Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Tohoko Burung Pitta Endemik Malut

Tohoko Burung Pitta Endemik Malut

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 22 Jan 2024
  • visibility 1.341

Di rerimbunan hutan Pulau Ternate, bersembunyi kekayaan keanekaragaman hayati burung. Melalui Pengamatan Kenakeragaman  Jenis  Burung  di  Beberapa  Objek   Wisata   di Kota  Ternate  dalam Upaya  Mengetahui dan Konservasi Habitat Burung Endemik  oleh Zulkifli Ahmad  dan kawan-kawan dari Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Khairun Ternate pada 2017,menemukan ada 21 jenis burung di pulau Ternate. Burung burung itu berada di kawasan hutan beberapa tempat wisata seperti  ke arah barat hutan primer dan sekunder danau Tolire. Sebelah utara   kawasan danau Ngade yang banyak  pepohonan besar seperti Canarium sp., Ficus sp,  serta lokasi kawasan wisata Sulamadaha dan Tobolo yang sebagian besar telah diubah menjadi hutan sekunder.  

Selain burung tersebut ada kawasan tertentu di puncak pulau Ternate menjadi objek minat khusus pengamatan burung  karena terdapat jenis burung yang indah dan menawan. Misalnya di hutan Kelurahan Tongole Ternate Tengah. Di kawasan ini ada satwa burung endemik Maluku Utara yang menjadi incaran pengamat burung baik dalam dan luar negeri.

Burung yang menjadi sasaran pengamatan dan sering diabadikan melalui foto itu adalah burung pitta atau Paok Ternate. Burung ini oleh masyarakat Malut lebih mengenalnya dengan nama Burung Tohoko. Burung endemik Maluku Utara  ini memiliki warna khas dan mencolok.

Dengan nama ilmiah, E.r. cyanonota Tohoko terbilang sangat indah karena memiliki warna bulu paduan merah, biru, dan coklat. Warna ini membuatnya  makin eksotis ketika ditemui di hutan.   Karena keindahannya burung ini sangat memikat  para pengamat burung.

Akhmad David salah satu pengamat burung yang juga polisi kehutanan di Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata  saat mengisi diskusi soal burung endemik Maluku Utara belum lama ini menjelaskan bahwa, Pitta Ternate memiliki habitat di lantai hutan dengan ketinggian 200–900 mdpl. Di wilayah Pulau Ternate  untuk melihat burung indah ini bisa menjelajahi wilayah puncak Gamalama  terutama di hutan Kelurahan Moya dan  Tongole. Mengapa burung ini ada di kawasan hutan tersebut. Hal ini lebih karena vegetasi hutan hujan tropis di situ relative masih padat. 

Darman Sehe warga Tongole yang sering kali menjadi pemandu pengamatan burung di kawasan hutan kelurahan Tongole bercerita, dia tahu ada burung Tohoko ketika ada yang ingin mengamati  itu di kawasan hutan kampungnya. Karena itu dia bersama teman temannya kemudian mencari habitat pita Ternate dan dibuat pondok yang dijadikan tempat pengamatan burung. Dari sini kemudian dia  jadi pemandu jika ada yang ingin mengamati burung Tohoko.  

Tempat pengamatan Pitta Ternate di Tongole itu kini menjadi salah satu lokasi wisata minat khusus. Di sini  tidak hanya menjadi tempat pengamatan burung Tohoko tetapi juga burung  lain yang hidup di alam liar. 

Di Tongole  sudah dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mengamati burung Tohoko dan burung liar lainnya. Untuk wisatawan mancanegera yang lakukan pengamatan burung  disini ada yang dari Singapura, Malaysia, Australia, Belanda, Amerika, dan Swiss.

Sekadar diketahui Pitta adalah sebuah keluarga, Pittidae, dari burung-burung pelintas yang sebagian besar ditemukan di Asia tropis dan Australasia, meskipun beberapa spesies hidup di Afrika.

Dikutip dari https://fatbirder.com/ornithology/pittidae-pittas/) Pitta memiliki struktur dan kebiasaan umum yang serupa, dan sering ditempatkan dalam satu genus. Pita terbagi menjadi tiga genera, Pitta, Erythropitta, dan Hydrornis. Nama ini berasal dari kata pitta dalam bahasa Telugu di India Selatan dan merupakan nama lokal umum yang digunakan untuk semua burung kecil.

Pitta berukuran sedang  dengan panjang 15 cm hingga 2 cm, dan kekar, dengan kaki yang kuat dan panjang. Memiliki ekor yang sangat pendek dan paruh yang gemuk dan sedikit melengkung. Sebagian besar, tetapi tidak semua, memiliki bulu berwarna cerah.

Pitta adalah burung yang cukup terestrial di lantai hutan basah. Makananya adalah siput, serangga dan mangsa invertebrata serupa. Burung pitta umumnya menyendiri dan bertelur hingga enam butir telur dalam sarang berbentuk bulat besar di pohon atau semak, atau terkadang di tanah. 

Sejumlah spesies pitta terancam punah. Salah satunya, Pitta Gurney, terdaftar sebagai terancam punah oleh IUCN; delapan spesies lainnya terdaftar sebagai rentan.

Ancaman utama bagi pitta adalah hilangnya habitat dalam bentuk deforestasi yang cepat.

Pitta berpita biru berukuran 15 cm hingga Pitta Raksasa, yang panjangnya bisa mencapai 29 cm.

Beratnya berkisar antara 42g hingga 210g. Pitta adalah burung bertubuh kekar dengan tarsi yang panjang dan kuat serta kaki yang panjang. Terdapat variasi yang cukup besar pada warna kaki dan tungkai, hal ini dapat digunakan oleh burung betina untuk menilai kualitas burung jantan. Sayapnya memiliki sepuluh garis primer yang umumnya membulat dan pendek, sedangkan empat spesies yang bermigrasi, lebih runcing. Meskipun pitta secara perilaku enggan untuk terbang, mereka adalah penerbang yang cakap dan bahkan kuat. Ekornya berkisar dari pendek hingga sangat pendek, dan terdiri dari dua belas bulu.

Tidak lazim untuk spesies lantai hutan, bulu burung pitta sering kali cerah dan berwarna-warni. Hanya satu spesies, Pitta bertelinga, yang memiliki warna samar pada burung dewasa dari kedua jenis kelaminnya. Dalam genus yang sama, tiga spesies lainnya memiliki bulu yang lebih kusam dari rata-rata. Seperti Hydrornis pitta lainnya, mereka memiliki dimorfisme seksual pada bulunya, dengan betina cenderung lebih menjemukan dan lebih samar daripada jantan. Di sebagian besar keluarga ini, warna-warna yang lebih cerah cenderung berada di bagian bawah, dengan warna-warna cerah di bagian pantat, sayap, dan penutup ekor bagian atas yang dapat disembunyikan. Kemampuan menyembunyikan warna-warna cerah dari pendekatan predator  adalah penting.

Yang paling penting bagi sebagian besar spesies adalah hutan dengan banyak tutupan, tumbuhan bawah yang kaya, dan serasah daun untuk makan. Burung pitta juga sering mengunjungi daerah dekat saluran air. Beberapa spesies mendiami rawa-rawa dan hutan bamboo.Pitta bakau, seperti namanya, adalah spesialis bakau. Sejumlah spesies merupakan spesialis hutan dataran rendah, misalnya pitta pelangi tidak ditemukan di atas ketinggian 400m, sedangkan spesies lain dapat ditemukan di ketinggian yang jauh lebih tinggi, misalnya Rusty-naped Pitta yang ditemukan hingga 2.600m. Hal ini bervariasi pada Fairy Pitta di seluruh wilayah jelajahnya, mencapai ketinggian 1.300m di Taiwan tetapi pada tingkat yang jauh lebih rendah di Jepang. Selain habitat alami, pitta juga dapat menggunakan habitat yang diubah oleh manusia, misalnya Pitta Bersayap Biru yang bermigrasi dan Pitta Berkerudung yang menggunakan taman dan taman kota di Singapura dan India. Peri Pitta bermigrasi dari Korea, Jepang, Taiwan, dan pesisir Cina ke Borneon.

Keanekaragaman pitta terbesar ditemukan di Asia Tenggara.  

Pitta aktif di malam hari, membutuhkan cahaya untuk menemukan mangsanya yang sering kali samar-samar. Namun demikian, sering ditemukan di daerah yang lebih gelap dan sangat tertutup. Umumnya ditemukan sebagai burung tunggal, bahkan burung muda pun tidak bergaul dengan induknya  kecuali jika diberi makan. Seperti kebanyakan burung, pitta adalah pembiak monogamy.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • KKP Walidata Informasi Geospasial Lamun dan Terumbu Karang

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 821
    • 0Komentar

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerima mandat sebagai penyelenggara atau walidata informasi geospasial tematik (IGT) lamun dan terumbu karang di Indonesia. Sebelumnya mandat tersebut diselenggarakan oleh Pusat Riset Oseanografi, BRIN (LIPI). Terumbu karang dan padang lamun adalah ekosistem yang sangat  berharga bagi kelangsungan hidup laut dan manusia. Kekayaan alam ini memberikan manfaat ekologi, ekonomi dan […]

  • “Oji” Si Yakis Bacan akan Dikembalikan ke Alam Liar

    • calendar_month Rab, 10 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 1.152
    • 0Komentar

    Seekor monyet atau “yakis Bacan” berjenis kelamin laki-laki yang dipelihara oleh salah satu warga Guraping Kecamatan Oba Kota Tidore Kepulauan, akhirnya diamankan pihak petugas Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata. Yakis Bacan ini   selanjutnya diserahkan ke Balai Konservasi Sumber daya Alam (BKSDA) untuk dirawat sebelum dilepas ke alam liar. Pengambilan  satwa dilindungi ini dilakukan petugas dari […]

  • Bina Desa di Pulau Laigoma, FPK Unkhair Turut Lepas Tukik

    • calendar_month Rab, 13 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 726
    • 1Komentar

    Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat,  Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Khairun Ternate menggelar kegiatan  Bina Desa. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara 9 dan 10 September 2023 lalu. Tujuan kegiatan ini adalah, memberikan pengetahuan bagi masyarakat nelayan, khususnya di Pulau Laigoma, […]

  • Ini 7 Mitigasi Awal Perubahan Iklim di Malut

    • calendar_month Sab, 25 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 686
    • 1Komentar

    Sebagai Upaya Mendukung Program FOLU Net Sink 2030 Setelah melalui proses panjang selama  dua hari Rabu (22/2/2023) dan Kamis (23/2/2023)  menggelar seminar dan diskus, i para pihak yang terlibat dalam workshop Penyusunan Rencana Kerja (Renja) Sub Nasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 di Provinsi Maluku Utara menetapkan sejumlah  poin simpulan  yang akan ditindaklanjuti. Salah satunya […]

  • Hati hati, Kawasan Wisata Dialihkan ke Asing

    • calendar_month Ming, 19 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 686
    • 0Komentar

    Kawasan wisata Pulau Widi di Halmahera Selatan Maluku Utara

  • Tradisi Orang Tobaru Tanam Padi Lokal

    • calendar_month Sab, 6 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 1.090
    • 0Komentar

    Dua karung gabah teronggok di dapur Yosep Ugu (60). Gabah kering itu rencana diolah menggunakan mesin penggilingan padi di desa setempat.  Gabah padi   telah lama dikeringkan, tersimpan dalam karung dan baru dibawa ke kampung  sehari sebelumnya. “Di dalam gabah padi ini,  ada banyak jenis ikut tercampur. Ini sisa panen tahun lalu dan sampai sekarang belum  […]

expand_less