Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (Habis)

Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (Habis)

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 6 Des 2025
  • visibility 1.104

Dampak  Langsung Perubahan Iklim  di Kota  Ternate  

Dampak perubahan iklim yang mengancam kehidupan manusia saat ini nyata adanya.  Kondisi itu dirasakan  tidak hanya  oleh mereka  di pulau besar. Di pulau kecil  seperti Ternate juga sama. Pulau kecil memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi  dan dampaknya pun berlapis. Ancaman perubahan iklim dalam 10 tahun terakhir tidak hanya berdampak  pada  kerugian material tetapi juga  adanya  korban yang  tidak sedikit.

Jika di Kelurahan Rua, dampak perubahan iklim berupa hujan dengan  intensitas hujan tinggi setiap saat menyebabkan banjir bandang berulang, kurang lebih 2 kilometer dari situ yakni di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan juga menerima dampak  yang sama. Dua kelurahan yang  sebagian warganya   nelayan itu ketika terjadi hujan angin dan  gelombang sangat merasakan dampaknya.

Data yang dirilis dalam dokumen Laporan Rencana Aksi dan Mitigasi Perubahan Iklim Kota Ternate tahun 2025 yang dikutip dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate, menyebutkan ada 9 jenis bencana yang berpotensi terjadi di Kota Ternate. Yakni gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, gelombang ekstrem dan abrasi, serta konflik sosial. Namun   ada  tiga jenis bencana  selama tahun 2020 – 2023 yang paling menonjol.  Terbanyak  adalah banjir dan tanah longsor. Bencana akibat perubahan iklim itu, dialami berulangkali oleh warga di Kota Ternate bahkan sudah menyebabkan puluhan jiwa menjadi korban.

Kondisi rumah di bantaran sungai di Rua yang diterjang banjir bandang Agustus 2024 dan mengalami rusak berat.-foto-Andi-

Mei 2012 banjir lahar dingin karena hujan dengan intensitas tinggi melanda Kota Ternate. Dalam kejadian  banjir  tersebut mengakibatkan 5 orang warga tewas dan 4 orang hilang. Selain itu banjir lahar dingin itu juga menyebabkan  rumah warga rusak berat. Warga yang tewas akibat banjir lahar dingin  itu ada di  Kelurahan Maliaro, Dufa Dufa, dan Kelurahan Tubo.  Agustus 2024 peristiwa banjir  terjadi di Kelurahan Rua Kota Ternate  menyebabkan 19  warga tewas tertimbun material tanah, pasir dan batu yang terbawa dalam banjir  itu. Banjir bandang juga berulang terjadi di Pulau Moti dan Pulau Hiri yang masuk wilayah Kota Ternate.

Selain banjir,  warga  masih menghadapi banjir rob dan  gelombang pasang   menghantam kawasan pantai. Warga kota Ternate yang tempat tinggalnya dekat  kawasan pantai merasakan dampak serius  gelombang pasang dan abrasi pantai.   Desember 2021 gelombang pasang melanda Ternate membuat, 46 rumah warga di Kelurahan Sangaji  hancur disapu ombak. Tidak itu saja akibat adanya gelombang pasang menyebaban abrasi  pantai di Pulau Ternate  yang mengurangi bibir pantai  hingga puluhan meter.

Pantai di Kelurahan Sulamadaha Kota Ternate mengalami abrasi dan pengurangan bibir pantai hingga puluhan meter. Di Pantai Masirete di wilayah Kelurahan Sulamadaha alami pengurangan bibir pantai hingga 25 meter.

Dampak bencana iklim yang lain kenaikan air laut hingga terjadi  intrusi air laut di beberapa tempat  hingga mencemari sumber air warga.  Peristiwa ini terjadi di Ternate pada 2015 di Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara. Akibat  kenaikan permukaan air laut dan  abrasi parah, sumur yang selama ini digunakan  untuk  kebutuhan air  menjadi tercemar. Bahkan dampaknya, air yang disuplai Perusahaan Daerah (PDAM) Kota Ternate juga tercemar hingga 2020 lalu.

Kerusakan rumah akibat-banjir-rob di Ternate awal 2022 -foto warga Sangaji

Di dalam RPJMD Kota Ternate 2021- 2026 mengidentifikasi kawasan rawan bencana berdasarkan jenis bencana  terkait  bencana hidrometeorologi yakni kawasan rawan tanah longsor terdapat di hampir seluruh wilayah Kota Ternate, terutama di kawasan dengan tingkat kemiringan lereng di atas 40%. Sedangkan kawasan rawan banjir terdapat di Kota Ternate terdiri dari banjir genangan, banjir rob dan banjir bandang/kiriman.

Untuk banjir genangan terjadi di beberapa kelurahan, antara lain, Kelurahan Mangga Dua, Kelurahan Mangga Dua Utara, Kelurahan Bastiong Talangame, Kelurahan Bastiong Karance, Kelurahan Gamalama, Kelurahan Jati, Kelurahan Santiong, Kelurahan Salero dan Kelurahan Akehuda. Untuk banjir rob terjadi di beberapa kelurahan   di wilayah pesisir pantai. Sedangkan  banjir bandang terjadi akibat meluapnya air dari beberapa sungai/kalimati/barangka  di Kota Ternate, antara lain : Kelurahan Tubo, Kelurahan Dufa- Dufa, Kelurahan Rua, Togafo, Kelurahan Loto, Kelurahan Marikurubu, Kelurahan Kampung Pisang, Kelurahan Takoma, Kelurahan Tanah Tinggi.

Data BPBD Kota Ternate tahun 2020- 2023 menunjukan  kejadian bencana hidrometeorologi sebanyak 40 kejadian  dengan uraian  banjir  9 kali, tanah longsor  7 kali, abrasi 8 kali dan puting beliung 6 kali.

Sebagai kota pulau Ternate turut terdampak  bencana Banjir Rob. Ketika   gelombang pasang  ditambah  curah hujan  tinggi mengakibatkan banjir rob di kelurahan  di pesisir. Analisis tingkat urgensi banjir rob didapatkan terjadi di 54 kelurahan dari 78  kelurahan di Kota Ternate.

12 kelurahan  memiliki tingkat urgensi banjir rob  sangat tinggi yakni  Kota Baru, Gamalama, Makassar Timur, Sasa, Fitu, Kalumata, Kayu Merah, Bastiong Talangame, Bastiong Karance, Sangaji, Dufa-Dufa, dan Jambula. Terdapat 6 kelurahan yang masuk  ketegori  tinggi  yakni Kelurahan Gambesi, Toboko, Ngade, Kasturia, Kulaba dan Rua.   13 Kelurahan  masuk kategori cukup tinggi  yakni Kelurahan Muhajirin, Mangga Dua, Salero, Tafure, Bula, Tobololo, Sulamadaha, Takome, Kastela, Mayau, Takofi, Kota Moti, dan Tafamutu.

“Dari identifikasi dokumen RPJMD dan data kejadian bencana, Ternate merupakan Kota rentan bencana  hidrometeorologi. Karena itu diperlukan tindakan kesiapsiagaan bencana baik kesiapan pemerintah kota, masyarakat, maupun sistem peringatan dini,” demikian isi  salah sau poin dalam dokumen  laporan rencana aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim kota Ternate tahun 2025.

Hasil riset  Abdul Muthalin Angkotasan dan kawan kawan dari Universitas Khairun Ternate pada 2016 menunjukan pengikisan akibat abrasi cukup serius. Dalam 30 tahun terakhir kawasan pantai di Ternate mengalami pengikisan hingga 15 meter.  Melalui riset berjudul Analisis Perubaha Garis Pantai di Pantai Barat Daya Pulau Ternate provinsi Maluku Utara. Dalam riset ini mereka  menganalisis  laju perubahan garis pantai akibat adanya  abrasi dan sedimentasi yang terjadi  di kawasan tersebut.

Pohon ketapang di tepi parntai Masirete Kelurahan Sulamadaha Ternte tumbang disapu gelombang foto-m-ichi.jpeg

Menurut Angkotasan  fenomena abrasi pantai biasa dipicu  berbagai faktor. Pertama, energi gelombang besar dengan intensitas tinggi menghantam pesisir pantai setiap tahun. Kedua, kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim, volume air laut bertambah turut berpengaruh tak langsung dalam proses abrasi pantai. Ketiga, ada penambangan pasir pantai oleh masyarakat yang menyebabkan fungsi alami pantai menurun dalam menghadapi hantaman enegi gelombang.

Keempat, eksploitasi vegetasi pelindung pantai seperti mangrove dan vegetasi Pescaprea (kayu baru, ketapang dan lain-lain). Kelima, kerusakan ekosistem terumbu karang dan lamun yang menyebabkan fungsi peredam energi gelombang dari kedua ekosistem itu.(*)

Penulis:Mahmud Ici

Tulisan ini didukung oleh Masyarakat Jurnalis Lingkungan (SIEJ) dalam  fellowship Road to COP 30 2025 di Belem Brazil.  Liputan ini fokus menulis tentang dampak-dampak perubahan iklim yang dirasakan public di tingkat tapak

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Orang Hiri Menuntut Merdeka

    • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 605
    • 1Komentar

    Ingatkan  Pemerintah, Kibarkan Bendera Setengah Tiang   Hari masih pagi, sekira pukul 07.50 WIT sebuah speedboat mengangkut pegawai yang bekerja di Kecamatan Pulau Hiri Kota Ternate Maluku Utara. Mereka adalah pegawai yang akan gelar upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, Kamis (17/08/2023). Pegawai lelaki dan perempuan berbaju Korpri  itu  rata rata […]

  • Melihat Festival Kalaodi, dan Pekan Lingkungan Hidup P3K

    • calendar_month Sen, 26 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 683
    • 0Komentar

    Ajakan Kembali ke Alam  hingga Lindungi Pulau dan Laut Gendang dan tifa mengiringi  soya-soya Kalaodi. Tarian  itu sekaligus menjadi salam pembuka kepada tamu  dan warga  yang datang   menyaksikan    festival  Buku se Dou Kalaodi   Kota Tidore Kepulauan. Selain festival Kaaodi,   dilanjutkan  dengan  Pekan Pelestarian Hutan Mangrove dan Ekowisata Pesisir Laut  di Kayoa Halmahera Selatan. Acara ini   adalah satu […]

  • Pemanfaatan Potensi Laut Maluku Utara Masih Minim

    • calendar_month Sel, 8 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 1.148
    • 0Komentar

    Setiap 8 Juni diperingati sebagai hari laut sedunia atau World Ocean Day. Peringatan ini untuk mengingatkan pentingnya lautan bagi kehidupan manusia karena   menutupi lebih dari 70% planet Bumi. Dikutip dari https://tirto.id/hari-laut-sedunia-2021-tema-8-juni-cara-rayakan-world-ocean-day-gg) menyebutkan bahwa   laut menjadi sumber kehidupan manusia, mendukung kesejahteraan umat manusia dan setiap organisme lain di bumi. Lautan menghasilkan setidaknya 50% oksigen Bumi, merupakan […]

  • Perlindungan Sagu Tak Dilakukan, Perda Hanya Pajangan (3) Habis

    • calendar_month Sen, 8 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 899
    • 0Komentar

    Sejak dulu kampung-kampun g di Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara memiliki banyak kebun sagu. Salah satu desa yang menjadi pusat sagu adalah Sagea dan Kiya di Weda Utara. Karena potensi itu, pemerintah daerah kemudian berpikir melindunginya setelah massivenya industri tambang masuk ke wilayah ini. Pemkab Halmahera Tengah  kemudian membuat Peraturan Daerah (Perda) untuk melindungi pohon […]

  • Doho-doho Kemerdekaan  

    • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 868
    • 0Komentar

    Ironi Negeri El Dorado dan El Picente Setelah menemukannya, saya berani mengatakan bahwa Hindia adalah wilayah terkaya di dunia ini. Saya bicara tentang emas, mutiara, batu berharga dan rempah rempah berikut perdagangan dan pasar yang mereka miliki, karena semuanya tidak muncul begitu saja. Saya menahan diri untuk tidak mengeksploitasinya, (Cristopher Columbus  surat dari perjalanan  ketiga […]

  • Bacarita Pangan Lokal Maluku Utara

    • calendar_month Ming, 18 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 911
    • 0Komentar

    Catatan dari Diskusi  Bersama Stakeholder Provinsi Maluku Utara yang terdiri dari pulau-pulau ini memiliki keragaman  pangan lokal. Dari banyaknya pangan local  yang dimiliki baik sagu, ubi-ubian maupun jenis biji-bijian  memiliki sejarah panjang.  Potensi sumber daya pangan itu diikuti berbagai tradisi dan  budaya dalam menyiapkannya. Selain kekayaan pangan, Bumi Maluku Utara juga punya kekayaan yang luar […]

expand_less