Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Cara Libatkan Warga Pantau dan Kelola Data Kehati Lewat Citizen Science   

Cara Libatkan Warga Pantau dan Kelola Data Kehati Lewat Citizen Science   

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 7 jam yang lalu
  • visibility 13

Dalam mendukung pemantauan dan pengelolaan kelestarian biodiversitas dibutuhkan data lapangan yang lebih luas. Menghadapi tantangan  luasnya wilayah dan keterbatasan sumber daya manusia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sains Data dan Informasi menyelenggarakan DESAIN #8 (Dialog Eksplorasi Sains Data dan Informasi yang memberi Peran Citizen Science dalam Transformasi Data Biodiversitas belum lama ini.

Penguatan ekosistem data biodiversitas nasional melalui pemanfaatan Citizen Science, sains data, dan teknologi digital ini sangat dibutuhkan di era digital.

Kepala Pusat Riset Sains Data dan Informasi BRIN, Esa Prakasa, berharap hal ini dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengumpulan data ilmiah menjadi salah satu pendekatan penting memperkuat basis data biodiversitas Indonesia.

“Citizen Science membuka peluang bagi masyarakat untuk berkontribusi langsung dalam pengumpulan dan dokumentasi data biodiversitas. Dengan dukungan sains data dan kecerdasan buatan, data yang dihimpun dapat memiliki kualitas dan nilai guna yang lebih tinggi untuk penelitian maupun pengambilan kebijakan berbasis bukti,”ujarnya.

Perkembangan platform digital memungkinkan pencatatan keberadaan spesies, pemantauan habitat, hingga pelaporan perubahan lingkungan dilakukan secara lebih luas dan berkesinambungan.

Hal ini berpotensi meningkatkan cakupan spasial dan temporal pengamatan biodiversitas di Indonesia.  Rahardito Dio Prastowo yang  membahas tantangan pengelolaan data Citizen Science, khususnya permasalahan data sparsity dan class imbalance pada data keanekaragaman hayati.Mengkaji tantangan utama dalam pemanfaatan data dari platform seperti iNaturalist, eBird, dan GBIF, yang umumnya memiliki distribusi tidak merata.

Hanya sebagian kecil spesies yang memiliki jumlah observasi sangat banyak, sementara sebagian besar spesies memiliki data yang terbatas.

Kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas analisis, identifikasi spesies, pemodelan distribusi spesies, hingga pengembangan sistem berbasis kecerdasan buatan.

Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Sains Data dan Informasi itu membahas penyebab dan karakteristik permasalahan, berbagai pendekatan yang telah digunakan untuk mengatasinya, serta tren penelitian dan peluang pengembangan di masa depan guna meningkatkan kualitas pemanfaatan data Citizen Science dalam mendukung konservasi dan pemantauan keanekaragaman hayati.

Sementara, Denis Albihad dari Javan Wildlife Institute (JAWI)  memaparkan pemanfaatan data biodiversitas untuk mendukung upaya konservasinya.  Begitu juga Swiss Winnasis dari Birdpacker Indonesia   menjelaskan inovasi teknologi dalam monitoring dan konservasi satwa liar.

Esa berharap  ini menjadi wadah  mempertemukan peneliti, praktisi konservasi, komunitas, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun kolaborasi lintas sektor. “Transformasi data biodiversitas tidak dapat dilakukan  satu pihak saja, sehingga dibutuhkan kolaborasi antara peneliti, komunitas, organisasi konservasi, dan masyarakat agar data yang dihasilkan lebih terbuka, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia,” harapnya.

Selain memperluas wawasan  mengenai tantangan dan peluang Citizen Science, kegiatan ini  diharapkan menghasilkan rekomendasi  pengembangan platform data biodiversitas, riset kolaboratif, publikasi ilmiah, hingga policy brief yang mendukung konservasi keanekaragaman hayati serta dapat memperkuat pemanfaatan sains data dan teknologi digital. Dengan demikian dalam pengelolaan biodiversitas  dapat mendorong partisipasi masyarakat sebagai bagian penting dari ekosistem riset dan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.(*)

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BMKG: Waspadai Gelombang Tinggi

    • calendar_month Rab, 16 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 548
    • 0Komentar

    Badan Meteorologi  Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ternate mengeluarkan peringatan kepada masyarakat Kota Ternate dan Maluku Utara umumnya, agar selalu  waspada dengan kondisi cuaca  beberapa hari ini. Kepala BMKG Ternate Joko Sumardiono melalui rilis  yang dikirim ke kabarpulau.co.id/ menyampaikan bahwa   umumnya hujan ringan di sebagian besar wilayah Maluku Utara dengan potensi hujan sedang-lebat di wilayah Taliabu. […]

  • Indonesia Perkuat Diplomasi Iklim Menuju COP 30:

    • calendar_month Ming, 3 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 700
    • 9Komentar

    Dorongan Kolaboratif, Inklusif, dan Berbasis Sains untuk Hadapi Krisis Global Menyambut Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP 30) yang akan digelar di Belem, Brasil pada 10-21 November 2025, Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menyelenggarakan Workshop Jurnalis bertajuk “Amplifying COP 30 to Indonesia: Memperkuat Dampak Peliputan COP 30”. Agenda ini menjadi forum penting untuk menguatkan […]

  • Aksi Iklim BRI,akan Setop Danai Batu Bara

    • calendar_month Jum, 27 Mei 2022
    • account_circle
    • visibility 739
    • 1Komentar

    Aksi yang digelar untuk investasi bersih bagi bumi foto, 350.org

  • KPK Apresiasi LHKPN DPRD Halsel dan Morotai

    • calendar_month Kam, 25 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 592
    • 0Komentar

    Plt Jurubicara KPK Ipi Maryati

  • Bangun Jalan, Mangrove di Pulau Bacan Rusak

    • calendar_month Jum, 10 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 843
    • 2Komentar

    Mangrove yang ditebang untuk pembuatan jalan masuk ke kawasan resapan air Labuha Bacan foto Sahmar

  • Ada 3 Spesies Baru Ditemukan Pada 2023

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 778
    • 1Komentar

    Sejak 2021 -2023 Ada 90 Spesies TSL Baru Berdasarkan hasil eksplorasi BRIN dan KLHK, lebih dari 90  jenis spesies baru telah ditemukan dalam kurun waktu tahun 2021-2023. Berbagai spesies baru tumbuhan dan satwa liar (TSL) telah banyak ditemukan, baik di dalam kawasan konservasi maupun di luar kawasan hutan. Rilis yang dikeluarkan oleh Kementeruan Lingkungan Hidup […]

expand_less