Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 9 Nov 2023
  • visibility 794

Busuk Buah Bertahun-Tahun, Tak Digubris Pemerintah?

Hari sudah agak siang Rabu (31/10/2023). Meski begitu di bawah perkebunan kakao yang ditumpangsarikan kelapa dan pala berjarak kurang lebih satu kilometer dari Panamboang Bacan Selatan Pulau Bacan itu terasa sejuk.    

Jarum jam menujukan sekira pukul 11.20 WIT. Saif Bakar (49) sibuk mengumpulkan satu per satu buah kakao matang yang telah dijolok dari pohonnya selama dua hari berturut turut.

Buah kakao yang berserakan di bawah pohon setelah  pemanen, dikumpulkan satu per satu ke dalam saloi (keranjang yang dianyam dari bamboo dan rotan dan biasa dipakai ibu ibu petani di Malut saat ke kebun,red).

Selanjutnya ditumpuk di satu  tempat. Tujuannya ketika mereka akan  membelah buah dan mengambil biji coklat,  semua  terkumpul di satu tempat.

Teryata kakao yang dikumpulkan hari itu tidak semua bisa diambil. Buah matang berwarna kuning itu ada yang bijinya keras.   “Ada juga buah yang isinya keras sehingga sulit diambil. Dari buah yang telah dipanen ini, sekira 40 persennya alami busuk buah. Meski dari tekstur kulit buahnya terlihat mulus saat dibelah biji biji kakao itu mengeras,” kata Saif.

Panen kali ini memang bukan musim besar seperti setahun lalu. Tetapi buahnya masih lumayan banyak. Hanya saja karena busuk buah, diperkirakan seperempat  dari buah yang dipanen rusak atau tidak bisa diambil hasilnya.

Buah kakao yag dikumpul satu tempat sebelum dibelah diambil bijinya,foto M Ichi

“Yang keras sudah pasti dibuang. Hasil panen  ini kalau  tidak alami penyakit busuk buah, bisa 70 sampai 100 kilogram,” katanya. Namun karena ada busuk buah. Hasilnya hanya sekira 50 sampai 60 kilogram.

Buah kakao yang alami penyakit busuk buah ini dikenal dengan (Phytophthora palmivora). Di mana tanda tandanya diawali dengan munculnya bercak kecil pada buah, sekitar dua hari setelah infeksi. Bercak berwarna cokelat, kemudian berubah menjadi kehitaman dan meluas dengan cepat sampai seluruh buah tertutupi. Penyakit busuk buah ini berlangsung sudah cukup lama  25 tahun ini tetapi belum pernah  dilakukan apa pun dari pemerintah dengan memberi solusi dari masalah ini.

“Memang so (sudah,red) dari dulu tetapi torang (kami,red) tidak pernah dengar ada upaya untuk berantas penyakit ini. Terutama  dari pemerintah kasih obat atau pestisida atau ada penyuluhan begitu,” kata Saif.

Karena itu  dia  berharap jika pemerintah mau membantu petani bisa mengupayakan pemberantasan penyakit ini sehingga kehidupan petani bisa lebih baik. Pasalnya  hasil panen  akan meningkat. “Sekarang ini setiap panen hamper setengeh dari buah kakao dibuang percuma,” keluhnya.    

Sekadar diketahui di era 80-an hingga akhir 1990-an, Halmahera bagian selatan, Bacan, Mandioli dan beberapa pulau sekitarnya (Kabupaten Halmahera Selatan sekarang,red) menjadi sentra produksi kakao atau coklat.

Penyakit busuk buah yang menyerang kakao. Buah yang belum matang sudah mengering, foto M Ichi

Bahkan  sampai saat ini di beberapa daerah seperti di Pulau Bacan masih tetap bertahan memproduksi biji kakao. Para petani terus menanam dan memanen  hasil kakao meski produksinya menurun.

Biji kakao yang diolah sebagai berbagai campuran minuman dan kue itu, kondisinya tidak baik baik saja. Serangan penyakit kakao sudah berlangsung lama tetapi petani tetap bertahan dengan produksi yang makin parah tersebut. Busuk buah  sejak akhir tahun 1990an hingga kini belum juga bisa diatasi.    

Laporan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara Tahun 2017 menunjukan produktivitas perkebunan kakao rakyat Provinsi Maluku Utara mencapai 730 kg/ha/tahun  Produktivitas tersebut masih berada di bawah rata-rata nasional dan potensinya sebesar 1.300-2.000 kg/ha/tahun. Perkebunan kakao di Maluku Utara dengan luas 34.656 ha belum dikelolah secara optimal. Dari jumlah luasan tersebut terdapat 4.065 ha tanaman tua/rusak.

Permasalahan utama budidaya tanaman kakao di   Bacan adalah tingginya intensitas serangan hama dan penyakit terutama busuk buah kakao yang disebabkan jamur Phytopthora palmivora dan Hama penggerek buah kakao/PBK (Conopomorpha cramerella) karena tidak dilakukannya perawatan dan pemeliharaan tanaman.   

Inovasi teknologi perbaikan budidaya tanaman kakao yang diintroduksi (sanitasi, pemangkasan, pengelolaan tanaman peneduh, pemupukan, dan kombinasi pengendalian hama penyakit dengan cara hayati dan kimia) dapat menurunkan intensitas serangan penyakit busuk buah kakao dan hama penggerek buah kakao.

Kondisi buah kakao yang terbilang sehat foto M Ichi

Selain itu pertumbuhan tanaman kakao lebih sehat, dan panen buah kakao berkisar 2,5-2,7 buah per pohon atau rata-rata menghasilkan 24,5 biji per buah. Setahun sesudah pelaksanaan penerapan teknologi budidaya kakao, tanaman menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik.

Kegiatan perbaikan teknologi budidaya dengan komponen utama yang meliputi sanitasi tanaman kakao, pemberian pupuk secara berimbang, dan pengendalian

Hama penyakit, telah mampu membuat tanaman berproduksi lebih baik. Kondisi yang relatif baik tersebut disebabkan terawatnya kebun dan tanaman kakao dari berbagai macam gulma yang berdaun lebar, berdaun sempit, dan merayap/menjalar.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Setahun Prabowo–Gibran: Reformasi Hukum Mandek, Perjalanan Demokrasi Masih Tersendat

    Setahun Prabowo–Gibran: Reformasi Hukum Mandek, Perjalanan Demokrasi Masih Tersendat

    • calendar_month Sab, 1 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 835
    • 0Komentar

    Setahun perjalanan pemerintahan Prabowo Subianto Gibran Rakabuming Raka, diwarnai pasang surut   reformasi huku dan tersendatnya perjalanan demokrasi.  Bagi Kurawal sebuah yayasan yang bekerja untuk memperkuat praktik, lembaga, dan nilai-nilai demokrasi di Indonesia  dan kawasan Global South,serta mendorong persemaian ide baru dan eksperimentasi bagi terwujudnya tatanan demokrasi yang bermartabat dan bermaslahat bagi seluruh warga Negara, meihat […]

  • Sukses KPP Fodudara Tubo Ubah Perilaku Warga

    • calendar_month Sel, 16 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 617
    • 1Komentar

    Dari  Bank Sampah, Buat Kompos hingga Tanam Sayur Aktivitas di gedung Tempat Pengolahan Sampah Reuse Reduce dan Recycle (TPS3R) yang dibangun  Kementerian PUPR Sabtu (12/3)  pagi jelang siang itu,  tak seramai biasanya. Belum ada aktivitas menimbang sampah yang telah disortir. Belum juga ada aktivitas bongkar muat sampah.  Dua pengurus lembaga baik LKM Ake Tubo dan KPP […]

  • Cerita dari Laigoma Setelah Ada Solar Cell (1)

    • calendar_month Sab, 12 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 817
    • 2Komentar

    Rumah milik Safa Kamari (67 tahun) berada di ujung selatan Dusun I Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara.   Berdinding beton beratap seng, di halamannya berdiri satu buah panel surya yang berfungsi mengubah tenaga surya menjadi energi listrik. Dari panel ini tersambung dengan empat bola lampu yang dipasang di teras, ruang tamu, dapur […]

  • Menjaga Mangrove di Titik Nol Khatulistiwa

    • calendar_month Sel, 19 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 937
    • 0Komentar

    Membangun Asa dari Kampung Tawabi     Senin (11/2/2024) sekira pukul 12.00 siang itu terasa  menyengat. Matahari tegak lurus di atas ubun-ubun. Cuaca panas  itu begitu terasa karena  sedang berada di titik nol khatulistiwa.  Tepatnya di desa Tawabi Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan. Sebuah patok   menjadi penanda  titik nol khatulistiwa  berada di  hutan mangrove tepi pantai […]

  • 16 Hari Anti Kekerasan Perempuan dan Anak

    16 Hari Anti Kekerasan Perempuan dan Anak

    • calendar_month Sen, 8 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 712
    • 0Komentar

    Negara Harus Hadir Selamatkan Anak Bangsa Lebih dari 3.000 masyarakat suarakan anti kekerasan terhadap  anak dan perempuan bersama Koalisi  Masyarakat Sipil dan KemenPPPA yang digelar di Jakarta Minggu (7/12/2025). Tanda tangan dukungan dari berbagai kalangan masyarakat, anak-anak, remaja, orang tua, aktivis, hingga pegiat perlindungan anak,  bersatu   dalam acara bertajuk “Melangkah Bersama Lawan Kekerasan Seksual, Perkuat […]

  • Air Sungai Sagea Tercemar Kerukan Tambang?

    • calendar_month Sel, 15 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 892
    • 0Komentar

    Peneliti: Partikel Terlarut Berbahaya Bagi Biota dan Manusia Sudah hamper dua minggu ini, yakni sejak 28 Juli 2023 lalu warna air Sungai Sagea di Kecamatan Weda Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara seperti  tanah kerukan tambang. Air yang bisanya bening dan menjadi tempat wisata Bokimoruru,   hilang entah ke mana. Yang ada air berwarna kuning seperti […]

expand_less