Tradisi Padi Ladang yang Hilang di Halmahera (2)
- account_circle Redaksi
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 46

Muddin Hasan (69) salah satu petani di Desa Samo yang masih menanam padi ladang saat berada di tengah kebunnya yang berisi padi, foto Mici
Dari Hutan ke Pasar: Saat Uang Mengalahkan Pangan Lokal
Perubahan besar di Desa Samo tidak datang melalui program pangan. Ia datang bersama industri kayu. Pada akhir 1980-an, perusahaan logging mulai masuk ke wilayah Gane Barat Utara. Jalan-jalan bekas perusahaan masih bisa ditemukan hingga hari ini, membelah kebun dan hutan warga. Bersamaan dengan itu, pola hidup masyarakat mulai berubah. Adi Hasyim masih mengingat masa ketika hampir semua warga menanam padi ladang.
“Dulu kalau buka kebun, pertama tanam padi dulu,” katanya.
Setelah beberapa kali panen, lahan baru ditanami kelapa, pala, atau cengkih. Tetapi sejak perusahaan kayu masuk, banyak warga mulai bekerja sebagai tenaga harian. Mereka memperoleh uang tunai secara lebih cepat dibanding menunggu panen padi. Dari sinilah perubahan besar dimulai.
Ketika uang tunai mudah diperoleh, kebutuhan pangan tidak lagi dipenuhi dari kebun sendiri. Warga mulai membeli beras dari toko. Tradisi menanam perlahan ditinggalkan. Ekonomi uang menggantikan ekonomi subsisten. Fenomena ini sebenarnya bukan hal unik di Halmahera Selatan.
Di banyak wilayah pedesaan Indonesia, masuknya industri ekstraktif sering mengubah relasi masyarakat dengan pangan. Pertanian pangan dianggap kurang menguntungkan dibanding tanaman komoditas atau pekerjaan berbasis upah. Masalahnya, ketergantungan pangan selalu mengandung risiko.
Harga beras bisa naik sewaktu-waktu. Distribusi bisa terganggu. Biaya logistik di wilayah kepulauan sangat mahal. Dalam kondisi seperti itu, desa kehilangan bantalan keamanan pangan. Ketika masyarakat berhenti menanam, mereka kehilangan kontrol atas sumber makanan mereka sendiri. Perubahan itu juga mengubah relasi sosial di desa.
Dulu musim tanam padi menjadi kegiatan kolektif. Warga saling membantu membuka kebun dan menanam. Kini hubungan ekonomi semakin individual. Orang bekerja untuk memperoleh uang, lalu membeli kebutuhan masing-masing.

Muksin Taher (50 tahun) petani desa Samo yang membuka sebagian lahan perkebunan kelapanya yang tidak produktif lagi dengan berencana menanam tanaman hortikultura, foto mici
Bahkan generasi muda semakin jauh dari dunia pertanian. Bertani dianggap tidak menjanjikan. Mereka lebih tertarik pekerjaan yang memberi pendapatan cepat. Dalam jangka pendek, perubahan ini mungkin terlihat menguntungkan. Namun dalam jangka panjang, desa menghadapi ancaman serius: hilangnya kemampuan memproduksi pangan sendiri.
Ketika harga pangan naik, masyarakat menjadi kelompok paling rentan. Ironisnya, semua itu terjadi di tengah melimpahnya sumber daya alam. Halmahera Selatan memiliki lahan luas dan curah hujan tinggi. Tetapi kemampuan memproduksi pangan justru rendah. Ini menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan sekadar soal ketersediaan lahan.
Yang menentukan adalah arah pembangunan. Selama desa didorong hanya menjadi penghasil komoditas pasar, tanaman pangan akan terus tersingkir. Padahal pangan tidak bisa diperlakukan semata sebagai barang dagangan.
Ia berkaitan langsung dengan keberlangsungan hidup masyarakat. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi pangan.
Yang lebih mendasar adalah bagaimana mengembalikan nilai sosial dan politik pangan di tingkat desa. Tanpa itu, masyarakat akan terus terjebak dalam logika pasar: menjual hasil kebun untuk membeli makanan yang seharusnya bisa mereka tanam sendiri.
Harga kopra yang lumayan bagus membuat petani mengubah ladang dengan tanaman kelapa, coklat dan pala. Tahun 1986 petani masih bertanam padi, setelahnya tidak lagi. Dulu padi menjadi tanaman awal ketika lahan dibuka. Proses tanam dilakukan hingga beberapa kali kemudian diganti tanaman kelapa. Kelapa menjadi tanaman penting warga karena bisa menjadi sandaran hidup mendapatkan uang.
Memasuki era 1990-an warga bekerja di perusahaan kayu. Dari situ makin banyak orang beralih kerja dari pekebun menjadi karyawan harian lepas.
Sejak para petani bekerja di perusahaan itulah, kebiasaan warga mengandalkan beras dari padi yang ditanam mulai terkikis. Mereka mudah mendapatkan uang dan mampu membeli beras yang dijual perusahaan maupun pedagang di kampong.Kondisi itu terbawa sampai sekarang meski perusahaan telah angkat kaki sejak tahun 2003 tradisi yang hilang itu tak kembali. Warga seperti sudah terbiasa memenuhi pangannya dengan membeli.
Minimnya warga menanam padi ladang tergambar dari data desa. Pada 2025-2026 ada petani kurang lebih 150 KK. Sisanya nelayan dan profesi lain, namun hanya satu petani menanam padi.
————
Ketika Desa Bergantung pada Beras dari Luar
Ketahanan pangan bangsa, mestinya dimulai dari desa. Hal itu tidak akan terwujud kala desa hanya mengandalkan pangan dari luar daerah bukan dari desanya sendiri. Ketika pangan sendiri tak dipenuhi kerentanan dihadapi saat paceklik. Kondisi ini, tidak hanya dialami warga Samo tetapi hampir semua desa di Maluku Utara.
“Tradisi menanam padi selama ini hilang. Kebutuhan pangan terutama beras harus dibeli. ,” ujar Arsyad Hasyim penyuluh pertanian di desa Samo.
Kecamatan Gane Barat Utara yang terdiri dari 12 desa, selain Samo, ada desa Boso, Jikolamo, Dolik, Suka Damai, Tokaka, Nurjihat, Moloku, Samat, Posi Posi, Gumira, dan Batulak sama kondisinya. Warga akrab dengan usaha cocok tanam , tetapi belum mandiri pangan. Beras dan sayur mayor harus didatangkan dari luar daerah.
Meski punya lahan luas, untuk sayur saja warga harus menunggu penjual dari luar kecamatan. Untuk kebutuhan beras tidak ada yang produksi dari ladang. Sudah puluhan tahun tergantung beras dari toko.
Bagi Arsyad, yang mesti didorong saat ini adalah kemampuan pangan desa, dengan memberdayakan petaninya.
“Jika Negara bicara pangan Negara, dimulai dari desa harus mampu menyediakan pangannya. Ini pekerjaan rumah kita semua,” jelasnya.

Padi ladang yang pernah ditanam warga Samo pada 2021 lalu di sela sela kebun kelapa,foto mici
Contoh kasus di Desa Samo ada empat pedagang menjual kebutuhan masyarakat, termasuk beras. Penjualan beras tinggi. Semua warga menggantungkan pangan-beras yang didatangkan dari Ternate.
“Beras yang terjual 1 sampai 2 ton,” ujar Daeng Mustafa salah satu pedagang asal Sulsel.
Harga per kilogramnya antara Rp20 ribu- hingga Rp22.000. Sementara penjualan per zak antara Rp400 ribu hingga Rp450 ribu tergantung kualitas beras.
“Harga terus naik. Sekarang menyentuh Rp450 ribu per zak,” katanya.
Sidik M (59) pedagang lainnya mengaku sebulan harus mendatangkan beras dari Ternate antara 1 hingga 2,5 ton untuk penuhi kebutuhan masyarakat desa.
Dari 4 pedagang jika rata rata menjual beras 1 hingga 2 ton, artinya tiap bulan beras yang didatangkan dari luar daerah mencapai 4 hingga 8 ton.
Kondisi ini bertolak belakang dengan lahan yang tersedia dan tradisi menanam padi ladang yang turun temurun. Jika praktik menanam padi dipertahankan, uang yang diperoleh bisa disimpan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak, seperti pendidikan dan kesehatan. Bersambung (*)
- Penulis: Redaksi
