Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Dari Togutil ke Tobelo Dalam: Jejak Sejarah dan Transformasi Suku Pedalaman Halmahera

Dari Togutil ke Tobelo Dalam: Jejak Sejarah dan Transformasi Suku Pedalaman Halmahera

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 5 Okt 2025
  • visibility 1.461

Penulis: Jamal Adam.

Animal Keeper Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata, Halmahera

Pulau Halmahera di Maluku Utara tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga menyimpan sejarah panjang masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan alam. Salah satu   yang menarik untuk ditelusuri adalah perjalanan suku Togutil, yang kini dikenal sebagai suku Tobelo Dalam.
Mereka bukan sekadar masyarakat pedalaman, tetapi juga bagian dari mozaik sejarah yang telah mewarnai perjalanan Kesultanan Tidore di masa lalu.

Jejak Awal di Masa Kesultanan Tidore

Sejarah mencatat bahwa pada masa kejayaan Kesultanan Tidore, wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Halmahera, termasuk daerah pedalaman di mana suku Togutil hidup.

Walaupun mereka hidup jauh dari pusat pemerintahan, suku Togutil memiliki peran penting sebagai penjaga wilayah darat dan hutan-hutan strategis di pedalaman Halmahera.
Sumber lisan dan catatan budaya lokal menyebutkan bahwa kelompok-kelompok Togutil dulu dikenal sebagai orang yang hidup di hutan yang tunduk pada aturan kesultanan, meski tidak terlibat langsung dalam birokrasi atau sistem perdagangan. Mereka sering dianggap sebagai penyambung pesan, penunjuk jalan, sekaligus pelindung jalur darat yang menghubungkan wilayah Halmahera bagian timur dan barat, terutama saat masa-masa peperangan antara Tidore dan Ternate.

Masyarakat adat Tobelo Dalam di hutan Halmahera, foto Opan Jacky

 

Dalam pandangan Kesultanan Tidore, masyarakat Togutil dihormati sebagai “orang gunung” yang menjaga wilayah-wilayah sakral dan sumber air. Beberapa kisah bahkan menyebut mereka sebagai penjaga hutan keramat atau tempat peristirahatan leluhur para bangsawan. Hubungan itu bersifat resiprokal: pihak kesultanan menghormati eksistensi Togutil, sementara Togutil menunjukkan loyalitas simbolik melalui hasil hutan seperti damar, madu, dan rotan yang diserahkan dalam ritual adat tertentu.

Masa Peralihan dan Keterisolasian
Namun, ketika pengaruh kolonial mulai masuk ke Maluku Utara pada abad ke-17 hingga 19, struktur sosial Kesultanan Tidore mengalami perubahan besar.
Wilayah pedalaman semakin terpinggirkan, dan masyarakat Togutil perlahan terputus dari sistem sosial dan ekonomi luar.
Banyak dari mereka memilih kembali lebih dalam ke hutan untuk menghindari kontak dengan kolonial, sehingga kehidupan mereka menjadi semakin tertutup.
Keterisolasian inilah yang kemudian membuat masyarakat luar memberi label “Togutil”, yang dalam konteks lokal sering diartikan sebagai “orang yang bersembunyi di hutan”.
Sayangnya, seiring waktu, istilah ini mendapat konotasi negatif — seakan menggambarkan mereka sebagai kelompok primitif atau tertinggal. Padahal, di balik itu tersimpan kearifan ekologis dan filosofi hidup yang mendalam tentang keseimbangan dengan alam karena mereka ( Suku ini ) adalah pemilik konservasi sejati.

Transformasi Identitas: Dari “Togutil” ke “Tobelo Dalam”
Memasuki masa kemerdekaan dan pembangunan nasional, perhatian pemerintah terhadap masyarakat pedalaman semakin meningkat.
Peneliti antropologi dan lembaga konservasi yang bekerja di kawasan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata mulai mengkaji ulang istilah “Togutil”. Mereka menemukan bahwa masyarakat ini sebenarnya merupakan bagian dari rumpun Tobelo, hanya saja hidup di pedalaman hutan. Oleh karena itu, untuk menghapus stigma dan menghormati identitas budaya, istilah “Togutil” mulai diganti dengan “Tobelo Dalam”, yang berarti “masyarakat Tobelo yang hidup di dalam (hutan)”.
Perubahan istilah ini secara resmi mulai digunakan oleh pemerintah daerah Maluku Utara dan Kementerian Sosial melalui program Komunitas Adat Terpencil (KAT) sejak awal tahun 2000-an.

 

Kehidupan Modern dan Upaya Pelestarian
Kini, sebagian kelompok Tobelo Dalam mulai berinteraksi dengan dunia luar. Mereka mengikuti pendidikan dasar, menerima layanan kesehatan, dan terlibat dalam kegiatan konservasi di taman nasional.
Namun, sebagian lainnya masih memilih untuk tetap hidup dengan cara lama: berburu, meramu, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain sesuai siklus alam.
Pemerintah daerah dan Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata berupaya melakukan pendekatan budaya, bukan paksaan. Tujuannya agar Tobelo Dalam bisa menikmati manfaat pembangunan tanpa kehilangan identitas dan kearifan lokal mereka. Program seperti pemberdayaan berbasis adat, pelatihan konservasi, dan perlindungan lahan tradisional menjadi bagian penting dari langkah ini.

Makna Historis dan Sosial

Perjalanan dari Togutil hingga menjadi Tobelo Dalam adalah simbol transformasi yang sarat makna.
Dari masa Kesultanan Tidore hingga era modern, mereka tetap menjadi penjaga hutan dan nilai-nilai leluhur Halmahera.  Meski banyak hal berubah di dunia luar, kehidupan masyarakat Tobelo Dalam tetap berpegang pada prinsip harmoni dengan alam — warisan yang telah mereka jaga sejak masa para Sultan Tidore.
Bagi masyarakat Maluku Utara masa kini, mengenal Tobelo Dalam berarti juga menghargai akar sejarah yang menghubungkan adat, kesultanan, dan konservasi alam dalam satu benang merah.
Seperti yang dikatakan oleh Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata,Iwan Efendi,S.Pi.,M.Sc., “Selama hutan masih berdiri, semangat Suku Tobelo Dalam (MTD) tetap hidup.”

Sumber:
1. Mongabay Indonesia. (2023). Tobelo Dalam, Menjaga Tradisi di Tengah Hutan Halmahera.
2. Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. (2022). Laporan Pemberdayaan Masyarakat Tobelo Dalam.
3. Kementerian Sosial RI. (2021). Data Komunitas Adat Terpencil (KAT) Provinsi Maluku Utara.
4.Wikipedia Bahasa Indonesia. (2024). Suku Togutil.
5. Lembaga Kebudayaan Tidore. (2020). Catatan Adat dan Masyarakat Pegunungan Halmahera Timur.

 

 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Minim, Dana Desa Digunakan Kelola Sampah

    • calendar_month Sel, 14 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 655
    • 1Komentar

    Sampah yang dibuang warga ke tepi pantai di salah satu desa di Halmahera Selatan foto M Ichi

  • Saatnya Pariwisata Go Digital

    • calendar_month Jum, 27 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 617
    • 0Komentar

    Cry Jailolo Ramaikan Ultah GenPI dan Pasar Teluk   Pada 25 November 2020 lalu,  Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Halmahera Barat dan Pasar Teluk, genap berusia dua tahun.  Dalam perayaan ulang tahun kedua itu banyak atraksi ditampilkan. Salah satunya seni tari Cry Jailolo  yang sudah go internasional itu. Rilis yang dikirimkan GenPi kepada kabarpulau.co.id/ menyebutkan, dengan […]

  • Tugu Kenari dan Diaspora Minang di Makean

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 1.176
    • 0Komentar

    Kuliah Bersama Masyarakat (Kubermas) tahap I Universitas Khairun Ternate  di Desa Sebelei Kecamatan  Makean Barat, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara selama satu bulan (Agustus 2023) telah tuntas. Program kerja mereka,salah satunya membuat Tugu Kenari sebagai salah satu ikon Desa Sebelei.    Sekadar diketahui, tugu ini memiliki makna filosofis mendalam. Pohon kenari  disebut- sebut sebagai  salah […]

  • Tradisi Padi Ladang yang Hilang di Halmahera (2)

    Tradisi Padi Ladang yang Hilang di Halmahera (2)

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 398
    • 0Komentar

    Dari Hutan ke Pasar: Saat Uang Mengalahkan Pangan Lokal Perubahan besar di Desa Samo tidak datang melalui program pangan. Ia datang bersama industri kayu. Pada akhir 1980-an, perusahaan logging mulai masuk ke wilayah Gane Barat Utara. Jalan-jalan bekas perusahaan masih bisa ditemukan hingga hari ini, membelah kebun dan hutan warga. Bersamaan dengan itu, pola hidup […]

  • “Super Blue Blood Moon” Waspadai Banjir ROB

    “Super Blue Blood Moon” Waspadai Banjir ROB

    • calendar_month Sel, 30 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 562
    • 0Komentar

    Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan pada  31 Januari 2018, akan terjadi Fenomena Super Blue Blood Moon atau Supermoon yang bertepatan dengan Gerhana Bulan Total. Posisi ini matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lurus. Kejadian Gerhana Bulan Total dapat diamati di sebagian besar wilayah Indonesia. Fenomena ini merupakan fenomena langka karena akan […]

  • Perjuangkan Lingkungan, 14 Warga Sagea Kiya Hadapi Ancaman Kriminalisasi

    Perjuangkan Lingkungan, 14 Warga Sagea Kiya Hadapi Ancaman Kriminalisasi

    • calendar_month Rab, 11 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Perjuangan Warga Desa Sagea-Kiya, Weda Utara terhadap lingkungan mereka dari kerusakan akibat industry tambang, terus disuarakan. Aksi warga dalam beberapa waktu belakangan  ini  menerima kenyataan pahit. Aksi melawan korporasi tambang itu berujung panggilan polisi terhadap 14 warga  setempat. Mereka harus berhadapan dengan aparat penegak hukum setelah aksi yang meminta penghentian sementara aktivitas tambang nikel yang […]

expand_less