Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Ini Cara Bangun Kesadaran Isu Climate Change

Ini Cara Bangun Kesadaran Isu Climate Change

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 5 Agu 2022
  • visibility 256

Pengaruhi Pengambil Kebijakan hingga Kampanye untuk Kaum Mileneal

Maluku Utara dengan ribuan pulaunya memiliki potensi sekaligus masalah. Terutama ancaman bencana perubahan iklim.

Dampak perubahan iklim sebenarnya sudah sangat serius.    Tidak hanya banjir akibat bencana hydromterologi, tetapi juga kecelakaan laut (lakalaut) yang terjadi hamper setiap saat  akibat cuaca buruk. Banjir dan lakalaut  jadi masalah yang menghiasi Maluku Utara hamper sepanjang tahun. Tak hanya korban material, puluhan nyawa ikut melayang akibat rententan  peristiwa tersebut.  

Lakalaut sepanjang 2021  sesuai data Basarnas Ternate ada 30 kejadian  dengan korban 782 orang  di mana  1  warga  meninggal  dan 14 orang hilang. Terbaru adalah peristiwa kecelakaan kapal KM Cahaya Arafah di perairan Gane Barat Halmahera Selatan dengan korban 77 penumpang di mana 66 orang selamat 10 orang meninggal dan 1 orang dinyatakan hilang. Belum lagi bencana banjir yang  kejadiannya sudah ratusan kali diberbagai tempat di Maluku Utara dengan korban harta bahkan nyawa. Itu masalah yang nyata di depan mata.

Bagaimana dengan dampak lain bagi petani dan nelayan? Pendapatan petani di Maluku Utara sangat tergantung  dengan hasil perkebunan. Ambil contoh petani cengkih, sudah tiga tahun ini mereka merana. Pasalnya, akibat dampak musim hujan dan kemarau yang tak teratur membuat cengkih juga tak berbuah. Rempah yang jaya di masa lalu ini memiliki ketergantungan dengan kondisi hujan dan panas yang harus teratur.

Kampanye soal sampah dan dampaknya bagi lingkungan di kota Ternate, foto PakaTiva

Musim panen cengkih  misalnya, dilakukan  sejak tahun 2019 lalu. Artinya sudah  tiga tahun  ini cengkih belum berbuah lagi.  Para petani cengkih di Kalaodi Pulau Tidore misalnya, mengatakan  persoalan ini lebih karena  adanya kondisi iklim tidak teratur seperti sebelumnya.  “Cengkih so tara babuah so tiga tahun ini. Bisa torang tau sandiri ini karena musim hujan dan panas yang sudah tidak lagi menentu,” komentar Samsudin Ali petani cengkih dan tokoh masyarakat Kelurahan Kalaodi Tidore Kepulauan.  

Begitu juga dengan nelayan di Ternate. Waktu menangkap ikan mereka juga sangat tergantung dengan cuaca harian. Beberapa bulan belakangan ini kondisi cuaca sangat tidak menentu sehingga memengaruhi hasil tangkapan mereka. Di  2022 ini  turun melaut sudah sangat terganggu. “Kadang istrahat hingga hamper dua minggu, karena menyesuaikan kondisi laut,”keluh Icu Jou salah satu nelayan tradisional Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara Ternate Maluku Utara.  

Apa yang diungkapkan  warga   Ternate dan Tidore di atas adalah setidaknya mewakili petani dan nelayan sekaligus bagian dari fakta  ancaman perubahan iklim    yang nyata dampaknya bagi kehidupan masyarakat petani dan nelayan saat ini. 

Masalah ini yang mendasari lembaga swadaya masyarakat  PakaTiva  Maluku Utara yang kemudian dalam  tiga tahun terakhir melakukan berbagai upaya mendorong isyu  perubaha iklim  menjadi perhatian semua pihak.  Apa yang dilakukan itu menyasar berbagai kelompok masyarakat   serta para pihak yang diharapkan bisa berkontribusi dalam kebijakan pembangunan yang ramah terhadap isu perubahan iklim. Aksi nyata juga menyasar kaum milineal untuk lebih concern dengan kampanye  melalui aksi- aksi.

Direktur PakaTiva Nursyahid Musa menjelaskan, wilayah pulau-pulau kecil dan pesisir laut di Timur Indonesia, terutama Maluku Utara  rentan terhadap dampak krisis iklim global. Perubahan pola cuaca ekstrem dan kenaikan suhu rata-rata dalam waktu yang cukup panjang—seperti apa yang dilaporkan Stasiun Metereologi Kelas I Sultan Baabullah Ternate per 2020—berdampak langsung terhadap sektor produktifitas masyarakat tempatan, pertanian dan perikanan. Tentu saja katanya dalam konteks  kebencanaan perlu dipikirkan secara serius   apa pendekatan strategi mitigasi adaptasi sebuah wilayah dengan karakter dan pola produksi pemukim yang hidup di pesisir dan pulau-pulau kecil.

Dia lantas membeber sejumlah masalah yang perlu dipikirkan solusinya  menyikapi problem perubahan iklim tersebut. Menurutnya, perlu dipikirkan implementasi pembangunan rendah  karbon dan ketahanan terhadap perubahan iklim melalui restorasi, pengelolaan dan pemulihan ekosistem pesisir. Rehabilitasi hutan dan lahan serta pengurangan laju deforestasi. Selain itu perlu mengubah arah pengelolaan hutan yang semula berfokus pada pengelolaan kayu ke arah pengelolaan berdasarkan ekosistem sumber daya hutan dan berbasis masyarakat yang memiliki landbase yang berkelanjutan.

Untuk pemerintah, perlu dibangn persepsi dan respon daerah atas kebijakan pengelolaan hutan berbasis masyarakat dengan memberikan akses kelola hutan kepada masyarakat yang berkeadilan dan berkelanjutan melalui perhutanan sosial dan kemitraan konservasi.

Perlu juga strategi pembangunan berkelanjutan mempertimbangkan pendekatan berbasis penyelesaian konflik yang terkait dengan kasus tenurial kehutanan, perikanan berkelanjutan, dan memberikan aset legal lahan bagi masyarakat.   “Sejauh mana proses internalisasi prinsip-prinsip daya dukung dan daya tampung  lingkungan diakomodir ke dalam penyusunan KLHS yang kemudian menjadi acuan revisi RTRW sebagai arahan spasial makro pembangunan kehutanan tahun 2011-2030 dari KLHK.  Bagaimana tindakan preventif daerah dalam konteks meminsimalisir kehilangan keanekaragaman hayati dan keruakan ekosistem melalui upaya-upaya konservasi kawasan serta perlindungan keanekaragaman hayati yang terancam punah baik di  darat maupun pesisir laut.  

Dampak serius perubahan iklim adalah ancaman terjadinya banjir ketika hujan foto Irawan D

Adakah kalkulasi skala risiko yang dihadapi ke depan ketika maraknya izin diberikan kepada industri pertambangan/smelting dalam satu kawasan berhutan di Maluku Utara. Selain itu  bagaimana strategi intervensi pengendalian emisi yang dihasilkan dari aktivitas industri padat karbon di daerah. “Ini pertanyaan -pertanyaan dalam hal kebijakan pemerintah   yang berkaitan dengan isyu perubahan iklim,” cecarnya.  

Selain ini dia juga mempertanyakan  bagaimana roadmap Kelautan dan Perikanan bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil dalam konteks pembangunan berkelanjutan di daerah ini.   Berbagai persoalan kebijakan itu, dibutuhkan    penyadaran kepada berbagai kelompok masyarakat.

“PakaTiva telah melakukan beberapa kegiatan mulai dari FGD dengan pemerintah daerah terkait kebijakan pembangunan berkelanjutan di Maluku Utara, serta  kampanye membangun kesadaran  bahaya perubahan iklim yang mengancam alam dan manusia kini dan di masa depan. Kampanye itu dilakukan dengan mendatangi sekolah SMA untuk mengakampanyekan bahaya sampah plastic bagi alam. Tidak itu saja, dampaknya terhadap kondisi laut dan pulau-pulau kecil di Maluku Utara,” jelasnya.

Tidak hanya kampanye di sekolah, isu Ternate bebas sampah plastic melalui aksi  jalanan juga ikut digeber.  ”Ini semua adalah aksi nyata membangan kesadaran tentang dampak perubahan iklim bagi masyrakat,”jelasnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keanekaragaman Hayati Teluk Buli Terancam

    • calendar_month Sel, 9 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 277
    • 0Komentar

    Butuh Perlindungan Serius Berbagai Pihak  Di seluruh  dunia, keragaman hayati semakin cepat musnah. Meski  demikian, persebaran keragaman hayati maupun ancamannya tidak merata. Karena itu organisasi konservasi perlu memusatkan kegiatan mereka pada tempat- tempat yang paling penting dan paling terancam punah. Salah satu caranya dengan melakukan identifikasi hotspot. Ini menjadi salah satu cara paling efektif menentukan […]

  • Air Sungai Sagea Tercemar Kerukan Tambang?

    • calendar_month Sel, 15 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 432
    • 0Komentar

    Peneliti: Partikel Terlarut Berbahaya Bagi Biota dan Manusia Sudah hamper dua minggu ini, yakni sejak 28 Juli 2023 lalu warna air Sungai Sagea di Kecamatan Weda Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara seperti  tanah kerukan tambang. Air yang bisanya bening dan menjadi tempat wisata Bokimoruru,   hilang entah ke mana. Yang ada air berwarna kuning seperti […]

  • 7 Tahun Gerakkan Panen Air Hujan, Dapat Kalpataru

    • calendar_month Jum, 10 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 308
    • 1Komentar

    Zulfli-saaar-menerima-penghargaan-Kalpataru-yang-diserahkan-Wakil-Menteri-KLHK-foto-pribadi-Zulkifli

  • Maluku Utara Kaya Rempah, Minim Pangan Fungsional

    • calendar_month Rab, 12 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 599
    • 0Komentar

    Maluku Utara yang terhampar pulau-pulaunya,memiliki kekayaan pangan local dan rempah  Terutama  pala dan cengkih. Kekayaan ini bahkan tercatat dalam sejarah sebagai barang buruan bangsa Eropa di masa lalu.  Sejarawan Maluku Utara (alm) M Adnan Amal Tomagola dalam risetnya berjudul Portugis dan Spanyol di Maluku (2009) mengupas tentang kehadiran dua bangsa ini  berebut rempah. Mereka  datang […]

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (1)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (1)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Banjir dan Longsor  Berulang  hingga Nelayan Terus  jadi Korban di Laut Hari jelang sore di Rabu (17/9/2025) itu, Salma M Arif dan suaminya Ongen Ramli warga Kelurahan Rua Kecamatan Pulau Ternate, berada di dalam rumah. Mereka  baru saja pulang ke rumah setelah  aktivitas di luar. Sore itu, berawan mesti seharian  tidak terjadi hujan. Tiba-tiba mereka […]

  • Arah  Baru  Tata Kelola  Kota  Tidore  Kepulauan 

    • calendar_month Ming, 12 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 279
    • 0Komentar

    Bawah Laut Tidore Kekayaan yang dieksplore untuk pembangunan daerah, foto Abdul Khalis Tidore

expand_less