Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Tumbuhnya Tambang, Tumbangnya Pulau

Tumbuhnya Tambang, Tumbangnya Pulau

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 30 Mei 2025
  • visibility 709

Oleh: Herman Oesman

Dosen Sosiologi FISIP UMMU

Pulau-pulau kecil di Indonesia telah lama menjadi ruang hidup masyarakat pesisir yang menggantungkan kehidupan pada laut, hutan, dan tanah. Namun, dalam dua dekade terakhir, pesona kandungan mineral yang terkubur di dalam perut bumi pulau-pulau itu menjelma menjadi kutukan.

Ekspansi tambang besar-besaran yang didorong oleh kepentingan ekonomi nasional justru mengancam keberlanjutan ekologis dan kultural masyarakat pulau. Fenomena ini menimbulkan ironi yang menyakitkan : tambang tumbuh, pulau tumbang dan mati.

Pemerintah Indonesia, dalam semangat pembangunan ekonomi, terus mendorong investasi sektor pertambangan sebagai tumpuan pertumbuhan daerah. UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menjadi landasan regulatif yang memungkinkan perusahaan besar masuk hingga ke pelosok pulau, termasuk pulau-pulau kecil di kawasan timur Indonesia.

Sejak saat itu, pulau-pulau di Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, dan Nusa Tenggara mulai berubah wajah menjadi lahan-lahan tambang yang rakus sumber daya.

Dalam konteks Pulau Obi dan Halmahera di Maluku Utara, misalnya, ekspansi industri nikel menjadi titik balik ekologi pulau. Proyek-proyek nikel seperti di  Halmahera Selatan dan Halmahera Tengah yang telah menyerap ribuan tenaga kerja dan menarik investasi triliunan rupiah. Namun, di balik geliat ekonomi tersebut, terjadi degradasi lingkungan yang signifikan : hutan-hutan tropis dibabat, sungai-sungai tercemar limbah, dan wilayah tangkapan air laut menjadi rusak karena sedimentasi.

Data WALHI menunjukkan bahwa pada 2022 lebih dari 60% wilayah Halmahera Tengah telah dikapling izin tambang dan industri (WALHI, 2022: 18). Bagi masyarakat lokal, terutama masyarakat adat dan nelayan, hadirnya tambang bukanlah berkah. Justru, mereka kehilangan akses terhadap ruang hidup, mata pencaharian, dan identitas kultural. Dalam studi yang dilakukan oleh Vel and Zakaria, masyarakat Sawai di Pulau Seram dan warga Gane di Halmahera Selatan menunjukkan ekspresi kehilangan yang mendalam terhadap tanah dan laut mereka yang selama ini menjadi sumber penghidupan. Mereka tidak hanya kehilangan ladang dan sungai, tetapi juga hubungan spiritual dengan alam yang telah membentuk identitas mereka selama berabad-abad (Vel & Zakaria, 2021: 44).

Lebih jauh, pembangunan industri tambang di pulau-pulau kecil melanggar prinsip keadilan ekologis. Menurut Vandana Shiva (2005), keadilan ekologis menuntut pengakuan atas hak komunitas lokal atas alam, dan penghentian eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya yang merusak kehidupan. Namun, logika ekonomi ekstraktif yang dominan justru menempatkan alam sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai entitas yang hidup dan memiliki hak. Pulau-pulau yang dulunya hijau dan lestari berubah menjadi lahan industri kotor yang hanya menyisakan debu dan luka ekologis.

Salah satu aspek paling menyedihkan adalah dampak terhadap air bersih. Di Pulau Gebe, misalnya, aktivitas pertambangan telah menyebabkan kontaminasi sumber air tawar yang menjadi andalan masyarakat pulau. Dalam laporan JATAM (2020), disebutkan bahwa air di beberapa desa menjadi keruh, berwarna kemerahan, dan tidak layak dikonsumsi (JATAM, 2020: 12). Ketika air, elemen paling mendasar bagi kehidupan, menjadi korban eksploitasi tambang, maka sebenarnya yang mati bukan hanya pulau, melainkan juga masa depan generasi yang tinggal di sana.

Selain itu, kerusakan lingkungan akibat tambang juga memperparah kerentanan terhadap bencana. Di banyak pulau kecil, deforestasi karena tambang menyebabkan longsor, banjir, dan erosi pantai yang membahayakan keselamatan penduduk. Dalam konteks perubahan iklim global, kondisi ini semakin mengancam eksistensi pulau-pulau kecil yang rentan tenggelam akibat naiknya permukaan air laut. Maka, tambang tidak hanya membunuh pulau dari dalam, tetapi juga mempercepat kehancurannya dari luar.

Solusi terhadap persoalan ini tidak cukup hanya dengan pengawasan atau regulasi ketat. Yang dibutuhkan adalah pergeseran paradigma pembangunan dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi berbasis keberlanjutan dan keadilan ekologis. Masyarakat lokal harus dilibatkan secara penuh dalam proses pengambilan keputusan, dan hak-hak mereka atas tanah, laut, dan air harus dijamin secara hukum. Sebagaimana ditegaskan oleh Arturo Escobar (2008), pembangunan sejati adalah pembangunan yang berpihak pada kehidupan, bukan pada akumulasi kapital.

Pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia, khususnya Maluku Utara, bukanlah ruang kosong yang menunggu dieksploitasi, melainkan rumah bagi komunitas yang memiliki pengetahuan lokal, spiritualitas, dan sejarah yang panjang. Ketika tambang merampas semua itu, maka yang mati bukan hanya pulau, tapi juga kebudayaan dan kemanusiaan.[]

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kisah “Kampung Tua” Tifure di Pulau Batang Dua

    • calendar_month Kam, 17 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 857
    • 1Komentar

    Tifure (Kiri) Pulau Gurida (Kanan) Dulu warga yang berkebun di pulau Gurida dijangkau dengan jalan kaki. Kini seiring waktu karena naiknya permukaan air laut untuk menuju pulau Gurida harus menggunakan perahu. foto koleksi pribadi Asgar Saleh

  • 9 Ekor Paruh Bengkok Pulang ke Halmahera

    • calendar_month Kam, 30 Sep 2021
    • account_circle
    • visibility 418
    • 0Komentar

    Burung burung tersebut saaat diangkut menuju Halmahera

  • 326 Peserta Ramaikan Mancing Mania Dies Natalis Unkhair

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 404
    • 1Komentar

    MaPanitia Mancing Maniia bersiap menuju Modayama Kayoa Halmahera Se;latan

  • WALHI Gelar Camping Kaum Muda Kepulauan

    • calendar_month Rab, 8 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 402
    • 0Komentar

    Bangun Kesadaran Sejak Dini untuk Lingkungan Pada Jumat hingga Minggu (03-05/11/ 2023) lalu Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara,  menggelar Camping Kaum Muda Kepulauan. Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan wisata Pantai Kastela Kecamatan Pulau Ternate Maluku Utara.  Kegatan  itu mengusung tema “Selamatkan Ruang Hidup Rakyat Maluku Utara Dari Solusi Palsu Transisi Energi”  Kegiatan outdor […]

  • Sungai Sagea Nasibmu Kini, Keruh Belum Usai   

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 2.128
    • 2Komentar

    6 September 2023 “Emas Coklat” Mengalir Sampai Jauh Kuning kecoklatan air sungai Sagea dan kawasan sungai Boki Moruru di Desa Sagea Weda Halmahera Tengah Maluku Utara, yang ditengarai terjadi sejak April 2023 lalu belum juga usai. Informasi yang dihimpun kabarpulau.co.id/ dari lapangan  Selasa pagi, air sungai Sagea kembali keruh setelah sempat bersih beberapa hari.   […]

  • Kiprah Jamal Adam Jaga dan Rawat Paruh Bengkok    

    • calendar_month Ming, 4 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 592
    • 2Komentar

    Sabtu (17/12/2023) siang sekira pukul 12.30 WIT itu terasa menyengat.  Suasana Suaka Paruh Bengkok (SPB) di kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) Desa Koli Oba Kota Tidore Kepulauan Maluku Utara itu juga, terlihat hanya ada 3 pengunjung. Mereka adalah karyawan sebuah perusahaan tambang yang datang selain berwisata juga menyerahkan seekor kakatua jambul kuning (cacatua […]

expand_less