Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Hadapi Krisis Air dengan Pengelolaan Sumberdaya Berkelanjutan

Hadapi Krisis Air dengan Pengelolaan Sumberdaya Berkelanjutan

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 14 Jan 2021
  • visibility 652

Air menjadi salah satu sumber kehidupan penting di bumi. Secara global, hampir 850 juta orang di seluruh dunia tidak memiliki akses terhadap air bersih. Angka ini diprediksi akan terus bertambah jika tidak segera dilakukan upaya pengelolaan sumber daya air berkelanjutan. Keberlanjutan sumber daya air saat ini memang semakin terancam, akibat berbagai faktor, di antaranya pertambahan penduduk, pembuangan limbah ke daerah-daerah aliran sungai, dan bencana alam seperti banjir bandang akibat perubahan ekologis dan krisis iklim global.

Beberapa hal ini,  dibahas saat digelar Kelas Belajar Bersama    bertema Krisis Air dan Masa Depan Bumi   pada 9-10 Januari 2020 lalu yang diinisiasi oleh   Masyarakat  Jurnalis  Lingkungan  Indonesia   atau  The  Society  of  Indonesia  Enviromental  Journalists    

Direktur Sungai Pantai, Direktorat Kementerian PUPR Republik Indonesia, Ir. Bob Arthur Lambogia, M.Si,dalam kegiatan itu  memaparkan tiga pilar utama  perlindungan dan pelestarian sumber air yang menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Bob Arthur mengatakan tiga pilar itu yakni konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak sesuai UU Nomor 17 tahun 2019.

“Ketiga pilar ini menjadi pedoman dalam perumusan kebijakan pemerintah untuk menjamin hak rakyat atas air,” katanya.

Dikatakan, dari visium Kementerian PUPR 2030 bidang Sumber Daya Air yang menargetkan 120 M3/ kapita/ tahun, penyediaan air pada 2020 sudah berhasil mencapai 50,27 M3/kapita/tahun. Salah satu kebijakan yang  dinilai efektif dalam perlindungan sumber daya air adalah pembangunan bendungan. Selain sebagai penyimpanan cadangan air, bendungan dapat difungsikan sebagai sumber arus listrik dan saluran irigasi.

Sampai 2020, total 220 bendungan dibangun Indonesia sudah berhasil terbangun dan sekitar 43 proyek lainnya masih dalam proses penyelesaian. Di sisi lain,

Perkebunan monokultur raksasa seperti sawit ikut mengancam ketersediaan air di bumi/foto M Ichi

Kementerian PUPR mengakui adanya berbagai tantangan dalam pengelolaan sumber air berkelanjutan. Di antaranya laju pertumbuhan penduduk dan arus urbanisasi. Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 290 juta jiwa pada 2030, sehingga kebutuhan air akan ikut meningkat.

Perpindahan penduduk selama ini juga turut memengaruhi ketersediaan air, “Urbanisasi membuat berkurangnya kapasitas tampungan air, selain sedimentasi juga okupansi. Sungai dari lebar misalnya 10 meter sisa 3 meter. Sedangkan daerah hulu terjadi penutupan lahan saat hujan turun yang dulunya sebagai infilitrasi,” jelas Bob Arthur.

Usaha pemerintah sendiri tidak dapat menjamin kesuksesan kebijakan perlindungan dan pelestarian sumber daya air. Peran serta berbagai pihak diperlukan.

Akademisi Universitas Riau Dr. Suwondo dalam kegiatan belajar bersama, ikut menekankan pentingnya perumusan strategi perlindungan sumber daya air yang melibatkan berbagai pihak, terutama masyarakat lokal.

Seperti fenomena siklus banjir 10 tahun yang terjadi di daerah sekitar waduk PLTA Koto Panjang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar. Pembangunan waduk seakan hanya menambah masalah, padahal bencana banjir justru diakibatkan oleh perubahan keseimbangan ekologis. Di antaranya ahli fungsi lahan yang dijadikan perkebunan gambir dan kelapa sawit di daerah aliran sungai. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat setempat juga menggunakan waduk PLTA Koto Panjang sebagai media keramba yang menggunakan zat nitrat, sehingga terjadi pencemaran dan pendangkalan waduk yang memengaruhi kualitas air.  “Masyarakat harus ikut terlibat dalam pola pertanian yang berkelanjutan. Harus ada sinkronisasi antar-lembaga seperti penerapan teknologi dan edukasi agar debit air terjaga, tentunya dengan peran multipihak,” tegas Suwondo.

Hutan yang selali terjaga akan menjadi tabungan air di bumi untuk ummat manusia foto Opan Jacky

Kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya air juga datang dari sektor swasta yang bergerak dalam bidang industri keuangan, PT Bank HSBC Indonesia. Salah satu komitmen HSBC Indonesia dalam upaya membangun bisnis jangka panjang adalah dengan adanya sustainability risk policies untuk memastikan kegiatan bisnis dan operasional dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi.

Nuni Sutyoko, Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia, menuturkan bahwa air memiliki peranan penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat sehingga dapat membangun perekonomian nasional. Oleh karena itu peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat termasuk dari pelaku bisnis dari berbagai sektor sangat penting dalam memastikan pengelolaan sumber daya air. Pada 2012, HSBC  telah memulai program global “HSBC Water Program” bersama dengan lebih dari 50 LSM di seluruh  dunia dalam rangka penanganan isu air, edukasi, dan riset ilmiah.

Di Indonesia, HSBC menggandeng Yayasan WWF Indonesia untuk menjaga kelestarian air dengan program konservasi air, diantaranya   berlokasi di Rimbang Riau dan Koto Panjang Sumatera Barat. Semangat untuk mengkampanyekan gerakan hemat air pernah diinisiasi Nana Firman, dari Yayasan Greenfaith berbasis di Amerika Serikat, yang menggunakan pendekatan unik untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya air pada masyarakat.

Salah satu tantangan yang pernah Nana lakukan dengan mempraktekkan “Eco-wudu”, yaitu wudu ramah lingkungan sesuai sunah. “Bagaimana berwudhu dengan 500ml air. Sebotol kecil air dan lebih dekat dengan sunah,” jelasnya.

Semangat menjaga keberlanjutan sumber air, khususnya sungai-sungai di Indonesia, juga lahir dari gerakan yang digaungkan anak muda pendiri “Sungai Watch” dan Yayasan “Make A Change World”, Gary Benchegib. Setelah aksinya membersihkan sungai Citarum viral pada 2017 lalu, Gary masih tetap konsisten melakukan upaya-upaya pembersihan sampah di sungai.

Saat ini, Gary bersama timnya sedang mengembangkan inovasi penggunaan trash barrier atau trash block untuk ditempatkan pada daerah aliran sungai, yang berfungsi menyaring sampah-sampah sebelum akhirnya bermuara ke laut. Sampah yang dikumpulkan kemudian dipisahkan dan didaur ulang menurut jenisnya. “80% sampah di laut datangnya dari sungai, kita harus mengubah perspektif kita mengenai darimana sampah plastik di laut berasal. Kita harus mulai dari sungai,” ungkap Gary.

 Air menjadi salah satu sumber kehidupan penting di bumi. Secara global, hampir 850 juta orang di seluruh dunia tidak memiliki akses terhadap air bersih. Angka ini diprediksi akan terus bertambah jika tidak segera dilakukan upaya pengelolaan sumber daya air berkelanjutan. Keberlanjutan sumber daya air saat ini memang semakin terancam, akibat berbagai faktor, di antaranya pertambahan penduduk, pembuangan limbah ke daerah-daerah aliran sungai, dan bencana alam seperti banjir bandang akibat perubahan ekologis dan krisis iklim global.

Beberapa hal ini,  dibahas saat digelar Kelas Belajar Bersama    bertema Krisis Air dan Masa Depan Bumi   pada 9-10 Januari 2020 lalu yang diinisiasi oleh   Masyarakat  Jurnalis  Lingkungan  Indonesia   atau  The  Society  of  Indonesia  Enviromental  Journalists    

Direktur Sungai Pantai, Direktorat Kementerian PUPR Republik Indonesia, Ir. Bob Arthur Lambogia, M.Si,dalam kegiatan itu  memaparkan tiga pilar utama  perlindungan dan pelestarian sumber air yang menjadi perhatian pemerintah Indonesia.

Bob Arthur mengatakan bahwa  tiga pilar itu yakni konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak sesuai UU Nomor 17 tahun 2019.

“Ketiga pilar ini menjadi pedoman dalam perumusan kebijakan pemerintah untuk menjamin hak rakyat atas air,” katanya.

Dikatakan dari visium Kementerian PUPR 2030 bidang Sumber Daya Air yang menargetkan 120 M3/ kapita/ tahun, penyediaan air pada 2020 sudah berhasil mencapai 50,27 M3/kapita/tahun. Salah satu kebijakan yang  dinilai efektif dalam perlindungan sumber daya air adalah pembangunan bendungan. Selain sebagai penyimpanan cadangan air, bendungan dapat difungsikan sebagai sumber arus listrik dan saluran irigasi.

Sampai 2020, total 220 bendungan dibangun Indonesia sudah berhasil terbangun dan sekitar 43 proyek lainnya masih dalam proses penyelesaian. Di sisi lain,

Kementerian PUPR mengakui adanya berbagai tantangan dalam pengelolaan sumber air berkelanjutan. Di antaranya laju pertumbuhan penduduk dan arus urbanisasi. Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 290 juta jiwa pada 2030, sehingga kebutuhan air akan ikut meningkat.

Perpindahan penduduk selama ini juga turut memengaruhi ketersediaan air, “Urbanisasi membuat berkurangnya kapasitas tampungan air, selain sedimentasi juga okupansi. Sungai dari lebar misalnya 10 meter sisa 3 meter. Sedangkan daerah hulu terjadi penutupan lahan saat hujan turun yang dulunya sebagai infilitrasi,” jelas Bob Arthur.

Usaha pemerintah sendiri tidak dapat menjamin kesuksesan kebijakan perlindungan dan pelestarian sumber daya air. Peran serta berbagai pihak diperlukan.

Akademisi Universitas Riau Dr. Suwondo dalam kegiatan belajar bersama, ikut menekankan pentingnya perumusan strategi perlindungan sumber daya air yang melibatkan berbagai pihak, terutama masyarakat lokal.

Seperti fenomena siklus banjir 10 tahun yang terjadi di daerah sekitar waduk PLTA Koto Panjang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar. Pembangunan waduk seakan hanya menambah masalah, padahal bencana banjir justru diakibatkan oleh perubahan keseimbangan ekologis. Di antaranya ahli fungsi lahan yang dijadikan perkebunan gambir dan kelapa sawit di daerah aliran sungai.

Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat setempat juga menggunakan waduk PLTA Koto Panjang sebagai media keramba yang menggunakan zat nitrat, sehingga terjadi pencemaran dan pendangkalan waduk yang memengaruhi kualitas air.  “Masyarakat harus ikut terlibat dalam pola pertanian yang berkelanjutan. Harus ada sinkronisasi antar-lembaga seperti penerapan teknologi dan edukasi agar debit air terjaga, tentunya dengan peran multipihak,” tegas Suwondo.

Kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya air juga datang dari sektor swasta yang bergerak dalam bidang industri keuangan, PT Bank HSBC Indonesia. Salah satu komitmen HSBC Indonesia dalam upaya membangun bisnis jangka panjang adalah dengan adanya sustainability risk policies untuk memastikan kegiatan bisnis dan operasional dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi.

Nuni Sutyoko, Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia, menuturkan bahwa air memiliki peranan penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat sehingga dapat membangun perekonomian nasional. Oleh karena itu peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat termasuk dari pelaku bisnis dari berbagai sektor sangat penting dalam memastikan pengelolaan sumber daya air. Pada 2012, HSBC  telah memulai program global “HSBC Water Program” bersama dengan lebih dari 50 LSM di seluruh  dunia dalam rangka penanganan isu air, edukasi, dan riset ilmiah.

Di Indonesia, HSBC menggandeng Yayasan WWF Indonesia untuk menjaga kelestarian air dengan program konservasi air, diantaranya   berlokasi di Rimbang Riau dan Koto Panjang Sumatera Barat. Semangat untuk mengkampanyekan gerakan hemat air pernah diinisiasi Nana Firman, dari Yayasan Greenfaith berbasis di Amerika Serikat, yang menggunakan pendekatan unik untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya air pada masyarakat.

Salah satu tantangan yang pernah Nana lakukan dengan mempraktekkan “Eco-wudu”, yaitu wudu ramah lingkungan sesuai sunah. “Bagaimana berwudhu dengan 500ml air. Sebotol kecil air dan lebih dekat dengan sunah,” jelasnya.

Semangat menjaga keberlanjutan sumber air, khususnya sungai-sungai di Indonesia, juga lahir dari gerakan yang digaungkan anak muda pendiri “Sungai Watch” dan Yayasan “Make A Change World”, Gary Benchegib. Setelah aksinya membersihkan sungai Citarum viral pada 2017 lalu, Gary masih tetap konsisten melakukan upaya-upaya pembersihan sampah di sungai. Saat ini, Gary bersama timnya sedang mengembangkan inovasi penggunaan trash barrier atau trash block untuk ditempatkan pada daerah aliran sungai, yang berfungsi menyaring sampah-sampah sebelum akhirnya bermuara ke laut. Sampah yang dikumpulkan kemudian dipisahkan dan didaur ulang menurut jenisnya. “80% sampah di laut datangnya dari sungai, kita harus mengubah perspektif kita mengenai darimana sampah plastik di laut berasal. Kita harus mulai dari sungai,” ungkap Gary.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (1)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (1)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 744
    • 0Komentar

    Banjir dan Longsor  Berulang  hingga Nelayan Terus  jadi Korban di Laut Hari jelang sore di Rabu (17/9/2025) itu, Salma M Arif dan suaminya Ongen Ramli warga Kelurahan Rua Kecamatan Pulau Ternate, berada di dalam rumah. Mereka  baru saja pulang ke rumah setelah  aktivitas di luar. Sore itu, berawan mesti seharian  tidak terjadi hujan. Tiba-tiba mereka […]

  • Tanya Izin Perusahaan, DPRD Haltim Datangi Dishut Malut

    • calendar_month Sel, 26 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 678
    • 0Komentar

    Rapat Komisi III dengan Dinas Kehutnan Provinsi Maluku Utara

  • WALHI:Hari Bumi Harusnya  Bukan Lagi Pernyataan Normatif dan Komitmen Kosong

    WALHI:Hari Bumi Harusnya Bukan Lagi Pernyataan Normatif dan Komitmen Kosong

    • calendar_month Kam, 23 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Hari Bumi 2026 diperingati di tengah ironi, krisis iklim dan bencana ekologis semakin meluas.Meski begitu izin-izin yang melegalkan perusakan dan menjadikan rentan ruang hidup rakyat terus diobral. Alih-alih menghentikan eksploitasi, kebijakan pembangunan di Indonesia justru semakin memberikan karpet merah pada industri ekstraktif yang merusak daratan dan lautan, mengorbankan ruang hidup petani, nelayan, masyarakat adat dan […]

  • Pembangunan Ekonomi Belum Menghitung Kerusakan Lingkungan  

    • calendar_month Sen, 15 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 705
    • 1Komentar

    Implementasi “sustainability” dan mitigasi perubahan iklim bukan lagi pilihan tapi kewajiban. Itulah yang mendorong Indonesia ikut “Paris Agreement”, mencoba melakukan transisi energi menuju energi terbarukan, dan memiliki rencana “net zero emission” di 2060. Hanya saja untuk mencapai semua yang telah direncanakan sepertinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Energi yang digunakan dalam pembangunan masih banyak menggunakan […]

  • Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

    • calendar_month Kam, 27 Feb 2020
    • account_circle
    • visibility 2.064
    • 0Komentar

    Warga Desa Sangapati  dinstruksikan  menghindari mengomsumsi ikan  mati massal karena dicurigai beracun. Sementara anak- anak  dan  orang dewasa, diminta  menghindari sementara waktu mandi di laut.   Warna air laut yang biasanya  bening menjadi coklat pekat kemerah- merahan  itu  ikut menyebabkan matinya berbagai jenis biota   di kawasan laut pulau Makeang  Halmahera Selatan  Maluku Utara. Peristiwa ini membuat […]

  • Seriusnya Siswa SD Belajar Buat  Eco Enzyme

    • calendar_month Jum, 17 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 665
    • 0Komentar

    Sebanyak 30 siswa Kelas 6 SD Negeri 10 Kota Ternate didampingi Kepala sekolahnya mengunjungi Sanggar Eco Enzyme.  Kunjungan mereka ini untuk belajar   membuat larutan eco enzyme untuk mengisi praktikum. “Karena mereka akan menghadapi Ujian, praktek pembuatan Eco Enzyme  ini bagian dari ujian praktikum, ” jelas, Rohani Hutumoy Kepala Sekolah SD Negeri 10 Ternate Kamis (16/3/2023). […]

expand_less