Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Bobato Adat Kie Goya, Jaga Hutan untuk Anak Cucu

Bobato Adat Kie Goya, Jaga Hutan untuk Anak Cucu

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 28 Okt 2021
  • visibility 1.046

Dikukuhkan  Saat Grand Launcing Suaka Paruh Bengkok

Peranan perangkat adat dalam menjaga hutan dan lingkungan di daerah ini sangatlah penting. Ini demi  menjaga hutan dari berbagai ancaman,  gangguan    sehingga  tetap lestari.  Salah  satu  perangkat adat itu adalah  Bobato Adat Kie Goya  di Kesultanan Tidore Maluku Utara. Bobato Adat Kie Goya atau dikenal dengan Bobato yang menjaga hutan dan alam itu memegang peran penting untuk  melindungi alam demi kelangsungan anak cucu di kemudian hari. 

Kegiatan pengukuhan Bobato Adat Kie Goya ini sendiri digelar  bertepatan dengan Grand Launching Suaka Paruh Bengkok  Selasa (26/10/2021)  di kawasan Suaka Paruh Bengkok desa Koli  Kecamatan Oba Kota Tidore Kepulauan. Pengukuhan yang dilakukan langsung oleh Sultan Tidore H Husain Alting Sjah ini, berlangsung khidmat.   

Dalam pengukuhan  itu  ada 24 bobato adat yang berasal dari 22  desa di tiga kabupaten yakni Kota/kabupaten yakni Tidore Kepulauan, Halmahera Tengah,  dan Halmahera Timur yang juga merupakan wilayah kekuasaan  Kesultanan Tidore,  di mana   Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata berada.

24 Bobato itu masing-masing Agustinus Sidete Bobato adat Goya  desa Durian Oba, Matius Billo Desa Gosale, Dominggus Boeng Kelurahan Akelamo, Abdurasid Ishak Kelurahan Akelamo, Antonius Djumati Desa Koli, Mohtar Thaib Desa  Bale, Mahmud Kandari Desa Woda, Hasan Do Muhammad Kelurahan Payahe, Kader Haiyun Desa Kosa, Yordan Doter Desa Kobe, Ardianus Burnama Desa SawaiItepo, Kristofel Hasan Desa Kobe, Stefanus Manginsela Desa Sidanga, Habian Tiak Desa Lili,  Syamadani Siri Desa Wayamli, Watia Bulawa Desa Wayamli, Rauf Abubakar Desa Beringin Lamo, Bernadus Ubo Desa Geltoli, Haji Suaib Hi Hasan Desa Wayamli, Kora Urugares Desa Baburino, Syafrudin Yusuf Desa Dodaga, Syafrudin Ahadin Desa Bokimiake, Jem Pulola Desa Dowingi Jaya,  dan Joap Togo Desa Inola di Halmahera Timur.

Suaka Paruh bengkiok menjadi salah satu spot foto untuk pengunjung foto m ichi

Sebagaimana bunyi surat Keputusan Kesultana Tidore  tentang pengangkatan dan pengukuhan dalam jabatan Bobato adat kesultanan Tidore, bahwa menjaga dan merawat nilai nilai adat dan budaya sebagaimana peninggalan para leluhur, maka harus ada kelanjutan atau regenerasi  untuk mewarisi dan merawat kearifan local yang telah dwariskan demi menjaga keutuhan wilayah adat dan kelangsungan anak cucu di kemudian hari.  

Penetapan Bobato ini sendiri melalui hasil rapat dewan adat tertinggi Bobato Pehak Raha (empat Pihak) yang memutuskan dan menetapkan mengangkat, mengukuhkan dan memberikan gelar  sebagai bobato adat kesultanan Tidore  yang memiliki tugas dan tanggung jawab sesuai fungsi jabatan yang diberikan oleh sultan.

Para bobato ini diberikan tugas oleh Sultan untuk membantu mengamankan  kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata  dan melaporkan bila menemukan adanya indikasi ancaman dan gangguan keamanan di kawasan hutan. Baik hasil hutan maupun satwa liar yang berada di wilayahya masing-masing.

Sultan usai pengukuhan, memberikan nasehat dan wejangan kepada para bobato yang telah dilantik. Menurutnya,  tugas dan tanggung jawab yang mereka emban tidak mendapatkan upah atau gaji dalam bentuk uang.  Apa yang dilakukan ini adalah bentuk macoou (pengabdian,red)   dari para bobato yang juga bentuk pengabdian hamba kepada yang maha kuasa dan alam. Menurut Sultan, karena pengabdian ini tulus maka  yang diharapkan adalah keridhaan dari yang maha kuasa demi untuk menjaga dan memperbaiki lingkungan demi anak cucu di kemudian hari.  

“Tugas kita menjaga bumi ini untuk diwariskan kepada anak cucu pada 50 sampai 100 tahun ke depan, Jangan sampai suatu saat  kelak kita sudah tidak ada dan anak cucu menghujat kita karena meninggalkan warisan alam yang rusak,” ujar Sultan.

Warga beramai ramai mendatangi suaka saat dilakukan gran opening foto m ichi

Dia bilang lagi,  dalam tugas bobato kesultanan di Maluku Utara adalah Macoou yang berarti pengabdian tanpa batas. Ini  merupakan bentuk pengabdian terbaik kepada bangsa dan negeri ini.  Peran peran yang telah diambil masing masing orang untuk pengabdiannya itu tidak  hanya pada sang khalik tetapi juga  seluruh alam dan ciptaanya.    

Sementara saat  grand launcing suaka paruh bengkok yang turut dihadiri Dirjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE)  Ir Wiratno,  turut memberi apresasi  atas dukungan  perlindungan alam yang diberikan pihak kesultanan Tidore. Menurutnya, untuk melindungi alam dan koservasi tidak bisa dikerjakan sendiri oleh KLHK tetapi butuh keterlibatan semua pihak. Salah satu yang yang paling penting adalah seperti perangkat adat yang ada di kesultanan ini.  Saat launching  bersama Sultan Sekda Provinsi Malut Samsudin Kadir dan  Wali Kota Tidore Kapten Ali Ibrahim itu,  Dirjen KSDAE juga menyerahkan  penghargaan bagi sejumlah pihak yang telah membantu banyak hal untuk  Balai Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata. “Hingga hari ini sudah ada 1808 penghargaraan diberikan kepada berbagai pihak yang bersama membantu gerakan konservasi dan perlindungan alam di Indonesia,” ujar Wiratno. 

Munawir salah satu pengunjung dari Ternate saat mencoba sensasi berjalan di atas canopy trail yang tingginya mencapai 10 meter di atas permukaan tanah

Selain itu ada juga bantuan modal bagi beberapa kelompok masyarakat di sekitar TNAL. Launcing suaka ini terbilang meriah karena secara bebas dikunjungi masyarakat desa sekitar  TNAL untuk menyaksikan dari dekat berbagai satwa burung  dan wahana yang ada di suaka ini.  (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wacana Konsesi Tambang untuk Kampus Harus Ditolak

    • calendar_month Rab, 12 Feb 2025
    • account_circle
    • visibility 1.047
    • 0Komentar

    Wacana konsesi tambang untuk kampus melalui revisi UU 3/2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) mesti ditolak. Lewat wacana itu, pemegang otoritas berupaya menggerus independensi kampus sebagai institusi pendidikan yang berorientasi pada tridarma. Kampus seyogianya menjadi kompas moral dan intelektualitas, bukan jadi alat negara untuk mencuci  Praktik-praktik buruk industri ekstraktif. Ilham Majid, dosen Universitas […]

  • Ini Masalah Pembangunan di Pulau Makeang dan Kayoa

    • calendar_month Sab, 9 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 701
    • 2Komentar

    Jembatan penghubung di jalan lingkar pulau Makeang yang menghubungkan antardesa rusak parah, foto M Ichi

  • Rumpon Liar di Selat Obi Dibersihkan    

    • calendar_month Sen, 4 Jul 2022
    • account_circle
    • visibility 796
    • 2Komentar

    Nelayan: Selat Obi Diusul Jadi Wilayah Pemberdayaan  Nelayan  Kecil   Nelayan Obi yang selama ini mengeluhkan banyaknya rumpon liar di laut Obi, akhirnya bernapafas lega. Pasalnya,  Dinas  Perikanan Provinsi Maluku Utara Sabtu (02/07/2022) bersama masyarakat nelayan dan  instansi tekait memutus tali puluhan rumpon di Selat Obi Kabupaten Halmahera Selatan. “Pemutusan ini sekaligus menjawab aspirasi nelayan di Kecamatan […]

  • 9 Ekor Paruh Bengkok Pulang ke Halmahera

    • calendar_month Kam, 30 Sep 2021
    • account_circle
    • visibility 755
    • 0Komentar

    Burung burung tersebut saaat diangkut menuju Halmahera

  • Warga “Usir” PT Priven Lestari dari Gunung Wato-wato Halmahera Timur?

    • calendar_month Sab, 9 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 898
    • 0Komentar

    Gunung Wato- wato,  yang menyerupai manusia di Halmahera Timur Maluku Utara saat ini menghadapi ancaman serius.  Ancaman itu karena adanya  rencana penambangan nikel oleh salah satu perusahaan  bernama PT PL. Aktivitas perusahaan yang belakangan memunculkan protes warga.    Protes   karena  rencana penambangan itu dikuatirkan berdampak buruk menghancurkan ruang hidup mereka.  Karena itu warga lalu bergabung […]

  • Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 998
    • 0Komentar

    Catatan dari COP 30 di Brazil   Di tengah meningkatnya dampak krisis iklim dan melambatnya komitmen negara-negara untuk menekan suhu bumi di bawah 1,5°C, orang muda dunia menyatukan suara mereka. Melalui Global Youth Statement (GYS), ribuan orang muda dari lebih dari 150 negara menyerukan perubahan arah kebijakan iklim global menuju transisi energi yang adil, pendanaan […]

expand_less