Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Menjaga Tradisi Perempuan Pesisir Patani Utara Lewat Lomba VAUF

Menjaga Tradisi Perempuan Pesisir Patani Utara Lewat Lomba VAUF

  • account_circle Mahmud Ici
  • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
  • visibility 184

Di masyarakat pesisir kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara, memiliki  satu  tradisi  menangkap ikan.  Namanya  Vauf.  Vauf adalah nama jorang yang dipakai dari batang bambu atau batang pelepah sagu. Orang Maluku Utara umumnya mengenal dengan huhati.

Vauf dimakani sebagai memancing ikan menggunakan jorang dari bambu atau pelepah sagu. Hal ini  dilakukan mama-mama saat menangkap ikan di waktu senggang.

Alat tangkap Vauf konstruksinya sama seperti jorang  umumnya. Batang bambu atau pelepah sagu, nilon dan mata kail. Ukuran nilon disesuaikan  ukuran jorang.

Budaya Vauf memiliki nilai penting karena mencerminkan praktik penangkapan ikan tradisional yang sederhana, ramah lingkungan, serta mendukung keberlanjutan sumberdaya perairan.

Kali ini  dibuat dalam bentuk lomba yang  focus untuk ibu-ibu di pesisir Patani Utara.

Adapun tujuan utama Lomba Vauf ini adalah melestarikan Budaya Vauf sebagai kearifan lokal masyarakat pesisir. Menguatkan peran perempuan pesisir dalam pelestarian budaya bahari. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik penangkapan ikan ramah lingkungan. Mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya pesisir. Mendukung pengembangan wisata bahari berbasis budaya lokal di Kecamatan Patani Utara.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Yayasan Studi Etnologi Masyarakat Nelayan Kecil (SEMANK) Maluku Utara Minggu, (17/5/ 2026) di Pantai Yeisowo, Desa Bilifitu, Kecamatan Patani Utara, Halmahera Tengah.

Peserta  lomba  berasal dari  perempuan pesisir   Desa Bilifitu, Gemia, Woyobibil yang diikuti 26 peserta. Dari Desa Bilifitu 10 orang, Woyobibil 10 orang, Desa Gemia 4 orang, dan Desa Santosa 2 orang.

Dibuka  oleh Kepala Desa Gemia,  Alfian Faruk, dihadiri Kepala Desa Bilifitu, tokoh masyarakat, dan masyarakat sekitar yang ikut meramaikan kegiatan.

Para Peserta lomba foto bersama sebelum turun arena menangkap ikan menggunakan Vauf, foto SEMANK

Alfian Faruk saat membuka lomba menyampaikan bahwa, Vauf adalah tradisi mama-mama  sejak dulu. Dilakukan saat waktu senggang. Biasanya  2 atau 3 orang dengan durasi waktu 2 hingga  3 jam.

“Semua tempat di pesisir desa, yang ada ikan dan tidak ada ikan sudah diketahui,” katanya.

Ibu-ibu menggunakan kegiatan untuk merefresh diri atas  permasalah yang mereka hadapi sehari-hari.

Mama Alwiyah, salah satu peserta lombah Vauf menyampaikan, kegiatan ini dilakukan tidak setiap saat.

“Bukan hanya cari ikan tapi juga tempat bacarita apa saja yang kitorang hadapi baik dalam rumah tangga maupun masalah pekerjaan di tengah masyarakat,” ujar Mama Alwiyah. Melalui kegiatan itu  mereka  juga bisa tukar pikiran  antar teman.

Kegiatan ini juga melibatkan pemuda-pemudi yang masuk sebagai panitia. Mereka menjadi bagian dari mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya pesisir ini.

Sri Endah Widiyanti dari Yayasan SEMANK yang menyelenggarakan lomba menyampaikan bahwa tingginya antusiasme masyarakat, menunjukkan   budaya pesisir masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari pelestarian budaya bahari, penguatan identitas masyarakat pesisir, serta pengembangan wisata bahari berbasis kearifan lokal di Halmahera Tengah.

Melalui lomba Vauf masyarakat diajak kembali memahami pentingnya menjaga laut dari praktik penangkapan yang bersifat destruktif serta meningkatkan kesadaran mengenai pemanfaatan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan.

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk merawat tradisi, menguatkan peran perempuan pesisir dan mendorong wisata bahari berbasis kearifan local,”ujar Sri Endah

Dijelaskan,  lomba Vauf merupakan bagian dari upaya pelestarian kearifan lokal masyarakat pesisir yang diwariskan turun-temurun oleh perempuan pesisir di Kecamatan Patani Utara.

Dia bilang  lomba ini adalah bentuk dukungan pelestarian budaya pesisir dan penguatan peran perempuan dalam pengelolaan sumberdaya perairan secara berkelanjutan

“Ini langkah mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, menjaga habitat perairan, serta memperhatikan ukuran ikan layak tangkap,” katanya.

Selain itu bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan untuk generasi mendatang.(aji)

 

 

  • Penulis: Mahmud Ici

Rekomendasi Untuk Anda

  • Greenpeace: Wajib Lindungi Laut 30×30 2030

    • calendar_month Jum, 24 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 575
    • 0Komentar

    Para aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk bertuliskan pesan “LINDUNGI LAUT SELAMANYA” di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat,  Kamis, 23 Februari 2023. Aksi  ini sebagai bentik desakan kepada pemerintah Indonesia untuk meningkatkan komitmen melindungi lautan. Aksi ini berlangsung bersamaan dengan diselenggarakannya  perundingan untuk Perjanjian Laut Internasional atau Global Ocean Treaty di kantor Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), […]

  • Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 695
    • 0Komentar

    Catatan dari COP 30 di Brazil   Di tengah meningkatnya dampak krisis iklim dan melambatnya komitmen negara-negara untuk menekan suhu bumi di bawah 1,5°C, orang muda dunia menyatukan suara mereka. Melalui Global Youth Statement (GYS), ribuan orang muda dari lebih dari 150 negara menyerukan perubahan arah kebijakan iklim global menuju transisi energi yang adil, pendanaan […]

  • Hadapi Krisis Air dengan Pengelolaan Sumberdaya Berkelanjutan

    • calendar_month Kam, 14 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 509
    • 0Komentar

    Menanam pohon adalah salah satu jawaban atas persoalan krisis air yang mulai melanda bumi foto Duta Kreator Indonesia (DKI)

  • Mengenal Pulau SIBU,Kecil nan Indah dan Dikeramatkan

    • calendar_month Ming, 2 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 786
    • 1Komentar

    Pulau Sibu dilihat dari udara, foto opan Jacky

  • Jumlah Pulau di Maluku Utara Bertambah

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 1.219
    • 1Komentar

    Dari 805 Jadi 1080 Pulau, Terbanyak di Halmahera Selatan Julukan negeri seribu pulau bagi Maluku Utara  benar adanya. Pasalnya jumlah pulau di daerah ini yang sebelumnya sesuai data resmi pemerintah hanya 805,   telah berubah menjadi 1080 pulau. Data ini berubah berdasarkan hasil revisi yang  dilakukan Badan Informasi Geospasial (BIG). Perubahan data jumlah pulau ini, juga […]

  • Orang Tobaru dan Tradisi Menanam

    • calendar_month Jum, 5 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 944
    • 2Komentar

    Hari masih pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 07.25 WIT. Jumat (19/2) pagi  itu,  Rin Bodi (49) dan   suaminya    Lius Popo (57) sudah meninggalkan rumah menuju kebun dan dusun kelapa  yang berada kurang lebih 3 kilometer dari desa Podol Kecamatan Tabaru Kabupaten Halmahera Barat. Podol sendiri adalah satu dari 16 desa  di kecamatan Tabaru  yang […]

expand_less