Breaking News
light_mode
Beranda » Telusur Pulau » Jalan Pendek

Jalan Pendek

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 1 Mei 2023
  • visibility 852

Sketsa Kehidupan di Pulau Hiri

Siang itu saya dan dua kawan jalan-jalan ke Pulau Hiri. Pulau kecil yang letaknya dekat dengan pulau Ternate. Hanya 20 menit menyeberangi pulau itu menggunakan perahu motor. Pulau Hiri masih terjaga, tradisi dan budayanya. Meskipun struktur geografis di pulau tersebut tidak jauh beda dengan pulau-pulau lain di Maluku Utara, namun tetap saja menyenangkan saat menyusuri jalanan yang berjarak dekat dengan bibir pantai.

Ada enam desa di pulau Hiri, yaitu desa Dorari Isa, Faudu, Mado, Tafraka, Togolobe dan Toma Jiko. Desa-desa tersebut letaknya mengelilingi pulau. Namun sayang sebagian jalan masih dalam perbaiakan. Cukup beresiko jika melintas saat penghujan.

Perjalanan singkat ini saya rekam lewat sketsa, seperti aktivitas yang terlihat di dermaga, orang-orang di atas perahu motor dan interaksi masyarakat setempat. Gambaran penuh ekspresi ini saya sebut sebagai “Jalan Pendek”.

Setiap pagi hingga sore beginilah aktivitasnya, entah di pelabuhan Ternate atau pun di Hiri, kesibukkannya selalu sama. Saat hendak berangkat, tampak tiba kapal perahu dari pulau Hiri yang berlabuh di dermaga Sulamadaha-Ternate.

Sejumlah penumpang mulai mempersiapkan barang bawaanya untuk turun, termasuk sepeda motor.

Perahu motor yang kami tumpangi tidak terlalu besar. Ada ruang duduk di dalam dan di luar (bagian atas). Penumpang bisa memilih dengan sesuka hati, bahkan di samping juru mudi juga boleh. Kebanyakan mereka (para penumpang) punya alasan tersendiri menikmati hal itu, seperti menghindari mual atau menghirup angin segar. Sekalipun cuaca panas atau hujan, mereka tetap saja merasa senang hingga sampai tujuan.

Sesekali yang dirasakan adalah sensasi air laut yang wangi asinnya di sepanjang air laut. Tampak juga gunung yang seolah-olah turut mendekat dari satu dan menjauh pelan dari arah yang berbeda. Air laut dan wangi khasnya terasa begitu dekat menjejal karang dan ikan-ikan kecil melompat-lompat.

Saat tiba di pulau Hiri, hal menarik yang saya jumpai yaitu tentang tukang ojek. Para tukang ojek menawarkan jasanya dengan cara yang sangat santai. Bahkan penampilan mereka pun tak meyakinkan untuk bisa tahu bahwa mereka adalah tukang ojek. Berbeda dengan Ojol (ojek online) penumpang tidak perlu sibuk mengorder pakai aplikasi, cukup dengan mendengar teriakan dari tukang ojek sendiri,  “Ojek?,” maka, penumpang siap diantar hingga ke tujuan.

Setelah selesai beraktivitas, kami kembali ke Ternate. Saya merekam kondisi di pelabuhan Hiri saat para penumpang sedang menunggu perahu motor datang. Di koridor dermaga, orang-orang menunggu sambil duduk di tembok koridor. Ruangnya sangat terbuka. Bisa melihat pemandangan yang indah dari kejauhan. Gunung Ternate dan birunya laut disertai perahu-perahu nelayan yang sedang memancing, berjejeran bagai garis-garis pendek kecil.

Saya tidak membayangkan jika kondisi cuaca buruk, seperti hujan atau angin kencang. Para penumpang yang sedang menunggu di ruang tunggu pelabuhan itu akan merasa tidak aman dan nyaman. Sungguh kondisi ini sangat memprihatinkan.

Dermaga di kedua pulau ini hampir sama kondisinya, tidak memberi rasa nyaman dan aman bagi para penumpang karena infrastruktur yang kurang layak.

Padahal, setiap hari para penumpang harus melakukan aktivitas, sementara jalur transportasi dan kondisi dermaga mengungkap sisi lain yang berbeda. Para penumpang harus saling mengulur tangan, membantu melewati tangga-tangga darurat hasil bikinan warga setempat.

Saya merekamannya dalam garis-garis sketsa yang haptik.

Pada kondisi yang berbeda, roda kehidupan harus terus bergerak walaupun masih banyak yang harus dibenahi. Sebuah kesadaran bersama, bahwa prioritas dan tanggung jawab merupakan bentuk kemanusiaan untuk mendukung roda kehidupan. Pandangan saya tertuju pada seorang juru mudi, keteguhan dan tak pernah goyah karena ombak, tak lantas membuatnya patah harapan karena badai. Baginya itu hanya musim, musim pasti berganti. Sementara Tuhan punya cara sendiri menanggulangi itu. Waktu terus berjalan dalam segala harapan baik, asal tidak sampai kelaparan. Sebab ada orang-orang terkasih yang disebut keluarga patut diperjuangkan dan alam tetap diperlakukan dengan baik.(*)

Profil

Fadriah adalah seniman asal Ternate yang saat ini aktif dalam kerja-kerja seni rupa di Maluku Utara. Karya-karya seni yang ia hadirkan selalu mengangkat tema-tema sosial, budaya berdasarkan argumen artistik penuh simbolik. Di sela-sela waktunya setiap momen dilewatinya dengan karya sketsa dan menulis. Kali ini beberapa sketsanya diungkapkan melalui aktivitas kehidupan masyarakat kepulauan dengan catatan sketsa yang disebut Jalan Pendek.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Untuk Ikan Lestari, AS Dukung Hentikan Illegal Fishing

    • calendar_month Jum, 19 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 485
    • 0Komentar

    Upaya  menjaga kelestarian sumberdaya alam laut Indonesia terutama bidang perikanan, menjadi sebuah keharusan. Dalam upaya itu membutuhkan dukungan berbagai pihak. Salah satunya dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)yang  bekerjasama dengan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), dan the U.S. National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA) bermitra menerapkan Perjanjian tentang Ketentuan Negara Pelabuhan (PSMA). Seperti rilis yang dikirimkan USAID […]

  • Wacana Konsesi Tambang untuk Kampus Harus Ditolak

    • calendar_month Rab, 12 Feb 2025
    • account_circle
    • visibility 896
    • 0Komentar

    Wacana konsesi tambang untuk kampus melalui revisi UU 3/2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) mesti ditolak. Lewat wacana itu, pemegang otoritas berupaya menggerus independensi kampus sebagai institusi pendidikan yang berorientasi pada tridarma. Kampus seyogianya menjadi kompas moral dan intelektualitas, bukan jadi alat negara untuk mencuci  Praktik-praktik buruk industri ekstraktif. Ilham Majid, dosen Universitas […]

  • Warga Bahalo Sagu di Festival Kampung Pulau

    • calendar_month Sel, 27 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 608
    • 0Komentar

    Meremas pokok sagu yang dipukul atau orang kampung menyebutnya dengan Oro untuk mendapatkan tepung sagu/foto hiar

  • Situs Terumbu Karang Terkaya Ada di Malut, Ini Hasil Kajianya

    • calendar_month Sen, 8 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 876
    • 0Komentar

    Beragam jenis ikan karang yang ditemukan bermain di terumbu karang KKP Mare, foto Abdul Khalis

  • Ambisi Transisi Energi Terbarukan Dibajak Pebisnis Energi Kotor

    • calendar_month Sel, 7 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 553
    • 0Komentar

    Koalisi Transisi Bersih, yang terdiri sejumlah organisasi masyarakat sipil seperti Satya Bumi, Trend Asia, Sawit Watch, SPKS, Greenpeace dan Walhi, menemukan, pendekatan transisi energi di Indonesia tidak mengarah pada transformasi sistem tata kelola energi, melainkan hanya pada pergantian teknologi. Pendekatan yang tidak transformatif, bertemu dengan biaya proyek yang tinggi dan kejar target bauran energi membuat […]

  • Presiden Resmi Cabut 11 Izin Kehutanan di Malut

    • calendar_month Jum, 7 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 829
    • 0Komentar

    Presiden Joko Widodo mencabut izin-izin pertambangan, kehutanan, dan penggunaan lahan negara yang dinilai bermasalah. Langkah ini diambil untuk memperbaiki tata kelola sumber daya alam agar ada pemerataan, transparan dan adil, untuk mengoreksi ketimpangan, ketidakadilan, dan kerusakan alam. Hal ini disampaikan Presiden dalam keterangan pers secara di Istana Kepresidenan Bogor Jawa Barat Kamis (6/1/2022) siang. “Izin-izin yang […]

expand_less