Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Bahasa Kayoa Terancam Punah

Bahasa Kayoa Terancam Punah

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 28 Mar 2023
  • visibility 932

Turut Dibahas Saat Gelar Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan  

Beberapa bahasa daerah di Maluku Utara alami ancaman kepunahan.Salah satunya adalah Bahasa Kayoa di Halmahera  Selatan. Bahasa serumpun dengan Makeang ini lambat laun tidak lagi digunakan saat berkomunikasi di kampung ini. Setidaknya hal ini juga mengemuka saat digelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dilaksanakan oleh DPRD Provinsi Maluk Utara Sabtu (25/3/2023) akhir pekan lalu.

Kegiatan ini sendiri sebagai bentuk menguatkan pemahaman masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.    Wakil Ketua DPRD Maluku Utara M Rahmi Husen  saat menyelenggarakan kegiatan  ini  turut   menghadirkan  pembicara yang menjelaskan kepada masyarakat  pentingnya pemahaman Pancasila, UUD 45, Negara Kesatuan Republik Indonesia  dan Bhineka Tunggal Ika.

Ali Lating  Dosen Ilmu Politik  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah, memaparkan beberapa hal menyangkut menifestasi Pancasila  dari keseharian  masyarakat.

Sosialisasi   yang  antusias diikuti warga tersebut, Ali menyebutkan bahwa saripati Pancasila sebenarnya sudah dijalankan masyarakat secara turun -temurun sejak Indonesia belum terbentuk sebagai sebuah negara kesatuan. Hal ini perlu tetap dijalankan dan dipertahankan dalam kehidupan sehari hari. Menurutnya, nilai nilai Pancasila sebenarnya sudah dipraktekan sejak nenek moyang bangsa Indonesia termasuk yang    ada di Kayoa ini.   “Manifestasi  Pancasila itu sudah turun temurun. Nilai nilainya  sudah tertanam dalam perilaku masyarakat,” jelasnya.  

Sebelumnya, M Rahmi Husen yang berbicara  mengawali  sosialisasi tersebut, menyampaikan kekuatiraanya atas perkembangan generasi di kampung  Guruapin Kayoa. Misalnya terkait  penggunaan bahasa daerah sebagai kekayaan budaya dan tradisi setempat yang cenderung ditinggalkan, tidak lagi digunakan warga terutama anak muda.

“Bahasa Daerah itu alat komunikasi antar masyarakat yang majib dijaga dan dilestarikan.Generasi muda Guruapin Kayoa   mestinya mempertahankan bahasa daerahnya  sebagai bahasa ibu. Karena  akan menjadi  identitas  orang Kayoa,” cecarnya.

Dia lantas kuatirkan kepunahan bahasa ini bisa terjadi. Tanda tandanya juga sudah nyata. Dia cotohkan anak di bawah 15 tahun tidak bisa lagi menggunakan bahasa daerah dalam  keseharian maupun berkomunikasi antar mereka. “Itu artinya tidak lama lagi 20 sampai 30 tahun  ke depan penutur  bahasa  Kayoa akan hilang. Ini menyedihkan dan sangat disesalkan. Perlu dicari jalan keluarnya,”harapnya. Caranya dimulai dari rumah,  orang tua selalu membiasakan anak mereka menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi. Dia bilang  tidak boleh  dianggap sepele karena cepat atau lambat bahasa daerah  Kayoa  akan hilang.

Kesempatan ini warga turut mempertanyakan beberapa fasilitas pembangunan di desa ini yang juga  urgen  segera dipikirkan solusinya untuk segera dibangun. Fasilitas itu berupa ketiadaan lapangan sepak bola. Padahal daerah ini  selama ini jadi penyuplai bibit pemain bola, baik local maupun di kancah  nasional. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kayanya KKP Kepulauan Sula di Maluku Utara

    • calendar_month Ming, 18 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 757
    • 0Komentar

    Pantai dan kawasan laut pulau Pagama Kepulauan Sula yang masuk KKP Kepsul

  • 65 Ekor Paruh Bengkok Pulang ke Habitatnya

    • calendar_month Jum, 2 Apr 2021
    • account_circle
    • visibility 567
    • 0Komentar

    Bersiap siap untuk kegiatan lepasliaran. Berbagai pihak yang hadir bersiap melepas burung tersebut ke alam liar. Foto Seksi KSDA Wilayah Ternate

  • Nasib Miris PLTS di Halmahera Selatan (2) Habis

    • calendar_month Sen, 14 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 752
    • 0Komentar

    Tak Cuma Bangun, Butuh Perawatan untuk Keberlanjutan Provinsi Maluku Utara dengan 805 pulau memiliki banyak desa di pulau kecil. Dari total desa, 898 ada di tepi laut  sementara bukan di tepi laut  ada 305  desa. Mayoritas desa di pesisir dan pulau, memikul beban  ketersediaan energi listriknya. Di pulau kecil yang memiliki penghuni belum semua tersedia […]

  • Waspada, Cuaca Buruk Landa Maluku Utara

    • calendar_month Rab, 15 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 787
    • 2Komentar

    Angin kencang yang terjadi selasa (14/2/2023) malam pohon di kawasan Kasturian Ternate tumbang dan menutupi jalan di kawasan tak jauh dari Kantor Polsek Kota Ternate Utara tersebut. foto istimewa

  • Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi   Dunia

    Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi Dunia

    • calendar_month Sel, 23 Sep 2025
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 871
    • 0Komentar

    Pulau Sumba yang dikenal dengan nama tanah humba   atau tanah marapu, menjadi titik nol ditetapkannya, hari Keadilan Ekologi dunia atau World EcologicaJustce Day. Hari penting ini digagas oleh Wahana Ligkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada Sabtu 20 September 2025 bertepatan dengan kegiatan pertemuan nasional lingkungan  hidup (PNLH) WALHI ke XIV yang  dipusatkan di Kota Waingapu […]

  • Indonesia Petakan Kembali Mangrove untuk Karbon Biru

    • calendar_month Sel, 24 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 591
    • 0Komentar

    Pemetaan kondisi terkini kawasan ekosistem mangrove, padang lamun (seagrass), dan kawasan pesisir di Indonesia diharapkan sudah ada pada 2019 mendatang. Proses mengungkap data terbaru itu, akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dengan menggandeng Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). (Mongabay.co.id http://www.mongabay.co.id/2018/07/19/indonesia-petakan-kembali-mangrove-untuk-karbon-biru/) Kebutuhan pemetaan data terbaru itu, menurut Deputi IV Bidang SDM, Iptek, dan […]

expand_less