Breaking News
light_mode
Beranda » Serba-serbi » Ekowisata Cengkeh Afo, Padukan Sejarah dan Alam

Ekowisata Cengkeh Afo, Padukan Sejarah dan Alam

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 29 Jan 2021
  • visibility 939

Cerita dari Kampong Tongole Pulau Ternate

Suasana siang jelang sore di awal Januari, tepatnya Minggu (10/1/2021) itu agak terik. Hari itu masih terasa gerah ketika dalam perjalanan untuk sebuah acara dari pusat kota menuju kawasan ekowisata Cengkih Afo di puncak Pulau Ternate.  Begitu  memasuki Lingkungan Tongole/Ake Tege tege, Marikurubu Ternate Tengah, rasa gerah berangsur sejuk. Rerimbunan hutan cengkih, pala dan bambu di sisi kiri kanan  jalan menjadi  sumber penyejuk ketika memasuki kampong ini.  

Berada 600 meter di atas permukaan laut, untuk menjangkaunya dari pusat kota tak cukup 20 menit. Kampung di lereng Gamalama ini menghadap ke timur Pulau Ternate. Rumah-rumah warga   dibangun  berjejer mengikuti lereng.   

Cengkih afo tertua yang mati tahun 2000 an lalu

Kawasan ini masuk  dalam situs penting berhubungan dengan sejarah masa lalu kejayaan rempah, khususnya cengkih. Cengkih tertua di dunia ditemukan tumbuh di kampong ini.  

Tongole tak hanya  menjadi pusat awal berkembang biaknya cengkih. Di Maluku Utara, kampong ini juga terkenal dengan bambu tutul atau bamboo loreng-nya. Bambu yang awalnya tumbuh liar, saat ini telah dibudidayakan. Bahkan telah menjadi ikon Kampong Tongole. Dari sini para perajin memproduksi kursi bambu tutul atau loreng dan berbagai alat rumah tangga  lainnya.  Tak salah ketika memasuki kawasan ekowisata Cengkih Afo seluruh fasilitasnys dibuat dari bambu loreng. Dari pagar hingga material bangunan dan alat makan.  

Cengkih Afo di kampong yang asri dan sejuk ini,  ada dan timbuh sudah tiga generasi. Sekadar diketahui, Cengkih Afo pertama dan turunan kedua ketiga berada tak berjauhan di satu lokasi tepat di puncak kampong Tongole.

Cengkih afo generasi ke dua

Cengkih Afo pertama yang dikenal sebagai cengkih tertua berumur sekira 416 tahun.  Tingginya mencapai 36,6 meter dengan diameter 1,98 meter. Cengkih tertua ini sekali musim berbuah dan dipanen sampai selesai, mencapai 600 kilogram.  Cengkih ini telah mati sekira tahun 2000 lalu.  Cengkih afo turunan kedua, berusia 250 tahun  memiliki diameter 3,97 meter. Dalam satu musim berbuah dan panen hasilnya mencapai 340 kilogram. Pohon cengkih afo kedua ini juga telah mati di tahun 2000- an lalu.  Saat ini yang masih ada adalah cengkih afo turunan ketiga  yang telah dilindungi.Meski kondisi percabanganya juga sudah ada   yang mati, masih coba dirawat. Cengkih afo turunan ketiga ini  lingkar tengah batang 3,90 meter. Berumur kurang lebih 200 tahun dengan  hasil panen setiap musim berbuah mencapai 250 kilogram.   

Sebagai sebuah situs alam bersejarah, di mana cengkih memiliki hubungan dengan perdagangan masa lalu, maka dibuatlah kawasan ekowisata di mana cengkih afo  berada.  

Cengkih Afo Generasi ke tiga

Wisata cengkih afo yang dikemas bergaya alam memadukan tradisi lokal Ternate, menawarkan kepada pengunjung tak hanya menikmati tempat yang asri dan sejuk, tetapi kembali ke alam sambil menghirup   udara  dengan bau harum bunga  cengkih dan pala.

Adalah Kris Samsudin, orang yang berada di balik  ini, menginisiasi dibuatnya kawasan wisata Cengkeh Afo.  ‘

Dia bilang,  Cengkih Afo adalah cerita yang menarik  menjadi asset wisata penting. Menarik karena memiliki sejarah masa lalu yang epic.  Bahwa negeri dan bangsa ini  dijajah karena hubungannya dengan rempah-rempah  terutama cengkih.

Sementara jika orang datang ke Ternate hanya mendengar cerita bahwa negeri ini sumber cengkih berasal. “Bagi saya yang ada orang hanya mendengar cerita. Lalu di mana cengkihnya?. Ekowisata ini tak hanya menjadi icon cengkih yang diburu bangsa Eropa, China dan Arab di zamannya. Perlu wisatawan  menyaksikan   langsung pohonnya dan jika musim panen orang bisa mencium langsung  bau harum cengkih itu,” katanya.

alat mnum dari batok kelapa

Sementara jika pengunjung atau  ada wisatawan datang ke tempat ini,  manfaatnya  dirasakan masyarakat sekitar secara langsung  

Karena itu dia mencoba mulai dari nol menginisiasi pembuatan kawasan ekowisata ini. Berkat dukungan berbagai pihak tempat ini kini menjadi destinasi ekowisata di Ternate dengan  luas mencapai 4 hektar.  

Dari generasi cengkih afo yang tumbuh di  ekowisata ini, masih tersisa generasi ketiga. Di sini juga  telah dibangun berbagai fasilitas ekowisata. Ada sawung atau rumah-rumah kecil di bawah rerimbunan cengkih dan pala. Ada juga semacam gazebo dan aula untuk kegiatan pertemuan. Pengunjung bisa menikmati makan dan ngopi  atau bersantai sambil dalam suasana alam  perkebunan cengkih dan pala. Jika mau menuju  ke lokasi cengkih afo pertama  juga sudah dibuat tracking sekira 300 meter ke lokasi tersebut.

 Ekowisata Cengkih Afo berada di sebuah bukit di seberang kanan jalan,  menuju kawasan wisata ini,  agak mendaki. Meski demikian  telah dibuat tangga.  Di kiri kanannya dibuatkan pagar dari bambu dihiasi  dekorasi lampu dari bambu yang menarik. Semua  bahan yang  dipakai  dari serba alam.  Bangunannya  dari kayu dan bambu, atapnya juga dari bambu,  tempat makan dan minum juga dari bambu serta batok kelapa. Sementara makanan hingga minuman hangat yang disajikan semua  serba tradisonal. Menu yang disajikan  sumbernya  dari alam sekitar.   Ada makanan kobong (pangan local)  yang diolah dan disajikan warga. Makanannya khas Ternate dibuat dan dikonsumsi masyarakat   turun temurun.

jalan masuk kawasan cengkeh avo

“Ekowisata ini kita kelola berbasis masyarakat. Jadi tidak tidak hanya wisatwan datang menikmati alam dan rempah. Masyarakat sekitar juga diberdayakan.  Tujuannya cengkih afo ini memiliki manfaat lebih bagi komunitas  masyarakat setempat,” katanya.

Kris mengaku menghimpun dan memberdayakan warga setempat guna menghidupkan kawasan ekowisata Cengkeh Afo ini. “Untuk mengembangkan ekowisata ini    dikenal luas butuh kolaborasi termasuk mempebaiki sumberdaya pengelolanya,” katanya. 

Dosen ilmu sejarah Universitas Khairun Ternate Irvan Ahmad bilang, untuk wisata sejarah yang menjadi kekayaan Ternate, sejauh ini belum dikelola baik. Benteng tersebar memenuhi kota Ternate, sebenarnya punya kaitan dengan cerita cengkeh afo.  Apalagi  saat ini telah diresmikan hari rempah di mana Maluku Utara menjadi titik tolak penetapan hari rempah itu. Rempah dan benteng ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.  

“Wisatawan jauh-jauh  datang itu mau melihat jejak nenek moyang mereka di masa lalu. Karena itu narasi tentang rempah dan benteng benteng itu harus diperkuat,” katanya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Apa Kabar Deforestasi di Indonesia?

    • calendar_month Sen, 3 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 752
    • 1Komentar

    Pemerintah Klaim Turun  8,4 Persen Deforestasi Indonesia tahun 2021-2022 turun 8,4% dibandingkan hasil pemantauan tahun 2020-2021. Deforestasi netto Indonesia tahun 2021 -2022 adalah sebesar 104 ribu ha. Sementara, deforestasi Indonesia tahun 2020-2021 adalah sebesar 113,5 ribu ha. Demikian rilis resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sebagaimana dimuat dalam situs resmi […]

  • Greenpeace: Wajib Lindungi Laut 30×30 2030

    • calendar_month Jum, 24 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 711
    • 0Komentar

    Para aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk bertuliskan pesan “LINDUNGI LAUT SELAMANYA” di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat,  Kamis, 23 Februari 2023. Aksi  ini sebagai bentik desakan kepada pemerintah Indonesia untuk meningkatkan komitmen melindungi lautan. Aksi ini berlangsung bersamaan dengan diselenggarakannya  perundingan untuk Perjanjian Laut Internasional atau Global Ocean Treaty di kantor Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), […]

  • Kala Pantai Kota Ternate Nyaris Habis karena Reklamasi

    • calendar_month Rab, 20 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 1.999
    • 0Komentar

    Beberapa  kawasan di Kota Ternate yang dulunya masih memiliki pantai  dengan pasir pantainya yang menawan kini nyaris habis  karena adanya reklamasi.  Tengoklah ke kawasan selatan kota Ternate  di wilayah  Kayu Merah dan Kalumata.  Proyek reklamasi yang dikerjakan sepanjang  2017 lalu itu mulai merambah  pantai kawasan itu.  Bahkan proyek rekmalasi   untuk tahap berikutnya  dalam program multi year segera […]

  • Sektor Perikanan di Malut Dianaktirikan?

    • calendar_month Rab, 19 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 732
    • 2Komentar

    Nelayan kecil Pulau Obi yang menangkap tuna. Foto MDPI

  • Mudik Orang Pulau, Sebuah Coretan yang Tercecer

    Mudik Orang Pulau, Sebuah Coretan yang Tercecer

    • calendar_month Rab, 4 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 653
    • 0Komentar

    Fenomena mudik kaum urban, terkadang memantik perdebatan panjang. Selain mengundang  keprihatinan, di mana mudiknya kaum urban ikut melibatkan negara dengan segala risiko,  mudik itu juga melibatkan jumlah yang demikian massif yang justru memang menimbulkan tantangan tersendiri, di mana emosi dan segala perhatian tertumpah di sana. Tak ada perhatian ekstra keras yang dilakukan pemerintah jelang hari-hari […]

  • Dari Togutil ke Tobelo Dalam: Jejak Sejarah dan Transformasi Suku Pedalaman Halmahera

    • calendar_month Ming, 5 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 1.460
    • 0Komentar

    Penulis: Jamal Adam. Animal Keeper Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata, Halmahera Pulau Halmahera di Maluku Utara tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga menyimpan sejarah panjang masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan alam. Salah satu   yang menarik untuk ditelusuri adalah perjalanan suku Togutil, yang kini dikenal sebagai suku Tobelo Dalam. Mereka bukan sekadar masyarakat […]

expand_less