Breaking News
light_mode
Beranda » Laut dan Pesisir » Sebuah Catatan Tentang  Laut Maluku Utara

Sebuah Catatan Tentang  Laut Maluku Utara

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 13 Jul 2023
  • visibility 1.214

Dari Tambang, Sampah  hingga Matinya Mamalia Laut

Studi dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), menyebutkan bahwa sekitar 72 persen bagian dari bumi tertutup air. 97 persen air yang ada  adalah  lautan.   

Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terbentang dari Sabang sampai Merauke,   dengan 17.499 pulau besar dan kecil  memiliki  luas wilayah  sekitar 7,81 juta kilometer persegi (km2).   3,25 juta km2 lautan dan 2,55 juta km2  Zona Ekonomi Eksklusif. Hanya sekitar 2,01 juta km2  berupa daratan. Negara ini paling luas di Asia Tenggara, dan memiliki garis pantai paling Panjang dengan jumlah pulau mencapai 17 ribu lebih.  

Data Badan Informasi Geopasial (BIG), luas wilayah   daratan Indonesia ialah 1.922.570 km² dan perairan 3.257.483 km². Bila ditotal, luas wilayah Indonesia adalah 5.180.053 km².  

Luas wilayah Provinsi Maluku Utara   ada 145.801,10 km2, terdiri dari luas lautan 113.796,53 km2 atau 69,08 persen dan luas daratan 32.004,57 km 2 atau 30,92 persen.

Provinsi ini secara administratif memiliki batas wilayah  di sebelah Timur berbatasan dengan Laut Halmahera; – Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Maluku; – Sebelah Utara berbatasan dengan Samudera Pasifik; dan – Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Seram.

Luasnya  laut,   tidak hanya  menjadi  potensi.  Saat ini banyak masalah  tidak hanya mengancam lingkungan dan manusia.Keanekaragaman sumberdaya hayati di dalamnya menghadapi masa masa suram.

Hari-hari ini, sejumlah isu penting menjadi bahasan.  Terutama  berkaitan dengan kondisi laut yang tidak lagi “sehat”  mendukung kehidupan manusia.

Sebut  saja  dampak kenaikan permukaan  air laut akibat perubahan iklim. Sampah plastic hasil aktivitas antropogenik,  hingga  industry ekstraktif pertambangan di daratan, yang berdampak   langsung   ke pesisir dan peraiaran.   Tiga  masalah ini  dampaknya  mulai dialami   di pulau-pulau kecil  di Malut beberapa waktu belakangan ini.     

Dampak kenaikan permukaan air laut misalnya, sudah begitu nyata terjadi di  pesisir dan pulau-pulau kecil. Tidak hanya  hilang terkikis abrasi, sejumlah  pulau kecil  bahkan nyaris hilang tersapu kenaikan  air laut. 

Kasus pulau Pagama di Kepulauan Sula, Pulau Mtu Mya di Halmahera Tengah, hingga pulau-pulau kecil lainnya yang membanteng di sejumlah gugusan pulau,  jadi bukti  nyata  dampak kenaikan permukaan air laut itu begitu nyata.

Untuk masalah sampah plastic, saat ini pulau-pulau di Malut mendapat imbas paling  serius. Sampah kiriman dari berbagai wilayah  memenuhi kawasan pesisir pulau pulau di Maluku Utara. Kasus yang terjadi di Pulau Morotai, di mana pesisirnya dipenuhi  beragam  jenis sampah dari beberapa wilayah, di waktu waktu tertentu juga ditengarai ada sampah kiriman  dari negara tetangga, semisal Filipjna  China hingga Jepang. Pihak DKP Morotai  sempat mengidentifikasi ada sampah plastic yang  dibawa arus hingga masuk ke daerah Morotai.  

Kasus dampak industry tambang terhadap air laut juga nyata terjadi. Di daerah daerah yang memiliki industri  tambang besar,  lautnya sudah mulai dicemari kerokan tambang  yang terbawa  baniir pasca turun hujan. 

Kasus di Pulau Obi Halmahera Selatan dan Lelief Halmahera Tengah yang lautnya berwarna merah akibat masuknya kerokan tambang ke badan air  seperti sungai dan dibawa ke laut, menjadi bukti betapa aktivitas tambang tidak hanya menimbulkan masalah di darat tetapi juga di lautan. Riset yang pernah dilakukan Dr Muhammad Aries dari FPIK Universitas Khairun di Pulau Obi, menunjukan adanya dugaan cemaran material tambang  merusak pesisir laut  dan biota di kawasan itu.

Masalah yang tidak kalah menariknya soal kondisi laut Maluku Utara saat ini adalah matinya  beberapa jenis mamalia purba seperti Paus dan dugong. Tidak itu saja  mati dan rusaknya  terumbu karang akibat bleacing  atau pemutihan pada karang yang melanda hamparan terumbu karang  di beberapa kawasan laut   perlu mendapat perhatian.

Di kawasan laut Malut berulang kali ditemukan matinya  mamilia laut jenis paus. Terbaru seekor paus (physeter macrocephalus) dengan panjang kurang lebih 10 m dan lebar 7 meter  oleh warga Kelurahan Seli Kota Tidore Kepulauan. Hewan laut raksasaa  itu dalam kondisi mati  membusuk  lalu terdampar,  Senin (12/6/2023) pukul 16.40 WIT lalu.  Mamalia  ini terdampar di titik koordinat 0°38’17.5″ LU 127°26’04.5″ BT,  tepatnya di Kelurahan Seli,  Kota Tidore Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara.

Atas temuan itu warga  melaporkan ke DKP Tidore Kepulauan. Kemudian dikordinasikan dengan Satwas PSDKP Ternate dan Loka PSPL Sorong Wilayah Kerja Maluku Utara.

Koordinator Satwas  SDKP  Ternate, Stasiun PSDKP Ambon, Sunapit M. Taher  bilang  saat paus ditemukan, sudah  dalam keadaan  membusuk  tingkat lanjut.

“Kondisi kematiannya kode IV (mati membusuk tingkat lanjut),” jelasnya.  Bagian ekor dan perut sudah membusuk  dan mengeluarkan bau menyengat, meskipun perut belum pecah.  Kondisi  membusuk itu akhirnya   mengeluarkan bau  menyengat dan mengganggu warga sekitar. 

Lokasi terdamparnya paus  di medan  berat    di pantai yang berbatu  tak terlalu jauh dari pemukiman.  Selain itu   tubuh paus  yang besar membuat  petugas  kesulitan lakukan penanganan.

Laporan  tersebut kemudian ditindaklanjuti pada  Selasa (13/6/2023) pagi sekira pukul 09.30 WIT. Tim tiba di lokasi  kemudian  lakukan pemeriksaan   dan   penanganan.  “Paus sperma  itu  bisa ditangani  tim Loka PSPL Sorong, Satwas SDKP Ternate dan DKP Maluku Utara,” kata Mansur salah satu warga Seli  

Karena paus terdampar di lokasi  sulit dilakukan penguburan, tim PSDKP PSPL Sorong  bersama DKP Tikep   lalukan  evakuasi   ke  pulau Mare  atau  sekira  6,5 mil dari Tidore.   Evakuasi bangkai paus sperma ini dilakukan juga atas bantuan masyarakat nelayan di Kelurahan Seli. Selain itu  bantu  penarikanya dengan  2 kapal nelayan dari DKP Tidore

Evakuasinya dilakukan sekira 3 jam perjalanan yakni 10.30 dan tiba di Pulau Mare sekira pukul – 14.40 WIT. Paus ini kemudian ditambatkan di kawasan hutan mangrove, atau   bagian barat Pulau Mare yang jauh dari pemukiman dan aktivitas warga.

 Pihak LPSPL Sorong memperkirakan paus ini sudah cukup lama mati dan berada di laut sebelum terdampar ke pantai.  Diperkiraan sudah mati 2-4 minggu.  M. Arsyad, S.Pi Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Pertama  Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong. Meski begitu Dimas  yang turun  ke lokasi dan lakukan identifikasi   pada Selasa  pagi itu belum bisa memastikan penyebab kematian paus ini.

Penyebab kematian paus physeter macrocephalus   menurut dia,  belum bisa disimpulkan  karena  kondisi biota saat terdampar sudah mengalami pembusukan.  Pihaknya sudah tidak  bisa lagi mengetahui pasti luka yang  didapatkan  hingga  menyebabkan kematian.

Untuk mengidentifikasi kematiannya  butuh kualifikasi dan pengalaman ahli/pakar di bidangnya.  Terutama dokter hewan atau peneliti yang memiliki  kualifikasi tersebut. 

Sekadar dietahui dalam tiga  bulan ini,  yakni Maret  hingga Juli 2023 lalu  ada seekor paus raksasa ditemukan mati dan terdampar  dalam kondisi sudah membusuk di daerah Pulau Taliabu Maluku Utara. Paus yang ditemukan mati dan terdampar di Pulau Tabalaa, Desa Lede, Kecamatan Lede Kabupaten Pulau Taliabu, itu  panjangnya   mencapai 10 meter dan lebar sekitar 5 meter. 

Pihak LOKA Pengelola Sumberdaya Pesisir dan Laut  (LPSPL) Sorong  mencatat mamalia laut yang mati di wilayah Timur Indonesia 36 persen ada di laut Maluku Utara.  Baik paus, dugong maupun lumba lumba. 

Kepala LPSPL Sorong Santoso Budi Widiarto dalam rilis resmi KKP di Sorong,   menjelaskan bahwa,  jenis paus mendominasi kejadian mamalia laut terdampar di wilayah timur Indonesia baik yang masih hidup maupun yang mati. Jumlahnya hampir 52% yaitu 13 kejadian jenis paus terdampar, 10 kejadian jenis dugong terdampar dan 2 kejadian lumba-lumba terdampar.  Banyaknya mamalia yang ditemukan di wilayah ini dikarenakan  menjadi  jalur migrasi mamalia laut dan terdiri dari pulau-pulau membentang dari Samudera Hindia hingga Samudera Pasifik. 

Dr Zulham Harahap yang juga  Ketua Program Studi  Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan Universitas Khairun Ternate menyatakan,   berulangkali  ditemukan  matinya mamalia laut  di perairan Malut karena beberapa kemungkinan.  Ada kemungkinan  dua faktor.

Pertama  kecelakaan di laut, luka berat akibat tertabrak kapal  seperti terkena baling baling baling dan   lain lain  seingga mati  mengambang, dan terbawa arus ke pantai.  Kedua,  mati terdampar di pantai karena ‘tersesat’.  “Hal  ini yang belum bisa dijelaskan dengan baik. Boleh jadi karena banyak  sampah di laut menjadikan sistem navigasi paus yang menggunakan gelombang suara menjadi tidak berjalan baik. Atau juga akibat kenaikan suhu air laut, sehingga terjadi perubahan kecepatan gelombang suara.  Namun ada kemungkinan terkecil terdampar akibat badai.  Kemungkinan kecil, karena paus bertubuh besar, dan bisa menyelam dalam,” katanya.

Senada Dr Nurkhalish Wahidin  Peneliti Kelautan dari Universitas  Khairun Ternate juga menyampaikan bahwa  mamalia laut berkomunikasi menggunakan gelombang suara. Sistem gelombang suara yang dipantulkan akan diterima kembali oleh mamalia laut melalui sensor di otaknya untuk  diterjemahkan menjadi jarak, kedalaman, rintangan bahkan mendeteksi kawanannya.

Prinsip gelombang suara merambat di dalam air akan dipantulkan jika dalam proses perambatanya mengenai objek yang lebih padat dari media air.

Perambatan gelombang suara di air laut dipengaruhi oleh densitas, salinitas dan suhu. Perubahan iklim dianggap sebagai salah satu faktor yang merubah kondisi perairan yang mengganggu perambatan suara sebagai media navigasi mamalia laut. Tapi menurutnya, faktor yang paling menjadi masalah saat ini untuk   komunikasi mamalia laut dengan memancarkan gelombang suara adalah terhalang oleh sampah di laut. Pantulan gelombang suara oleh mamalia laut menjadi spekular, tidak teratur dan ini sangat mempengaruhi mereka untuk bernavigasi. Misalnya  mendeteksi apakah perairan dangkal atau perairan lebih dalam.  Kacaunya navigasi maka mamalia laut akan disorientasi terhadap posisinya dan kehilangan arah ruaya. “Itu kurang lebih masalah utama mengapa mamalia laut semakin banyak terdampar ke perairan dangkal dan terjebak,” katanya.

Pada saat terjebak ke perairan dangkal maka pantulan gelombang suara akan lebih kacau karena pulau, terumbu karang atau dasar oerairan yang lebih dangkal. Dia bilang

 jika paus mengalami disorientasi dan terjebak di perairan dangkal,  akan mengalami stress. Jika dalam waktu lama tidak bisa keluar dari daerah dangkal maka stres menyebabkan paus akan menjadi lemah dan mati.                                                                                                                                                                                                            

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Cara Antisipasi Stok Pangan Saat Pandemi

    Ini Cara Antisipasi Stok Pangan Saat Pandemi

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2020
    • account_circle
    • visibility 1.306
    • 0Komentar

    Hasil kajian yang dilakukan  pemerintah provinsi Maluku Utara melalui  dokumen Food Security  and  Vurnerability  Atlas (FVSA), atau peta keamanan dan kerentanan pangan di Maluku Utara, menunjukan ada sejumlah sangat rawan pangan. Dasarnya  daerah daerah itu tidak mampu memproduksi  pangan  sendiri tetapi mengharapkan pasokan dari luar. Kabupaten  Kepulauan Sula dan Taliabu serta Tidore Kepulauan atau 23 kecamatan di […]

  • Cerita Miris Warga Pulau Terluar Kota Ternate (2) Habis

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 845
    • 1Komentar

    Dari Ibu Hamil Melahirkan di Perjalanan hingga Menelpon Harus Jalan 9 Kilometer    Terlalu banyak yang mesti direkam dari perjalanan jurnalistik 4 hari di Pulau Mayau Kecamatan Batang Dua akhir Agustus 2023 lalu. “Sebagai kecamatan yang berada di pulau terluar memiliki banyak masalah. Soal air, jalan sarana komunikasi sarana kesehatan dan banyak lagi,” kata Plt […]

  • Perempuan Mapala Bicara Perubahan Iklim

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 1.314
    • 0Komentar

    Soroti  Reklamasi hingga  Sampah Pembalut Wanita  Perkumpukan Paka Tiva Maluku Utara,  sebuah lembaga non profit yang bekerja untuk pendampingan warga  dan concern  untuk isu literasi,  budaya dan ekologi,  menggelar Seri Diskusi Pencinta Alam Maluku Utara.  Diskusi Rabu (12/8) di jarod cafe BTN, adalah   kedua kalinya. Pesertanya  Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala)  dari berbagai perguruan tinggi di […]

  • Jaga Pantai dan Laut Ternate dengan Mangrove

    • calendar_month Sen, 20 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 720
    • 1Komentar

    Sesaat sebelum proses menanam mangrove foto Pertamina

  • Pulau Kecil Bisa Dikuasai 70 Persen Pemodal

    • calendar_month Kam, 19 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 629
    • 0Komentar

    Data resmi jumlah pulau di Maluku Utara mencapai 1080. Pengaturan pemanfaatan pulau-pulau kecil di daerah ini masih terbilang serampangan. Misalnya pulau kecil yang sebenarnya  rentan  tetapi  dieksploitasi tak tersisa. Kasus di pulau Ge Halmahera Timur dan beberapa pulau kecil lainnya adalah contoh nyata pulau kecil dikuasai  dan dibabat habis. Kementerian  KKP  berjanji  memperketat  aturan main […]

  • Negara Tetapkan Bidadari Halmahera sebagai SDG Penting

    Negara Tetapkan Bidadari Halmahera sebagai SDG Penting

    • calendar_month Rab, 15 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Semioptera wallacii atau Burung Bidadari Halmahera adalah salah satu spesies burung endemik Pulau Halmahera, Maluku Utara. Burung yang  sudah menjadi ikon itu, kini telah tercatat secara resmi sebagai Sumber Daya Genetik (SDG).Dengan begitu  burung ini memperoleh pelindungan dari negara melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum. Burung yang dikenal karena keindahan dengan mahkota berwarna […]

expand_less