Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » 65 Ekor Paruh Bengkok Pulang ke Habitatnya

65 Ekor Paruh Bengkok Pulang ke Habitatnya

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 2 Apr 2021
  • visibility 637

Burung paruh bengkok yang dipelihara atau diperjualbelikan  orang tidak bertanggung jawab  ternyata masih sangat banyak. Buktinya  di masa pandemic ini petugas terus mengamankan   hasil sitaan  hingga puluhan ekor.  Selasa 30/3/2021)  pekan ini ada  65 ekor paruh bengkok hasil sitaan  itu telah lepasliar  ke habitatnya.    Paruh bengkok  itu   terdiri dari, 16 ekor Kakatua Putih (Cacatua alba), 31 ekor Kasturi Ternate (Lorius garrulus), 3 ekor Nuri Kalung Ungu (Eos squamata) dan 15 ekor Nuri Bayan (Eclectus roratus).

Burung-burung ini lepasliar  di kawasan  hutan  Bukit Tanah Putih, Desa Domato, Kecamatan Jailolo Selatan, Kabupaten Halmahera Barat.

Kepala  Seksi Konservasi Wilayah I Ternate Abas Hurasan menjelaskan, satwa-satwa yang dilepasliarkan ini merupakan hasil sitaan, temuan serta penyerahan dari TNI, POLRI, masyarakat serta hasil pengamanan petugas POLHUT BKSDA Maluku lingkup Seksi Konservasi Wilayah I Ternate.

Sebelum lepasliar, satwa-satwa tersebut telah menjalani proses rehabilitasi di Kandang Transit SKW I Ternate selama kurang lebih  4 bulan. Selanjutnya melalui pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan dinyatakan sehat, serta menjalani proses habituasi selama   dua hari di kandang habituasi yang telah disiapkan.

 Usai proses itu selanjutnya dilakukan proses lepasliaran. Abas Hurasan bilang  lepasliaran  paruh bengkok di tahun 2021 ini   merupakan yang  pertama. Sebelumnya    Januari lalu, Seksi  BKSDA Ternate juga melakukan lepasliar dua ekor elang bondol di daerah kawasan wisata Jikomalamo Kota Ternate.

Dia bilang lagi, untuk jenis paruh bengkok yang belum lepasliar dan  masih dirawat di kendang transit saat ini masih ada lebih dari 30 ekor.   Satwa ini masih akan dirawat  hingga pulih dan siap dipulangkan ke habitat aslinya.  “Yang ada iru semua  adalah hasil penyerahan dari warga, aparat TNI maupun pihak kepolisian,” jelas Abas.  

 Abas juga  bilang saat   lepasliaran  di  Batu Putih Sidangoli Halmahera Barat itu juga,  bertepatan dengan  kunjungan kerja  Kepala Balai KSDA Maluku,   Danny H. Pattipeilohy, S.Pi., M.Si.

 Dany H Pattipeilohy yang hadir dan melakukan proses lepasliaran  di Saidangoli  mengatakan, kegiatan  ini merupakan sebuah aksi konservasi yang dilakukan  menyongsong Hari Konservasi Alam Nasional yang  dirayakan tiap tahun  pada 10 Agustus.

Dia bilang lagi, satwa-satwa liar ini merupakan warisan sehingga diharapkan keterlibatan seluruh pihak terkait untuk menjaga dan melestarikannya.

“Karena warisan untuk anak cucu apabila ditemukan indikasi ada pengumpulan satwa liar dalam jumlah besar dapat dilaporkan kepada petugas untuk dilakukan penindakan, ” harapnya.

Bahkan katanya, kegiatan pelepasliaran ini akan memberikan dampak terhadap kelestarian satwa-satwa tersebut di habitatnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, petugas dari berbagau pihak, mulai dari Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate, Camat Jailolo Selatan, Danramil Jailolo Selatan, Kapolsek Jailolo Selatan, Perwakilan KPH Halmahera Barat, Kepala Desa Domato serta seluruh personil SKW I Ternate. (*) 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Selustrum Lara Pesisir dan Pulau Kecil di Malut  

    Selustrum Lara Pesisir dan Pulau Kecil di Malut  

    • calendar_month Sen, 1 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 950
    • 0Komentar

     Pakesang di Tahun “Policik” 2024 Sebuah video direkam seorang warga bernama Ikmal Yasir Warga Desa Maba Sangaji Halmahera Timur Maluku Utara pada  Senin (25/12 2023) sekira pukul 14.30 WIT.  Video ini viral di berbagai platform media social. Memperlihatkan laut  Halmahera Timur yang menghampar berwarna kuning kecoklatan. Sepanjang mata memandang air laut terkontaminasi  material ore hasil […]

  • Kolaborasi Dorong Perdes Pesisir dan Laut Kayoa

    • calendar_month Sel, 8 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 685
    • 0Komentar

    Pakativa- KPMK- Foshal- Pemdes Guruapin Kerja  Bareng   Perlindungan komprehensif untuk hutan mangrove dan pesisir laut sedang digagas bersama lembaga dan pemerintah desa Guruapin Kayoa Halmahera Selatan. Adalah Perkumpulan Pakativa, sebuah lembaga non pemerintah yang bergerak mengkampanyekan budaya, litrerasi dan ekologi bersama Komunitas Pencinta Mangrove Khatulistwa (KPMK) serta Forum Studi Halmahera (Foshal)   mendorong pembuatan Peraturan […]

  • Pulau- pulau Kecil di Malut yang Butuh Perhatian ( Bagian 1)

    • calendar_month Sab, 30 Nov 2019
    • account_circle
    • visibility 2.712
    • 0Komentar

    Maluku Utara sebagai provinsi Kepulauan memiliki luas wilayah secara keseluruhan mencapai 145.801,1 kilometer meliputi daratan 45.069,66 Km2 (23,72 persen) dan wilayah perairan seluas 100.731,44 Km2 (76,28 persen). Maluku Utara juga memiliki  panjang garis pantai 3.104 Km. Data  hasil identfikasi jumlah pulau di Maluku Utara terdiri dari 1.474 pulau, dengan jumlah pulau yang dihuni sebanyak 89  atau 1.385 […]

  • Warga Desa Idamdehe Jailolo Kekeringan Air

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 2.164
    • 0Komentar

    JAILOLO-Suda sebulan warga masyarakat desa Idamdehe kecamatan jailolo tidak mengkonsumsi air bersih. “Ini akibat dari musim  kemarau beberapa bulan belakangan ini.  Akibatnya sumber mata air bersih di desa kami kering, sejak awal Maret lalu hingga kini warga masyarakat desa Idamdehe kesulitan air bersih” Kata Ketua BPD Desa Idamdehe Dudi Yabu  belum lama ini. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga […]

  • Serunya Kegiatan Halmahera Overland 4×4

    • calendar_month Sen, 18 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 712
    • 0Komentar

    Para peserta Hakmahera Overland 4×4 mengangkat batang kayu untuk membangin jembatan daruta agar bisa dilewati mobil yng mrtrks tumpngi, foto Dewahyudi

  • Mari Saksikan Konser Hutan Merdeka

    Mari Saksikan Konser Hutan Merdeka

    • calendar_month Sab, 29 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 725
    • 0Komentar

    Sekira 50,1% dari total daratan di wilayah Indonesia merupakan bentangan hutan. Berbagai hewan dan tumbuhan endemik tinggal di hutan-hutan Indonesia, membuat negara kita dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati.Hutan adalah sumber kehidupan yang menyediakan oksigen, air, menyimpan cadangan karbon, penyeimbang iklim dan sumber penghidupan bagi masyarakat adat yang tinggal di sekitarnya. […]

expand_less