Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Pulau  Kecil  Meradang  Karena  Ditambang 

Pulau  Kecil  Meradang  Karena  Ditambang 

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 19 Jan 2024
  • visibility 909

Penulis Dr. Abdul Motalib Angkotasan, S.Pi, M.Si

Dosen Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate

Kepulauan Indonesia sangat indah, memiliki pulau dengan beragam morfogenesa dan ukuran. Menurut Bengen et al (2014) berdasarkan morfogensa, pulau kecil di Indonesia terdiri dari pulau vulkanik, pulau tektonik, pulau teras terangkat, pulau alluvium, pulau petabah, pulau teras terangkat, pulau karang, dan pulau genesis campuran.

Berdasarkan ukuran terbagi menjadi pulau besar, pulau kecil dan pulau sangat kecil. Pulau kecil adalah pulau dengan luasan kurang dari 2000 km, di dalamnya terdapat berbagai macam flora dan fauna. Di wilayah pesisir pulau kecil terdapat vegetasi lamun (sea grass), vegetasi hutan mangrove, dan vegetasi pascaprea.

Di darat terdapat Perkebunan warga dan berbagai macam jenis kayu yang berkontribusi dalam menyumbang potensi forestry di pulau kecil. Pertanyaan kemudian, apa yang akan terjadi jika pulau kecil dieksploitasi menjadi kawasan pertambangan?.

Akibat apa saja yang akan timbul sebagai dampak dari eksploitasi pulau kecil tersebut?

Sudah pasti pulau kecil akan meradang karena di tambang. Pertambangan selalu menyisakan luka dalam bagi pulau kecil, bukan hanya sumberdaya yang rusak tapi kehidupan masyarakat yang menghuni pulau kecil juga mengalami berbagai krisis. Ekosistem di darat rusak, ekosistem pesisir dan laut hancur, air bersih sulit, dan mencari ikan semakin jauh. Pada akhrinya masyarakat tetap miskin.

Eksploitasi Tambang

Praktek eksploitasi tambang umumnya dilakukan secara terbuka (open mining). Aktivitas ini akan membabat seluruh vegetasi. Vegetasi mangrove (bakau.red) dan pascaprea di pesisir habis  untuk pembangunan kawasan industri. Vegetasi hutan di darat diratakan dengan tanah karena material tambang harus diambil.

Alhasil, puncak perbukitan pulau kecil menjadi gundul dan daratan pesisir menjadi gersang. Padahal kawasan hutan ini adalah penyangga pulau kecil. Berperan sebagai penyerap air ketika hujan buat penyediaan air tanah bagi masyarakat pesisir. Hutan mangrove adalah penyangga alami yang baik untuk menghindari pulau kecil dari abrasi pantai dan sedimentasi. Melindungi Pantai dari ancaman gelombang dan masuknya material daratan yang dapat merusak eksositem lamun dan ekosistem terumbu karang. 

Dampak

Perlu diingat bahwa pulau kecil punya daya dukung kawasan yang terbatas. Jika dieksploitasi seperti dijadikan kawasan pertambangan baik nikel, emas, dan gas maka pulau kecil terancam rusak berat. Terdapat tujuh dampak utama yang akan ditimbulkan sebagai akibat dari ekpsloitasi tambang di pulau kecil.

Pertama, kerusakan hutan pesisir dan darat.  Pengambilan material tambang di darat sudah pasti menghancurkan ekosistem hutan. Kayu yang berumur ratusan tahun dibabat buat mengambil material didalam tanah. Alhasil, pulau yang tadinya hijau menjadi kekuningan karena sudah gundul. Padahal hutan inilah yang member suplai air tanah kepada masyarakat. Pada akhirnya masyarakat akan krisis air.

Kedua, pencemaran air tanah. Hutan sebagai penyangga sudah dihabisi, serapan material tidak bisa lagi dibendung. Ketika hujan, material tambang akan mengalir sampai ke pusat air bersih warga. Akibatya sumber air bersih akan tercemar.

Ketiga, tingginya laju sedimentasi. Material sisa penambangan akan teraliri ke wilayah pesisir yang disebut dengan run off. Dalam kurun waktu yang lama maka akan terjadi sedimentasi, buktinya dapat dilihat jika ada pendangkalan di wilayah pesisir.

Keempat, menurunya kualitas perairan. Material dari daratan yang merupakan dampak dari eksploitasi tambag sudah pasti bermuara ke laut. Material tersebut akan berkontribusi menurunkan kualitas perairan. Misalnya, material tersuspensi yang membuat perairan keruh.

Kekeruahan ini adalah salah satu indicator rendahnya kualitas perairan akibat tingginya material tersuspensi (Total Suspended Solid/TSS). Di sisi lain bisa jadi nilai Nitrat, Pospat dan Silika di perairan pun melampaui baku mutu dan menjadi indicator menurunya kualitas perairan.

Kelima, kerusakan ekosistem. Ekpsloitasi tambang di darat dan pembangunan kawasan industri pesisir bisa dipastikan merusak ekosistem. Ekosistem mangrove di pesisir misalnya, ditebang untuk area perkantoran dan industri. Material tambang dari darat yang masuk ke perairan akan merusak ekosistem lamun dan ekostem terumbu karang. Padahal, ketiga ekosistem ini adalah ekosistem utama pesisir dan laut di pulau kecil yang menjadi penyangga hidup masyarakat. 

Keenam, krisis pangan. Hutan gundul air tanah bermaslah, krisis ekologi di darat dan di laut akan berdampak pada krisis pangan. Masyarakat pulau kecil hidup mengandalkan hasil dari tangkapan ikan dan perkebunannya. Jika ekosistemnya mengalami krisis, akan berujung pada krisis pangan bagi masyarakat pulau kecil.

Ketujuh, kemiskinan masyarakat pulau kecil. Jika pendapatan masyarakat terganggu, ditambah lagi dengan krisis air yang dihadapi maka kemiskinan menjadi suatu keniscayaan. Saat ini, masuknya perusahaan tambang memberikan bantuan dan juga pembayaran ganti rugi tanah misalnya. Tapi uang yang didapat tidak akan bertahan lama. Sudah pasti lima sampai sepuluh tahun ke depan, dipastikan masyarakat kita akan mengalami kemiskinan.

Solusi

Langkah solutif harus segera diambil oleh pemilik kuasa di negeri ini. Beberapa solusi alternatif yang bisa dilakukan adalah : Pertama, hentikan aktivitas penambangan. Pertambangan di Pulau Kecil harus dihentikan  untuk menyelamatkan ekosistem dan masa depan masyarakat di Pulau Kecil. Kegiatan ini hanya memperkaya elit, memiskinan rakyat jelata.

Kedua, restorasi dan rehabilitas ekosistem. Pemerintah harus memastikan perusahaan memulihkan kembali ekosistem yang sudah rusak. Hutan yang dibabat, terumbu karang yang rusak harus direstorasi. Ketiga, menyediakan alternative mata pencaharian masyarakat. Pemerintah daerah harus merumsukan langkah-langkah solutif dengan menyediakan pekerjaan alternative bagi masyarakat lingkar tambang di pulau kecil.  Memberikan bantuan permodalan dan alat tangkap modern kepada nelayan agar bisa mencari ikan lebih jauh.

Pengambil kebijakan di negeri ini harus memilih posisinya, apakah bersama rakyat atau bersama yang punya tambang. Pemilik kuasa di negeri ini jangan cawe cawe lalu mengorbankan rakyatnnya sendiri. Jika ingin bersama rakyat, maka tambang di pulau kecil harus dihentikan. Masyarkat pulau kecil berharap keberpihakan pemerintah daerah dan masyarakat sipil untuk berjuang bersama menghadapi permasalahan ini.

 Jangan biarkan masayarakat berjuang sendiri. Mereka adalah anak negeri ini dan keluarga besar kita. Mari bersama satukan niatan tertinggi kita untuk mencari solusi atas permasalahan tambang di pulau kecil. Semoga bangsa ini terbebas dari aktivitas pertambangan di pulau kecil.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maluku Utara Masuk Wilayah Ancaman La Nina

    • calendar_month Rab, 14 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 610
    • 0Komentar

    Desember- Januari  Curah Hujan Tinggi, Perlu Antisipasi Pemda Hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La-Nina sedang berkembang. Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir dengan nilai anomali telah melewati […]

  • Wilayah Kelola Hutan Oleh KPH Bertambah

    • calendar_month Jum, 25 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 941
    • 1Komentar

    BPHP- KPH  Bahas Update  Peta Arahan HP-HL di Malut  Arahan pemanfaatan hutan produksi- hutan lindung mulai dibahas. Pembahasan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah XIV Ambon itu, dilaksanakan di hotel Muara Ternate, Kamis (24/3/2022). BPHP yang membawahi wilayah Maluku dan Maluku Utara membahasnya  dengan  gelar Focus Discussion Group […]

  • Sisir Pulau dan Kampung Layani Warga

    • calendar_month Kam, 29 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 503
    • 0Komentar

    Lakukan Penyadartahuan Covid-19 dan  Periksa Kesehatan Warga Sejak 22 Oktober 2020 lalu tim EcoNusa Indonesia menggelar ekspedisi Maluku  menggunakan kapal phinisi wisata bernama Kurabesi Explorer. EcoNusa sendiri adalah sebuah lembaga nirlaba berbasis di Papua dan saat ini banyak mendorong berbagai inisiatif lokal untuk perlindungan alam dan konservasi di wilayah timur Indonesia. Mereka  mengawali perjalanan   dari […]

  • Bangun Desa Harus Dimulai dari Tata Ruang

    • calendar_month Rab, 2 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 540
    • 0Komentar

    Membangun sumber sumber pangan desa. jga butuh tata ruang desa. foto mahmud ichi

  • Kiprah KTH Ake Guraci Marikurubu Ternate

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 639
    • 3Komentar

    Bibit yang siap ditanam di lokasi izin KTH Ake Guraci Marikurubu/foto FB Juliaty Rahma Tuhulel

  • Penemuan Lebah pluto di Halmahera Jadi Perbincangan Ilmuan Dunia

    Penemuan Lebah pluto di Halmahera Jadi Perbincangan Ilmuan Dunia

    • calendar_month Jum, 1 Mar 2019
    • account_circle
    • visibility 714
    • 0Komentar

    Penemuan kembali lebah raksasa Wallace atau lebah pluto (Megachile pluto Smith 1861) di Maluku Utara menjadi perbincangan hangat di kalangan ilmuwan, terutama bidang zoologi. Rilis resmi yang dikeluarkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI  (Vhttp://lipi.go.id/siaranpress/penemuan-kembali-lebah-megachile-pluto-di-maluku-utara/21545), menyebutkan,   bahwa  lebah dengan rahang bawah (mandibula) yang sangat besar ini dikoleksi oleh Alfred Russel Wallace pada  1859 dan […]

expand_less