Breaking News
light_mode
Beranda » Serba-serbi » Galala, Identitas Kampung yang Terancam Punah

Galala, Identitas Kampung yang Terancam Punah

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 16 Feb 2023
  • visibility 1.115

Sebuah Catatan Ringan dari Pulau pulau

Maluku Utara memiliki banyak nama local jenis pohon. Nama itu kadang mengilhami banyak hal. Mulai dari penyebutan dan penamaan tempat tertentu, hingga diabadikan menjadi kampung/dusun  bahkan nama orang.  Di kelompok masyarakat Tobelo Dalam Halmahera (O Hongana Manyawa) misalnya, nama pohon menjadi identitas seseorang. Ini bisa terjadi tatakala anak anak mereka dilahirkan berdekatan dengan pohon tertentu.

Sekadar  tahu saja, kelompok masyarakat Tobelo Dalam  saat ini Sebagian  hidupnya masih nomaden dan sebagian kecil mulai menetap. Orang Tobelo Dalam 100 persen bergantung hidup pada alam. Menjadikan pohon dan beragam tumbuhan   serta  hewan   di dalam area jelajah sebagai identitas  dan  sumber kehidupan.

Sekali waktu di tahun 2015 saya melakukan liputan tentang  kehidupan masyarakat Tobelo Dalam di kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata  Tayawi Oba Kota Tidore Kepulauan. Liputan kala itu sebenarnya ingin melihat secara langsung dan mencatat bagaimana kehidupan dan ketergantungan mereka pada alam yang selama ini ditempati yang kini oleh negara telah ditetapkan  sebagai wilayah konservasi atau perlindungan. Yang menarik dari liputan itu,  ketika menanyakan identitas/nama  sebagian dari mereka menyebut nama pohon. Mereka memiliki nama panggilan sama dengan pohon, atau tempat yang mereka  tempati  saat  dilahirkan. Ketika saya bertanya kepada salah satu orang tua yang anaknya bernama  Igo  dan Baru  dia beruja  ihwal nama nama anaknya berkaitan erat dengan igo/pohon kelapa  dalam Bahasa Ternate dan pohon baru/waru.     

Soal nama, saat mereka besar dan berpindah tempat  sekalipun  tetap digunakan. Meskipun belakangan sudah banyak mengggunakan nama yang sudah ada di masyarakat kampung karena seringnya terjadi persentuhan mereka dengan masyarakat pesisir/kampung.

Cerita tentang  warga Tobelo Dalam dan pohon sebagai identitas mereka tidak memiliki keterkaitan secara  langsung dengan apa yang hendak saya kemukakan tetapi setidaknya, ada kekayaan tak terukur tentang upaya menjaga identitas dengan menghargai  pohon  sebagai sumber kehidupan. Pasalnya  pohon  setiap saat memberi nafas bagi manusia,  pohon juga setiap detik  memberi  naik turunnya kehidupan manusia dari generasi ke generasi.

Di Maluku Utara, mungkin sebagian besar dari kita mengenal salah satu pohon  baik ditanam  maupun  maupun tumbuh liar.  Pohon Galala namanya (bahasa Ternate,red).  Sementara di kalangan  etnis Makeang dan Kayoa mengenalnya dengan Lolas. Mungkin juga di kelompik etnis lainnya di Maluku Utara memiliki nama yang berbeda terkait  pohon ini.   

Dikutip dari (situs  http://ipbiotics.apps.cs.ipb.ac.id/index.php/tumbuhanObat/297) tumbuhan ini berasal dari Asia Timur dan beberapa kepulauan tropik lainnya, kemudian menyebar hingga ke Asia Tenggara. Tumbuhan ini tersebar di hamper seluruh Indonesia.Banyak orang mengenalnya dengan dadap. Secara morfologi,  pohonnya agak besar, tinggi sampai 22 m. Daun majemuk menyirip 3, helaian daun berbentuk hampir bulat hingga belah ketupat, bagian pangkal bulat, bagian ujung lebih besar, bagian tepi rata. Perbungaan sedikit; benang sari yang terdepan seringkali sama sekali sampai pangkalnya terlepas. Biji bertipe polongan. Tumbuhan ini tumbuh di Asia Tenggara. Dadap  banyak ditemukan tumbuh liar, di kebun kopi, di kebun lada, di tepi hutan; di kebun-kebun ditanam orang untuk pohon pelindung dan panjatan tanaman sirih; hidup pada ketinggian tempat 1 – 1.500 m dpi.  

Ternyata pohon  Galala adalah nama pohon yang bisa jadi mengilhami banyak nama kampung di Maluku Utara hingga ke Ambon Maluku. Galala sesungguhnya adalah nama pohon yang dikenal luas di Maluku Utara sebagai pelindung tanaman utama di perkebunan  coklat atau kakao  dan beberapa  jenis tanaman lainnya.  Bagi sebagian  petani di  Halmahera, Galala dijadikan sebagai pohon    tempat  hidup atau panjatan tanaman sirih.    

Bagi sebagian besar orang Maluku Utara tahu dan kenal yang namanya Galala. Mungkin ada yang mengenal pohonnya,  tetapi tidak sedikit  dari mereka mengenal Galala karena identitas atau nama kampung- kampung  yang tersebar di berbagai tempat di Maluku Utara.

Batang pohon Galala

Kampung/Desa Galala memiliki persamaan nama yang tersebar di Halmahera Barat, Kota Tidore Kepualaun, Pulau Mandioli hingga ke Pulau Bisa di Halmahera Selatan.   Pohon ini dulu tumbuh subur di  kawasan pesisir pantai hingga ke daerah ketinggian karena ditanam oleh para petani sebagai pohon pelindung  bagi tanaman utama mereka. Tapi seiring waktu tumbuhan ini perlahan mulai hilang. Sulit ditemukan di pesisir pantai maupun  ditanam menjadi pohon pelindung tanaman utama. Dalam banyak literatur Galala atau Dadap memiliki benyak khasiat atau manfaat untuk kesehatan.

Selain karena namanya yang familiar, ternyata pohon ini memberi sejuta manfaat. Sebagai pohon pelindung   manfaat bagi kesehatan manusia, hingga menjadi penanda  bagi nelayan di kampung-kampung saat mereka mencari ikan.    

Di kampung- kampung pesisir Halmahera terutama di bagian selatan, ketika pohon ini memasuki masa berbunga yang berwarna merah, menarik minat burung datang. Di ranting pohon tersebut sangat ramai didatangi berbagai jenis burung paruh bengkok. Burung-burung ini menghisap madu dari bunga berwarna merah  sambal mengeluarkan  suara  sahut-sahutan. Ada nuri, perkici hingga burung lainnya yang termasuk jenis paruh bengkok. Di kebun-kebun warga, Galala menjadi inang tanaman sirih yang sangat baik. Sirih memanjat   hingga mengikuti tingginya pohon Galala  dan sangat subur.  

Kini, seiring waktu pohon Galala yang mungkin saja mengilhami nama  sejumlah desa di Maluku Utara  itu  sudah  sulit ditemukan. Bisa dibilang perlahan mulai punah. Pasalnya di bawah tahun 2000 an pohon Galala masih mudah ditemukan di tepi pantai bahkan ditanam di halaman rumah. Namun  kini sudah sulit lagi ditemukan.

Di awal tahun 2016, karena rasa penasaran dengan mulai  hilangnya  pohon ini,  saya  coba  berkeliling  pesisir Pulau Ternate  mencari tahu keberadaan pohon Galala. Di tahun itu saja nyaris tidak ditemukan lagi pohon tersebut. Setelah berkeliling dan bertanya ke sana kemari setiap warga  atau petani yang ditemui,  dari semua keterangan yang di dapat, mereka mengaku  sudah sulit menemukan pohon itu. Warga di kampung kampung Ternate Barat  hamper seluruhnya mengatakan sudah sulit menemukan lagi pohon ini. Di sekitar Kulaba hingga Tobololo saya sempat ditunjukan  warga    ada satu pohon Galala. Saat menuju ke tempat tersebut, benar ditemukan   tetapi sebagian besar telah mengering alias mati. Dari pengamatan singkat pohon tersebut pohon itu mengering  dari ranting,  dahan turun ke batang  utama. Entah apa penyebabnya.

Bunga pohon Galala

Informasi yang berhasil dihimpun di sejumlah tempat di Halmahera ketika menanyakan kepada warga yang  lahannya ada jenis pohon ini, bercerita, suatu waktu  di   tahun  2003  hingga 2004 pohon  Galala mati bersamaan.   Mereka juga tidak tahu apa penyebabnya sehingga pohon galala mati secara keseluruhan. Baik di kebun maupun yang hidup di tepi pantai. Saya juga belum menemukan ada riset dari Maluku Utara soal keterancaman kehilangan   sumber keanekaraman hayati ini. Mungkin butuh riset untuk menghadirkan Kembali pohon dengan sejuta manfaat tersebut termasuk mengilhami nama kampung di Maluku Utara ini.  

Bagi saya, matinya pohon Galala dan  hilang dari bumi Maluku Utara, boleh dibilang bagian dari kehilangan identitas kampung- kampung yang memiliki kesamaan nama.  Nama kampung   yang diilhami  dari  nama pohon,  mengirim pesan  kepada  semua  manusia, untuk selalu eling/ingat pada alam. Tetap menjaga pohon  tegak berdiri di tempatnya, tak tergusur  buldozder  pemilik modal.  Bahwa  pohon adalah kampung bagi berbagai jenis burung. Tempat dia hidup dan  melanjutkan generasinya dengan beranak pinak . Dari pohon dia tidur, dan mencari makan. Sayang manusia kadang rakus lalu menganggap alam raya dan seisinya   milik  sendiri.  Alam   tidak hanya milik manusia.  Ada hak binatang dan berbagai jenis hewan melata lainnya.       

Pohon bagi sebagian kelompok masyarakat/suku bangsa, menganggapnya sebagai ibu kehidupan. Ketika menjaga dan merawatnya, sama  seperti menjaga dan merawat seorang ibu. Ketika merusak dan menebanginya karena kerakusan,  juga sama. Menyakiti seorang ibu.

Semoga pohon di bumi pulau-pulau Moloku Kie Raha, tetap tegak,   selalu memberi  udara bagi naik turunnya detak nafas  hidup manusia. Wallahu’alam Bishawab.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

    • calendar_month Kam, 27 Feb 2020
    • account_circle
    • visibility 833
    • 0Komentar

    Warga Desa Sangapati  dinstruksikan  menghindari mengomsumsi ikan  mati massal karena dicurigai beracun. Sementara anak- anak  dan  orang dewasa, diminta  menghindari sementara waktu mandi di laut.   Warna air laut yang biasanya  bening menjadi coklat pekat kemerah- merahan  itu  ikut menyebabkan matinya berbagai jenis biota   di kawasan laut pulau Makeang  Halmahera Selatan  Maluku Utara. Peristiwa ini membuat […]

  • Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

    • calendar_month Ming, 5 Des 2021
    • account_circle
    • visibility 833
    • 1Komentar

    Aksi nekat seorang anak muda yang menantang ombak ketika terjadi terjangan ombak di kawasan pantai Falajawa

  • Warga Haltim Protes Masalah Tambang di Depan Istana

    • calendar_month Jum, 8 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 715
    • 3Komentar

    Desak Bebaskan Halmahera  dari Kehancuran Ekologi Dampak lingkungan dan social yang ditimbulkan akibat industri tambang di Pulau Halmahera Provinsi Maluku Utara, mendapat protes warga. Mereka  protes karena merasakan  dampak industry tersebut secara langsung. Jumat (7/12/20223)  masyarakat Halmahera Timur (Haltim) Maluku Utara terdiri dari Aliansi Masyarakat Buli Peduli Watowato, Pengurus Besar Forum Mahasiswa Maluku Utara dan […]

  • Harus Ada Kolaborasi Media Dorong Isu Lingkungan

    • calendar_month Jum, 17 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 481
    • 0Komentar

    Masalah lingkungan sudah tak mungkin “tidak” menjadi isu utama. Krisis iklim misalnya yang terjadi sudah sangat berdampak pada kehidupan banyak orang. Karena kondisi ini bukan zamannya lagi media bekerja sendiri-sendiri tetapi harus berkolaborasi mendorong isu penting ini. Wakil Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI)  Upi Asmaradana saat membuka pelatihan “Green Growth Journalism” di Makassar […]

  • Indonesia Luncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru di COP 30 Brazil

    Indonesia Luncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru di COP 30 Brazil

    • calendar_month Sen, 1 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 305
    • 0Komentar

    BELEM, (19/11) – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Lingkungan Hidup secara resmi meluncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru Indonesia pada COP 30 UNFCCC di Belém, Brasil, Senin (17/11). Dokumen ini memberikan arah kebijakan dan langkah terkoordinasi untuk melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem karbon biru, yakni mangrove, padang lamun, […]

  • Mata Air Ake Gaale Berubah Menjadi Air Mata Warga

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 767
    • 0Komentar

    Untuk  menemukan  sumber mata air  yang mengalir di pulau kecil seperti Ternate, terutama  di tengah pemukiman warga yang padat ,  hanya ada di dua tempat. Dua sumber mata air itu  adalah,  Ake Santosa, di Kelurahan Salero atau tepatnya berada sebuah bukit kecil di samping Kedaton Kesultanan Ternate.  Sementara yang satunya lagi ada di Bagian Utara […]

expand_less