Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Tohoko Burung Pitta Endemik Malut

Tohoko Burung Pitta Endemik Malut

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 22 Jan 2024
  • visibility 1.156

Di rerimbunan hutan Pulau Ternate, bersembunyi kekayaan keanekaragaman hayati burung. Melalui Pengamatan Kenakeragaman  Jenis  Burung  di  Beberapa  Objek   Wisata   di Kota  Ternate  dalam Upaya  Mengetahui dan Konservasi Habitat Burung Endemik  oleh Zulkifli Ahmad  dan kawan-kawan dari Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Khairun Ternate pada 2017,menemukan ada 21 jenis burung di pulau Ternate. Burung burung itu berada di kawasan hutan beberapa tempat wisata seperti  ke arah barat hutan primer dan sekunder danau Tolire. Sebelah utara   kawasan danau Ngade yang banyak  pepohonan besar seperti Canarium sp., Ficus sp,  serta lokasi kawasan wisata Sulamadaha dan Tobolo yang sebagian besar telah diubah menjadi hutan sekunder.  

Selain burung tersebut ada kawasan tertentu di puncak pulau Ternate menjadi objek minat khusus pengamatan burung  karena terdapat jenis burung yang indah dan menawan. Misalnya di hutan Kelurahan Tongole Ternate Tengah. Di kawasan ini ada satwa burung endemik Maluku Utara yang menjadi incaran pengamat burung baik dalam dan luar negeri.

Burung yang menjadi sasaran pengamatan dan sering diabadikan melalui foto itu adalah burung pitta atau Paok Ternate. Burung ini oleh masyarakat Malut lebih mengenalnya dengan nama Burung Tohoko. Burung endemik Maluku Utara  ini memiliki warna khas dan mencolok.

Dengan nama ilmiah, E.r. cyanonota Tohoko terbilang sangat indah karena memiliki warna bulu paduan merah, biru, dan coklat. Warna ini membuatnya  makin eksotis ketika ditemui di hutan.   Karena keindahannya burung ini sangat memikat  para pengamat burung.

Akhmad David salah satu pengamat burung yang juga polisi kehutanan di Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata  saat mengisi diskusi soal burung endemik Maluku Utara belum lama ini menjelaskan bahwa, Pitta Ternate memiliki habitat di lantai hutan dengan ketinggian 200–900 mdpl. Di wilayah Pulau Ternate  untuk melihat burung indah ini bisa menjelajahi wilayah puncak Gamalama  terutama di hutan Kelurahan Moya dan  Tongole. Mengapa burung ini ada di kawasan hutan tersebut. Hal ini lebih karena vegetasi hutan hujan tropis di situ relative masih padat. 

Darman Sehe warga Tongole yang sering kali menjadi pemandu pengamatan burung di kawasan hutan kelurahan Tongole bercerita, dia tahu ada burung Tohoko ketika ada yang ingin mengamati  itu di kawasan hutan kampungnya. Karena itu dia bersama teman temannya kemudian mencari habitat pita Ternate dan dibuat pondok yang dijadikan tempat pengamatan burung. Dari sini kemudian dia  jadi pemandu jika ada yang ingin mengamati burung Tohoko.  

Tempat pengamatan Pitta Ternate di Tongole itu kini menjadi salah satu lokasi wisata minat khusus. Di sini  tidak hanya menjadi tempat pengamatan burung Tohoko tetapi juga burung  lain yang hidup di alam liar. 

Di Tongole  sudah dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mengamati burung Tohoko dan burung liar lainnya. Untuk wisatawan mancanegera yang lakukan pengamatan burung  disini ada yang dari Singapura, Malaysia, Australia, Belanda, Amerika, dan Swiss.

Sekadar diketahui Pitta adalah sebuah keluarga, Pittidae, dari burung-burung pelintas yang sebagian besar ditemukan di Asia tropis dan Australasia, meskipun beberapa spesies hidup di Afrika.

Dikutip dari https://fatbirder.com/ornithology/pittidae-pittas/) Pitta memiliki struktur dan kebiasaan umum yang serupa, dan sering ditempatkan dalam satu genus. Pita terbagi menjadi tiga genera, Pitta, Erythropitta, dan Hydrornis. Nama ini berasal dari kata pitta dalam bahasa Telugu di India Selatan dan merupakan nama lokal umum yang digunakan untuk semua burung kecil.

Pitta berukuran sedang  dengan panjang 15 cm hingga 2 cm, dan kekar, dengan kaki yang kuat dan panjang. Memiliki ekor yang sangat pendek dan paruh yang gemuk dan sedikit melengkung. Sebagian besar, tetapi tidak semua, memiliki bulu berwarna cerah.

Pitta adalah burung yang cukup terestrial di lantai hutan basah. Makananya adalah siput, serangga dan mangsa invertebrata serupa. Burung pitta umumnya menyendiri dan bertelur hingga enam butir telur dalam sarang berbentuk bulat besar di pohon atau semak, atau terkadang di tanah. 

Sejumlah spesies pitta terancam punah. Salah satunya, Pitta Gurney, terdaftar sebagai terancam punah oleh IUCN; delapan spesies lainnya terdaftar sebagai rentan.

Ancaman utama bagi pitta adalah hilangnya habitat dalam bentuk deforestasi yang cepat.

Pitta berpita biru berukuran 15 cm hingga Pitta Raksasa, yang panjangnya bisa mencapai 29 cm.

Beratnya berkisar antara 42g hingga 210g. Pitta adalah burung bertubuh kekar dengan tarsi yang panjang dan kuat serta kaki yang panjang. Terdapat variasi yang cukup besar pada warna kaki dan tungkai, hal ini dapat digunakan oleh burung betina untuk menilai kualitas burung jantan. Sayapnya memiliki sepuluh garis primer yang umumnya membulat dan pendek, sedangkan empat spesies yang bermigrasi, lebih runcing. Meskipun pitta secara perilaku enggan untuk terbang, mereka adalah penerbang yang cakap dan bahkan kuat. Ekornya berkisar dari pendek hingga sangat pendek, dan terdiri dari dua belas bulu.

Tidak lazim untuk spesies lantai hutan, bulu burung pitta sering kali cerah dan berwarna-warni. Hanya satu spesies, Pitta bertelinga, yang memiliki warna samar pada burung dewasa dari kedua jenis kelaminnya. Dalam genus yang sama, tiga spesies lainnya memiliki bulu yang lebih kusam dari rata-rata. Seperti Hydrornis pitta lainnya, mereka memiliki dimorfisme seksual pada bulunya, dengan betina cenderung lebih menjemukan dan lebih samar daripada jantan. Di sebagian besar keluarga ini, warna-warna yang lebih cerah cenderung berada di bagian bawah, dengan warna-warna cerah di bagian pantat, sayap, dan penutup ekor bagian atas yang dapat disembunyikan. Kemampuan menyembunyikan warna-warna cerah dari pendekatan predator  adalah penting.

Yang paling penting bagi sebagian besar spesies adalah hutan dengan banyak tutupan, tumbuhan bawah yang kaya, dan serasah daun untuk makan. Burung pitta juga sering mengunjungi daerah dekat saluran air. Beberapa spesies mendiami rawa-rawa dan hutan bamboo.Pitta bakau, seperti namanya, adalah spesialis bakau. Sejumlah spesies merupakan spesialis hutan dataran rendah, misalnya pitta pelangi tidak ditemukan di atas ketinggian 400m, sedangkan spesies lain dapat ditemukan di ketinggian yang jauh lebih tinggi, misalnya Rusty-naped Pitta yang ditemukan hingga 2.600m. Hal ini bervariasi pada Fairy Pitta di seluruh wilayah jelajahnya, mencapai ketinggian 1.300m di Taiwan tetapi pada tingkat yang jauh lebih rendah di Jepang. Selain habitat alami, pitta juga dapat menggunakan habitat yang diubah oleh manusia, misalnya Pitta Bersayap Biru yang bermigrasi dan Pitta Berkerudung yang menggunakan taman dan taman kota di Singapura dan India. Peri Pitta bermigrasi dari Korea, Jepang, Taiwan, dan pesisir Cina ke Borneon.

Keanekaragaman pitta terbesar ditemukan di Asia Tenggara.  

Pitta aktif di malam hari, membutuhkan cahaya untuk menemukan mangsanya yang sering kali samar-samar. Namun demikian, sering ditemukan di daerah yang lebih gelap dan sangat tertutup. Umumnya ditemukan sebagai burung tunggal, bahkan burung muda pun tidak bergaul dengan induknya  kecuali jika diberi makan. Seperti kebanyakan burung, pitta adalah pembiak monogamy.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ajak Warga Kao Lindungi Mangrove dan Satwa Endemik

    • calendar_month Sab, 20 Okt 2018
    • account_circle
    • visibility 516
    • 0Komentar

    Komitmen melindungi satwa endemic tidak hanya hadir melalui  forum  seminar atau diskusi   peneliti,  maupun mereka yang concern terhadap isyu lingkungan dan keanekaragaman hayati. Apa yang dilakukan   bersama  Pemerintah Desa Kao  Halmahera Utara  Selasa (02/10) akhir pecan lalu ini juga,  memiliki maksud  yang sama. Membicarakan upaya  perlindungan   m,angrove dan satwa endemik.  Melalui forum ini, mereka  menyatukan presepsi  menjaga […]

  • Keren,,,Ini Cara Bangun Kesadaran Lingkungan Kaum Muda

    • calendar_month Jum, 24 Sep 2021
    • account_circle
    • visibility 610
    • 1Komentar

    aksi angkat sampah yang dilakukan oleh staf PakaTiva di Pantai Kasetela Ternate beberapa waktu lalu

  • Hari Peduli Sampah Nasional Sepi Agenda  

    • calendar_month Sel, 21 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 610
    • 1Komentar

    KLHK: 2030 Tak Ada Lagi TPA Baru Pada 21 Februari setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Hari penting ini   bertujuan  mengingatkan semua pihak bahwa persoalan sampah harus menjadi perhatian utama. Upaya penanganan dan pengelolaan sampah harus melibatkan seluruh komponen masyarakat yang meliputi Pemerintah baik Pusat dan Daerah, akademisi, aktivis, komunitas, dunia usaha, […]

  • Ruas Jalan Botonam–Saketa Halmahera Selatan Hancur

    • calendar_month Ming, 5 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 786
    • 1Komentar

    Salah satu sarana membuka keterisolasian akses dan ekonomi masyarakat adalah tersedianya infrastruktur jalan yang memadai. Ternyata, infrstruktur dan sarana ini   masih sangat memprihatinkan di sejumlah tempat terutama di Halmahera dan pulau  kecil lainnya di Maluku Utara. Di Halmahera terutama di bagian selatan, akses jalan daratnya belum terbuka secara keseluruhan. Tidak itu saja wilayah yang sudah […]

  • Tubagus Soleh Ahmadi Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI

    • calendar_month Sel, 19 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 890
    • 18Komentar

    Keputusan ini Karena Amanah Perjuangan Kolektif Tubagus Soleh Ahmadi atau yang biasa disapa Bagus resmi ditetapkan sebagai salah satu Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI periode 2025–2029. Penetapan ini  melalui Surat Keputusan Panitia Pengarah PNLH XIV WALHI Nomor: 07/PP/PNLH-XIV/VIII/2025 tertanggal 15 Agustus 2025. Setelah lolos seluruh tahapan seleksi, termasuk verifikasi administrasi, uji publik, dan uji kompetensi. […]

  • Hadapi Krisis Air dengan Pengelolaan Sumberdaya Berkelanjutan

    • calendar_month Kam, 14 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 575
    • 0Komentar

    Menanam pohon adalah salah satu jawaban atas persoalan krisis air yang mulai melanda bumi foto Duta Kreator Indonesia (DKI)

expand_less