Breaking News
light_mode
Beranda » Telusur Pulau » Jalan Pendek

Jalan Pendek

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 1 Mei 2023
  • visibility 555

Sketsa Kehidupan di Pulau Hiri

Siang itu saya dan dua kawan jalan-jalan ke Pulau Hiri. Pulau kecil yang letaknya dekat dengan pulau Ternate. Hanya 20 menit menyeberangi pulau itu menggunakan perahu motor. Pulau Hiri masih terjaga, tradisi dan budayanya. Meskipun struktur geografis di pulau tersebut tidak jauh beda dengan pulau-pulau lain di Maluku Utara, namun tetap saja menyenangkan saat menyusuri jalanan yang berjarak dekat dengan bibir pantai.

Ada enam desa di pulau Hiri, yaitu desa Dorari Isa, Faudu, Mado, Tafraka, Togolobe dan Toma Jiko. Desa-desa tersebut letaknya mengelilingi pulau. Namun sayang sebagian jalan masih dalam perbaiakan. Cukup beresiko jika melintas saat penghujan.

Perjalanan singkat ini saya rekam lewat sketsa, seperti aktivitas yang terlihat di dermaga, orang-orang di atas perahu motor dan interaksi masyarakat setempat. Gambaran penuh ekspresi ini saya sebut sebagai “Jalan Pendek”.

Setiap pagi hingga sore beginilah aktivitasnya, entah di pelabuhan Ternate atau pun di Hiri, kesibukkannya selalu sama. Saat hendak berangkat, tampak tiba kapal perahu dari pulau Hiri yang berlabuh di dermaga Sulamadaha-Ternate.

Sejumlah penumpang mulai mempersiapkan barang bawaanya untuk turun, termasuk sepeda motor.

Perahu motor yang kami tumpangi tidak terlalu besar. Ada ruang duduk di dalam dan di luar (bagian atas). Penumpang bisa memilih dengan sesuka hati, bahkan di samping juru mudi juga boleh. Kebanyakan mereka (para penumpang) punya alasan tersendiri menikmati hal itu, seperti menghindari mual atau menghirup angin segar. Sekalipun cuaca panas atau hujan, mereka tetap saja merasa senang hingga sampai tujuan.

Sesekali yang dirasakan adalah sensasi air laut yang wangi asinnya di sepanjang air laut. Tampak juga gunung yang seolah-olah turut mendekat dari satu dan menjauh pelan dari arah yang berbeda. Air laut dan wangi khasnya terasa begitu dekat menjejal karang dan ikan-ikan kecil melompat-lompat.

Saat tiba di pulau Hiri, hal menarik yang saya jumpai yaitu tentang tukang ojek. Para tukang ojek menawarkan jasanya dengan cara yang sangat santai. Bahkan penampilan mereka pun tak meyakinkan untuk bisa tahu bahwa mereka adalah tukang ojek. Berbeda dengan Ojol (ojek online) penumpang tidak perlu sibuk mengorder pakai aplikasi, cukup dengan mendengar teriakan dari tukang ojek sendiri,  “Ojek?,” maka, penumpang siap diantar hingga ke tujuan.

Setelah selesai beraktivitas, kami kembali ke Ternate. Saya merekam kondisi di pelabuhan Hiri saat para penumpang sedang menunggu perahu motor datang. Di koridor dermaga, orang-orang menunggu sambil duduk di tembok koridor. Ruangnya sangat terbuka. Bisa melihat pemandangan yang indah dari kejauhan. Gunung Ternate dan birunya laut disertai perahu-perahu nelayan yang sedang memancing, berjejeran bagai garis-garis pendek kecil.

Saya tidak membayangkan jika kondisi cuaca buruk, seperti hujan atau angin kencang. Para penumpang yang sedang menunggu di ruang tunggu pelabuhan itu akan merasa tidak aman dan nyaman. Sungguh kondisi ini sangat memprihatinkan.

Dermaga di kedua pulau ini hampir sama kondisinya, tidak memberi rasa nyaman dan aman bagi para penumpang karena infrastruktur yang kurang layak.

Padahal, setiap hari para penumpang harus melakukan aktivitas, sementara jalur transportasi dan kondisi dermaga mengungkap sisi lain yang berbeda. Para penumpang harus saling mengulur tangan, membantu melewati tangga-tangga darurat hasil bikinan warga setempat.

Saya merekamannya dalam garis-garis sketsa yang haptik.

Pada kondisi yang berbeda, roda kehidupan harus terus bergerak walaupun masih banyak yang harus dibenahi. Sebuah kesadaran bersama, bahwa prioritas dan tanggung jawab merupakan bentuk kemanusiaan untuk mendukung roda kehidupan. Pandangan saya tertuju pada seorang juru mudi, keteguhan dan tak pernah goyah karena ombak, tak lantas membuatnya patah harapan karena badai. Baginya itu hanya musim, musim pasti berganti. Sementara Tuhan punya cara sendiri menanggulangi itu. Waktu terus berjalan dalam segala harapan baik, asal tidak sampai kelaparan. Sebab ada orang-orang terkasih yang disebut keluarga patut diperjuangkan dan alam tetap diperlakukan dengan baik.(*)

Profil

Fadriah adalah seniman asal Ternate yang saat ini aktif dalam kerja-kerja seni rupa di Maluku Utara. Karya-karya seni yang ia hadirkan selalu mengangkat tema-tema sosial, budaya berdasarkan argumen artistik penuh simbolik. Di sela-sela waktunya setiap momen dilewatinya dengan karya sketsa dan menulis. Kali ini beberapa sketsanya diungkapkan melalui aktivitas kehidupan masyarakat kepulauan dengan catatan sketsa yang disebut Jalan Pendek.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sektor Perikanan di Malut Dianaktirikan?

    • calendar_month Rab, 19 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 410
    • 2Komentar

    Nelayan kecil Pulau Obi yang menangkap tuna. Foto MDPI

  • Atasi Sampah, Malut Butuh PLTSa?

    • calendar_month Sel, 28 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 773
    • 1Komentar

    Sampah menjadi masalah paling serius. Tidak hanya di kota tetapi juga di  desa- desa di seluruh Indonesia. Dia menjadi masalah dan  sangat mengancam lingkungan dan manusia  terutama sampah plastic. Sampah  jenis ini   sulit terurai  sehingga dilakukan berbagai riset  untuk mengatasi  makin banyaknya sebaran di lingkungan darat maupun laut.   Ada sejumlah cara  mengatasi sampah ini […]

  • 326 Peserta Ramaikan Mancing Mania Dies Natalis Unkhair

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 347
    • 1Komentar

    MaPanitia Mancing Maniia bersiap menuju Modayama Kayoa Halmahera Se;latan

  • Hutan Malut Kritis, Tanggung jawab Gubernur?   

    • calendar_month Rab, 22 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 429
    • 2Komentar

    Aksi aktivis Walhi bersama Sylva Unkhair di depan rumah dinas GUbernur Malut

  • Warga Gane Timur Minta Pemerintah Perhatikan Produksi Sagu

    • calendar_month Sen, 30 Jan 2023
    • account_circle
    • visibility 366
    • 3Komentar

    Masyarakat Desa Kotalou Kecamatan Gane Timur, saat ini  banyak yang mengolah pohon sagu menjadi tepung.    Hasilnya  lalu  dijual ke daerah sekitar Halmahera Selatan dan Weda  Halmahera Tengah.    Dalam mengolah sagu warga tidak lagi melakukannya  secara manual tetapi  menggunakan  mesin penggilingan. Produksi sagunya  setiap orang menghasilkan 5 sampai 6 karung dalam sepekan. Sementara tiap karung […]

  • Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (2 habis)

    • calendar_month Sab, 15 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 433
    • 0Komentar

    Bagaimana Melakukannya di Komunitas? Bencana baik alam maupun non alam berdampak cukup serius bagi warga.  Pandemi Covid-19 misalnya, membuat hampir semua orang menjadi kurang produktif.  Pemenuhan kebutuhan hidup di masa pandemi pun  jadi tantangan.   Warga menjadi sangat rentan terutama  dalam memenuhi kebutuhan pangan. Karena itu perlu membangun  ketangguhan. Menata kembali kehidupan sosial dan lingkungan, yang […]

expand_less