Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Ajak Warga Kao Lindungi Mangrove dan Satwa Endemik

Ajak Warga Kao Lindungi Mangrove dan Satwa Endemik

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 20 Okt 2018
  • visibility 528

Komitmen melindungi satwa endemic tidak hanya hadir melalui  forum  seminar atau diskusi   peneliti,  maupun mereka yang concern terhadap isyu lingkungan dan keanekaragaman hayati. Apa yang dilakukan   bersama  Pemerintah Desa Kao  Halmahera Utara  Selasa (02/10) akhir pecan lalu ini juga,  memiliki maksud  yang sama. Membicarakan upaya  perlindungan   m,angrove dan satwa endemik. 

Melalui forum ini, mereka  menyatukan presepsi  menjaga dan melindungi berbagai keanekaragaman hayati yang dimiliki.  Pertemuan dipusatkan  di Rumah Budaya Adat Kao   ini,  dihadiri  Kepala Desa bersama  unsur pemerintahan desa, tokoh adat, tokoh perempuan dan pemuda.

Pertemuan ini  bagian dari membicarakan  isyu konservasi   di tingkat bawah.   Ada beberapa satwa endemic yang menjadi perhatian perlu dilindungi  masyarakat adat. Misalnya,  satwa endemik  Gosong Maluku  (Eulipoa wallacei) dan Penyu ( Chelonioidea). Dua jenis satwa ini  akan  dilindungi sebagai jenis keanekaragaman hayati  yang masih hidup  dalam wilayah  adat mereka.

Pertemuan yang difasilitasi  Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Malut itu,  Kepala Desa Kao  Taufik Max ST. MM.T  pada warganya meminta   agar keanekaragaman hayati  di  Desa Kao, seperti Maleo (Gosong Maluku) dan Penyu  termasuk  hutan mangrove  serta  jenis  satwa dalam hutan mangrove  minta agar dilindungi.

“Maksud saya mengundang seluruh masyarakat  hadir  dalam pertemuan ini  karena kepentingan   bersama terkait  desa dan masa depan kampung dalam upaya perlindungan satwa endemic. Tidak itu saja  ini juga  merupakan upaya menjaga alam serta  keanekarakaman hayatinya,” jelasnya dalam  pertemuan itu. Selain itu katanya perlindungan yang dilakukan ini  merupakan sebuah upaya menjaga keseimbangan alam. Ditegaskan,  bagi  warga yang biasanya mengambil telur maleo  pihaknya atasnama pemerintah desa mengimbau  agar dihentikan.  “Ini  adalah salah satu upaya kita  menjaga agar  satwa endemic ini tidak punah, ”katanya. Tidak hanya satwa  eksositem hutan terutama hutan mangrove yang melingkari desa Kao kurang lebih 350 hektar  telah ditetapkan dalam  tiga zonasi. Pembagian zonasi ini tujuannya untuk upaya perlindungan mangrove itu sendiri.

Usaha perlindungan  keanekaragaman hayati  ini direspon baik warga.   Ruslan Djumati  salah  satu warga  dalam pertemuan itu menceritakan,  telah   melakukan upaya perlindungan dan konservasi. Setiap memancing di tanjung Maleo tak jauh dari desa ini, selalu   menanam benih mangrove  yang ditemukan. Sudah  kurang   lebih 50 benih  yang terdampar di pesisir pantai Kao ikut ditanam. Hal ini dilakukan   bagi dia, karena mangrove menjadi tempat  hidup dan berlindung ikan  atau udang. Rustam  mengimbau masyarakat selain tidak mengambil telur penyu dan burung gosong Maluku,   perlu  ikut  menanam ketika menemukan benih mangrove   hanyut di pesisir pantai.  “Jika satu orang menanam  1-5 pohon setiap  ke  tanjung Maleo,  maka mangrove  akan cukup banyak.  Saya sudah lakukan dan berharap orang lain  ikut  melakukan” kata Rustam.

Senda  disampaikan Naser Langgar. Tokoh masyarakat Kao ini menyampaikan bahwa sejak mereka tahu informasi  tentang maleo  dan penyu yang perlu dilindungi itu,  mereka sudah tidak lagi mengambil  telur maleo deng penyu. Soal perlindungan dan konservasi satwa endemic di kawasan masyarakat adat Pagu ini menurut  Ronald Kondolembang akademisi dari Fakultas Kehutanan Universitas Halmahera Tobelo,   gosong Maluku atau Maleo dan penyu merupakan jenis keanekaragaman hayati yang sudah langka. Bahkan tidak didapatkan  di tempat lain di Maluku Utara.  Maleo atau Gosong Maluku  jenis ini hanya ada  di Galela dan Kao. Demi terlindunginya keanakeragaman hayati ini  dibutuhkan peran serta masyarakat dan pemerintah desa. Terutama mereka yang sering mengkonsumsi dan memperdagangkannya.

“Kalau hanya mengambil telur penyu dan gosong Maluku tanpa  adanya perlindungan akan mengalami kepunahan. Saat ini  satwa endemic ini perlu dijaga  agar tidak mengalami kepunahan. Tujuannya agar  keanekaragaman hayati ini   lestari dan tetap terjaga agar bisa  dinikmati  masyarakat,” ujarnya.

Dia mencontohkan  di Galela  di Desa Simao, warga membuat   kesepakatan.Bagi setiap pengambil telur dia harus meninggalkan setidaknya  7 butir demi menjaga  kelangsungan   Gosong Maluku tetap lestari.  “Salah satu bentuk menjaga kelestarian burung gosong Maluku dan penyu di desa Kao ini, diperlukan kerja sama masyarakat  agar  merusak hutan Mangrove. Sebab di malam hari sebelum  datang bertelur di pasir, Gosong Maluku menjadikan mangrove sebagai tempat persinggahan. Tidak itu saja  mangrove juga memiiki banyak manfaat. Mangrove juga menjadi tempat ikan, udang dan   biota lainnya   tumbuh dan berkembang biak,” imbuhnya.

Bagi  Rudi, perlindungan terhadap penyu dan Gosong Maluku  ini tidak berarti masyarakat tidak lagi  memanfaatkannya bagi kebutuhan ekonomi masyarakat.    Perlindungan ini katanya adalah  sebuah upaya  tetap menjaga dan melestarikannya agar tidak punah sehingga suatu saat bisa dinikmati   anak-cucu   generasi  akan datang.

Terpisah  pihak AMAN melalui Ketua Biro Ekonomi Sosial dan Politik M Ruh  menjelaskan,   kegiatan  di Desa Kao ini   bersama warga  untuk beberapa kegiatan yakni membuat peta zonasi  mangrove. “Ada zonasi lindung, pemanfaatan serta  merancang peraturan  desa  yang bisa melindungi  satwa endemic  dengan  hutan mangrove-nya. Ikut juga mensosialisasikan pentingnya melindungi satwa dan hutan mangrove  di desa  yang berdekatan. (adi)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bawa Program Konservasi Air Tanah dan Energi, BesaMacahaya Hadir di City Sanitation Summit 

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 722
    • 1Komentar

    City Sanitation Summit  (CSS) merupakan agenda nasional tahunan yang diselenggarakan Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI). Tahun ini merupakan yang ke-23, sementara  penyelenggaraannya dilakukan oleh Pemerintah Kota Ternate. CSS XXIII  bertema Sanitasi berkelanjutan melalui partisipasi dan inovasi pengelolaan sampah berbasis kota pulau itu turut digelar beberapa kegiatan. Salah satunya rangkaian kegiatan   Festival Sanitasi, Budaya dan UMKM yang berlangsung di Benteng Oranje 29-hingga […]

  • Isu Kelautan dan Perikanan Tak Disentuh Saat Debat Cawapres

    Isu Kelautan dan Perikanan Tak Disentuh Saat Debat Cawapres

    • calendar_month Rab, 31 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 717
    • 0Komentar

    WALHI: Regulasi Abaikan Wilayah Tangkap Nelayan Tradisional   Putaran empat debat Calon Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2024-2029  telah berakhir Minggu (21/1/2024) lalu. Banyak persoalan lingkungan diungkap ketiga Cawapres  dalam debat. Sayang, tidak ada satu pun  menyinggung langsung masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil. Padahal  tempat tinggalnya rentan tenggelam karena kenaikan muka air laut. Perspektif para […]

  • Bacarita Pangan Lokal Maluku Utara

    • calendar_month Ming, 18 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 919
    • 0Komentar

    Catatan dari Diskusi  Bersama Stakeholder Provinsi Maluku Utara yang terdiri dari pulau-pulau ini memiliki keragaman  pangan lokal. Dari banyaknya pangan local  yang dimiliki baik sagu, ubi-ubian maupun jenis biji-bijian  memiliki sejarah panjang.  Potensi sumber daya pangan itu diikuti berbagai tradisi dan  budaya dalam menyiapkannya. Selain kekayaan pangan, Bumi Maluku Utara juga punya kekayaan yang luar […]

  • Kiprah Jamal Adam Jaga dan Rawat Paruh Bengkok    

    • calendar_month Ming, 4 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 762
    • 2Komentar

    Sabtu (17/12/2023) siang sekira pukul 12.30 WIT itu terasa menyengat.  Suasana Suaka Paruh Bengkok (SPB) di kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) Desa Koli Oba Kota Tidore Kepulauan Maluku Utara itu juga, terlihat hanya ada 3 pengunjung. Mereka adalah karyawan sebuah perusahaan tambang yang datang selain berwisata juga menyerahkan seekor kakatua jambul kuning (cacatua […]

  • Punahnya Sumber Daya Genetik Pangan Orang Tobaru

    • calendar_month Sab, 13 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 689
    • 2Komentar

    Koleksi sumberdaya genetic pangan (SDGP) local di Halmahera Barat sangat banyak. Sayangnya ada sebagian  sudah  di ambang kepunahan. Beberapa varietas pisang dan padi meski sudah diinventarisasi oleh Balai Pengkajian  Tekhnologi Pertanian (BPTP) Wilayah Maluku Utara  bersama  nama lokalnya, tetapi belum ditemukan materi genetiknya untuk dikembangkan.   Pisang Moraka begitu orang Tobaru menyebut,  diklaim sudah punah karena […]

  • Greenpeace: Wajib Lindungi Laut 30×30 2030

    • calendar_month Jum, 24 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 665
    • 0Komentar

    Para aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk bertuliskan pesan “LINDUNGI LAUT SELAMANYA” di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat,  Kamis, 23 Februari 2023. Aksi  ini sebagai bentik desakan kepada pemerintah Indonesia untuk meningkatkan komitmen melindungi lautan. Aksi ini berlangsung bersamaan dengan diselenggarakannya  perundingan untuk Perjanjian Laut Internasional atau Global Ocean Treaty di kantor Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), […]

expand_less