Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Warga Gane Keluhkan jadi Langganan Banjir

Warga Gane Keluhkan jadi Langganan Banjir

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 13 Feb 2023
  • visibility 666

Gane Timur adalah salah satu wilayah di Pulau Halmahera bagian selatan. Daerah ini menjadi produsen kopra dengan memiliki topografi datar. Ketika memasuki wilayah ini melalui jalan darat, tidak merasakan jalanan  mendaki atau berbukit. Dari perbatasan Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan yakni desa Foya Tobaru hingga masuk ke Matuting di wilayah Gane Timur Tengah hingga  ke selatan,  jalanan melewati tepi pantai yang rata.

Ketika  kabarpulau.co.id/  menyusuri perjalanan darat dari Sofofi ibukota provinsi Maluku Utara menuju daerah itu, akhir Januari 2023 lalu ikut  merasakan perjalanan darat yang memukau. Kendaraan meluncur mulus di atas   jalanan yang licin  tak  ada ‘bopeng’ hingga ke desa Fida. Setelahnya melewati desa   Botonam merasakan jalanan   seperti gelombang karena rusak sana sini.  

Ketika memasuki perbatasan Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan memotong jalan sebuah sungai yang oleh warga sekitar mengenalnya dengan nama  Kluting. Sungai ini menurut pengakuan warga  Desa Foya Tobaru Gane Timur  jadi salah satu sumber banjir di desa mereka di kala datang musim hujan. Kondisi akan lebih parah jika di laut juga terjadi pasang naik. Air sungai meluber masuk kampung tak  terbendung.   

“Sungai yang berada tak jauh dari batas Halmahera Tengah dan Halsel ini menenggelamkan kampung  hampir setiap saat hujan. Apalagi jika datang pasang naik maka kampung tergenang hingga setinggi lutut,” jelas Roy Katedu tokoh masyarakat Desa Foya Tobaru.

Dia bercerita pada 2020 lalu kampung mereka tengelam  kurang lebih satu minggu. “Waktu itu BPBD Halsel juga turun mengambil gambar dan mengukur  panjang  talud penahan banjir kurang lebih 500 meter. Tapi sayang sampai saat ini tidak jelas kapan dibangun,” ujarnya.

Soal banjir  sudah menjadi  langganan warga ketika datang musim hujan. Karena kondisi wilayah yang datar ketika air di beberapa sungai di kawasan Gane Timur  meluap kampung menjadi tenggelam.

Apalagi di Desa Maffa ibukota kecamatan dan Kebun  Raja,  di bagian belakang kampung ini terdapat banyak sungai yang  melubar ke dua kampung tersebut jika terjadi banjir. 

Pada  2020  lalu  puluhan rumah dan beberapa objek vital di Desa Maffa dan Kebun Raja terendam banjir.

 Kala itu  banjir hingga setinggi lutut orang dewasa.  Hujan terjadi sekitar pukul 08.00 WIT. Air irigasi dan sungai Ake Taba meluap dan menggenangi jalan poros Desa Maffa dan Desa Kebun Raja. Selain jalan raya, air juga menggenangi  rumah warga.

Kondisi desa Foya Tobaru hujan sebentar saja kampung menjadi tergenang foto M Ichi

Kala itu objek vital seperti PLN, sekolah dan perkantoran juga terendam banjir. Akibat  banjir tersebut buah kelapa yang selesai panen  dan sudah terkumpul juga hanyut dibawa air.  

“Ini pengalaman yang terjadi berulang kali dan untuk mengatasinya perlu segera dibangun talud penahan banjir di daerah ini untuk mengatasi persoalan banjir,” kata Sulfi Kader tokoh masyarakat Desa Kebun Raja belum lama ini.  

Taha M Kasim tokoh masyarakat  Kebun Raja mengaku usulan  membangun talud penahan banjir ini sudah diasuarakan. Bahkan saat kejadian banjir 2020 lalu pemerintah provinsi melalui Dinas PU sudah turun melakukan pengecekan lokasi dan pengukuran bantaran sungai yang akan dibangun. Hanya saja sampai saat ini tindaklanjutnya belum juga jelas sampai sekarang.

Saat dilakukan pengukuran panjang  talud penahan banjir yang akan dibangun  di perbatasan desa Mafa dan Kebun Raja  sekira 500 meter.

“Sayang pembangunannya belum jalan. Padahal ini masalah paling strategis  berhubungan dengan hajat hidup orang banyak,” katanya. 

Lantas apa yang menyebabkan  banjir  berulangkali  di kawasan ini?

Warga setempat mencurigai banjir yang melanda desa mereka setiap ada hujan itu, karena eksploitasi hutan yang berlebihan di kawasan Gane Timur beberapa waktu lalu. Terutama hutan di daerah belakang kampung Mafa dan Kebun Raja yang sudah berlangsung lama.

“Kita tidak menyalahkan siapa siapa  tetapi kalau ada penebangan di daerah  hulu  pasti menimbulkan kerusakan dan dampaknya adalah banjir. Mereka eksploitasi hutan sudah berlangsung lama menyebabkan ada penggundulan di hulu,” kata Sulfi.

Mereka menyebut ada  beberapa perusahaan HPH yang mengeksploitasi hutan daerah Gane Timur    PT TW dan  SND yang setelah mengeksploitasi hutan,tapi tidak melakukan penanaman ulang dan menyebabkan penggundulan. “Akhirnya masyarakat yang jadi korban saat ini,” katanya.

Saat ini untuk menjawab kegelisahan warga  terkait bencana banjir berulang salah satunya harus segera mempercepat pembangunan talud penahan banjir di sungai yang ada di belakang desa tersebut.  “Kita tinggal  berharap pemerintah punya itikad baik untuk bangun talud. Jika tidak maka  hujan dan   banjir warga selalu menjadi korban,” harap  Sulfi.  (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hadapi Krisis Air dengan Pengelolaan Sumberdaya Berkelanjutan

    • calendar_month Kam, 14 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 585
    • 0Komentar

    Menanam pohon adalah salah satu jawaban atas persoalan krisis air yang mulai melanda bumi foto Duta Kreator Indonesia (DKI)

  • Laut Malut, Kuburan Bagi Mamalia Laut?

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 716
    • 0Komentar

    Bangkai-Paus-yang-mulai-hancur-dan-menmbulkan-bau-menyengat-di-Morotai-beberapa-waktu-lalu-foto-Hamsor-Yusuf

  • Ekonomi dan SDA Morotai Berbasis Lingkungan akan Dibedah Bersama

    Ekonomi dan SDA Morotai Berbasis Lingkungan akan Dibedah Bersama

    • calendar_month Ming, 15 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 577
    • 0Komentar

    Untuk menggagas model pembangunan ekonomi dan pengelolaan sumberdaya alam secara partisipatif  dan berbasis lingkungan, diperlukan semua pihak duduk bersama..  Dalam  upaya itu,  direncanakan  akan  digelar kegiatan  bertajuk Sarasehan dan Rembuk Rakyat Morotai yang rencana  dilaksanakan 18 hingga  9 Agustus 2018  mendatang di public space Taman Kota Daruba Morotai. Kegiatan yang  rencana dilaksanakan selama 2 hari […]

  • Pohon di Tepi Jalan Ternate Jadi Korban Pemilu

    • calendar_month Kam, 18 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 745
    • 2Komentar

    Bawaslu Lalai APK Dipaku dan Diikat Kawat di Batang Pohon?    Pohon dengan ragam tinggi dan diameter berderet di sepanjang jalan kota Ternate dari Utara sampai ke selatan di sepanjang jalan protokol. Batang pohon  angsana atau  nama ilmiahnya Pterocarpus indicus Willd dan  pohon trembesi atau  samanea saman terlihat ditempeli  spanduk kampanye partai maupun calon kontestan pemilihan […]

  • Tradisi Orang Tobaru Tanam Padi Lokal

    • calendar_month Sab, 6 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 946
    • 0Komentar

    Dua karung gabah teronggok di dapur Yosep Ugu (60). Gabah kering itu rencana diolah menggunakan mesin penggilingan padi di desa setempat.  Gabah padi   telah lama dikeringkan, tersimpan dalam karung dan baru dibawa ke kampung  sehari sebelumnya. “Di dalam gabah padi ini,  ada banyak jenis ikut tercampur. Ini sisa panen tahun lalu dan sampai sekarang belum  […]

  • WALHI Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan 

    • calendar_month Jum, 9 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 573
    • 0Komentar

    Kegiatan mendorong orang mud bicara ekologi oleh WALHI Maluku Utara foto M Ichi

expand_less