Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Dari Togutil ke Tobelo Dalam: Jejak Sejarah dan Transformasi Suku Pedalaman Halmahera

Dari Togutil ke Tobelo Dalam: Jejak Sejarah dan Transformasi Suku Pedalaman Halmahera

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 5 Okt 2025
  • visibility 1.610

Penulis: Jamal Adam.

Animal Keeper Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata, Halmahera

Pulau Halmahera di Maluku Utara tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga menyimpan sejarah panjang masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan alam. Salah satu   yang menarik untuk ditelusuri adalah perjalanan suku Togutil, yang kini dikenal sebagai suku Tobelo Dalam.
Mereka bukan sekadar masyarakat pedalaman, tetapi juga bagian dari mozaik sejarah yang telah mewarnai perjalanan Kesultanan Tidore di masa lalu.

Jejak Awal di Masa Kesultanan Tidore

Sejarah mencatat bahwa pada masa kejayaan Kesultanan Tidore, wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Halmahera, termasuk daerah pedalaman di mana suku Togutil hidup.

Walaupun mereka hidup jauh dari pusat pemerintahan, suku Togutil memiliki peran penting sebagai penjaga wilayah darat dan hutan-hutan strategis di pedalaman Halmahera.
Sumber lisan dan catatan budaya lokal menyebutkan bahwa kelompok-kelompok Togutil dulu dikenal sebagai orang yang hidup di hutan yang tunduk pada aturan kesultanan, meski tidak terlibat langsung dalam birokrasi atau sistem perdagangan. Mereka sering dianggap sebagai penyambung pesan, penunjuk jalan, sekaligus pelindung jalur darat yang menghubungkan wilayah Halmahera bagian timur dan barat, terutama saat masa-masa peperangan antara Tidore dan Ternate.

Masyarakat adat Tobelo Dalam di hutan Halmahera, foto Opan Jacky

 

Dalam pandangan Kesultanan Tidore, masyarakat Togutil dihormati sebagai “orang gunung” yang menjaga wilayah-wilayah sakral dan sumber air. Beberapa kisah bahkan menyebut mereka sebagai penjaga hutan keramat atau tempat peristirahatan leluhur para bangsawan. Hubungan itu bersifat resiprokal: pihak kesultanan menghormati eksistensi Togutil, sementara Togutil menunjukkan loyalitas simbolik melalui hasil hutan seperti damar, madu, dan rotan yang diserahkan dalam ritual adat tertentu.

Masa Peralihan dan Keterisolasian
Namun, ketika pengaruh kolonial mulai masuk ke Maluku Utara pada abad ke-17 hingga 19, struktur sosial Kesultanan Tidore mengalami perubahan besar.
Wilayah pedalaman semakin terpinggirkan, dan masyarakat Togutil perlahan terputus dari sistem sosial dan ekonomi luar.
Banyak dari mereka memilih kembali lebih dalam ke hutan untuk menghindari kontak dengan kolonial, sehingga kehidupan mereka menjadi semakin tertutup.
Keterisolasian inilah yang kemudian membuat masyarakat luar memberi label “Togutil”, yang dalam konteks lokal sering diartikan sebagai “orang yang bersembunyi di hutan”.
Sayangnya, seiring waktu, istilah ini mendapat konotasi negatif — seakan menggambarkan mereka sebagai kelompok primitif atau tertinggal. Padahal, di balik itu tersimpan kearifan ekologis dan filosofi hidup yang mendalam tentang keseimbangan dengan alam karena mereka ( Suku ini ) adalah pemilik konservasi sejati.

Transformasi Identitas: Dari “Togutil” ke “Tobelo Dalam”
Memasuki masa kemerdekaan dan pembangunan nasional, perhatian pemerintah terhadap masyarakat pedalaman semakin meningkat.
Peneliti antropologi dan lembaga konservasi yang bekerja di kawasan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata mulai mengkaji ulang istilah “Togutil”. Mereka menemukan bahwa masyarakat ini sebenarnya merupakan bagian dari rumpun Tobelo, hanya saja hidup di pedalaman hutan. Oleh karena itu, untuk menghapus stigma dan menghormati identitas budaya, istilah “Togutil” mulai diganti dengan “Tobelo Dalam”, yang berarti “masyarakat Tobelo yang hidup di dalam (hutan)”.
Perubahan istilah ini secara resmi mulai digunakan oleh pemerintah daerah Maluku Utara dan Kementerian Sosial melalui program Komunitas Adat Terpencil (KAT) sejak awal tahun 2000-an.

 

Kehidupan Modern dan Upaya Pelestarian
Kini, sebagian kelompok Tobelo Dalam mulai berinteraksi dengan dunia luar. Mereka mengikuti pendidikan dasar, menerima layanan kesehatan, dan terlibat dalam kegiatan konservasi di taman nasional.
Namun, sebagian lainnya masih memilih untuk tetap hidup dengan cara lama: berburu, meramu, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain sesuai siklus alam.
Pemerintah daerah dan Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata berupaya melakukan pendekatan budaya, bukan paksaan. Tujuannya agar Tobelo Dalam bisa menikmati manfaat pembangunan tanpa kehilangan identitas dan kearifan lokal mereka. Program seperti pemberdayaan berbasis adat, pelatihan konservasi, dan perlindungan lahan tradisional menjadi bagian penting dari langkah ini.

Makna Historis dan Sosial

Perjalanan dari Togutil hingga menjadi Tobelo Dalam adalah simbol transformasi yang sarat makna.
Dari masa Kesultanan Tidore hingga era modern, mereka tetap menjadi penjaga hutan dan nilai-nilai leluhur Halmahera.  Meski banyak hal berubah di dunia luar, kehidupan masyarakat Tobelo Dalam tetap berpegang pada prinsip harmoni dengan alam — warisan yang telah mereka jaga sejak masa para Sultan Tidore.
Bagi masyarakat Maluku Utara masa kini, mengenal Tobelo Dalam berarti juga menghargai akar sejarah yang menghubungkan adat, kesultanan, dan konservasi alam dalam satu benang merah.
Seperti yang dikatakan oleh Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata,Iwan Efendi,S.Pi.,M.Sc., “Selama hutan masih berdiri, semangat Suku Tobelo Dalam (MTD) tetap hidup.”

Sumber:
1. Mongabay Indonesia. (2023). Tobelo Dalam, Menjaga Tradisi di Tengah Hutan Halmahera.
2. Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. (2022). Laporan Pemberdayaan Masyarakat Tobelo Dalam.
3. Kementerian Sosial RI. (2021). Data Komunitas Adat Terpencil (KAT) Provinsi Maluku Utara.
4.Wikipedia Bahasa Indonesia. (2024). Suku Togutil.
5. Lembaga Kebudayaan Tidore. (2020). Catatan Adat dan Masyarakat Pegunungan Halmahera Timur.

 

 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Patgulipat  Harga Tanah di Lingkar PSN, Banyak Pihak Ikut Bermain (3) Habis

    • calendar_month Sel, 10 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 1.597
    • 0Komentar

    Persoalan  pelik daerah lingkar Proyek Strategis Nasional (PSN), Weda Hamahera Tengah Maluku Utara,  adalah  lahan.  Saat ini lahan produktif untuk pertanian nyaris habis. Warga yang  dulu bertani  tak lagi bertani. Sebagian besar beralih menjadi pekerja tambang, serabutan  hingga juragang rumah sewa/kosan. Lepasnya lahan  karena kebutuhan mendesak, juga kuatnya pengaruh berbagai pihak. Harga  lahan kebun  terbilang […]

  • Kerusakan Hutan di Obi Cukup Serius

    • calendar_month Sen, 2 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 1.284
    • 0Komentar

    Temuan FWI 90 Persen Lahan Dikuasai Perusahaan Suara Muhammad  Risman terdengar lantang di pagi  menjelang siang pada Kamis (20/4) lalu. Dia bersuara  memprotes penderitaan  warga Pulau Obi yang hingga kini tak mendapatkan perhatian. Protes  ini cukup  beralasan karena  di Obi  saat ini  sedang terjadi eksploitasi  besaran- besaran oleh perusahaan tambang dan HPH. Sementara kondisi warganya […]

  • Warga Bahalo Sagu di Festival Kampung Pulau

    • calendar_month Sel, 27 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 722
    • 0Komentar

    Meremas pokok sagu yang dipukul atau orang kampung menyebutnya dengan Oro untuk mendapatkan tepung sagu/foto hiar

  • Ikan Ngafi dan Udang yang Terus Menyusut di Kao Halmahera

    • calendar_month Rab, 2 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 774
    • 0Komentar

    Selasa (18/8) Sore itu, Meisar Hi Ngole ngole (60) sedang memishkan ikan ngafi (teri,red)  dengan jenis  lain yang  sudah kering dari tempat penjemuran.  Ikan ini adalah hasil tangkapan suaminya yang turun melaut pagi  akhir Agustus lalu. Hasil tangkapan hari itu  tidak cukup tiga kilogram. Ini setelah dibagi dengan 8 nelayan lainnya yang ikut  bersama  suaminya. […]

  • Stadion Gelora Kie Raha

    Stadion Gelora Kie Raha

    • calendar_month Sab, 4 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 705
    • 0Komentar

    Stadion Gelora Kie Raha yang telah direnovasi di Ternate, Maluku Utara, Minggu (24/11/2024).Stadion yang berkapasitas 15 ribu penonton itu sudah mulai digunakan Klub Malut United FC untuk latihan dan pertandingan liga satu, menyusul telah rampungnya renovasi stadion pada akhir Oktober 2024 oleh PT. Mineral Trobos.FOtO/ADEX  

  • 153 Pulau Kecil Ditambang, 6  Ada di Maluku Utara   

    • calendar_month Rab, 9 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 2.079
    • 0Komentar

    Berapa jumlah pasti pulau kecil dan sangat kecil di Indonesia yang saat ini dieksploitasi terutama kandungan tambangnya?  Jawaban pemerintah,   ternyata mencapai ratusan pulau. Dikutip dari Liputan6.com,   Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkapkan ada 370 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang tersebar di 153 pulau-pulau kecil di Indonesia. Dari jumlah izin di pulau kecil itu  ada yang […]

expand_less