Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Tanam Mangrove agar “Merdeka” dari Abrasi

Tanam Mangrove agar “Merdeka” dari Abrasi

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 4 Sep 2020
  • visibility 522

Cerita Aksi Komunitas Pencinta Mangrove Khatulistiwa

Kawasan taman pemakaman umum (TPU) Desa Guruapin Kecamatan Kayoa Halmahera Selatan saat ini berada dalam  kondisi terancam. TPU yang berada di pantai  bagian barat desa itu, terancam abrasi cukup serius yang membuat pemakaman itu habis tersapu air. Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan itu, Komunitas Pecinta Mangrove Khatulistiwa  (KPMK) yang  dinisiasi anak anak muda mengambil langkah, agar bisa bebas dari ancaman abrasi. Caranya dengan menanam mangrove. Komunitas yang memiliki anggota 45 orang itu, sudah dua kali menggelar aksi menanam untuk melindungi desanya, dari dampak perubahan iklim

Ketua KPMK Surahmat Kamis (4/9) menjelaskan, upaya ini telah dilakukan sejak 2018. Sudirahmat sendiri yang mengawali gerakan ini. Dia mengumpulkan bibit kemudian membuat bedeng dan menyemai. Setelah gerakan mandiri yang dilakukan Sudirahmat, dia lalu menghimpun kawan kawannya.dengan  membentuk komunitas   menanam dan merawat mangrove. Surahmat sebelum menghimpun teman-temannya dia mencoba menaman mangrove secara mandiri di beberapa kawasan hutan mangrove yang dibabat warga.

Setelah itu dia menghimpun beberapa kawan dengan modal seadanya. Mereka mengumpulkan bibit dan menyemainya hingga ribuan pohon.  Dari sini kemudian komunitas yang menamakan dirinya Komunitas Pencinta Mangrove Khatulistiwa (KPMK) mulai menanam. Pilihan kata Khatulistiwa ada dalam nama komunitas karena desa ini adalah satu-satunya desa di Maluku Utara yang berada tepat di garis khatulistiwa.

Hingga kini menurut Surahmat mereka telah melakukan dua kali penanaman. Pertama  pada 2018 lalu. Kala itu mereka menanam sebanyak 1000 pohon lebih. Penanaman kedua  pada 18 Agustus 2020 baru baru ini   yakni sebanyak 1300 pohon mangrove.

“Penanaman bertepatan dengan peringatan 17 Agustus itu turut melibatkan berbagai pihak termasuk pemerintah desa dan kecamatan,” ujarnya.

Kawasan pantai Guruapin yang mengalami abrasi serius

Pohon mangrove yang ditanam pada tahap pertama lalu bertepatan dengan kegiatan pekan lingkungan hidup yang digelar  WALHI  di Maluku Utara dan dipusatkan di Kayoa Halmahera Selatan. Mangrove ini     telah bertumbuh dan berkembang cukup baik.  Sementara  penanaman  tahap kedua sementara dalam pemeliharaan.  “Penenaman mangrove ini harus kami  lakukansebagai bagian dari kepedualian anak muda   di sini dengan lingkungan pantai yang semakin terancam oleh abrasi. Ini  juga  sebuah upaya untuk menahan laju abrasi parah,”  jelas Surahmat.

Dia bilang,  memulai  gerakan  ini tidak mudah. Banyak tantangan  dihadapi. Dari tanpa modal mereka harus bergerak mengumpulkan benih menyemai dan memeliharanya. Awalnya, masyarakat   juga tidak memberi dukungan. Gerakan semacam ini belum pernah dilakukan. Warga selalu berpikir itu adalah proyek yang dibiayai pemerintah.   

Surahmat bercerita, mengawali gerakan ini  dianggap gila karena selama ini orang tidak pernah  menanam mangrove. “Yang biasanya orang lakukan  itu menanam cengkih  atau pala bukan menanam mangrove. Tidak ada orang menanam atau melindungi mangrove. Orang kampong ini menanam pala atau cengkih.yang suatu saat berbuah dan bisa ada hasilnya,” katanya mengutip sentilan warga. Sementara yang mereka tanam hanya mangrove. Di sisi lain warga   dalam aktivitasnya selalu memanfaatkan  kayu dari mangrove untuk berbagai kebutuhan. Misalnya untk kayu bakar  maupun bahan bangunan. 

Meski demikian Surahmat bersama rekan-rekannya tak patah arang mereka terus bergerak mengumpulkan bibit mangrove dan menyemainya. Akhirnya ada ribuan bibit mangrove yang ditanam di kawasan pantai desa. “Ketika memulai gerakan ini  banyak orang meragukan apa yang kami lakukan.Tetapi tetap jalan. Kami yakin suatu saat orang akan sadar sendiri dengan upaya yang kami lakukan,” imbuhnya.

Rapat bersama membahas persiapan penyusuna Perdes Perlindungan Mangrove

Tidak itu saja komunitas ini awalnya agak kesulitan bergerak karena pemahaman masyarakat yang selama ini menganggap pekerjaan seperti ini lebih bernilai proyek.  Padahal, yang dilakukan ini adalah sebuah kesadaran  sendiri.  Jika tidak segera dilakukan penanaman maka setiap tahun kawasan pantai ini akan hilang disapu air laut.

Memang katanya, dalam gerakan menanam mangrove dan melindungi kawasan pantai Kayoa ini, banyak kendala dihadapi.  Dari ketiadaan fasilitas dan modal hingga keraguan dari warga. Tetapi seiring waktu apa yang dilakukan mulai menunjukan hasil “Pohon mangrove mulai  bertumbuh baik dan warga juga diberi pehamaman soal mangrove. Tidak hanya menjadi pelindung kawasan pantai tetapi juga berguna bagi tempat tambat perahu nelayan dan kembalinya ikan. Ini jika mangrove ini sudah besar,” ujar Fadli anggota komunitas ini.

Apa yang dilakukan oleh komunitas ini ternyata tidak hanya menanam mangrove. Mereka juga sudah menggagas upaya perlindungannya dengan membuat Peraturan Desa (Perdes). Perdes itu menyangkut Lingkungan Hidup, Perlindungan Laut dan Mangrove. Langkah ini harus dilakukan demi melindungi hutan mangrove di Kayoa khususnya di Desa Guruapin. “Tidak hanya Perdes, diusahakan untuk segera dilakukan pemetaan  luasan dan kondisi hutan mangrove yang ada di desa ini,” jelas Fadli.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ikan Ngafi dan Udang yang Terus Menyusut di Kao Halmahera

    • calendar_month Rab, 2 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 693
    • 0Komentar

    Selasa (18/8) Sore itu, Meisar Hi Ngole ngole (60) sedang memishkan ikan ngafi (teri,red)  dengan jenis  lain yang  sudah kering dari tempat penjemuran.  Ikan ini adalah hasil tangkapan suaminya yang turun melaut pagi  akhir Agustus lalu. Hasil tangkapan hari itu  tidak cukup tiga kilogram. Ini setelah dibagi dengan 8 nelayan lainnya yang ikut  bersama  suaminya. […]

  • Ini Gebrakan Komunitas Halmahera Wildlife Photografi

    • calendar_month Rab, 10 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 570
    • 0Komentar

    Hari masih sangat pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 0.7.00 WIT. Kawasan  Ruang Terbuka Hijau  (RTH) Taman Nukila di  Kelurahan Gamalama Ternate Minggu (28/2) sudah sangat ramai. Ratusan Ibu-ibu dan anak-anak  sudah berkumpul di kawasan itu, untuk  sekadar bermain dan  menggelar senam. Sementara beberapa anak muda yang tergabung dalam Komunitas Halmahera Wildlife Photografi (HWP) sibuk […]

  • Cerita Warga Mengolah Aren, Melindungi Hutan Halmahera

    • calendar_month Kam, 27 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 1.218
    • 0Komentar

    Hari masih gelap di akhir  Februari lalu, ketika Fadli  Hafel (34) sudah harus berjalan sekira tiga kilometer dari rumah di kampung Samo  Gane Barat Utara Halmahera Selatan, menuju hutan desa itu mengambil air nira dari pohon aren.  Sejak pagi sekira pukul 06.00 WIT, dia sudah keluar dari rumah mengambil   air nira yang  ditadah menggunakan ruas […]

  • Orang Tobaru dan Tradisi Menanam

    • calendar_month Jum, 5 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 1.124
    • 2Komentar

    Hari masih pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 07.25 WIT. Jumat (19/2) pagi  itu,  Rin Bodi (49) dan   suaminya    Lius Popo (57) sudah meninggalkan rumah menuju kebun dan dusun kelapa  yang berada kurang lebih 3 kilometer dari desa Podol Kecamatan Tabaru Kabupaten Halmahera Barat. Podol sendiri adalah satu dari 16 desa  di kecamatan Tabaru  yang […]

  • Tradisi Padi Ladang yang Hilang di Halmahera (3) Habis

    Tradisi Padi Ladang yang Hilang di Halmahera (3) Habis

    • calendar_month Rab, 20 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 298
    • 0Komentar

    Bisakah Kedaulatan Pangan Desa Dihidupkan Kembali? Kedaulatan pangan  desa  harus dihidupkan lagi. Tentu dengan berbagai upaya harus dilakukan. Untuk  tradisi menanam padi, Arsyad Hasyim salah satu penyuluh pertanian yang bertugas di Desa Samo memulainya dengan membentuk beberapa kelompok  tani  padi ladang termasuk tanaman perkebunan.  Kelompok itu  difokuskan menanam padi untuk memunuhi kebutuhan  mereka. “Dua kelompok […]

  • Menyaksikan Burung Tohoko dari Lembah Buku Bendera (2)

    • calendar_month Kam, 7 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 840
    • 1Komentar

    Seri Tulisan Menguak Kekayaan Tersembunyi Pulau  Ternate   Penulis Mahmud Ichi dan Junaidi Hanafiah Pulau Ternate berdasarkan data BPS Maluku Utara  luasnya  hanya  111,80  kilometer. Meski hanya sebuah pulau kecil dengan luasan terbatas, pulau  ini menyimpan beragam kekayaan sumberdaya hayati. Terutama jenis satwa burung. Bahkan  jenis burung endemic  juga ada di sini yakni burung Tohoko […]

expand_less