Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Pulau  Kecil  Meradang  Karena  Ditambang 

Pulau  Kecil  Meradang  Karena  Ditambang 

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 19 Jan 2024
  • visibility 852

Penulis Dr. Abdul Motalib Angkotasan, S.Pi, M.Si

Dosen Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate

Kepulauan Indonesia sangat indah, memiliki pulau dengan beragam morfogenesa dan ukuran. Menurut Bengen et al (2014) berdasarkan morfogensa, pulau kecil di Indonesia terdiri dari pulau vulkanik, pulau tektonik, pulau teras terangkat, pulau alluvium, pulau petabah, pulau teras terangkat, pulau karang, dan pulau genesis campuran.

Berdasarkan ukuran terbagi menjadi pulau besar, pulau kecil dan pulau sangat kecil. Pulau kecil adalah pulau dengan luasan kurang dari 2000 km, di dalamnya terdapat berbagai macam flora dan fauna. Di wilayah pesisir pulau kecil terdapat vegetasi lamun (sea grass), vegetasi hutan mangrove, dan vegetasi pascaprea.

Di darat terdapat Perkebunan warga dan berbagai macam jenis kayu yang berkontribusi dalam menyumbang potensi forestry di pulau kecil. Pertanyaan kemudian, apa yang akan terjadi jika pulau kecil dieksploitasi menjadi kawasan pertambangan?.

Akibat apa saja yang akan timbul sebagai dampak dari eksploitasi pulau kecil tersebut?

Sudah pasti pulau kecil akan meradang karena di tambang. Pertambangan selalu menyisakan luka dalam bagi pulau kecil, bukan hanya sumberdaya yang rusak tapi kehidupan masyarakat yang menghuni pulau kecil juga mengalami berbagai krisis. Ekosistem di darat rusak, ekosistem pesisir dan laut hancur, air bersih sulit, dan mencari ikan semakin jauh. Pada akhrinya masyarakat tetap miskin.

Eksploitasi Tambang

Praktek eksploitasi tambang umumnya dilakukan secara terbuka (open mining). Aktivitas ini akan membabat seluruh vegetasi. Vegetasi mangrove (bakau.red) dan pascaprea di pesisir habis  untuk pembangunan kawasan industri. Vegetasi hutan di darat diratakan dengan tanah karena material tambang harus diambil.

Alhasil, puncak perbukitan pulau kecil menjadi gundul dan daratan pesisir menjadi gersang. Padahal kawasan hutan ini adalah penyangga pulau kecil. Berperan sebagai penyerap air ketika hujan buat penyediaan air tanah bagi masyarakat pesisir. Hutan mangrove adalah penyangga alami yang baik untuk menghindari pulau kecil dari abrasi pantai dan sedimentasi. Melindungi Pantai dari ancaman gelombang dan masuknya material daratan yang dapat merusak eksositem lamun dan ekosistem terumbu karang. 

Dampak

Perlu diingat bahwa pulau kecil punya daya dukung kawasan yang terbatas. Jika dieksploitasi seperti dijadikan kawasan pertambangan baik nikel, emas, dan gas maka pulau kecil terancam rusak berat. Terdapat tujuh dampak utama yang akan ditimbulkan sebagai akibat dari ekpsloitasi tambang di pulau kecil.

Pertama, kerusakan hutan pesisir dan darat.  Pengambilan material tambang di darat sudah pasti menghancurkan ekosistem hutan. Kayu yang berumur ratusan tahun dibabat buat mengambil material didalam tanah. Alhasil, pulau yang tadinya hijau menjadi kekuningan karena sudah gundul. Padahal hutan inilah yang member suplai air tanah kepada masyarakat. Pada akhirnya masyarakat akan krisis air.

Kedua, pencemaran air tanah. Hutan sebagai penyangga sudah dihabisi, serapan material tidak bisa lagi dibendung. Ketika hujan, material tambang akan mengalir sampai ke pusat air bersih warga. Akibatya sumber air bersih akan tercemar.

Ketiga, tingginya laju sedimentasi. Material sisa penambangan akan teraliri ke wilayah pesisir yang disebut dengan run off. Dalam kurun waktu yang lama maka akan terjadi sedimentasi, buktinya dapat dilihat jika ada pendangkalan di wilayah pesisir.

Keempat, menurunya kualitas perairan. Material dari daratan yang merupakan dampak dari eksploitasi tambag sudah pasti bermuara ke laut. Material tersebut akan berkontribusi menurunkan kualitas perairan. Misalnya, material tersuspensi yang membuat perairan keruh.

Kekeruahan ini adalah salah satu indicator rendahnya kualitas perairan akibat tingginya material tersuspensi (Total Suspended Solid/TSS). Di sisi lain bisa jadi nilai Nitrat, Pospat dan Silika di perairan pun melampaui baku mutu dan menjadi indicator menurunya kualitas perairan.

Kelima, kerusakan ekosistem. Ekpsloitasi tambang di darat dan pembangunan kawasan industri pesisir bisa dipastikan merusak ekosistem. Ekosistem mangrove di pesisir misalnya, ditebang untuk area perkantoran dan industri. Material tambang dari darat yang masuk ke perairan akan merusak ekosistem lamun dan ekostem terumbu karang. Padahal, ketiga ekosistem ini adalah ekosistem utama pesisir dan laut di pulau kecil yang menjadi penyangga hidup masyarakat. 

Keenam, krisis pangan. Hutan gundul air tanah bermaslah, krisis ekologi di darat dan di laut akan berdampak pada krisis pangan. Masyarakat pulau kecil hidup mengandalkan hasil dari tangkapan ikan dan perkebunannya. Jika ekosistemnya mengalami krisis, akan berujung pada krisis pangan bagi masyarakat pulau kecil.

Ketujuh, kemiskinan masyarakat pulau kecil. Jika pendapatan masyarakat terganggu, ditambah lagi dengan krisis air yang dihadapi maka kemiskinan menjadi suatu keniscayaan. Saat ini, masuknya perusahaan tambang memberikan bantuan dan juga pembayaran ganti rugi tanah misalnya. Tapi uang yang didapat tidak akan bertahan lama. Sudah pasti lima sampai sepuluh tahun ke depan, dipastikan masyarakat kita akan mengalami kemiskinan.

Solusi

Langkah solutif harus segera diambil oleh pemilik kuasa di negeri ini. Beberapa solusi alternatif yang bisa dilakukan adalah : Pertama, hentikan aktivitas penambangan. Pertambangan di Pulau Kecil harus dihentikan  untuk menyelamatkan ekosistem dan masa depan masyarakat di Pulau Kecil. Kegiatan ini hanya memperkaya elit, memiskinan rakyat jelata.

Kedua, restorasi dan rehabilitas ekosistem. Pemerintah harus memastikan perusahaan memulihkan kembali ekosistem yang sudah rusak. Hutan yang dibabat, terumbu karang yang rusak harus direstorasi. Ketiga, menyediakan alternative mata pencaharian masyarakat. Pemerintah daerah harus merumsukan langkah-langkah solutif dengan menyediakan pekerjaan alternative bagi masyarakat lingkar tambang di pulau kecil.  Memberikan bantuan permodalan dan alat tangkap modern kepada nelayan agar bisa mencari ikan lebih jauh.

Pengambil kebijakan di negeri ini harus memilih posisinya, apakah bersama rakyat atau bersama yang punya tambang. Pemilik kuasa di negeri ini jangan cawe cawe lalu mengorbankan rakyatnnya sendiri. Jika ingin bersama rakyat, maka tambang di pulau kecil harus dihentikan. Masyarkat pulau kecil berharap keberpihakan pemerintah daerah dan masyarakat sipil untuk berjuang bersama menghadapi permasalahan ini.

 Jangan biarkan masayarakat berjuang sendiri. Mereka adalah anak negeri ini dan keluarga besar kita. Mari bersama satukan niatan tertinggi kita untuk mencari solusi atas permasalahan tambang di pulau kecil. Semoga bangsa ini terbebas dari aktivitas pertambangan di pulau kecil.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 850
    • 0Komentar

    Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini. Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti […]

  • Ada Wisata Mangrove di Jantung Kota Sofifi

    • calendar_month Rab, 20 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 789
    • 0Komentar

    Kawasan Hutan Mangrove Guruaping dilihat dari Udara, foto Opan Jacky

  • Pulau Moor di Halmahera Tengah  Mau Dierjualbelikan?

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 1.322
    • 0Komentar

    Yusuf Haruna:   Langgar Konstitusi dan Hak-hak Warga Lokal Pulau Moor  yang terletak di Wilayah Kecamatan Patani Kabupaten  Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, merupakan pulau kecil seluas sekitar 3 km² yang saat ini dihuni sebagian petani kelapa, nelayan dan dimanfaatkan oleh masyarakat   tujuh desa Patani  dan  sekitarnya. Rencana penjualan pulau Mour  kepada pihak swasta, yaitu pengusaha […]

  • Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil Tak Berdasar Saintifik

    • calendar_month Sel, 30 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 531
    • 0Komentar

    Ini Masukan Masyarakat Sipil untuk Capres dan Cawapres   Center of Maritim Reform for Humanity atau Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan mengingatkan semua pihak terutama para calon presiden dan wakil presiden  agar perlu memiliki ikhtiar yang kuat terhadap perbaikan bangsa terutama terkait isyu lingkungan hidup dan pertanahan dalam konteks pengelolaan perikanan dan sumberdaya agraria di […]

  • TNAL Miliki Aset Wisata Gua Menakjubkan

    • calendar_month Ming, 4 Apr 2021
    • account_circle
    • visibility 642
    • 1Komentar

    Lebatnya hutan Taman Nasional AkeTajawe Lolobata. Di dalam hutan ini tersimpan kekayaan flora dan fauna serta goa karst yang menakjubkan. Foto Sofyan Ansar TNAL

  • Bank Indonesia umumkan uang beredar di masyarakat

    • calendar_month Sab, 4 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 359
    • 0Komentar

    Petugas menghitung uang pecahan milik nasabah di salah satu agen BRILink di Ternate, Maluku Utara, Jumat (3/10/2025).Bank Indonesia (BI) mengumumkan uang beredar di masyarakat M2 pada Agustus 2025 sebesar Rp 9.657,1 triliun atau tumbuh 7,6 persen tumbuh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 6,6 persen yang didorong uang beredar sempit (M1) sebesar 10,5 persen dan […]

expand_less