman  larangan  merusak mangrove terutama yang mereka telah tanam. Ini karena penanaman yang mereka lakukan banyak yang dirusak.

“Kami menyarankan  pemerintah desa segera membuat papan larangan agar tidak merusak dan mengambil mangrove yang telah kami tanam. Ini sangat penting untuk perlindungan awal,” ujar Junaidi. Apa yang disampaikan pihak komunitas ini langsung direspon Kades dan meminta segera dibuat beberapa papan pengumuman dan poster untuk melindungi kawasan yang telah ditanami mangrove.  

Junaidi juga mengingatkan perlu segera dipikrikan upaya  mengatasi adanya eksploitasi mangrove sebagai  bahan kayu bakar  rumah  maupun   pengambilan mangrove  untuk kegiatan ekonomi lainnya.

“Kayu mangrove ini sudah digunakan turun temurun.  Ada yang untuk kayu bakar, bahan bangunan rumah sampai  dijual. Ini persoalan pelik yang perlu dipikirkan jalan keluarnya, sebelum  dibuat Perdes ini,” ujarnya. Masukan ini  menjadi bahan masukan untuk penyusunan Perdes nanti.

Sekadar diketahui kawasan pulau-pulau kayoa kaya dengan mangrove. Meski begitu mangrove  juga banyak dieksploitasi untuk kebutuhan rumah tangga. Sayangnya sepanjang tahun belum ada penananaman ulang pasca diambil. Karena itu di beberapa lokasi di daerah ini mangrove-nya sudah mulai berkurang bahkan mengalami kerusakan. “Di desa Guruapin yang dulu kawasan pantainya    ditumbuhi mangrove, kini telah hilang,”kata M Rahmi yang juga tokoh masyarakat desa Guruapin.  (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Belantara Fondation Bahas Nilai Ekonomi dan Pendugaan Karbon Hutan

    • calendar_month Kam, 17 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 595
    • 0Komentar

    Hutan di kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata Halamhaera

  • FKIP Unkhair dan Warga Buat Peta Jalur Evakuasi Bencana Tsunami

    • calendar_month Kam, 13 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 705
    • 1Komentar

    Pengabdian  Kepada Masyarakat (PKM), dilaksanakan oleh dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Khairun, di Desa Bobanehena Kecamatan Jailolo Halmahera Barat. Dalam PKM ini para dosen bersama masyarakat membuat  pemetaan partisipatif  jalur evakuasi bencana tsunami. Kegiatan pada Selasa (11/7/2023) lalu itu, sebagai bentuk literasi pengurangan resiko bencana untuk masyarakat. Koordinator kegiatan Astuti Salim MPdSi […]

  • Tak Ada Zonasi Wilayah jadi Problem Ekowisata

    • calendar_month Sab, 16 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 611
    • 0Komentar

    Kawasan ekowisata Taman Love di puncak Moya dikuatirkan memunculkan masalah baru soal keterbukaan akses yang bisa memicu ikutya pemukiman ke kawasan ini yang masuk kawasan rawan bencana III.

  • Oligarki Bermain di Pilkada Maluku Utara?

    • calendar_month Ming, 6 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 664
    • 0Komentar

    Tambang Nikel di Kawasan Tanjung Obolie Pulau Gebe yang saat ini dieksploitasi PT FBLN. Foto Mahmud Ici

  • Perlindungan Sagu Tak Dilakukan, Perda Hanya Pajangan (3) Habis

    • calendar_month Sen, 8 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 810
    • 0Komentar

    Sejak dulu kampung-kampun g di Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara memiliki banyak kebun sagu. Salah satu desa yang menjadi pusat sagu adalah Sagea dan Kiya di Weda Utara. Karena potensi itu, pemerintah daerah kemudian berpikir melindunginya setelah massivenya industri tambang masuk ke wilayah ini. Pemkab Halmahera Tengah  kemudian membuat Peraturan Daerah (Perda) untuk melindungi pohon […]

  • Ada Apa, Ikan di Pesisir Ternate Mati Mendadak?

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 705
    • 2Komentar

    Peristiwa tidak biasa terjadi di pantai Kelurahan Sasa Kota Ternate Selatan Kota Ternate Maluku Utara  Minggu (10/9/2023) pagi.  Warga di  kawasan pantai  RT05/RW02  itu digegerkan adanya ribuan ikan mati terdampar. Kawasan pantai  yang juga dipenuhi berbagai jenis sampah baik plastic dan  sisa aktivitas rumah tangga itu berserakan bangkai beberapa jenis ikan. Beberapa    yang diidentifikasi […]

expand_less