Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Warga Gane Keluhkan jadi Langganan Banjir

Warga Gane Keluhkan jadi Langganan Banjir

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 13 Feb 2023
  • visibility 602

Gane Timur adalah salah satu wilayah di Pulau Halmahera bagian selatan. Daerah ini menjadi produsen kopra dengan memiliki topografi datar. Ketika memasuki wilayah ini melalui jalan darat, tidak merasakan jalanan  mendaki atau berbukit. Dari perbatasan Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan yakni desa Foya Tobaru hingga masuk ke Matuting di wilayah Gane Timur Tengah hingga  ke selatan,  jalanan melewati tepi pantai yang rata.

Ketika  kabarpulau.co.id/  menyusuri perjalanan darat dari Sofofi ibukota provinsi Maluku Utara menuju daerah itu, akhir Januari 2023 lalu ikut  merasakan perjalanan darat yang memukau. Kendaraan meluncur mulus di atas   jalanan yang licin  tak  ada ‘bopeng’ hingga ke desa Fida. Setelahnya melewati desa   Botonam merasakan jalanan   seperti gelombang karena rusak sana sini.  

Ketika memasuki perbatasan Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan memotong jalan sebuah sungai yang oleh warga sekitar mengenalnya dengan nama  Kluting. Sungai ini menurut pengakuan warga  Desa Foya Tobaru Gane Timur  jadi salah satu sumber banjir di desa mereka di kala datang musim hujan. Kondisi akan lebih parah jika di laut juga terjadi pasang naik. Air sungai meluber masuk kampung tak  terbendung.   

“Sungai yang berada tak jauh dari batas Halmahera Tengah dan Halsel ini menenggelamkan kampung  hampir setiap saat hujan. Apalagi jika datang pasang naik maka kampung tergenang hingga setinggi lutut,” jelas Roy Katedu tokoh masyarakat Desa Foya Tobaru.

Dia bercerita pada 2020 lalu kampung mereka tengelam  kurang lebih satu minggu. “Waktu itu BPBD Halsel juga turun mengambil gambar dan mengukur  panjang  talud penahan banjir kurang lebih 500 meter. Tapi sayang sampai saat ini tidak jelas kapan dibangun,” ujarnya.

Soal banjir  sudah menjadi  langganan warga ketika datang musim hujan. Karena kondisi wilayah yang datar ketika air di beberapa sungai di kawasan Gane Timur  meluap kampung menjadi tenggelam.

Apalagi di Desa Maffa ibukota kecamatan dan Kebun  Raja,  di bagian belakang kampung ini terdapat banyak sungai yang  melubar ke dua kampung tersebut jika terjadi banjir. 

Pada  2020  lalu  puluhan rumah dan beberapa objek vital di Desa Maffa dan Kebun Raja terendam banjir.

 Kala itu  banjir hingga setinggi lutut orang dewasa.  Hujan terjadi sekitar pukul 08.00 WIT. Air irigasi dan sungai Ake Taba meluap dan menggenangi jalan poros Desa Maffa dan Desa Kebun Raja. Selain jalan raya, air juga menggenangi  rumah warga.

Kondisi desa Foya Tobaru hujan sebentar saja kampung menjadi tergenang foto M Ichi

Kala itu objek vital seperti PLN, sekolah dan perkantoran juga terendam banjir. Akibat  banjir tersebut buah kelapa yang selesai panen  dan sudah terkumpul juga hanyut dibawa air.  

“Ini pengalaman yang terjadi berulang kali dan untuk mengatasinya perlu segera dibangun talud penahan banjir di daerah ini untuk mengatasi persoalan banjir,” kata Sulfi Kader tokoh masyarakat Desa Kebun Raja belum lama ini.  

Taha M Kasim tokoh masyarakat  Kebun Raja mengaku usulan  membangun talud penahan banjir ini sudah diasuarakan. Bahkan saat kejadian banjir 2020 lalu pemerintah provinsi melalui Dinas PU sudah turun melakukan pengecekan lokasi dan pengukuran bantaran sungai yang akan dibangun. Hanya saja sampai saat ini tindaklanjutnya belum juga jelas sampai sekarang.

Saat dilakukan pengukuran panjang  talud penahan banjir yang akan dibangun  di perbatasan desa Mafa dan Kebun Raja  sekira 500 meter.

“Sayang pembangunannya belum jalan. Padahal ini masalah paling strategis  berhubungan dengan hajat hidup orang banyak,” katanya. 

Lantas apa yang menyebabkan  banjir  berulangkali  di kawasan ini?

Warga setempat mencurigai banjir yang melanda desa mereka setiap ada hujan itu, karena eksploitasi hutan yang berlebihan di kawasan Gane Timur beberapa waktu lalu. Terutama hutan di daerah belakang kampung Mafa dan Kebun Raja yang sudah berlangsung lama.

“Kita tidak menyalahkan siapa siapa  tetapi kalau ada penebangan di daerah  hulu  pasti menimbulkan kerusakan dan dampaknya adalah banjir. Mereka eksploitasi hutan sudah berlangsung lama menyebabkan ada penggundulan di hulu,” kata Sulfi.

Mereka menyebut ada  beberapa perusahaan HPH yang mengeksploitasi hutan daerah Gane Timur    PT TW dan  SND yang setelah mengeksploitasi hutan,tapi tidak melakukan penanaman ulang dan menyebabkan penggundulan. “Akhirnya masyarakat yang jadi korban saat ini,” katanya.

Saat ini untuk menjawab kegelisahan warga  terkait bencana banjir berulang salah satunya harus segera mempercepat pembangunan talud penahan banjir di sungai yang ada di belakang desa tersebut.  “Kita tinggal  berharap pemerintah punya itikad baik untuk bangun talud. Jika tidak maka  hujan dan   banjir warga selalu menjadi korban,” harap  Sulfi.  (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

    Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Penulis: Mohamamd Ridwan Lessy (Dosen Ilmu kelautan dan Plt Ketua Forum PRB Kota Ternate) Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih mengguyur Kota Ternate sepanjang beberapa hari belakangn ini, dengan potensi peningkatan curah hujan pada sore hingga malam hari yang disertai petir dan angin kencang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah […]

  • Tanya Izin Perusahaan, DPRD Haltim Datangi Dishut Malut

    • calendar_month Sel, 26 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 537
    • 0Komentar

    Rapat Komisi III dengan Dinas Kehutnan Provinsi Maluku Utara

  • Bangun Desa Harus Dimulai dari Tata Ruang

    • calendar_month Rab, 2 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 538
    • 0Komentar

    Membangun sumber sumber pangan desa. jga butuh tata ruang desa. foto mahmud ichi

  • Pemerintah Rencana Produksi Bioetanol dari Seho

    • calendar_month Sab, 14 Des 2024
    • account_circle
    • visibility 1.171
    • 0Komentar

    Kekayaan sumber daya hutan tidak hanya dari kayu. Ada hasil hutan non kayu yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam  program energy terbarukan. Pohon arena atau orang Maluku Utara mengenalnya dengan Seho, adalah salah satu potensi besar yang dapat dikembangkan menjadi bio etanol. Hutan Halamhera dan beberapa pulau lainnya di Maluku Utara menyimpan potensi besar […]

  • Korban Lakalaut Tinggi, Butuh Kolaborasi Penanganan

    • calendar_month Ming, 5 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 547
    • 1Komentar

    Ketua POSSI dan SAR Ternate didampingi Danlanal Ternate menunjukan isi MoU yang telah ditandatantangani foto M Ichi

  • Toyom, Pohon Penyembuh Luka dari Halmahera

    • calendar_month Sab, 23 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 868
    • 0Komentar

    Sterculia oblongifolia atau yang dikenal dengan sebutan toyom merupakan tumbuhan yang sangat bermakna bagi masyarakat sekitar Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Halmahera Timur, Maluku Utara. Tumbuhan ini berperan penting dalam kehidupan komunitas suku Togutil di sana yang masih nomaden foto KLHK

expand_less